Selasa, 24 Februari 2015

Penulis, Penerbit, dan Promosi Buku (4)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Sayangnya, tidak semua penerbit seperti itu. Ada penerbit-penerbit yang terkesan seenaknya sendiri mengubah judul naskah penulis, bahkan tanpa konfirmasi terlebih dulu. Akbatnya, sering kali si penulis merasa tidak cocok dengan judul yang digunakan, bahkan—dalam kasus tertentu—mereka merasa malu dengan judul atau subjudul yang dipilihkan penerbit untuk bukunya.

Kadang, si penulis telah menetapkan judul yang simpel, menarik, dan elegan. Oleh penerbit, judul itu diubah hingga terkesan norak. Dalam kasus tertentu, judul yang digunakan bahkan mengalami kesalahan atau penumpukan kata/kalimat, sehingga terkesan aneh dan berlebihan. Ketika hal semacam itu terjadi, si penulis tidak bisa merasa senang atau bangga dengan bukunya, bahkan sering kali merasa malu. Jika si penulis tidak bangga bahkan malu pada bukunya sendiri, bagaimana ia mau tergerak untuk membantu promosi?

Kasus semacam itu banyak sekali terjadi, dan telah sering dialami para penulis. Saya mengenal cukup banyak penulis yang sama sekali tidak mau “mengakui” bukunya sendiri, gara-gara merasa malu akibat masalah seperti yang diceritakan di atas. Para penulis itu bahkan menganggap buku-buku tersebut sebagai “anak haram”. Meski buku-buku itu memang karya mereka, tapi mereka malu mengakuinya.

Rahma (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu penulis yang pernah mengalami kasus semacam itu. Sebelumnya, dia aktif mempromosikan buku-bukunya di berbagai media sosial yang dimilikinya. Tetapi, ketika bukunya mengalami pergantian judul yang diubah seenaknya sendiri oleh penerbit, dengan senyum getir Rahma mengatakan, “Judul ini sama sekali bukan kalimatku!” Yang ia maksud adalah, “Judul buku ini sama sekali tidak mencerminkan kepribadianku!”

Karena dia merasa buku itu tidak merepresentasikan dirinya, Rahma pun tidak mau mempromosikan. Jangankan membantu promosi, bahkan mengakuinya pun dia enggan. Berita buruknya, banyak sekali kasus serupa seperti yang dialami Rahma. Mereka sebenarnya penulis-penulis yang bersedia membantu promosi bukunya. Tetapi, karena judul yang tidak mereka sukai, mereka pun malu dan tidak tertarik untuk berpromosi.

Harus saya katakan di sini, ada kalanya memang penerbit merasa memiliki hak prerogatif untuk menentukan atau mengubah judul naskah penulis, bahkan hal itu kadang dinyatakan dengan jelas dalam surat perjanjian antara penerbit dan penulis. Tetapi, meski seperti itu, akan jauh lebih baik kalau penerbit mengonfirmasikannya terlebih dulu kepada si penulis jika akan mengubah judul atau subjudul, agar ada persetujuan bersama.

Hal itu tidak hanya akan menyenangkan penulis, namun juga akan menguntungkan penerbit. Jika penulis menyukai judul bukunya—dan buku itu benar-benar sesuai harapan mereka—si penulis akan merasa bangga. Jika penulis merasa bangga, tanpa diminta pun mereka akan senang mengenalkan/mempromosikan bukunya kepada orang lain. Bukankah itu yang diinginkan penerbit?

Hukum psikologi telah menyatakan dengan jelas, bahwa setiap orang senang aktualisasi atau mengekspresikan diri. Dalam bahasa yang lugas, setiap orang punya kecenderungan untuk pamer. Karenanya, kalau penulis menyukai dan bangga dengan bukunya, mereka akan aktif mengenalkan buku karyanya kepada orang-orang, bahkan umpama penerbit tidak memintanya. Dengan kata lain, cara mudah agar penulis tergerak mau mempromosikan bukunya, adalah dengan membuat si penulis merasa senang dan bangga pada buku tersebut!

Selain pemilihan judul yang sebaiknya disepakati bersama, hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah sampul buku. Sama seperti judul, kadang penerbit menetapkan desain sampul sebagai wilayah prerogatifnya, sehingga merasa berhak menggunakan desain sampul seperti apa pun sesuai selera mereka. Namun, lagi-lagi, jika penerbit ingin penulis aktif mengenalkan/mempromosikan bukunya kepada orang lain, penerbit juga harus mampu membuat si penulis merasa senang dan bangga pada sampul bukunya.

Sampul buku adalah wajah—hal pertama yang diperhatikan orang lain/calon pembaca buku. Diakui atau tidak, banyak orang membeli buku karena tertarik pada sampulnya, khususnya jika nama si penulis belum terkenal. Saya sendiri pun begitu. Sampul adalah hal pertama yang saya perhatikan ketika akan membeli buku yang ditulis orang yang namanya tidak saya kenal. Kalau saya mengenal nama penulisnya, saya akan membeli buku itu tak peduli seperti apa pun wujud sampulnya. Tetapi, jika tidak mengenal nama si penulis, saya akan memperhatikan sampul dan judul bukunya.

Nah, cukup sering, sampul yang digunakan untuk suatu buku sama sekali tidak disukai oleh si penulis. Contoh kasus: Seorang penulis mengirimkan naskah novel serius untuk pembaca dewasa ke sebuah penerbit. Naskah itu diterima. Ketika terbit, sampul yang digunakan sama sekali tidak disukai si penulis. Meski itu novel serius, penerbit menggunakan sampul ala novel teenlit yang sangat meremaja. Karena penetapan sampul itu tanpa konfirmasi kepada si penulis, buku itu pun beredar, dan si penulis sama sekali tidak menyukainya.

Jika si penulis tidak menyukai bukunya, bagaimana ia akan bangga? Kalau si penulis tidak bangga pada bukunya, bagaimana ia akan tergerak mengenalkan atau mempromosikannya?

Karena kesadaran semacam itu pulalah yang membuat banyak penerbit sampai membuatkan tiga desain sampul khusus untuk setiap buku, agar penulisnya bisa memilih sendiri mana yang paling cocok dan paling ia sukai. Penerbit-penerbit semacam itu menyadari bahwa hal pertama yang harus mereka peroleh adalah kebanggaan si penulis. Jika si penulis sudah bangga dengan bukunya, urusan lain bisa dibereskan dengan mudah.

Banyak penerbit yang secara khusus melakukan hal itu, demi menghargai serta menyenangkan penulisnya. Untuk setiap naskah yang akan diterbitkan menjadi buku, mereka membuat tiga desain sampul dengan corak berbeda. Tiga desain sampul itu dikirimkan pada si penulis, untuk dipilih yang paling cocok dan paling ia sukai. Desain yang kemudian ditetapkan menjadi sampul buku adalah yang dipilih dan disetujui oleh si penulis. Bahkan, jika si penulis masih tidak puas dengan tiga desain yang disodorkan penerbit, si penulis boleh mengajukan desain sendiri.

Apakah hanya judul dan sampul buku yang diperhatikan oleh penulis? Tentu saja tidak! Para penulis juga sangat memperhatikan editing dan proofread, bahkan kadang bentuk bukunya. (Untuk topik satu ini, kelak akan kita bicarakan dalam catatan tersendiri, menyangkut hubungan antara penulis dan editor, serta seluk beluk kerjasama mereka dalam penerbitan). Intinya, jika seluruh elemen buku—sampul, judul, dan keseluruhan buku—membuat si penulis senang dan bangga, maka ia akan tergerak untuk membantu mempromosikannya.

Jadi, kunci penting sekaligus cara paling mudah untuk menggerakkan para penulis agar senang mempromosikan bukunya, adalah dengan mematuhi hukum dasar psikologi manusia. Setiap manusia butuh aktualisasi, dan senang mengekspresikan diri. Patuhi hukum itu, dan mereka pun akan tergerak sendiri.

Dalam kaitannya dengan kerja penerbitan, upaya yang bisa dilakukan penerbit agar penulis tertarik dan tergerak mempromosikan bukunya adalah dengan cara membuat si penulis senang dan bangga pada bukunya. Tidak ada cara lain yang lebih baik dan lebih logis dibanding itu. Cukup buat si penulis merasa senang dan bangga pada bukunya, maka mereka pun akan tergerak untuk mengenalkan serta mempromosikannya kepada siapa pun.

Jika sebuah buku mampu membuat senang dan bangga penulisnya, si penulis akan merasa aktualisasi dirinya terwakili oleh buku tersebut. Karena setiap manusia juga butuh mengekspresikan diri, maka buku itu pun akan menjadi sarananya untuk mencapai tujuan itu—menjadikan bukunya sebagai sarana mengekspresikan diri. Ketika itu terjadi, penerbit bahkan tidak perlu repot-repot meminta si penulis berpromosi—dia sudah asyik sendiri mempromosikan bukunya. Sekali lagi, bukankah itu yang diinginkan penerbit?

....
....

Di internet, ada banyak penulis yang aktif mengenalkan atau mempromosikan bukunya melalui akun media sosial miliknya. Jika kita perhatikan, ada dua macam bentuk promosi yang mereka lakukan, yang saya sebut “promosi normatif”, dan “promosi ekspresif”. Dua bentuk promosi itu bisa dikenali cukup mudah, dan memiliki dampak yang bisa berbeda.

Di Twitter, misalnya, ada penulis-penulis yang cukup sering men-tweet informasi bukunya di timeline. Biasanya, mereka sangat aktif melakukan hal itu ketika bukunya baru terbit, dan makin lama makin jarang melakukannya. Promosi semacam itu saya sebut “promosi normatif”, yaitu aktivitas promosi yang dilakukan penulis dengan tujuan sekadar memenuhi permintaan penerbit. Kira-kira, dalam pikiran mereka, para penulis itu berpikir, “Yang penting aku sudah memenuhi permintaan penerbit untuk promosi!”

Karena normatif, bentuk promosi mereka pun cenderung “resmi” dan sangat tampak sebagai iklan. Akibatnya, semakin sering mereka melakukan promosi semacam itu, orang-orang (khususnya follower-nya di Twitter) justru merasa bosan dan jengah, karena terus-menerus disuguhi iklan. Itu psikologi yang sangat mudah dibaca di Twitter.

Jika ingin membuktikan yang saya maksudkan, perhatikan akun-akun di Twitter yang memiliki banyak follower, yang setiap tweet-nya biasa di-retweet banyak orang. Ketika akun-akun itu men-tweet hal-hal biasa (bukan iklan), tweet-tweet mereka terus-menerus di-retweet banyak orang. Tetapi, ketika men-tweet iklan, jumlah orang yang me-retweet sangat sedikit, bahkan sering tidak ada yang me-retweet sama sekali. Kenapa? Karena mereka tahu itu iklan!

Karenanya, promosi secara normatif memang hanya berlaku untuk sekadar mengenalkan suatu produk (dalam hal ini buku si penulis) kepada para calon pembaca/pembeli. Jika promosi semacam itu terus diulang-ulang—apalagi dalam jarak yang singkat—yang terjadi justru bumerang. Makin lama atau makin sering diulang, orang-orang justru bosan dan kehilangan minat. Saya sendiri juga merasa seperti itu. Ketika mendapat info suatu buku satu atau dua kali, saya tertarik. Tetapi jika info yang sama diulang dan terus diulang, ketertarikan saya justru hilang perlahan-lahan.

Well, jenis promosi kedua, saya sebut “promosi ekspresif”. Ini biasanya dilakukan oleh para penulis yang benar-benar senang dan bangga pada bukunya. Ketika mengenalkan atau menyebut-nyebut bukunya di mana saja, mereka melakukannya karena kesenangan dan kebanggaan, meski mungkin mereka juga bermaksud memenuhi permintaan penerbit untuk membantu promosi. Tetapi, bentuk promosi secara ekspresif berbeda dengan promosi secara normatif.

Jika promosi secara normatif terkesan kaku dan membosankan (karena semata-mata dilakukan penulis untuk memenuhi permintaan penerbit), promosi secara ekspresif lebih luwes dan menyenangkan (karena merupakan inisiatif murni si penulis, didorong kesenangan dan kebanggaannya). Jika promosi normatif sangat tampak sebagai iklan, promosi ekspresif tidak terlalu tampak sebagai iklan. Jika orang kadang bosan karena disuguhi iklan normatif terus-terusan, iklan ekspresif justru menyenangkan.

Sekali lagi, setiap orang memiliki keinginan untuk beraktualisasi, dan memiliki hasrat besar untuk mengekspresikan diri. (Jika meragukan pernyataan itu, silakan tanya pada pakar psikologi mana pun di dunia ini, dan mereka akan menyatakan hal yang sama. Akui sajalah, kita semua suka pamer!) So, ketika seorang penulis merasa senang dan bangga dengan bukunya, dia menemukan cara untuk mengekspresikan diri. Maka dia pun menjadikan bukunya sebagai sarana aktualisasi. Dengan kata lain, dia akan senang pamer bukunya!

Ketika penulis semacam itu berkali-kali menyebut bukunya—misalnya di Twitter atau di blog—mereka cenderung melakukannya sebagai penyaluran ekspresi dan aktualisasi, bukan semata sebagai iklan atau promosi. Mungkin aktivitas semacam itu bisa kita sebut promosi yang murni datang dari hati, yakni hasrat dasariah setiap manusia yang memang ingin mengaktualisasikan diri.

Jika ingin contoh nyata penulis yang melakukan promosi ekspresif semacam itu, kita bisa melihat Stephany Josephine a.k.a Teppy. Dia salah satu contoh sempurna menyangkut penulis yang menggunakan iklan ekspresif. Wanita ini menulis buku berjudul The Freaky Teppy, yang diterbitkan GagasMedia. Sebagai penerbit, GagasMedia mungkin meminta Teppy untuk membantu mempromosikan bukunya. Tetapi Teppy melakukannya jauh lebih baik, dan melampaui yang mungkin diharapkan penerbitnya.

Dia benar-benar menjadikan bukunya sebagai sarana aktualisasi dan mengekspresikan diri, sehingga sering “memamerkan” bukunya di mana pun—khususnya di blog dan akun media sosial yang dimilikinya—lengkap dengan foto-foto atraktif yang menarik. Saya tahu hal itu, karena sering membaca blognya. (Blog Teppy bisa dilihat di sini.)

Ketika jalan-jalan ke luar negeri, misalnya, Teppy membawa buku karyanya dan memotretnya di tempat-tempat yang ia kunjungi, lalu mengunggahnya ke blog atau sosial media. Dia melakukan hal itu tidak hanya ketika bukunya baru terbit, tapi juga ketika bukunya telah lama terbit. Mungkin Teppy tidak menyadari yang dilakukannya merupakan bagian promosi—tapi di situlah letak daya tariknya!

Ketika menyebut bukunya di mana-mana dengan penuh kebanggaan, Teppy murni mengekspresikan kesenangan dan kebanggaannya pada buku yang merupakan sarana ekspresinya—bahkan mungkin tanpa berpikir promosi. Hasilnya, orang-orang ikut menikmati ekspresinya serta makin tertarik pada bukunya, dan bukan malah jengah karena terus-menerus disodori promosi. Bisakah kita melihat perbedaan pentingnya?

Itulah perbedaan esensial antara “promosi normatif” dan “promosi ekspresif”. Memang menggunakan media yang sama—blog atau akun sosial media—tapi caranya berbeda, bentuk atau wujudnya berbeda, dan dampaknya juga berbeda. Yang satu dilakukan sebagai kewajiban, satunya lagi dilakukan sebagai kesenangan. Yang satu tampak membosankan, satunya lagi justru menarik dan menyenangkan.

Pertanyaannya sekarang, mengapa Teppy bisa begitu asyik mengenalkan bukunya kepada orang lain dengan sangat ekspresif? Jawabannya sangat jelas dan gamblang; karena dia senang dan bangga pada bukunya! Penerbitnya telah memberikan sesuatu yang diinginkannya—kesenangan dan kebanggaan. Maka dia pun memberikan sesuatu yang diinginkan penerbitnya—dia asyik mengenalkan bukunya meski tanpa diminta.

Jadi, sekali lagi, dalam tujuan agar orang tertarik dan tergerak melakukan sesuatu, cara paling masuk akal adalah dengan mematuhi hukum dasar psikologi manusia. Berikan yang dia inginkan, maka tanpa diminta pun dia akan memberikan yang kita inginkan. Tidak ada cara lain yang lebih baik, lebih mudah, dan lebih logis, dibanding itu. Termasuk dalam tujuan penerbit yang menginginkan penulisnya ikut promosi buku.

 
;