Perkawinan adalah hal biasa, karena dilakukan miliaran orang di dunia. Karenanya, tidak usah menganggap kamu lebih tinggi atau lebih mulia dari orang yang tidak/belum menikah. Sekali lagi, perkawinan adalah hal biasa, itu sesuatu yang dilakukan oleh hampir semua manusia. Menjadi istimewa, karena kamu—dan masyarakatmu—menganggapnya istimewa.
Dan tak perlu buru-buru memuji pasanganmu setinggi langit, karena pasanganmu juga manusia biasa—sama sepertimu, sama seperti pasangan orang-orang lainnya. Lebih dari itu, tak perlu buru-buru memuji pasanganmu kalau kamu baru menikah tiga hari dengannya. Tunggu sampai kamu bersamanya tiga tahun, atau tiga puluh tahun, dan ucapkan pujianmu di depan pasanganmu—bukan di depan orang lain.
Orang yang berhak mendengar pujianmu terhadap pasanganmu bukan tetanggamu, bukan teman-temanmu, bahkan bukan orang tuamu, tapi pasanganmu sendiri. Jika dia baik, dialah yang paling berhak mendengar pujian darimu. Jadi sampaikan pujianmu kepadanya, dan tidak usah pamer di depan orang lain, karena orang lain juga memiliki pasangannya sendiri.
Salah satu kebiasaan buruk adalah hobi memuji pasangan di depan orang lain, tapi suka bermuka masam dan pelit pujian pada pasangannya sendiri.
Jika perkawinanmu bahagia, nikmatilah bersama pasanganmu, bersama keluarga dan anak-anakmu. Syukurilah hidupmu—tapi tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain.
Karena, kalau kamu memamerkan kebahagiaanmu kepada orang lain yang kebetulan menderita, upaya pamermu akan menyakiti perasaannya. Kalau kamu pamer kebahagiaanmu kepada orang lain yang juga bahagia, kalian hanya akan terjebak dalam perlombaan ujub dan riya. Tidak ada gunanya—sungguh tak ada gunanya.
Sebaliknya, jika perkawinanmu sengsara, benahilah bersama pasanganmu, bersama keluargamu. Pelajari kekeliruanmu, dan—sekali lagi—tutup mulutmu, khususnya di depan orang lain. Perkawinanmu adalah milikmu.
