Rabu, 18 Maret 2015

Dari Penulis kepada Editor (2)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Coba perhatikan, hanya untuk urusan kalimat atau ungkapan saja, masing-masing pihak bisa berbeda pikiran. Ilustrasi itu menunjukkan bahwa masing-masing penulis dan editor bisa jadi memiliki pemikiran berbeda atas isi suatu naskah, dan keduanya perlu menyadari bahwa diri mereka bisa keliru, sehingga terbuka pada masukan pihak lain. Karena itulah, sebagaimana yang ditekankan tadi, penulis maupun editor perlu menyadari bahwa kedudukan mereka setara. Kesadaran itu dibutuhkan, agar tidak ada pihak yang antikritik. Penulis bisa keliru, editor pun begitu.

Yang jadi masalah, kadang ada editor yang merasa dirinya lebih penting atau posisinya lebih tinggi dari penulis. Atau sebaliknya, ada penulis yang merasa dirinya lebih penting atau posisinya lebih tinggi dari editor. Ketika masing-masing pihak merasa lebih penting dan lebih tinggi dari yang lain, maka kerjasama pun tidak akan terjalin baik. Bahkan, jika dipaksakan, hasilnya juga akan meninggalkan rasa tidak puas bahkan penyesalan.

Posisi penulis dan editor

Kita mungkin pernah mendapati editor yang mengeluh, “Kalau sebuah buku sukses dan disukai pembaca, yang paling banyak mendapat pujian adalah penulis, padahal editor juga ikut berperan dalam buku tersebut.”

Mungkin memang benar. Ketika sebuah buku mengalami kesuksesan, nama penulisnya pun melambung dan segala puja-puji diarahkan kepadanya. Orang-orang tidak ingat bahwa ada editor yang juga ikut bekerja di balik kesuksesan buku itu. Tetapi jangan lupa, jika sebuah buku mendapat banyak kritik dari pembaca, yang paling malu dan menanggung beban adalah si penulis. Jika buku mengalami kegagalan dan jeblok di pasar alias tidak laku, yang paling menderita adalah penulis.

Agar lebih adil, mari kita lihat posisi editor dan penulis secara proporsional. Umumnya, editor adalah orang yang bekerja di sebuah penerbit. Editor mengerjakan tugas-tugas hariannya sehubungan dengan pekerjaannya di penerbit, dan setiap bulan mendapat gaji rutin. Bisa dibilang, editor tidak terlalu terpengaruh jika suatu buku yang dieditorinya ternyata jeblok di pasar, toh dia masih mendapat gaji secara rutin. Lebih dari itu, seorang editor menangani banyak naskah yang masuk ke penerbit, karena itu memang pekerjaannya.

Sekarang, mari kita lihat posisi penulis. Umumnya, penulis adalah pekerja profesional yang menjadikan aktivitas menulis sebagai mata pencaharian. Umumnya pula, para penulis mendapat “gaji” tiga atau enam bulan sekali, melalui royalti dari bukunya yang terjual. Karena menyadari nafkahnya berasal dari tulisan, para penulis pun berusaha agar naskahnya benar-benar bagus dan bisa diterima pasar. Karenanya pula, jika ternyata bukunya jeblok di pasar, yang paling menanggung akibat adalah penulis, karena jumlah royalti yang pasti minim. Belum lagi jika ada kritik dari pembaca akibat isi buku yang “kacau”.

Bagi editor, sebuah buku hanya “bagian pekerjaannya”. Bagi penulis, sebuah buku adalah “hidup matinya”. Jika sebuah buku gagal di pasar, editor masih mendapat gaji bulanan. Dengan kata lain, dia tidak terlalu terpengaruh dengan tidak lakunya buku tersebut. Tetapi, bagi penulis, gagalnya sebuah buku di pasar adalah risiko bagi nafkahnya.

Uraian ini mungkin terkesan blak-blakan, tetapi harus ada yang mengatakannya, agar masing-masing pihak bisa lebih saling memahami, khususnya editor. Jika seorang editor—atas nama penerbit—berharap suatu buku bisa sukses dan disukai pembaca, maka percayalah bahwa penulis jauh lebih menginginkan hal itu.

David Rosenthal, editor senior di Penerbit Random House, Amerika, mengatakan, “Di antara editor dan penulis harus ada rasa saling percaya yang luar biasa besar, yang ditopang oleh rasa saling menghargai, dan rasa saling menyenangi yang besar pula.”

Ketika penulis atau editor merasa lebih tinggi dari lainnya, maka yang menjadi korban pertama adalah kualitas buku yang kemudian terbit. Buku buruk yang mungkin pernah kita baca belum tentu memang berasal dari naskah buruk. Bisa jadi, naskah buku itu sebenarnya bagus, tapi hubungan editor dan penulis yang buruk kemudian menjadikan hasil bukunya menjadi buruk.

Seperti yang saya ceritakan di sini, ada penulis mengirim naskah ke penerbit, dan dalam naskah itu si penulis menggunakan kata ganti “kau” untuk menyapa pembaca. Oleh editor, kata ganti “kau” diubah menjadi “engkau”, karena menurutnya itulah yang benar. Si penulis sudah menyampaikan pada editor, bahwa istilah “kau” sekarang telah digunakan di banyak buku, dipakai oleh banyak penulis, pengarang, bahkan sastrawan. Tapi editor tetap memaksa istilah “kau” harus diubah menjadi “engkau”, karena menurutnya itulah yang benar.

Karena tidak terjadi kesepakatan, si penulis memilih untuk menarik kembali naskahnya. Hasilnya, naskah itu kemudian diterbitkan penerbit lain, dan istilah “kau” tetap dipertahankan dalam naskah. Belakangan, si penulis bercerita, “Untung aku sempat membaca editing naskah itu sebelum bukunya terbit. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anehnya buku itu kalau di dalamnya penuh istilah ‘engkau’ yang sudah ketinggalan zaman. Bukan hanya isi buku yang akan aneh, aku juga pasti akan sangat malu.”

Sekarang bayangkan jika buku itu terbit melalui penerbit pertama, yang editornya ngotot mengubah “kau” menjadi “engkau”. Hasilnya pasti akan menjadi buku yang aneh, dan bisa jadi para pembaca akan menuduh si penulis ketinggalan zaman. Padahal bukan si penulis yang ketinggalan zaman, tapi editornya yang tidak mengikuti perkembangan zaman, khususnya perkembangan bahasa dan teknik penulisan.

Menulis adalah kerja kreatif. Sebagaimana kerja kreatif lain, seorang penulis perlu terus mengasah diri, memperbaiki diri, menyempurnakan diri, dan proses itu bisa dibilang tak pernah berhenti. Tetapi, yang memiliki tanggung jawab semacam itu bukan hanya penulis. Editor juga perlu meng-update bahkan meng-upgrade pengetahuan dan wawasannya, agar bisa terus mengikuti perkembangan, dalam hal ini perkembangan bahasa, teknik penulisan, dan—lebih khusus—gaya tulisan si penulis.

Bahasa terus berkembang, berbagai istilah baru terus muncul, istilah lama diperbaiki, sementara berbagai istilah lain telah ditinggalkan karena usang. Teknik penulisan baru yang lebih modern juga mulai menggantikan teknik penulisan lama. Pengetahuan-pengetahuan semacam itu tidak hanya perlu diketahui penulis, namun juga editor. Agar keduanya bisa saling mengimbangi, agar keduanya bisa saling melengkapi. Lebih dari itu, agar keduanya tidak saling merasa lebih tinggi.

Well, jika kita perhatikan novel-novel lama, misalnya, kita sering mendapati tanda *** (tiga bintang) yang biasa digunakan untuk membatasi adegan per adegan. Coba buka novel serial Lupus terbitan lama, atau novel-novel lama karya Mira W atau Marga T. Di novel-novel itu, ada banyak tanda *** yang terus muncul setiap kali adegan berganti. Umumnya, novel-novel di masa lalu menggunakan satu plot, dengan adegan per adegan yang cukup panjang, sehingga satu adegan dengan adegan lain kadang berbeda waktu.

Di masa lalu, penggunaan *** dalam novel bisa dibilang telah baku. Setiap kali adegan berganti, penulis membubuhkan tanda itu. Tetapi, sekarang, seiring perkembangan teknik penulisan novel modern, tanda *** telah mulai ditinggalkan. Para penulis modern tidak lagi menulis novel dengan adegan per adegan panjang dengan satu plot, tetapi menggunakan alur yang lebih cepat sehingga adegannya lebih singkat, dan menggunakan beberapa plot sekaligus dalam satu waktu.

Teknik penulisan modern yang lebih cepat terbukti lebih disukai pembaca, karena jalan cerita tidak membosankan dan tidak bertele-tele. Karena adegan per adegan dalam novel modern semakin singkat, sementara plot yang digunakan biasanya lebih dari satu, maka penggunaan tanda *** pun ditinggalkan. Sebagai gantinya, penulis akan meletakkan jarak (biasanya dobel spasi) untuk memisahkan adegan per adegan dalam novel.

Untuk lebih memahami yang saya maksudkan, buka dan perhatikanlah novel-novel (asli atau terjemahan) karya Sidney Sheldon, Mary Higgins Clark, Sandra Brown, atau penulis-penulis modern dari Indonesia maupun luar negeri. Penulis-penulis novel modern tidak lagi membubuhkan tanda *** ketika berganti adegan, karena kisah dalam novel modern berjalan lebih cepat, sementara plotnya terus berganti-ganti dalam satu waktu.

Di masa lalu, satu adegan dalam novel bisa sepanjang beberapa halaman. Sekarang, seiring teknik penulisan modern, satu adegan dalam novel bisa hanya beberapa paragraf atau bahkan beberapa baris. Hasilnya, pembaca bisa menikmati kisah yang filmis—imajinasi mereka lebih mudah berjalan seperti saat menyaksikan film—karena adegan per adegan dalam novel terus berganti secara simultan, dan tidak lagi panjang bertele-tele.

Lanjut ke sini.

 
;