They won't. Eliminating the financial category means eliminating the biggest profit potential. Their accountant will scream!
I don't have that antipathy for "30 under 30" type lists. It's cool to recognize up-and-coming types. And a lot of the criticism is just jealousy.
But they should get rid of finance categories, as that's an area where both "innovation" and "inexperience" are huge red flags.
—@TheStalwart, 14 Januari 2023
Ribut-ribut soal 30 Under 30 kayaknya belum rampung, ya.
Sambil nunggu udud habis, aku terpikir untuk melanjutkan ocehan tempo hari. Agar kita [lebih] tahu apa sebenarnya acara itu.
Mari kita mulai dengan fakta ini. Umpama kamu anak miskin yang berhasil sukses pada usia 27 tahun, dan kesuksesan itu terjadi berkat usahamu sendiri, dan kesuksesanmu diakui secara luas... apakah kamu bisa masuk 30 Under 30? Kemungkinan besar tidak!
Kenapa? Inilah masalahnya!
Yang jarang dipahami kebanyakan orang, 30 Under 30 sebenarnya bukan “panggung prestasi" (achievement), melainkan lebih sebagai sarana public relation. Karenanya, sistem yang digunakan untuk menyusun daftar itu lebih pada referensi, sistem jejaring, koneksi, dan semacamnya.
Setidaknya ada 3 cara untuk bisa masuk 30 Under 30.
Pertama, dengan melamar langsung. Ya, kamu bisa mengirim lamaran ke Forbes agar masuk daftar 30 Under 30. Forbes sendiri mengakui, tiap tahun ada ribuan orang yang melamar agar masuk daftar itu.
Tapi sebaiknya lupakan saja.
Ya, sebaiknya lupakan saja cara itu, karena biasanya cuma sia-sia. Sumber daya Forbes tidak akan bisa memverifikasi ribuan data pelamar yang masuk, padahal 30 Under 30 adalah pertaruhan uang yang sangat besar. Mereka tidak akan membuang-buang waktu dan energi secara percuma.
Cara kedua adalah melalui referensi. Seseorang mereferensikan namamu ke Forbes, untuk masuk daftar 30 Under 30.
Semakin kuat posisi orang yang mereferensikanmu, semakin besar kemungkinanmu untuk masuk daftar itu—dengan catatan, kamu punya sesuatu yang layak diwartakan.
Yang disebut “kuat” dalam hal ini adalah orang yang memiliki hubungan khusus dengan Forbes. Inilah kenapa ada yang mengatakan, “All these 30 under 30 and 40 under 40 are awarded based on ‘network’. It has absolutely nothing to do with merit...”
Karena begitulah sistemnya.
Mari gunakan ilustrasi sederhana [dan yang biasa terjadi], agar lebih mudah dipahami.
Umpamakan saja kamu membangun startup yang punya potensi sukses, hingga ada investor masuk.
Investormu lalu menghubungi Forbes, dan meminta mereka memasukkan namamu dalam daftar 30 Under 30.
Forbes adalah sarana public relation yang sangat efektif di dunia bisnis. Karenanya, orang-orang semacam investor pasti punya koneksi khusus dengan Forbes. Jika mereka merekomendasikan namamu agar masuk 30 Under 30, misalnya, kemungkinan besar kamu akan masuk.
Bisa jadi, dan biasanya, investormu tidak memberitahukan apa pun kepadamu terkait hal tadi. Tahu-tahu saja kamu dapat pemberitahuan dari Forbes bahwa kamu masuk sebagai kandidat daftar mereka. Kamu girang, berpikir bahwa startup-mu diam-diam telah dikenal dunia internasional.
Dalam hal ini, permainannya sederhana. Investor memasukkan uangnya ke dalam bisnismu, dan berharap profit. Cara agar bisnis atau startup-mu cepat menangguk keuntungan adalah dengan mendongkrak popularitasnya, dengan menempatkan namamu di Forbes. Bisa memahami cara mainnya?
Jadi, kalau kamu, misalnya, ditanya, “Apakah kamu membayar untuk masuk 30 Under 30?” Tentu kamu akan menjawab, “Tidak!”
Investormu yang mengurus hal-hal semacam itu, dan kamu tahunya tinggal beres. Muncul di panggung, tersenyum lebar, foto-foto, ngoceh sekadarnya... anything.
Cara kedua tadi, yaitu direferensikan investor, bisa jadi cara termudah untuk masuk 30 Under 30. Karenanya, selama ini kita mungkin sering mendapati nama-nama asing di daftar itu, dan berpikir, “Orang-orang ini siapa, ya? Ooh, pendiri startup baru, pantesan aku tidak tahu...”
Selain contoh investor yang mereferensikan namamu, ada cara mudah lain untuk masuk 30 Under 30. Yaitu direferensikan ayahmu!
Tentu saja, dengan catatan kalau ayahmu adalah pejabat berpengaruh, atau pengusaha besar yang biasa dinner dengan orang-orang Forbes!
Selain 2 cara tadi, ada cara ketiga untuk masuk 30 Under 30, yaitu dengan melakukan sesuatu yang luar biasa, yang berdampak positif pada banyak orang, sebegitu luar biasa hingga Forbes mau tak mau harus melihat dan memilihmu. Tapi, jujur saja, ini cara yang sangat, sangat sulit.
Di luar negeri, acara penganugerahan 30 Under 30 dihadiri para pengusaha dan selebritas. Berapa harga undangannya? Lima ribu dolar untuk kursi VIP!
Acara itu serupa meja kasino, dan sederet nama dalam daftar adalah kartu yang dipegang, sementara dadu nasib dilempar ke arena.
Omong-omong, tempo hari JP Morgan dapat apes, karena megang kartu yang salah!
Bukan hanya JP Morgan yang pernah ketiban sial semacam itu—investor lain juga pernah mengalaminya. Tapi tidak apa-apa. Karena selalu ada “kartu-kartu baru” yang bisa dimainkan.
They should just start preemptively arresting anyone on the Forbes 30 Under 30. —@ChrisJBakke, 12 Januari 2023.
Sampai di sini, sudah mulai paham permainannya?
PS:
Sejujurnya, aku tidak nyaman menulis ocehan ini, karena bisa jadi akan mematikan impian beberapa orang yang mungkin berharap masuk 30 Under 30. Karenanya, jangan terlalu pedulikan ocehan ini, dan lanjutkan saja impianmu, kalau kamu memang mampu.
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2023.
