Minggu, 30 November 2025

Catcalling Itu Tidak Berpendidikan!

Mungkin aku kurang gaul, atau terlalu lama ngobrol dengan ikan. Tapi aku sering tidak paham dengan fenomena sosial yang kadang terjadi antarmanusia—sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah, tapi jadi sulit karena rupanya ada orang-orang yang senang mempersulit diri.

Di dunia nyata, ada fenomena—yang kuanggap aneh—yang disebut catcalling. Cowok melihat cewek lewat, lalu bersiul atau melakukan/mengatakan sesuatu yang ia pikir dapat menarik perhatian si cewek. Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu, apa manfaat melakukan itu (catcalling)?

Apakah tujuan cowok melakukan catcalling agar bisa berkenalan dengan si cewek? Kalau memang itu tujuannya, kupikir sangat aneh, karena itu justru cara yang sulit. Wong ingin kenalan saja sampai pakai aksi catcalling yang jelas akan membuat si cewek tidak nyaman dan justru tak tertarik.

Kalau memang ingin kenalan dengan seorang cewek, jauh lebih mudah mengatakannya langsung, dengan sopan, jelas, dan memastikan pada si cewek bahwa kita ingin kenal dengannya. Simpel, sederhana. Kalau si cewek tidak mau kenalan denganmu, yo wis, lanjutkan hidupmu.

Itu fenomena di dunia nyata yang dulu sering kutemui. Betapa untuk menarik perhatian atau ingin kenalan saja, seseorang sampai melakukan hal sulit dan bikin tak nyaman (catcalling), padahal ada cara yang lebih mudah dan sederhana, yaitu mengajak kenalan langsung dengan sopan.

Di dunia maya, fenomena sosial semacam itu rupanya juga ada, meski dalam bentuk lain. Orang-orang melakukan aneka hal sulit yang bahkan kadang membuat diri mereka frustrasi, hanya untuk menarik perhatian seseorang... padahal ada cara yang lebih mudah dan sederhana.

Contoh, Si A ingin kenal dengan Si B. Tapi Si A berharap Si B yang mengajak kenalan. Si A ingin dekat dengan Si B. Tapi Si A berharap Si B yang mendekati. Si A ingin menjalin hubungan dengan Si B, tapi Si A berharap Si B yang menunjukkan inisiatif. Itu piye, kalau dipikir-pikir?

Dalam perspektifku, jauh lebih mudah kalau Si A yang berinisitif, karena dialah yang punya keinginan. Inisiatif—melakukan langkah yang dirasa baik dan wajar—adalah kewajiban siapa pun yang punya keinginan, khususnya keinginan di antara sesama manusia.

Itu tak jauh beda dengan, misalnya, kita punya hajatan dan berharap para tetangga datang untuk meramaikan. Kita tidak bisa cuma duduk diam dan menunggu tetangga berdatangan. Kita harus berinisiatif, mengundang mereka baik-baik, hingga mereka juga datang dengan nyaman.

Kalau Si A tertarik dan ingin dekat dengan Si B, maka Si A yang harus punya inisiatif—tidak bisa dibalik! Karena tidak ada jaminan Si B juga tertarik kepada Si A, hingga Si A tidak bisa mengandalkan kalau Si B yang akan berinisiatif. Menurutku ini urusan yang sangat sederhana.

Kalau aku tertarik pada seseorang—dan “tertarik” di sini bermakna general—aku akan mengatakannya langsung pada pihak bersangkutan. Jika responsnya positif, aku akan melanjutkan. Jika responsnya negatif, aku akan berhenti. Simpel, mudah, dan semua pihak tetap nyaman.

Begitu pun kalau tertarik secara personal pada perempuan, misalnya. Aku akan berinisiatif, mencoba mendekati. Jika responsnya baik, aku akan melanjutkan. Jika responsnya buruk, aku akan berhenti. Aku tidak ingin membuat dia tidak nyaman, juga tidak ingin menyiksa diri sendiri.

Karena itulah, aku tidak paham dengan fenomena sosial—di dunia nyata maupun di dunia maya—yang kadang dilakukan orang-orang di sekeliling kita. Mereka punya keinginan pada orang lain, tapi justru berharap orang lain yang punya inisiatif terkait keinginan mereka. Itu piye?

Berusaha menarik perhatian orang lain dengan tujuan agar orang itu tertarik kepada kita—dalam apa pun bentuknya—tak jauh beda dengan perilaku catcalling. Itu tidak sopan, selain juga mengganggu dan membuat orang lain tidak nyaman. Mosok hampir 2026 masih juga main catcalling?

 
;