Sambil nunggu ngantuk, barusan aku baca ini. Artikel yang penuh typo—salah satu kebiasaan buruk VICE. Tapi yang membuatku nyeri bukan typo-nya, melainkan isinya. Perempuan (khususnya yang belum hamil) sepertinya perlu baca, agar lebih siap dan hati-hati.
Judul lengkap artikel itu adalah "Berikut Panduan Lengkap Tentang Perubahan Tubuh Perempuan Selama Hamil".
Judul yang mungkin terdengar tidak environmental itu mengungkap fakta-fakta kehamilan secara ngablak, tanpa tedeng aling-aling. Bahkan sebagai laki-laki, aku merasa nyeri.
Artikel itu berisi wawancara VICE dengan Batya Grundland, dokter kandungan dan pakar perawatan kehamilan. Jadi isinya bisa dipercaya.
Yang menarik dari artikel tersebut adalah pengungkapan bahwa "masa kehamilan tidak (selalu) seindah yang digembar-gemborkan banyak orang".
Di akhir wawancara, VICE bertanya, kenapa tidak semua orang mau mengungkapkan bahwa masa kehamilan sebenarnya sama sekali tidak indah?
Dr. Grundland menjawab, "Mungkin karena kita tidak mau membuat perempuan merasa takut hamil."
Kedengarannya seperti "tipuan" yang familier, eh?
Orang-orang "menipu" kita bahwa menikah sungguh indah dan melancarkan rezeki, meski sebenarnya tidak selalu begitu.
Setelah kita menikah, mereka "menipu" lagi bahwa masa kehamilan sungguh indah, meski sebenarnya tidak selalu begitu.
Demi tujuan evolusi, manusia terus ngapusi.
Dan sekarang aku (makin) memahami kenapa sebagian perempuan ada yang memilih untuk tidak hamil dan melahirkan anak, karena nyatanya urusan itu memang "mengerikan". Kalau boleh ngomong kasar, hasilnya belum tentu sepadan dengan proses pengorbanan yang dilakukan.
Urusan hamil dan melahirkan anak tidak seremeh yang mungkin dibayangkan sebagian orang. Dari sisi perempuan, dia harus kepayahan selama hamil dan pascakehamilan. Sementara dari sisi anak, belum tentu ia akan senang telah dilahirkan. Bisa jadi dia malah menyesal saat telah dewasa.
Hal terbesar yang menggerakkan manusia untuk menikah, lalu hamil dan melahirkan anak, adalah doktrinasi! Yang jadi masalah, doktrin ini (ternyata) bermasalah! Realitas yang terjadi sering kali seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang didoktrinkan. Mau sampai kapan?
Pada akhirnya, menikah memang pilihan, bukan kewajiban. Sebagaimana hamil dan punya anak juga hanya pilihan, bukan kewajiban.
Kalau mau ngemeng agama, bahkan agama pun sebenarnya tidak mewajibkan orang menikah dan punya anak, selain hanya mengimbau. Intinya tetap pilihan.
"Kalau kita tidak mau hamil dan punya anak, lalu buat apa kita diberi rahim?"
Itu bukan jawaban! Rahim di tubuhmu adalah peranti. Kalau kau diberi suatu peranti, kau punya hak untuk menggunakan, juga punya hak untuk tidak menggunakan. Kau yang bertanggung jawab atas pilihanmu.
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2019.
