Antara ingin tertawa campur sedih campur ingin marah, tiap ketemu orang yang merasa lebih tahu kehidupan orang lain, lalu menyuruh-nyuruh orang lain agar melakukan sesuatu, karena menurutnya itu hal baik. Misalnya... menyuruh orang lain cepat menikah, atau cepat punya anak.
Yang ironis terkait hal ini adalah, orang yang paling rajin mengurusi hidup orang lain (dalam hal ini menyuruh cepat kawin atau cepat punya anak) biasanya justru tidak bisa mengurus hidupnya sendiri, dan menjalani kehidupan tidak bahagia, campur keblangsak dan menyedihkan.
Kalau ada teman atau tetanggamu yang doyan menyuruh-nyuruhmu cepat menikah, cobalah perhatikan. Aku berani betaruh, dia menjalani perkawinan yang tidak bahagia, yang membuatnya tertekan. Dan mereka yang menyuruh-nyuruhmu cepat punya anak biasanya juga menjalani hidup keblangsak.
Manusia, siapa pun dia, tidak bisa—dan tidak akan bisa—melanggar hukum psikologi tertua di dunia: Orang yang bahagia dengan hidupnya tidak punya keinginan ngerusuhi (sok mengurus) hidup orang lain. Kalau kau bahagia, kau akan nyaman dengan diri sendiri, dan tak peduli orang lain.
Ini bukan doktrin omong kosong, tapi kebenaran yang bisa dibuktikan kapan pun, di mana pun, pada siapa pun. Setiap kali kau menemukan orang yang ngerusuhi hidupmu dan merasa lebih tahu tentang hidupmu, kau bisa yakin dia orang menyedihkan, yang menjalani hidup tanpa kedamaian.
Orang yang bahagia dalam hidupnya tentu punya kepedulian pada orang lain—perhatikan, "kepedulian"—bukan ngerusuhi hidup orang lain. Orang yang bahagia bahkan punya kepedulian tinggi pada orang lain. Mereka peduli, bukan ngerusuhi kehidupan orang lain. Kau tentu tahu perbedaannya.
Jika ingin mendalami lebih lanjut ocehan ini, silakan baca catatan berikut:
Kebahagiaan Tak Butuh Pengakuan » https://bit.ly/2XYFF1c
Tipuan Paling Tolol » https://bit.ly/2TIfmxQ
Pernikahan itu baik. Yang buruk adalah orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah.
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Maret 2019.
