Rabu, 10 Oktober 2018

Mbakyu yang Bukan Mbakyu

Seorang teman berkata, “Kamu menulis banyak catatan yang mencitrakan sosok mbakyu sebagai wanita sempurna, penuh kasih, bijaksana, dan berbagai sifat positif lainnya. Aku ingin kamu tahu, aku punya mbakyu—kakak perempuan—tapi terus terang dia tidak memiliki sifat-sifat positif sebagaimana yang kamu citrakan dalam banyak tulisanmu.

“Bukannya penuh kasih, mbakyuku sangat egois. Bukannya bijaksana, mbakyuku sangat tolol dan keras kepala. Secara objektif, aku menyadari mbakyuku memiliki banyak kekurangan, tapi dia tidak mau menyadari kekurangannya. Sebagai orang yang tumbuh bersamanya sejak kecil, aku tahu betul dia beserta sifat-sifatnya, dan mbakyuku sangat jauh dari gambaranmu tentang mbakyu.”

“Kalau begitu,” saya menjawab, “mbakyumu bukan mbakyu. Karena, kenyataannya, seorang perempuan tidak otomatis disebut ‘mbakyu’ hanya karena dia punya adik.”

 
;