Minggu, 30 Agustus 2026

Permainan yang Adil

Tadi, waktu lihat rekaman pembakaran buku Najwa Shihab, aku kaget, dan mikir, “Apa yang terjadi, kok sampai ada pembakaran buku?” 

Setelah cari-cari, ternyata masalahnya sepele, yaitu karena Najwa Shihab menyebut “nebeng” terkait kepulangan manpres Jokowi ke Solo.

Aku sudah melihat video Najwa Shihab yang menyebut “nebeng” itu, dan menurutku cuma keceplosan. Itu sesuatu yang manusiawi dalam percakapan di mana pun. Jadi sangat aneh ketika hal manusiawi semacam itu direspons secara berlebihan, sampai ke pembakaran buku dan aneka hujatan.

Kalau memang ucapan “nebeng” Najwa Shihab dianggap menyinggung suatu pihak, mari sepakati itu benar.

Tapi ada perbedaan antara “tidak sengaja menyinggung” dan “sengaja menyinggung”. Dan seperti yang dibilang tadi, kata “nebeng” itu menurutku cuma keceplosan, bukan kesengajaan.

Ada cara yang sangat mudah untuk tahu apakah seseorang sengaja menyinggung perasaanmu, atau tidak sengaja. 

Kalau seseorang satu dua kali mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu, kemungkinan besar dia tidak sengaja. Namanya manusia, kadang khilaf dan ngomong keceplosan.

Tapi jika seseorang terus menerus mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu, kemungkinan besar dia sengaja. Dalam hal itu, aku tidak akan menyalahkan kalau kemudian kamu marah dan menghujatnya, atau membalasnya.

Ini permainan yang fair, jadi bersikaplah adil dalam bermain!

Terkait ucapan Najwa Shihab tadi, aku percaya dia cuma keceplosan. Wong cuma sekali itu dia mengatakannya. Bahkan jika dia dianggap bersalah, sesekali salah itu manusiawi, dan terlalu berlebihan kalau sampai direspons dengan pembakaran buku. Itu barbar dan tidak berpendidikan!

Aku selalu memegang aturan ini; sekali dua kali salah itu ketidaksengajaan, jadi maafkan saja. Tapi kalau seseorang selalu melakukan kesalahan yang sama, dia pasti sengaja. Silakan balas, kalau kamu mau.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Oktober 2024.

 
;