Rabu, 01 Agustus 2018

Rumah Kartu Kebenaran

Kadang-kadang memang ada sejenis kebenaran yang 
membingungkan, yang sulit kita katakan, dan kita memilih diam. 
Sampai kemudian ada orang lain mengatakannya, 
dan kita diam-diam menyetujuinya.


“Ada jenis kebenaran yang kita tahu benar, tapi kita sulit menjelaskannya kepada orang lain, karena mereka tidak akan percaya.”

Kalimat itu bukan diucapkan seorang filsuf, tapi oleh seorang teman yang menjadi jurnalis investigasi. Dia membuka ponsel, searching ke Google, lalu menunjukkan foto seorang wanita.

Wanita dalam foto itu dikenal oleh masyarakat Indonesia, dan terkenal dengan penampilannya yang glamor. Wanita itu sering terlihat mengendarai mobil sport—konon koleksi mobil sport miliknya bahkan lebih dari satu. Segala hal terkait wanita itu adalah kemewahan, yang benar-benar menunjukkan kalau dia kaya-raya.

Teman saya berkata, “Sejak lama aku tahu wanita ini tidak sekaya yang dia tunjukkan. Tapi jika aku mengatakan hal itu, belum tentu orang-orang akan percaya.”

Belakangan, wanita itu tersandung kasus, dan akhirnya terbukti kalau semua kekayaan dan kemewahan yang ia tunjukkan selama ini cuma “tempelan”. Mobil-mobil sport itu bukan miliknya, dan sebagian besar penampilan glamor yang ia tunjukkan ternyata imitasi. Jika rajin membaca berita, kalian tahu siapa wanita yang saya maksud.

“Itu jenis kebenaran yang kita tahu benar,” ujar teman saya, “tapi orang-orang tidak akan percaya kalau kita mengatakannya.”

Saya menjawab, “Sekarang mereka akan percaya.”

Dia tersenyum. “Ya, karena ada kasus yang terjadi, yang membukakan kebenaran terkait hal itu. Sering kali, orang baru percaya suatu kebenaran, ketika kebenaran itu dibukakan secara telanjang.”

Percakapan itu mengingatkan saya pada wanita lain, yang sama-sama “fenomenal”. Seperti umumnya wanita mana pun yang biasa disorot kamera dan menjadi bahan pemberitaan, wanita ini pun biasa berpenampilan mewah, bahkan mengundang perhatian. Suatu hari, dia diberitakan terlibat prostitusi bertarif ratusan juta, dan konon telah menjalani profesi itu cukup lama. Artinya, jika berita itu benar, wanita ini tentu sudah kaya-raya.

Faktanya, bertepatan dengan munculnya berita tersebut, wanita ini sedang berusaha menjual kalung untuk membeli susu buat anaknya! Bagaimana bisa seorang wanita yang diberitakan “bertarif ratusan juta”, diam-diam kesusahan mendapat uang, sampai menjual kalung miliknya?

Awak media—yang sekarang menjelma burung-burung nasar—langsung menyorot habis-habisan kasus prostitusi itu, karena berita itu mudah dijual, karena menarik perhatian. Sebegitu fokus mereka pada isu yang jelas-jelas tolol dan tak masuk akal itu, sampai mereka meluputkan fakta penting terkait orang yang mereka beritakan. Berita dan fitnah kini nyaris tak ada batas, eh?

Masyarakat, umumnya, mendapatkan berita dan wawasan—hampir tentang segala hal—dari media-media yang mereka baca. Media-media menyuguhkan berita dan segala macam informasi berdasarkan sumber yang mereka dapatkan. Masalah mulai terjadi, ketika hanya ada satu sumber, atau sumber yang diakses awak media ternyata tidak kredibel. Dalam bahasa telanjang; tidak terpercaya.

Era internet dan tumbuhnya media daring memang memudahkan pekerjaan awak media, karena mereka bisa ngoceh apa pun untuk berita apa pun—bahkan jika mereka tidak paham tentang berita yang mereka tulis—karena ruang (space) selalu tersedia untuk ocehan mereka. Kenyataan itu jelas berbeda ketika jurnalisme hanya diwadahi koran atau majalah kertas dengan ruang terbatas.

Sayangnya, kemudahan itu juga menjadikan sebagian awak media bekerja seenaknya. Apa saja yang mereka terima, langsung ditelan mentah-mentah, lalu disodorkan kepada masyarakat pembaca secara mentah-mentah pula. Itu saja belum cukup, karena mereka bahkan bisa mengarang judul-judul bombastis, yang seolah menekankan penting serta benarnya berita yang mereka tulis.

Lalu masyarakat, yang percaya kepada media, menjadikan berita apa pun yang mereka baca sebagai kebenaran. Itu seperti kebenaran yang dibangun dengan rumah kartu. Tidak ada fondasi, dan rapuh.

Tapi masyarakat sering kali tidak peduli apakah yang mereka baca benar atau tidak. Jangankan masyarakat (awam), bahkan awak media yang telah didoktriasi pentingnya klarifikasi dan verifikasi saja sering tak peduli. Padahal, berita baru disebut berita jika telah melewati klarifikasi, dan pengetahuan baru disebut pengetahuan jika telah melewati verifikasi. Tanpa itu, yang kita sebut berita sebenarnya hanya isu. Jika sesuatu masih bersifat isu, kebenarannya patut dipertanyakan.

Di internet, misalnya, ada banyak sumber statistik yang dipercaya banyak orang (khususnya awak media) sebagai sumber rujukan, padahal sumber statistik yang mereka rujuk patut dipertanyakan keabsahannya. Tapi sumber itu tetap dirujuk, semata-mata karena terkenal, atau digunakan banyak orang. Padahal, “terkenal” dan “kredibel” mestinya dua hal berbeda.

Jika ingin contoh, lihatlah Social Blade! Itu salah satu sumber statistik yang kerap dijadikan rujukan, padahal isi statistiknya ngawur-ngawuran. Mereka mengklaim itu estimasi. Bagi saya, itu lebih tepat disebut mark up! Estimasi itu kalau selisihnya cuma 10-20 persen. Kalau selisihnya mencapai 80-90 persen, itu mark up!

Cobalah lakukan kroscek pada nama-nama yang ada di Social Blade (dalam maupun luar negeri), dan tanyakan pada mereka apakah data-data (penghasilan) yang tertulis di Social Blade memang benar. Dan saya berani bertaruh, mereka akan menyangkal data-data itu.

Masalah kita hari ini adalah kesulitan membedakan “yang terkenal” dengan “yang terpercaya”. Padahal kebenaran tidak tergantung seberapa terkenal seseorang atau sesuatu, tapi pada seberapa terpercaya.

Karenanya, menatap hiruk-pikuk di dunia maya—termasuk gelontoran berita yang terus mengalir setiap detik—seperti menatap rumah kartu. Kita yang hidup hari ini tidak lagi kesulitan mendapatkan berita, tapi justru kewalahan menghadapi banyak berita yang datang. Yang masih menjadi soal, berita-berita itu sering seperti rumah kartu—dibangun tanpa fondasi, dikerjakan terburu-buru, hingga hasilnya sangat rapuh. Berita yang rapuh, kebenaran yang rapuh.

Kita telah melewati hal-hal itu, tetapi kita tidak juga belajar. Kasus JIS, misalnya. Atau kasus kopi bersianida. Atau kasus Saracen. Atau sebut lainnya.

Bahkan ketika kasus-kasus itu sedang bergulir dengan panas, setumpuk kejanggalan sudah terlihat. Tapi awak media mungkin terlalu sibuk mengumpulkan sensasi, terlalu pusing mengarang judul yang bombastis, hingga tidak sempat melihat kejanggalan yang seharusnya mereka kejar. Mereka hanya menelan mentah-mentah apa saja yang disodorkan oleh pihak yang mereka sebut “sumber”, lalu menyuguhkannya dengan sama mentah-mentah kepada pembaca. Hasilnya, berita dan fitnah tidak ada bedanya.

Lalu korban berjatuhan. Orang-orang yang belum tentu bersalah, yang mestinya dibela, justru menjadi bulan-bulanan media. Karena awak media telah menjelma burung-burung nasar. Mereka terlalu haus darah... dan sensasi.

Terkait hal itu, setengah tahun lalu saya menghadiri pertemuan dengan para pekerja media (semuanya dari Indonesia), dan akhirnya saya memahami bagaimana “kekacauan dan kegilaan” ini bisa terjadi.

“Kami bekerja dengan sistem deadline yang gila,” ujar seorang dari mereka.

Setelah itu, saya pun mendengarkan bagaimana sistem kerja media kontemporer, khususnya media-media yang hidup di internet. Ternyata, awak media sekarang bukan kesulitan melakukan investigasi untuk berita yang mereka tulis, tetapi kesulitan mendapatkan waktu yang cukup. Mereka menghadapi tuntutan jumlah berita yang harus mereka setor, dan jumlah itu kadang mengharuskan mereka bekerja “asal-asalan”—apa saja ditulis, yang penting menutup kuota (jumlah yang harus mereka setor).

“Dalam tekanan semacam itu, kita kesulitan melakukan investigasi secara layak, karena waktu yang tersedia jelas tidak mencukupi,” papar mereka. “Kita tidak lagi bekerja di media yang terbit harian atau mingguan atau bulanan. Kita kini bekerja di media yang terbit setiap menit, bahkan setiap detik!”

Saya pun akhirnya bisa membayangkan—sekaligus memaklumi—bagaimana kerasnya mereka bekerja, mati-matian menulis apa pun yang bisa mereka raih, demi menutup “kuota harian”. Karenanya pantas, ketika satu berita yang seharusnya dapat ditulis dalam satu artikel bisa menjadi banyak artikel. Yang mestinya cukup ditulis ringkas, bisa sangat panjang dan bertele-tele. Alasannya sepele; kuota!

Secara sederhana, skemanya seperti ini: Perusahaan-perusahaan media daring di Indonesia berupaya menerbitkan berita sebanyak-banyaknya, kalau bisa yang paling cepat atau paling pertama. Dalam mewujudkan hal itu, mereka menekan para pekerja (awak media) untuk menulis sebanyak-banyaknya, sekaligus secepatnya. Jumlah dan kecepatan itu akan berpengaruh pada banyaknya pengunjung.

Banyaknya pengunjung akan berpengaruh pada statistik website. Statistik website akan mempengaruhi algoritma mesin pencari, hingga website bersangkutan akan muncul di halaman pertama untuk setiap pencarian. Setelah itu terjadi, ranking akan naik, reputasi terbentuk, dan... tentu saja, uang datang menggelontor.

Diakui atau tidak, sebagian media daring di Indonesia bekerja dengan skema semacam itu. Karenanya, meski mungkin terdengar kasar, mereka tidak peduli apakah berita yang disodorkan telah memenuhi verifikasi yang layak atau tidak. Karena yang mereka kejar memang bukan itu. Tapi ranking dan reputasi. Tentu saja yang dimaksud “reputasi” di sini adalah reputasi versi mesin pencari, bukan reputasi atas tingkat kepercayaan pembaca pada media yang mereka baca.

Ketika hal semacam itu terjadi, kita pun bertanya-tanya... di manakah kebenaran?

Orang-orang membaca berita, atau apa pun, dengan harapan memperoleh informasi atas hal-hal yang tidak mereka tahu. Jika mereka mendapatkannya di media yang layak dan terpercaya (yang menjalani proses jurnalisme secara benar), tentu informasi itu bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri, juga bermanfaat jika mereka menyebarkannya. Tapi bagaimana jika sebaliknya?

Sebagian orang kerap menuduh hoaks disebarkan orang tak bertanggung jawab atau media abal-abal. Padahal, media-media yang sudah terkenal (dalam arti tidak dianggap abal-abal) pun bisa terjebak menyebarkan hoaks—ketika mereka menerbitkan berita tanpa proses verifikasi sebagaimana mestinya. Asal suatu berita keluar dari pihak yang disebut “sumber”, langsung ditulis tanpa proses dan upaya verifikasi. Jika kenyataannya berita dari sumber itu tidak benar, akan disebut apa jika bukan hoaks?

Akhirnya, yang menjadi korban dari sistem kerja jurnalisme semacam itu adalah pembaca, masyarakat yang telanjur percaya pada apa saja yang mereka baca. Media dan para pekerjanya—yang mestinya menjadi saringan untuk memilah mana yang benar dan mana yang keliru—justru tidak menjalankan fungsi penting itu. Alih-alih bekerja sebagai penyaring, mereka justru bekerja seperti ember bocor. Apa saja yang dimasukkan, langsung dialirkan keluar.

Oh, well, jurnalisme sudah hilang, verifikasi dilupakan, dan fitnah yang menyaru berita kini mudah diyakini sebagai kebenaran.

 
;