Selasa, 30 Juni 2026

Doktrin yang Menipu

Ada seorang pria dan seorang wanita yang hidup sendiri-sendiri, dan mereka bisa menikmati kehidupan dengan baik, tanpa kekurangan.

Lalu keduanya bertemu dan menikah. Setelah itu, kehidupan jadi terasa sangat berat dan serba kekurangan.

Diam-diam, realitas itu ada di mana-mana.

Si A punya penghasilan sendiri, begitu pula Si B. Mereka berpikir bisa menggabungkan penghasilan jika menikah, sehingga hidup akan berkecukupan.

Anehnya, begitu pernikahan terjadi, hidup terasa sempit. Penghasilan yang dikira cukup ternyata tak pernah cukup dan terus kurang.

Banyak temanku mengalami kenyataan ini. Sebagian mereka mengaku terang-terangan, sebagian lain sambil malu-malu. Yang jelas, mereka sama-sama menghadapi kenyataan serupa.

Dalam pikiranku, kenyataan aneh itu sebenarnya logis. Saat masih lajang, masing-masing orang hanya mencukupi kebutuhan pribadi. Ketika menikah, mereka punya anak, dan kebutuhan jelas bertambah. Jatah untuk dua orang sekarang harus dibagi lebih banyak. Hasilnya jelas: Tidak cukup.

Tapi doktrin kadang membutakan mata dan pikiran banyak orang. Meski realitasnya begitu jelas, mereka masih memaksa untuk percaya bahwa "anak punya rezeki sendiri", atau "banyak anak banyak rezeki".

Faktanya, banyak pasangan terjerat utang, anak telantar, kelaparan, di mana-mana.

Yang menyedihkan, sering ada orang yang sok mengatakan, "Kalau dipikir-pikir, penghasilanku tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi ndilalah ada saja rezekinya."

Terdengar familier? Meski mungkin terdengar hebat, aku tahu itu cara orang "ngadem-ngademi" diri sendiri.

Yang paling buruk dari semua ini adalah orang-orang yang hobi ngutang pada yang masih lajang, sambil menyuruh-nyuruh cepat kawin.

"Menikah akan melancarkan rezeki," kata mereka.

Kalau melancarkan rezeki, kenapa kau berutang? Sudah begitu, utangnya gak dibayar-bayar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Maret 2019.

 
;