Selasa, 01 April 2025

Kutukan Paling Mematikan

Barusan nyari anget-anget ke warung bakso. Di warung ada 3 laki-laki yang lagi ngobrol. Salah satunya terdengar berkata, "Wanita tuh kalau diluruskan ya Allaaaaaah, sulitnya setengah mati! Entah cuma istriku, atau memang semua wanita begitu?"

Temannya terdengar menyahut...

"Kayaknya semua wanita emang gitu," sahut si teman. "Soalnya istriku juga gitu. Kalau diajak omong sulitnya minta ampun! Jadinya sering makan ati."

Istilah "diluruskan" dan "diajak omong" dalam percakapan itu mungkin maksudnya konotatif. 

Laki-laki ketiga mengatakan hal serupa.

"Kalau apa-apa, mending tak kerjakan sendiri," kata laki-laki ketiga. "Daripada ajak omong istri, ujung-ujungnya malah ribut, gak ada hasilnya apa-apa."

Aku duduk di sebelah meja mereka. Sambil makan bakso, percakapan mereka sangat jelas terdengar. Dan aku tersenyum, diam-diam.

Sebelumnya, aku juga sering mendengar para wanita saling curhat dan mengobrolkan suami mereka. Percakapan-percakapan mereka juga sebelas dua belas dengan yang tadi kudengar. Para wanita itu saling mengeluhkan suaminya. 

Di media sosial semacam Instagram, orang-orang pamer kemesraan dengan pasangan. Mereka berani menunjukkan muka, bahkan menebar senyuman seolah pasangan paling bahagia di dunia. Tapi di akun semacam Cermin Lelaki (yang jujur dan apa adanya), tidak ada yang berani pasang muka.

Karena pernikahan, setidaknya dalam pikiranku, adalah kehidupan tertutup topeng yang memberi tahu dunia bahwa mereka baik-baik saja, padahal tidak. Itu kehidupan yang jelas penuh tekanan. Sebegitu tertekan, sampai mereka butuh akun semacam Cermin Lelaki untuk sekadar curhat.

Setiap pilihan tentu mengandung konsekuensi, baik pilihan untuk menikah atau pilihan untuk melajang. Yang paling bangsat adalah orang-orang yang menikah, lalu sok bahagia padahal diam-diam tertekan, dan hobi menyuruh-nyuruh serta menyinyiri orang-orang lain agar cepat kawin.

Aku bisa tahu apakah perkawinanmu bahagia atau tidak, dengan melihat apakah cocotmu terjaga atau tidak. Kalau kau suka nyinyir dan menyuruh-nyuruh orang lain cepat kawin agar bahagia dan bla-bla-bla, bahkan iblis di neraka pun tahu... jauh di lubuh hatimu kau tidak bahagia.

Pernah ada keparat tolol yang saban waktu menyuruh-nyuruhku cepat kawin, dengan segala bujuk rayu memuakkan. Ketika kutanya, kenapa suka menyuruh-nyuruhku kawin, dia menjawab, "Karena aku kasihan melihatmu."

Oh, well, kasihan melihatku!

Padahal aku justru kasihan melihatnya!

Ujian perkawinan yang tidak pernah dikatakan siapa pun kepadamu:

Kalau kau bahagia bersama pasanganmu, masalahmu adalah anak. Kalau kau bahagia dengan pasanganmu dan punya anak, masalahmu adalah uang. Kalau kau bahagia dengan pasanganmu dan punya anak serta uang, masalahmu...

...adalah kesehatan. Kalau kau bahagia bersama pasanganmu, punya anak, uang, juga sehat, masalahmu adalah kesetiaan. Kalau kau bahagia dengan pasangan dan anakmu, serta punya uang, sehat, dan saling setia, masalahmu adalah keluarga.

Dan hanya sedikit yang lolos dari kutukan itu.

Tentu saja aku percaya ada orang-orang yang bahagia dalam perkawinan, tapi hanya segelintir! Dalam statistik, jumlahnya paling nol koma sekian. Selebihnya bergelimang masalah dan saling tertekan diam-diam. Wong hidup sendiri saja bisa penuh masalah, apalagi hidup dalam ikatan.

Karenanya, bocah-bocah Amerika punya guyonan, "Kutukan paling mematikan sebenarnya bukan 'Avra kedavra', tapi 'Hari ini kunikahkan kalian'."

"Avra kedavra" mengakhiri masalah. Tapi "Hari ini kunikahkan kalian" memulai masalah. Dalam bayanganku, itu seperti membuka Kotak Pandora.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Februari 2020.

Selasa, 01 April 2025

Keluarga di Kalideres

Apakah kalian percaya kalau satu keluarga di Kalideres memang mati karena kelaparan?

Aku percaya.

Omong-omong soal mati kelaparan...

Berdasarkan berita-berita yang kubaca, setidaknya sampai saat ini, aku percaya kalau keluarga di Kalideres yang meninggal bersama dalam rumah itu memang meninggal karena kelaparan. 

Tapi mengapa mereka sampai meninggal akibat kelaparan, itu yang masih jadi pertanyaan.

“Tentu saja mereka mati kelaparan karena berhari-hari tidak makan!” 

Maksudku bukan begitu. 

Mari gunakan perbandingan kasus orang hilang. Jika seseorang dikabarkan hilang, setidaknya ada beberapa kemungkinan: Hilang tanpa sadar, hilang secara sadar, atau dihilangkan.

“Hilang tanpa sadar”, misalnya orang tua yang sudah pikun, berada di suatu tempat, dan tidak tahu cara pulang. Atau orang yang berpetualang ke hutan atau tempat liar, lalu tersesat dan tidak tahu jalan pulang. 

Mereka akan dianggap hilang, dan mereka hilang tanpa menginginkan.

Sementara “hilang secara sadar” adalah orang yang dianggap hilang, tapi si orang hilang itu memang sengaja menghilangkan dirinya sendiri. Misalnya Si X ingin menikmati hidup baru di tempat baru dengan identitas baru—apa pun alasannya—lalu dia melakukannya diam-diam.

Terakhir, “dihilangkan” adalah kasus orang hilang karena adanya pihak lain yang menghilangkannya. Misal Si X jadi korban pembunuhan, lalu si pembunuh menyimpan jasad Si X. Maka Si X akan dianggap hilang. Tapi hilangnya Si X karena kasus pembunuhan oleh pihak lain.

Kembali ke kasus kematian satu keluarga di Kalideres. 

Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan pada jasad mereka, korban-korban itu diduga mati karena kelaparan (berhari-hari tidak makan), dan sepertinya memang begitu. Yang masih jadi pertanyaan, mengapa mereka begitu?

Tak jauh beda dengan kasus orang hilang, kasus orang yang mati kelaparan juga bisa disebabkan karena latar belakang berbeda. Bisa karena memang tidak punya uang untuk makan, bisa karena sengaja tidak mau makan, bisa pula karena ada pihak lain yang melarang mereka makan.

Manakah di antara ketiga hal itu yang relevan dengan kasus meninggalnya keluarga di Kalideres? Itu tugas polisi untuk mengungkapnya.

Jadi, mari tunggu kabar/perkembangan selanjutnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 November 2022.

Selasa, 01 April 2025

Tepat Seperti Inilah yang Terjadi

Dan... tepat seperti inilah yang terjadi. Alam selalu punya cara untuk melanjutkan evolusi. Merak mengepakkan sayap, kunang-kunang memancarkan cahaya, serangga terjebak jaring laba-laba, dan manusia terperangkap dalam batas usia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 November 2022.

Selasa, 01 April 2025

Oh, Well, Pejuang Nikah!

"Cukup Rp20 ribu bisa buat belanja, asal istri bisa atur dan teliti."

Ironisnya, semboyan semacam itu datang dari mereka yang menyebut diri sebagai (((((pejuang nikah))))).

Nikahnya diperjuangkan habis-habisan, nafkahnya cuma 20 ribu perak! Oh, well, pejuang nikah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Desember 2019.

Selasa, 01 April 2025

Thank You, Dr. Nicole

Childhood trauma can create a desire for hyper-independence. An “I don’t need anyone” protective mechanism. Healing is about learning how to ask for help and how to receive help when it’s given.@Theholisticpsyc 

Thank you, Dr. Nicole. Your tweets help me get to know myself better.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 November 2022.

Selasa, 01 April 2025

Fakta Berbicara

Sebagian orang mengatakan, "Orang tua pasti tahu yang terbaik untuk anaknya."

Sebagian lain ngotot, "Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya."

Fakta berbicara.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Februari 2020.

Selasa, 01 April 2025

Ini Benar

Gua sebagai anak bisa confirm kalo semua omongan orang tua either bad or good tuh nempel bgt di kepala bahkan sampe detik ini. Apalagi obrolan yang sifatnya memvalidasi dan mengapresiasi, kayanya gabakal bisa lupa deh. It just too precious for me to be forgotten @anomdanas

Apresiasi dan validasi yang disampaikan orang tua ketika kita masih anak-anak akan sangat berpengaruh pada perkembangan kita hingga dewasa. Sayangnya, begitu pula sikap merendahkan atau melecehkan yang dilakukan orang tua pada anak-anak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 November 2022.

Selasa, 01 April 2025

Ngerentes

Suami merantau ke Jakarta krn di kampung udh ga ada pencaharian. Istri kesepian, selingkuh dgn tetangga. Suami pulang, istri dikepruk dicekik ditendang dimaki2 di depan anak2. Anak bungsu nangis, anak sulung ngerekam. Viral. Suami diciduk polisi. Nggrantes bgt hidup wong cilik@gruusomeflower, 16 November 2022

Dan masih ada orang-orang yang mencoba meyakinkan kita, "Menikah akan membuatmu tenteram, bahagia, dan lancar rezeki."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 November 2022.

Selasa, 01 April 2025

Apa yang Terjadi?

SEBENARNYA APA YANG SEDANG TERJADI DI NEGERI INI? KOK KAYAKNYA KACAU SEMUA?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Desember 2019.

Selasa, 01 April 2025

Kirain

Kirain di tempatku udah gak banjir. Ternyata malah sekarang banjirnya lebih tinggi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Februari 2020.

Selasa, 01 April 2025

Iden

Apakah kamu sudah iden, hem?

Oh... iden.

 
;