Senin, 29 Juni 2026

Saat Tergelap dalam Hidup

Kamu itu ga sendiri, cari teman untuk bicara, kalo bisa tenaga berpresional. untuk suicide survivor, terima kasih untuk tidak pernah menyerah —@hati2dimedsos, 28 Januari 2019.


Orang-orang yang menghadapi kemalangan, kesepian, dan kebingungan—yang belakangan memutuskan bunuh diri—kerap dinasihati agar mencari teman bicara. Nasihat itu baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, bagi orang bersangkutan, “mencari teman bicara” sering nyaris mustahil.

Saat kita menemui seseorang—teman, atau siapa pun—dan berharap dia mau mendengarkan kita, belum tentu harapan itu terwujud. Bisa jadi, orang yang kita harap mau mendengarkan justru berceramah, menghakimi, atau menggampangkan beban pikiran kita, atau mendengarkan tapi tak peduli.

Saran agar menemui profesional juga saran yang baik, benar, bahkan terdengar mudah. Sayangnya, tidak semua orang—khususnya yang bertendensi bunuh diri—tahu hal itu. Kalau pun tahu, belum tentu dia punya biaya. Kalau pun tahu dan punya biaya, belum tentu dia mau melakukannya.

Sebenarnya, yang paling diinginkan seseorang yang sedang menghadapi “kegelapan hidup” adalah seseorang—kalau bisa yang ia kenal dan percaya—yang benar-benar mau mendengarkan dan menunjukkan kepedulian. Tetapi, demi Tuhan, menemukan orang semacam itu sulitnya luar biasa.

Ada jutaan orang yang tahu cara menasihati, tapi sulit menemukan satu saja yang benar-benar peduli. Ada jutaan orang yang siap menjadi temanmu saat kau tertawa, tapi sulit menemukan satu saja yang menemanimu saat menangis. Terdengar muram, memang. Tapi itulah kenyataannya.

Ada banyak orang yang mendekat dan siap menjadi temanmu saat kau mendapat kesenangan dan bergelimang uang, tapi banyak pula yang menjauh dan berpaling darimu saat kau menghadapi masalah dan butuh pertolongan. Terdengar suram, memang. Tapi itu realitas di sekitar kita.

Aku pernah menghadapi saat-saat tergelap dalam hidup, dan akhirnya menyadari sesuatu yang benar-benar pahit: Tidak ada siapa pun yang bisa kuandalkan di dunia ini, selain diri sendiri. Mungkin terdengar angkuh. Tapi untung aku berpikir seperti itu, bukan malah menenggak arsenik.

Kepedulian dan kemampuan mendengarkan itu mudah dikatakan, tapi sulit ditemukan—khususnya oleh orang yang benar-benar membutuhkannya. Itulah kenapa, sejujurnya, aku tidak heran dengan orang bunuh diri, karena aku benar-benar memahami yang dirasakannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

 
;