Manusia adalah makhluk sosial, kata teori yang telah menjelma dogma. Mari sepakati saja teori—atau dogma—itu benar, karena nyatanya kita memang sesekali butuh berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, ngobrol-ngobrol ringan sambil bercanda dan tertawa-tawa.
Ngobrol dengan tetangga, misalnya, itu bagus. Selain bagian dari sosialisasi, ngobrol dengan orang lain—dalam hal ini tetangga—juga membantu mengaja kesehatan mental kita, kalau dilakukan sesekali. Tapi kalau setiap hari ngobrol terus dengan tetangga, itu tidak bagus lagi.
Bertemu dan mengobrol dengan tetangga seminggu sekali, misalnya, itu punya manfaat; dari sekadar sosialisasi, mengetahui kabar tetangga, sampai menyehatkan mental. Tapi kalau harus ngobrol dengan tetangga setiap hari, itu justru negatif, karena bisa menjadi penyakit sosial.
Teorinya sederhana saja; kalau orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol setiap hari, hampir bisa dipastikan mereka tidak punya kesibukan. Dan orang yang paling rentan tergelincir membicarakan atau melakukan hal-hal sia-sia adalah orang yang tak punya kesibukan.
Kesibukan—meski mungkin terdengar tidak nyaman di telinga—mampu menjaga kita dari kemungkinan melakukan hal-hal negatif atau sia-sia. Orang yang sibuk belajar atau sibuk bekerja, pasti malas ngurusin hal-hal tak bermanfaat. Beda dengan orang yang tak punya kesibukan.
