Kamis, 01 September 2022

Sambil Nunggu Udud Habis di Blog

Doktrin: 

Menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki.

Fakta:

“Aku menikah, dan nyatanya memang bahagia dan lancar rezeki.” 

Bagus sekali, dan aku ikut senang dengan kebahagiaanmu. Yang masih perlu kita pikirkan dan bicarakan sekarang adalah, berapa banyak pasangan lain yang juga menikmati karunia semacam itu?

Kita didoktrin bahwa menikah akan membuat bahagia dan melancarkan rezeki, dan kita dipaksa percaya mentah-mentah. Mari periksa, sebanyak apa orang yang benar-benar bahagia dan lancar rezeki setelah menikah, untuk melihat apakah doktrin itu memang layak dipercaya.

Secara pribadi, aku percaya hanya ada nol koma sekian persen pasangan yang benar-benar bahagia dan rezekinya baik-baik saja setelah menikah—sisanya tertekan dan menderita. Tapi mungkin kalian tidak setuju dengan statistik yang kupercaya, jadi mari gunakan angka moderat.

Mari andaikan setengah dari semua pasangan yang menikah benar-benar bahagia dan lancar rezeki, dalam arti bisa menghidupi keluarga secara layak. Setengah dari semua pasangan yang menikah—ini sangat moderat. Tetapi bahkan seperti itu pun, implikasinya mengerikan.

Ada berapa miliar orang yang menikah di dunia ini? Jika penduduk bumi ada 7 miliar, mari andaikan 4 miliar di antaranya menikah (2 miliar pasangan). Dari 2 miliar pasangan itu, setengahnya bahagia dan lancar rezeki, sementara setengahnya lagi tertekan dan menderita!

Jika kemungkinan itu bisa diterima, artinya ada 1 miliar pasangan di muka bumi yang hidup tertekan dan menderita, padahal mereka menikah dan beranak pinak. Satu miliar pasangan, alias 2 miliar orang! Itu bukan angka kecil untuk sebuah doktrin yang dipercaya mentah-mentah!

Bisa melihat masalah besar di sini? Semua berawal dari doktrin yang memaksa dipercaya bahwa menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki. Dan doktrin itu mengonfirmasi sebagian pasangan yang kebetulan memang bahagia, sekaligus membungkam yang menderita.

Maksudku begini. Jika ada pasangan yang kebetulan memang bahagia dan lancar rezeki setelah menikah, pasangan itu akan mengoar-ngoarkan doktrin tadi, karena merasa terkonfirmasi—atau sebaliknya, merasa bisa mengonfirmasi, “Doktrin itu benar, kok. Menikahlah!”

Sebaliknya, ketika ada pasangan yang ternyata menjalani hidup penuh tekanan dan menderita setelah menikah, mereka tidak berani menyalahkan doktrin—memangnya siapa yang berani? Alih-alih menyalahkan doktrin, mereka justru akan menyalahkan diri sendiri dan pasangan.

Belum pernah ada—setidaknya aku belum pernah menemukan—orang yang terang-terangan mengatakan, “Jangan percaya doktrin perkawinan! Nyatanya aku menikah dan hidupku malah keblangsak!” Mereka tidak akan mengatakan itu, kenapa? Jawabannya sepele; ego!

Bahkan umpama seseorang menderita dalam perkawinannya, mereka tidak akan mengatakannya terang-terangan (kecuali sudah cerai). Pertama, karena mereka sadar itu akan bertabrakan dengan keyakinan sosial. Kedua, karena mengakui hal itu akan melukai ego mereka sendiri.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan mungkin baru selesai tahun 9346... atau 9368—entahlah, karena masih panjang sekali. Tapi ududku habis.

 
;