Pendidikan formal jarang memperlihatkan sesuatu yang ada di kehidupan nyata. Hampir semua pelajaran dimulai setelah persoalannya selesai didefinisikan. Guru menentukan topik. Buku memilih informasi yang relevan. Soal ujian menjelaskan apa yang harus dicari. Murid menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlatih menjawab, bukan berlatih mengenali masalah.
Kebiasaan itu terbawa sampai dewasa. Ketika pekerjaan mulai terasa melelahkan, perhatian langsung tertuju pada cara meningkatkan motivasi. Ketika hubungan memburuk, nasihat tentang komunikasi segera dicari. Ketika usaha menurun, strategi pemasaran baru dipelajari. Pikiran bergerak cepat menuju solusi, padahal belum tentu memahami apa yang sedang dihadapi. Sering kali kita berhasil menyelesaikan persoalan yang salah.
Kemampuan mengenali masalah jauh lebih sunyi daripada kemampuan memberi jawaban. Ia tidak menghasilkan nilai ujian, tidak mendapat tepuk tangan, dan tidak mudah dipamerkan. Prosesnya bahkan sering terlihat seperti kebingungan. Seseorang mengamati lebih lama, menahan diri untuk tidak buru-buru menyimpulkan, lalu membongkar persoalan sedikit demi sedikit sampai bentuknya terlihat. Pekerjaan itu menghabiskan waktu, tetapi hampir semua keputusan yang baik lahir dari sana.
