Jumat, 01 Maret 2024

Denting Terlirih dari Musik

Ada sepuluh lagu dari berbagai album Shima yang masuk playlist-ku sekarang, dan sering kudengarkan akhir-akhir ini, kapan pun sempat. 

Bagi yang mungkin belum tahu, Shima adalah penyanyi pop Malaysia era ’90-an. Nama lengkapnya Nazhatul Shima Kamaruzzaman. Pada masanya, Shima sama populer dengan Aishah, Ning Baizura, Ziana Zain, Fauziah Latif... sampai kemudian muncul Siti Nurhaliza.

Aku suka lagu-lagu mereka, tapi paling favorit adalah Shima dan Aishah, dalam arti yang paling sering aku dengarkan sampai sekarang. Di luar penyanyi pop wanita, tentu saja aku masih suka lagu-lagu yang dinyanyikan grup musik Malaysia, dari Exist, Uk’s, sampai Iklim.

Banyak temanku yang bilang, selera musikku sangat gado-gado, genre apa pun masuk. Ya memang, dan menurutku itu baik-baik saja. Musik itu kan selera, dan selera orang bisa berubah, sekaligus bisa beragam, dalam arti bisa menikmati genre [musik] apa pun.

Menurutku, dan ini mungkin tidak terpikir sebagian orang, hal penting untuk menikmati musik—selain selera—adalah audio/speaker yang kita gunakan. Musik sebagus apa pun bisa terdengar “biasa” atau malah buruk, jika kita dengarkan lewat audio berkualitas buruk. 

Sebaliknya, musik yang mungkin biasa-biasa saja, bisa terdengar bagus ketika didengarkan lewat audio yang bagus. Menurutku, keindahan musik itu ketika “denting terlirih”-nya terdengar. Dan itu hanya bisa kita dapatkan lewat penggunaan audio yang bagus.

Perangkat audio yang bagus tidak harus mahal-mahal amat. Altec atau Harman Kardon itu relatif bagus, dan sudah mampu memperdengarkan “denting terlirih” dari sebuah musik. Kalau ponselmu kebetulan pakai audio Harman Kardon, kamu pasti akan tahu. 

Jadi, kalau sewaktu-waktu mendengar lagu yang menurutmu jelek atau “biasa”, coba dengarkan lagu itu di perangkat yang memiliki audio bagus. Kemungkinan besar, penilaianmu pada lagu itu akan berubah. Kamu akan mendengar sesuatu yang tadinya tidak kamu dengar.

Ini bukan berarti semua lagu pasti bagus. Karena, seperti disebut tadi, musik adalah soal selera. Jadi kemampuan kita menerima suatu lagu juga dipengaruhi oleh selera kita. Mau lagunya bagus, pakai audio bagus, kalau bukan selera kita ya tetap akan terdengar biasa saja.

 
;