Rabu, 29 Mei 2013

Terlihat, Tapi Tak Masuk Akal (3)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Dalam keseharian, saya tentu menyaksikan perputaran bisnis dan peredaran barang-barang tertentu yang jumlahnya sangat banyak, dan terus diserap pasar. Misalnya makanan. Atau barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari. Untuk barang-barang semacam itu, saya tidak heran jika pabriknya terus memproduksi dalam jumlah banyak, dan selalu habis terjual. Karena memang barang-barang itu dibutuhkan setiap hari.

Mie instan, misalnya. Saya tidak akan terkejut kalau mendengar pabriknya memproduksi ribuan bungkus per hari, karena mie semacam itu memang dikonsumsi jutaan orang setiap hari, bahkan kadang satu orang mengonsumsi lebih dari satu bungkus. Begitu pula gandum, atau tepung terigu. Sepertinya wajar kalau pabriknya memproduksi berton-ton gandum dan tepung terigu terus-menerus, karena barang itu memang dibutuhkan banyak orang setiap hari untuk berbagai keperluan.

Tapi pipa…? Khususnya lagi, pipa untuk menguras bak mandi! Siapa yang setiap hari membutuhkan pipa semacam itu terus-menerus? Saya tetap tidak paham.

Ketidakpahaman saya makin menjadi-jadi ketika mengetahui ternyata ada benda lain, yang bagi saya juga tidak masuk akal. Jadi, suatu hari saya membaca majalah, yang menceritakan tentang bisnis penjualan begel.

Bagi yang mungkin belum tahu apa itu begel, coba perhatikan bagian belakang jok sepeda motor. Di bagian belakang jok sepeda motor, ada besi melengkung yang sepertinya ditujukan untuk memudahkan orang memindah-mindahkan motor. Itulah begel. Kadang-kadang orang menyebutnya “bekhel” atau “betel”. Saya tidak tahu apa nama ilmiahnya, tapi bahasa Indonesia menyebutnya “begel”.

Nah, dalam majalah yang saya baca, ada orang yang berbisnis benda itu. Setiap hari orang itu mengambil ribuan unit begel dari pabriknya, dan menyuplai benda itu ke toko-toko yang telah menjadi rekanannya. Bisnis itu telah ditekuninya selama bertahun-tahun, dan terus berlangsung hingga hari ini.

Pertanyaannya, siapa yang membeli begel setiap hari…???

Kalau kita membeli sepeda motor, hampir bisa dipastikan selalu ada begel pada sepeda motor itu. Meski fungsinya bagi motor mungkin tidak vital, namun begel bisa dibilang pelengkap yang wajib. Artinya, bahkan jika kita punya sepeda motor pun, belum tentu kita perlu membeli begel, karena benda itu sudah terdapat pada motor kita. Nah, jika ada pabrik yang secara khusus memproduksi ribuan begel setiap hari, kira-kira siapa yang membelinya…?

Okelah, mungkin ada orang mengalami kecelakaan di jalan raya, yang menyebabkan begel motornya rusak sehingga perlu diganti. Lalu dia pun membeli begel baru. Tapi masak setiap hari ada ribuan orang yang kecelakaan dan membeli begel baru? Bagi saya itu tidak masuk akal, bahkan meski telah saya pikirkan dalam-dalam. Membayangkan ada ribuan orang membeli begel baru setiap hari, sama sulitnya membayangkan ada ribuan orang yang membeli pipa penguras bak mandi setiap hari.

Jadi, saya pun sempat stres memikirkan hal itu, dan terus mencoba mencari jawaban yang sekiranya masuk akal. Saya pernah mengobrolkan hal ini dengan Heri, sohib saya yang bekerja di dealer sepeda motor, dan berharap dia bisa memberikan pencerahan. Kenyataannya Heri juga sama-sama bingung. Malah dia kemudian menceritakan sesuatu yang membuat saya semakin bingung.

Heri bercerita, dulu dia pernah dimintai tolong temannya yang tinggal di Bandung. Ceritanya, teman Heri bermaksud membuka rental DVD baru di kota kami, dan dia meminta Heri untuk mencarikan ruko (rumah toko) yang dikontrakkan. Spesifikasi yang diminta teman Heri adalah ruko yang berada di pinggir jalan raya yang cukup ramai.

Lalu Heri pun mulai mencari informasi mengenai ruko semacam itu yang dikontrakkan. Pencarian itu menemukan sebuah ruko cukup luas, yang berada tepat di depan sebuah hotel. Ketika pemilik ruko itu dihubungi, dia menyebutkan harga kontraknya 650 juta per tahun. Heri menghubungi temannya di Bandung mengenai ruko itu, dan si teman meminta, “Carikan yang lebih murah.”

Heri kembali mencari-cari. Kali ini dia menemukan ruko lain yang lebih kecil, dengan harga kontrak 400 juta per tahun. Temannya setuju. Tidak lama kemudian, ruko itu pun diperbarui dan disulap menjadi sebuah rental DVD. Heri memperkirakan, biaya mengubah ruko itu menjadi rental membutuhkan biaya lebih dari 20 juta. Yang jelas, rental itu benar-benar terwujud, dan mulai melayani member atau konsumennya.

Nah, gara-gara cerita itu, saya dan Heri mengira-ngira dan menghitung-hitung omset rental DVD. Seperti yang disebutkan di atas, rental DVD itu mengontrak sebuah tempat yang biayanya 400 juta per tahun. Artinya, usaha rental itu harus mampu mendatangkan penghasilan netto minimal 400 juta setiap tahun agar bisa membayar kontraknya. Sekarang tambahkan biaya perawatan, gaji karyawan, dan pengeluaran-pengeluaran setiap bulan seperti biaya listrik dan lain-lain.

Jika diakumulasikan, total pengeluaran usaha rental itu mencapai 450 juta per tahun. Artinya, untuk mendapatkan keuntungan, usaha rental itu harus mendatangkan penghasilan bruto setidaknya 500 juta per tahun. Sampai di sini, saya bertanya-tanya, mungkinkah usaha rental DVD mampu mendatangkan penghasilan bruto sebanyak itu?

Tapi Heri menjelaskan, bahwa usaha rental temannya memang mampu mendatangkan pemasukan sebanyak itu. Dia pun mulai menguraikan. Jika harga sewa per keping DVD sebesar Rp. 6.000, dan setiap hari ada 200 orang yang menyewa rata-rata 2 keping, maka pemasukan per hari yang diperoleh adalah 12.000 x 200 = Rp. 2.400.000. Jika jumlah rata-rata setiap hari itu diakumulasikan dalam setahun, maka total pemasukan bruto rental itu mencapai Rp. 876.000.000.

Jumlah itu benar-benar membuat saya takjub. Saya tidak pernah menyangka kalau usaha rental DVD mampu mendatangkan penghasilan hampir 1 milyar per tahun. Kalau memang kenyataannya begitu, pantas saja teman si Heri berani mengontrak tempat yang biaya sewanya mencapai 400 juta per tahun. Dengan penghasilan bruto 800 juta lebih per tahun, tentu dia bisa membayar kontrak, menggaji pegawai, dan menutup semua biaya bulanan, sekaligus mendapatkan keuntungan yang layak.

Saya sempat ngomong pada Heri, “Melihat hitung-hitungan barusan, aku bisa menerima kalau kalkulasinya memang masuk akal. Tapi, Her, masak sih setiap hari ada dua ratus orang yang menyewa DVD?”

“Dulu aku juga pernah kepikiran begitu,” sahut Heri. “Aku malah sempat bilang ke temanku, apa dia nggak takut rugi berbisnis rental dengan menyewa tempat yang biayanya mahal. Tapi kenyataannya usaha itu lancar. Pernah, aku sampai nongkrongin rental itu untuk melihat sendiri berapa banyak orang yang datang. Nyatanya memang banyak sekali yang menyewa DVD di sana, jadi temanku memang bisa untung dari usaha itu.”

Kemudian, dengan nada bijak, Heri berkata, “Kadang-kadang kita kebingungan melihat usaha yang dijalani orang lain. Kita mungkin bertanya-tanya, gimana caranya orang itu bisa dapat rejeki atau keuntungan dari usahanya. Tapi, yeah, seperti yang dibilang orang-orang tua, setiap orang punya jalan rejekinya sendiri. Yang bagi kita mungkin nggak masuk akal, bagi orang lain ternyata jadi jalan rejeki yang menghasilkan. Kita nggak tahu. Karenanya, konon, rejeki—di samping jodoh dan maut—adalah rahasia Tuhan.”

Saya manggut-manggut. Tapi masih mencoba menyangkal, “Tapi, Her, gimana dengan bisnis pipa dan begel? Memangnya siapa yang tiap hari membeli pipa dan begel?”

Kali ini Heri tersenyum. “Kalau boleh terus terang,” katanya, “sebenarnya aku juga bingung dengan pekerjaanmu. Kamu bekerja dalam urusan pembuatan buku. Tentunya kamu tahu, di Indonesia ada ratusan penerbit yang tiap hari memproduksi ribuan buku. Memangnya siapa yang tiap hari membeli buku? Wong aku aja belum tentu sebulan sekali beli buku. Tapi nyatanya kamu tetap bekerja, dan dapat rejeki dari situ.”

Saya tak mampu menjawab. Karena kenyataannya memang begitu. Dan mendengar pernyataan Heri yang terakhir, tiba-tiba saya mulai melihat bagaimana rezeki tiap orang memang memiliki jalannya sendiri-sendiri, yang kadang tak masuk akal bagi orang lain. Saya masih ingat bagaimana teman-teman saya, bahkan orang tua saya sendiri, pernah meragukan saya bisa hidup dari pekerjaan menulis. Tapi nyatanya saya telah menjalani profesi menulis selama bertahun-tahun, dan mendapatkan rezeki yang layak dari pekerjaan itu.

Meminjam ungkapan orang bijak, jika hewan yang tidak dikaruniai akal pikiran saja memiliki rezekinya masing-masing, apalagi manusia yang dibekali akal dan pikiran? Dalam hal rezeki, mungkin, tugas kita yang terutama adalah menemukan jalan yang dipilih, dan tekun menjalaninya.

Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Yang bagus bagi satu orang belum tentu bagus pula bagi orang lain. Yang mustahil bagi satu orang belum tentu mustahil pula bagi orang lain. Karenanya, jika telah menentukan jalan hidup yang dipilih, hal kedua yang dibutuhkan adalah ketekunan untuk tetap mencintai jalan itu sepenuh hati.

Dalam pilihan dan ketekunan yang dijalani dengan sepenuh hati, rezeki biasanya akan datang sendiri. 

 
;