Kamis, 20 Maret 2025

Catatan Seorang Bocah

Salah satu hal menakjubkan yang kusaksikan di dunia fana. Betapa gadis kecil ini telah tumbuh jadi wanita dewasa.


Omong-omong soal hal menakjubkan...

Sambil nunggu udud habis.

Orang-orang tumbuh, dari anak-anak menjadi remaja, lalu dewasa... dan itu menakjubkan. Melihat pertumbuhan itu, kita menyaksikan sebuah kehidupan. Orang per orang. 

Bagaimana cepatnya waktu mengubah anak-anak menjadi dewasa, itu masih sering membuatku tercengang.

Aku pernah menyaksikan seorang anak yang berlarian, terjatuh di jalan, dan menangis... melangkah pulang dengan kaki berdarah. Dalam satu pusaran waktu kemudian, aku menyaksikan anak itu tumbuh remaja, lalu dewasa, menikah, dan punya anak-anak... dan aku menyaksikannya.

Anak lain pernah jadi temanku di masa kanak-kanak dulu, lalu dia tumbuh dewasa, sama sepertiku. Dia menikah, punya anak-anak, berkeluarga. 

Lalu, di satu titik waktu, dia terus menua... Suatu hari dia meninggal, dan, bersama orang-orang lain, aku mengantarnya ke pemakaman.

Kadang aku berpikir, betapa mengerikan menjadi fana, terjebak dalam kehidupan singkat dan terperangkap dalam batas usia. Lahir dan hidup dan kematian seperti hanya bayang-bayang, sementara kehidupan mendesakkan aneka hal dan tuntutan dan harapan dan tangis dan luka... dan cinta.

Tetapi, di saat lain, aku juga berpikir, bukan berapa lama waktu yang kita miliki untuk hidup, tapi berapa banyak yang kita lakukan untuk kehidupan. Orang bisa hidup ribuan tahun tapi tak punya arti apapun, orang bisa hidup singkat tapi membawa dan meninggalkan banyak berkat.

Di masa lalu, aku pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dan kami saling jatuh cinta. Tapi takdir berkehendak lain. Dia menikah dengan pria lain, dan lalu punya anak-anak. 

Setelah bertahun-tahun berpisah, suatu hari kami bertemu di resepsi pernikahan seorang teman.

Dia menatapku seperti melihat hantu, dan, saat ada kesempatan berdua, dia berkata, “Kamu sama sekali tidak berubah. Waktu telah mengubahku, juga mengubah teman-teman kita yang lain... dan kami semua menua, tapi waktu seperti tidak mengubahmu sama sekali. Who are you, really?”

Dengan suara lirih serupa bisikan, aku menjawab, “Aku seorang bocah.”


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 November 2022.

Kamis, 20 Maret 2025

Radioaktif di Tangerang Selatan

Salah satu kasus di Indonesia kekinian yang dipandang sepi padahal sangat aneh dan misterius adalah munculnya radioaktif di Tangerang Selatan. Heran, kebanyakan awak media mengejar berita remeh-temeh dan tidak penting, tapi kasus semisterius itu malah diabaikan.

Detik memberitakan, "Begini awal mula penemuan limbah radioaktif di Tangerang Selatan ..."

Kompas memberi tahu, "Zat radioaktif diduga limbah industri ..."

BBC berteori, "Zat radiokatif di Tangsel, ini kata pakar ..."

Apa yang kita dapat dari berita-berita itu? Nothing!

Tanpa bermaksud mengajari, mari berpijak pada fakta penting ini: Paparan radioaktif di Tangerang Selatan berasal dari Cesium 137.

Apa itu Cesium 137? Tidak menarik, kalau kita tidak tahu. Karena itulah kita perlu mencari tahu. Setelah itu, kita bisa berpikir dari mana asalnya.

Yang jelas, radioaktif—apalagi dari Cesium 137—tidak akan bisa muncul sendiri. "Benda" itu harus dibawa ke sana, entah apapun alasannya. Yang menarik, di dekat lokasi paparan radioaktif itu ada PTLR. Fakta ini penting, tapi sekaligus mengecoh banyak orang, termasuk awak media.

Omong-omong, radiasi dari Cesium 137 itu sangat berbahaya. Warga Goiania, Brasil, pernah mengalami bencana radioaktif gara-gara terpapar benda itu, dan seluruh kota terkena dampaknya. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Februari 2020.

Kamis, 20 Maret 2025

Perbedaan Orang Kaya dan Orang Kaya Banget

Tadi ketemu orang yang menyebut tahu tegal sebagai "kue". Dengan ramah, dia menawari, "Ini kuenya dimakan, mumpung masih anget."

Kirain kue apaan, ternyata tahu tegal.

Konon, sekali lagi konon, perbedaan antara "orang kaya" dan "orang kaya banget" adalah cara mereka menyebut gorengan. Orang kaya menyebut gorengan sebagai gorengan, tapi orang kaya banget menyebut gorengan sebagai kue.

Berarti orang tadi termasuk "orang kaya banget".


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Maret 2020.

Kamis, 20 Maret 2025

Bookgasmic

Akhirnya rampung.

Tiap kali selesai membaca buku, apalagi yang tebal, rasanya menyenangkan sekali. Mungkin ini disebut bookgasmic. Apeuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Maret 2020.

Kamis, 20 Maret 2025

Hujan, Banjir, Dingin

Tadi hujan lebat banget, dan sekarang tempatku banjir. Dingin-dingin gini, cokelat hangat dan udud terasa lebih nikmat. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Januari 2020.

Kamis, 20 Maret 2025

Tumben

Nabilah kok tumben amat, ngetwit jam segini?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Desember 2019.

Kamis, 20 Maret 2025

Capek Lebaran

Baru kemarin lebaran, sudah mau lebaran lagi. Cepet banget. Entah orang lain juga merasakan, atau cuma aku yang merasa gini.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Februari 2020.

Kamis, 20 Maret 2025

Kejutan

Introverts are hardcore adventurers. But they like them planned. To think. To mentally prepare. To measure, map, analyse, and organize. To be ready for the greatest adventure & the worst nightmare. So if you plan a spontaneous adventure, you better tell them a month before. —@master_nobody, 15 November 2022.

Jadi, kalau kamu ingin memberiku kejutan, tolong beritahu aku sebulan sebelumnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 November 2022.

Kamis, 20 Maret 2025

Siomay Adem

Siomay kok adem. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Maret 2020.

Kamis, 20 Maret 2025

Gerebekan Satpol PP

Baru sadar. Rangkaian tweet gerebekan Satpol PP kemarin sudah dihapus, ya? 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Februari 2020.

Kamis, 20 Maret 2025

Wis Ora Usum

Iyo.

Senin, 10 Maret 2025

Tak Bisa Dilihat, Tapi Benar-benar Ada

Di dunia maya (internet), kita mengenal setidaknya tiga “lapis dunia”, yaitu surface web, deep web, dan dark web. Surface web adalah hal-hal yang bisa kita temukan dengan mudah di internet, khususnya dengan bantuan mesin pencari semacam Google, Bing, atau lainnya.

Surface web, meski jumlahnya miliaran (dalam bentuk situs), sebenarnya cuma sebagian kecil dari dunia maya seisinya. Karena persentase terbesar ada di deep web dan dark web, yang tak terjamah rata-rata kita. Mereka ada di balik bayang-bayang dunia maya yang kita kenal.

Deep web adalah “lapis kedua” setelah surface web—kehidupan dunia maya yang biasa kita kenali—ia ada di balik bayang-bayang, kehidupan bawah tanah. Sementara yang lebih dalam lagi adalah dark web, yang semakin sulit kita masuki, bahkan Google pun tak mampu! 

Google memang hebat, tapi ia hanya hebat dalam mencari “di permukaan” (surface web)—itu pun masih banyak yang terlewat. Google tidak bisa menemukan semuanya, bahkan yang di permukaan! Apalagi untuk mencari hal-hal “di bawah tanah” seperti deep web dan dark web.

Untuk bisa masuk dan mencari sesuatu di bawah tanah dunia maya, kita membutuhkan mesin pencari yang lebih pintar dari Google, salah satunya Memex. 

Salah satunya... apa? 

Memex! 

Memex adalah mesin pencari buatan DARPA yang bisa masuk ke deep web dan dark web.

Kenyataan ini—adanya lapisan-lapisan di dunia maya—adalah fakta yang telah diakui keberadaannya oleh siapa pun yang tahu soal internet. Artinya, meski kita tidak tahu, atau tidak bisa memasukinya, dunia itu benar-benar ada!

Deep web dan dark web benar-benar ada, sebagaimana adanya surface web yang biasa kita kenal dan kita masuki. Fakta bahwa kita tidak tahu seperti apa kehidupan di deep web dan dark web, tidak menjadikan mereka tidak ada. Mereka ada, nyata, di balik bayang-bayang.

Apa yang ada di deep web dan dark web? Jawabannya mungkin hal-hal yang tidak pernah kita tahu, bahkan hal-hal yang tidak akan kita percaya! Kenyataan mereka memilih eksis di “bawah tanah”, karena menyadari keberadaan mereka lebih baik dianggap tidak ada.

And then, jika dunia maya saja memiliki lapis-lapis yang tidak diketahui kebanyakan orang, apalagi dunia nyata? Kehidupan yang kita jalani, yang kita kenal, yang kita saksikan, sebenarnya cuma “permukaan”. Karena ada lapis-lapis kehidupan yang mungkin tidak kita tahu.

Kita bisa pergi ke mana pun di muka bumi, mengunjungi tempat-tempat paling terpencil dalam peta, tapi tetap saja... itu cuma dunia luar yang memang tampak di permukaan. Karena kehidupan di lapis dalam tersembunyi di “bawah tanah”, atau di balik bayang-bayang.

Yang kita tahu, kenyataannya, adalah hal-hal yang memang tampak di permukaan, yang mudah dilihat dan ditemukan. Tapi kehidupan tak sebatas yang bisa kita lihat. Ada kehidupan yang tak pernah kita lihat, yang, sayangnya, jauh lebih besar dari kehidupan yang kita lihat.

Senin, 10 Maret 2025

Selingkuh Kapitalis dan Penguasa

Sambil menunggu cokelat di gelas habis, aku kepikiran sesuatu yang sepertinya perlu diocehkan. Mumpung udud masih separuh. (Udud habis, ngoceh selesai).

Cukai plastik, yang saat ini telah diberlakukan, siapa yang mengusulkan? Sri Mulyani. Cukai minuman kemasan, yang saat ini ramai dibicarakan, siapa yang mengusulkan? Sri Mulyani. Dan, kalau kau belum tahu, Sri Mulyani saat ini juga tengah membidik cukai untuk kendaraan!

Apa alasan Sri Mulyani mengenakan cukai atas hal-hal tersebut? Jawabannya tentu mulia—dan ndakik-ndakik, tentu saja! Plastik dan kendaraan tidak ramah lingkungan, karena itu harus dikenai cukai. Minuman kemasan tidak baik untuk kesehatan, jadi harus dikenai cukai.

Tapi apakah memang itu alasannya? Sebenarnya, Sri Mulyani sendiri mengakui kalau penarikan cukai atas hal-hal tersebut akan menambah pemasukan bagi negara (dia mengincar uangnya!). Berdasarkan estimasinya sendiri, Sri Mulyani memproyeksikan pemasukan triliunan rupiah per tahun.

Dari cukai plastik, Sri Mulyani mengestimasikan pemasukan Rp1,6 triliun per tahun. Dari cukai motor dan mobil, estimasinya Rp15,7 triliun. Sementara dari cukai minuman kemasan, jumlahnya luar biasa, karena merentang dari banyak produk, dari jenis soda sampai sachet.

Dari cukai produk teh kemasan saja, estimasinya Rp2,7 triliun. Dari minuman berkarbonasi, Rp1,7 triliun. Dari energy drink dan kopi konsentrat, Rp1,85 triliun. Total pemasukan cukai dari aneka produk minuman itu mencapai Rp6,25 triliun. Siapa yang bayar? Kita, konsumen, rakyat!

Masih ingat green capitalism yang kuocehkan tempo hari? Beginilah permainannya dilakukan. Para kapitalis mengeruk untung dengan menunggangi isu lingkungan. Sementara pemerintah memanfaatkan isu lingkungan dan kesehatan untuk menarik cukai!

Dan apa artinya itu? Oh, well, itulah salah satu contoh green capitalism. Kapitalisme yang memanfaatkan isu lingkungan, dengan menimpakan semua beban pada konsumen. Seiring dengan itu, mereka juga memproduksi aneka barang lain yang seolah mengajak kita merawat alam; Go green.

Jika penarikan cukai untuk semua hal yang disebut tadi telah dilakukan, dan negara mendapat pemasukan sekian triliun per tahun, ke mana larinya uang banyak itu? Jawabannya tentu untuk "infrastruktur", "pembangunan". Yang mungkin kita lupa... negara kita telah berutang untuk itu.

Ocehan ini, kalau kujelaskan secara detail, bisa panjang sekali, dan mungkin akan selesai tahun 2479. Intinya, semua ini sebenarnya cuma permainan ala monopoli (aset, modal, kuasa). Bedanya, dalam hal ini, semua pemain mendapat untung, sementara penonton—kita semua—harus bayar!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Februari 2020.

Senin, 10 Maret 2025

Terbaik di Dunia, Katanya

Inilah kenapa, dari dulu aku tak pernah respek pada wanita ini, karena isi otaknya benar-benar mencerminkan predikat "menteri terbaik sedunia"—oh, well, menteri terbaik sedunia!

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengusulkan tarif cukai minuman berpemanis per liter senilai Rp 1.500 hingga Rp 2.500. Tiga jenis minuman berpemanis yang menjadi perhatian Sri Mulyani, antara lain teh kemasan, minuman berkarbonasi, dan kopi. #TopNews http://bit.ly/32c7aqO@kumparan, 19 Februari 2020.

Dia numpuk utang seenaknya sendiri, dan kita dipaksa percaya bahwa utang yang ia lakukan demi "memakmurkan rakyat". Tapi makin hari bukannya makin makmur, rakyat makin tercekik oleh himpitan ekonomi. Itu pun masih akan ditambah dengan aneka cukai untuk barang-barang remeh-temeh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Februari 2020.

Senin, 10 Maret 2025

Tiga Hal Paling Merusak

Tiga hal yang paling merusak:

1. Industri; mereka merusak alam sampai binasa.
2. Kapitalisme; mereka merusak kemanusiaan.
3. Orang yang suka nyuruh-nyuruh kawin; mereka merusak segalanya.

Kapitalisme lahir karena industri.

Industri lahir karena manusia terus beranak pinak.

Manusia terus beranak pinak, karena dikompori cepat kawin dan diprovokasi agar cepat punya anak.

Tiga ciri umum orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat kawin:

1. Bodoh dan terbelakang, tapi merasa pintar.

2. Diam-diam tertekan dan tidak bahagia dalam perkawinannya, dan ingin orang lain sama tertekan serta tidak bahagia seperti dirinya.

3. Gabungan antara 1 dan 2.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Februari 2020.

Senin, 10 Maret 2025

Permainan Global

Dulu aku pernah nulis di Twitter, juga panjang lebar di blog, bahwa "pemanasan global" itu fakta. Tapi "isu pemanasan global" adalah hal lain. Sekarang mulai paham, kan, bagaimana permainannya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 November 2022.

Senin, 10 Maret 2025

Midnight

We are a minute to midnight. —Bertrand Zobrist


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 1 Januari 2022.

Senin, 10 Maret 2025

Kekeliruan yang Keliru

Ada cinta yang keliru, ada rindu yang keliru, ada waktu yang keliru. Ternyata, juga ada kekeliruan yang keliru.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Senin, 10 Maret 2025

Perlu Apeu

Tiga dari lima penyakit yang disebut artikel ini adalah flu, sakit kepala, dan insomnia. Berarti aku perlu...

Perlu appeeeuuuh?

Tak hanya mendekatkan hubungan dengan suami, berhubungan seks ternyata juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit ini, Moms. @kumparan, 23 Februari 2020.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Februari 2020.

Senin, 10 Maret 2025

Di Bawah Gerimis

Anak-anak berlarian di bawah gerimis 
Nyanyi 
Menyanyi 
Senandungnya membawaku kembali 
Menjadi anak-anak lagi 
Ingin menari di bawah gerimis


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Maret 2012.

Senin, 10 Maret 2025

Turun dari Kamar, Ternyata Banjir

Udah beberapa kali aku kayak gini. Pagi-pagi, turun dari kamar, eh ternyata rumah udah kebanjiran. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Februari 2020.

Senin, 10 Maret 2025

La Vida Mortal

La vida mortal puede ser problemática, al igual que la inmortalidad. Una cosa buena puede vivir miles de años y permanecer joven.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 November 2022.

Senin, 10 Maret 2025

Bdgsblnsntk

Iya.

Sabtu, 01 Maret 2025

Persoalan Mayoritas-Minoritas

Persoalan mayoritas-minoritas mungkin persoalan klasik. Tapi kapan pun mayoritas merasa mendapat/memiliki privilese karena menjadi bagian mayoritas, artinya ada masalah sistemik. Karena ketika keadilan benar-benar ditegakkan, mayoritas dan minoritas hanyalah soal statistik.

Sulit menutup mata dan mengatakan bahwa urusan mayoritas dan minoritas di Indonesia "baik-baik saja", karena nyatanya tidak. Sayangnya, pemerintah seperti menutup mata dari persoalan ini. Kenapa? Menurutku sederhana saja; karena pemerintah punya kepentingan di dalamnya.

Ada banyak aktivis dan organisasi yang gigih berusaha "mendamaikan" persoalan mayoritas-minoritas di Indonesia, dan kita berterima kasih pada mereka. Tapi bagaimana pun, kita butuh peran pemerintah, karena merekalah yang memiliki wewenang dan kuasa untuk membuat aturan tegas.

Saat ada sebagian orang melarang pembangunan rumah ibadah karena beda agama, misalnya, pemerintah bisa menggunakan kekuasaan yang dimiliki untuk memutuskan secara adil. Tapi kenyataannya pemerintah justru terkesan cuci tangan, dan membiarkan konflik horizontal terjadi. Kenapa?

Jika kita menempatkan diri pada posisi pemerintah, kita akan melihat dilema yang terjadi. Pertama, jika pemerintah benar-benar menegakkan keadilan dan ternyata hasilnya memenangkan minoritas, itu akan menjadi keputusan yang tidak populer. Mereka tentu tidak ingin itu terjadi.

Bagaimana pun, seperti yang disebut tadi, pemerintah punya kepentingan, setidaknya membutuhkan dukungan (suara) mayoritas. Ini negara demokrasi, remember? Pemilu, pilkada, atau sebut lainnya. Vox populi vox dei. Suara rakyat—yang mayoritas, tentu saja—adalah suara Tuhan.

Jadi, pemerintah akan sangat hati-hati menangani mayoritas, karena kekuasaan mereka sebenarnya ditopang oleh suara mayoritas. Politisi mana pun tidak akan berspekulasi dengan urusan semacam itu. Mending membiarkan macan mengaum di tempat jauh, daripada mengusik untuk cari mati.

Kedua, konflik horizontal antara mayoritas dan minoritas, sebenarnya "menguntungkan" pemerintah. Saat rakyat ribut dan sibuk sendiri dengan konflik antarmasyarakat, kontrol mereka pada pemerintah akan berkurang, karena pikiran sudah tersita untuk menghadapi konflik horizontal.

Bagaimana Belanda menundukkan dan menguasai Nusantara? Ya, mereka menciptakan politik devide et impera—pecah menjadi bagian-bagian kecil, agar mudah dikuasai dan dikendalikan. Kalau rakyat kini benar-benar bersatu, mayoritas dan minoritas, pemerintah bisa jadi akan khawatir.

Kadang-kadang aku berpikir, kita seperti diarahkan untuk meyakini bahwa musuh kita adalah sesama rakyat, hanya karena beda agama, atau beda keyakinan, atau bahkan hanya karena beda pilihan. Lalu kita berperang satu sama lain, sibuk dengan urusan yang sebenarnya remeh-temeh.

Padahal yang terus menumpuk utang adalah pemerintah, yang memangkas subsidi adalah pemerintah, yang menaikkan iuran dan menarik pajak adalah pemerintah, yang menciptakan aneka kebijakan adalah pemerintah. Kita merasa hidup makin susah, tapi yang disalahkan justru sesama rakyat.

Kondisi semacam ini mengingatkan kita pada film The Dark Knight Rises. Bane, si penjahat, tahu bahwa ketika masyarakat Gotham dibiarkan saling ribut dan berperang sendiri, mereka tidak menyadari bahwa akar masalah sebenarnya adalah Bane, si penjahat yang merancang keributan itu.

Akhirnya, terkait mayoritas-minoritas, mungkin kita—khususnya yang mayoritas—perlu mempelajari sejarah Islam di Andalusia, Spanyol. Delapan ratus tahun Islam menjadi mayoritas di sana, tapi kemudian musnah. Mengapa? Kita akan tahu, kalau berhenti berperang, dan mulai belajar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Januari 2020.

Sabtu, 01 Maret 2025

Urusan Sampah Plastik

Omong-omong soal sampah plastik...

Entah orang-orang memperhatikan atau tidak. Dulu, pemanasan global menjadi isu besar di dunia, termasuk di Indonesia. Isu itu belum (bahkan tidak) selesai, tapi lalu surut. Setelah itu, muncul isu sampah plastik.

Terkait urusan sampah plastik, selama ini kebanyakan orang hanya meributkan remah-remahnya, tapi melupakan sumbernya. Pandangan lebih ditujukan kepada konsumen, tapi produsen dilupakan. Padahal keberadaan sampah plastik berasal dari produsen, bukan semata dari konsumen.

Setiap hari, jutaan mi instan diproduksi dan dikonsumsi, dan artinya ada jutaan sampah plastik yang akan terbuang. Apakah kita meributkan mi instan? Tidak! Kalau pun meributkan, yang kita ributkan adalah pihak konsumen, tapi tidak ada yang menudingkan jari pada produsen. Aneh?

Jadi kita terus menerus meributkan genteng bocor yang membuat air hujan masuk rumah, dan yang kita lakukan hanya terus menerus mengepel dan mengeringkan lantai, tapi tidak membenahi genteng yang bocor! Ini benar-benar tolol campur asu, karena kita dikibuli kebodohan diri sendiri.

Sampah plastik memang berbahaya, itu fakta. Penggunaan plastik perlu dibatasi, itu bagus! Tapi jangan lupakan produsen yang saban hari menggelontorkan plastik baru untuk jadi sampah, karena itulah inti persoalan sebenarnya! Jika konsumen perlu tanggung jawab, produsen pun sama!

Kalau kita mau ngemeng sampah plastik secara adil dan proporsional, minta produsen turun tangan. Produsen mi instan, misalnya, harus punya tanggung jawab (moral dan sosial) untuk membersihkan sampah plastik dari produk yang mereka hasilkan—tidak semata dibebankan pada konsumen!

Sedari awal, bagiku, ribut-ribut soal sampah plastik ini sudah aneh, karena semua fokus ditujukan pada konsumen, tapi melupakan produsen. Konsumen disalah-salahkan, tapi semua bungkam terhadap ulah produsen. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 April 2019.

Sabtu, 01 Maret 2025

Korban Pertama Konspirasi

Ada banyak orang yang mungkin saking pintarnya, sama sekali tidak percaya kalau di dunia ini ada konspirasi. 

Lha isu-isu global yang mereka telan mentah-mentah itu apa namanya kalau bukan konspirasi? 

Ironisnya, korban pertama konspirasi adalah orang yang tidak percaya konspirasi!

Terkait "omong kosong konspirasi" ocehan ini mungkin bisa sedikit menyegarkan pikirkan. Asal tidak dibaca sambil ngantuk atau sambil mabuk. 




*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 April 2019.

Sabtu, 01 Maret 2025

Perspektif Pembunuhan

Pengantar:

Catatan ini saya tulis pertama kali pada 2022 silam, terkait kasus pembunuhan yang pernah menghebohkan Indonesia. Kasus itu sudah dianggap selesai, para pelakunya sudah dijatuhi hukuman, tapi ada... sesuatu yang membuat saya masih “gatal” memikirkannya.

Saya sempat lupa pernah menulis catatan ini, dan file catatan ini pun “terkubur” di antara tumpukan dokumen dan file lain di komputer. Kemarin, tanpa sengaja saya menemukan catatan ini, membacanya kembali, dan saya masih merasakan “gatal” yang sama. Meski mungkin catatan ini sudah tidak relevan, saya merasa perlu mengunggahnya di blog sebagai pengarsipan atas sesuatu yang [pernah] saya pikirkan.

____________________


TEMPO menulis berita panjang lebar dan kronologis terkait kasus pembunuhan yang pernah bikin geger di Indonesia. Jika benar, kronologi itu bisa dibilang runtut, dari sebelum pembunuhan sampai setelah pembunuhan. Tapi masih ada sesuatu yang sangat gelap; motif!

Apa motifnya? Pelecehan? Dugaan pelecehan telah dihapus karena tidak terbukti. Perselingkuhan? Pelecehan memang berbeda dengan perselingkuhan, tapi ada sesuatu yang tidak match di sini; antara kemungkinan motif (perselingkuhan) dan kasus pembunuhannya.

Dan jangan lupakan fakta bahwa sebelum terbunuh, dia sudah tahu akan dibunuh. Dia sempat menelepon pacarnya, bahkan konon sambil menangis, bahwa dia mendapat ancaman yang berpotensi pembunuhan. Keping puzzle masih berserakan!

Jika merujuk pada kronologi versi TEMPO, kasus pembunuhan itu tampak seperti insidental; sesuatu yang tiba-tiba muncul karena adanya suatu provokasi. Tapi rentetan peristiwa—yang tidak terkaver dalam kronologi versi TEMPO—menunjukkan hal lain.

Ia tewas terbunuh pada 8 Juli 2022. Tetapi, sejak Juni 2022, dia sudah mendapat ancaman pembunuhan, yang ia katakan kepada pacarnya. Bisa melihat sesuatu yang penting di sini? Itu tidak seperti kasus pembunuhan insidental, karena ada jeda sangat lama.

Dan, terus terang, yang sampai sekarang tidak kupahami—karena seperti menabrak logika—adalah lokasi pembunuhannya! 

Sebelum melangkah lebih jauh, sepertinya aku perlu ngoceh terlebih dulu soal “perspektif pembunuhan”, agar kita bisa melihat kasus ini dengan lebih jernih.

Terkait peristiwa pembunuhan, setidaknya ada empat macam kasus yang bisa terjadi. Pertama, aksidental. Kedua, insidental. Ketiga, terencana. Keempat, eksekusi. Empat macam kasus pembunuhan itu memiliki ciri berbeda, dan para kriminolog pasti bisa membedakannya.

“Aksidental” adalah kasus pembunuhan (hilangnya nyawa seseorang) akibat kecelakaan (accident). Misal seseorang mengalami kecelakaan di jalan raya—sebut saja, Si A tanpa sengaja menabrak Si B hingga tewas. Itu termasuk pembunuhan, yang berlatar ketidaksengajaan.

“Insidental” adalah kasus pembunuhan yang dilatari bela diri. Misal seseorang membegalmu di jalan, dan kamu melawan. Terjadi perkelahian, dan si begal tewas. Itu termasuk pembunuhan, karena menghilangkan nyawa orang, tapi dilatari alasan membela diri.

“Terencana” adalah kasus pembunuhan yang direncanakan. Penjelasannya bisa sangat panjang dan rumit, dan kalian bisa membacanya di novel-novel detektif. Biasanya, kasus-kasus yang dihadapi para detektif dalam novel kriminal adalah kasus-kasus pembunuhan terencana.

Terakhir, “eksekusi”. Misalnya kasus di Filipina; orang-orang yang terlibat narkoba dihabisi di mana-mana. Apa perbedaan pembunuhan terencana dengan eksekusi? Pembunuhan terencana biasanya akan diusahakan untuk disamarkan; berkebalikan dengan eksekusi.

Dalam pembunuhan terencana, si pelaku biasanya akan berusaha menyamarkan pembunuhan itu. Bisa jadi ia menenggelamkan korbannya ke sungai, atau menata TKP hingga seolah-olah korban mati karena bunuh diri, dan semacamnya. Beda dengan eksekusi.

Eksekusi adalah kasus pembunuhan yang terang-terangan dilakukan dan ditunjukkan sebagai pembunuhan. Sekarang, terkait kasus pembunuhan yang saat ini ramai dibicarakan, kira-kira jenis mana yang paling cocok? Mungkin “terencana” atau bahkan “eksekusi”!

Kasus pembunuhan itu terjadi karena pelecehan atau perselingkuhan? Jika iya, pikirkan kenyataan sederhana ini; jauh lebih mudah “melenyapkan” si korban tanpa jejak. Tujuan tercapai; si korban tewas/hilang, semua pihak dapat melanjutkan hidup dengan relatif tenang.

Tapi bukan itu yang terjadi, dan di situlah letak keanehannya! Si korban dihabisi di rumah pelaku, didiamkan sampai tiga hari sebelum diumumkan, lalu skenario yang penuh bolong-bolong disebutkan sebagai latar belakang pembunuhan... dan puluhan orang diduga terlibat!

Kasus itu seperti “ledakan puzzle” tak beraturan yang terlempar ke mana-mana, dan masing-masing puzzle membawa tanda tanya. Dan, jika aku boleh mengatakan yang ada dalam pikiranku secara jujur, semua hal terkait kasus itu tampak “salah”. 

“Itu bukan seperti itu”.

Sabtu, 01 Maret 2025

Creepy

Membaca cerita panjang di bawah ini, aku bersyukur tidak punya pacar, dan tidak tertarik pacaran.

[Post tidak di-quote, jadi sulit ditemukan.]

Sebenarnya, yang creepy (baca: sakit jiwa) kayak gitu bukan cuma cowok. Ada pula cewek-cewek yang sama sakitnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Septmber 2019.

Sabtu, 01 Maret 2025

Membaca dengan Tendensius

Tampaknya, membaca dengan tendensius sama buruknya dengan menulis dengan tendensius. Sama-sama menyulitkan kita untuk berpikir jernih dan objektif.

Aku bingung dengan tweet di bawah ini. Yang dilakukan Detik itu sudah benar, dan judul yang digunakan juga sudah benar. Bahwa "Ma'ruf Amin menyurati DPR dan meminta RUU KUHP segera disahkan."

Yang ia minta ditunda itu RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual), bukan RUU KUHP.

[Tweet tidak di-quote, jadi sulit ditemukan.]

Menggunakan kalimat yang lebih mudah dipahami, "Ma'ruf Amin (melalui MUI) mengirim surat kepada DPR, dan meminta agar RUU-KUHP segera disahkan, sekaligus meminta RUU-PKS ditunda."

RUU-KUHP dan RUU-PKS itu dua hal yang BERBEDA.

Kutipan dari artikel Detik, paragraf 3:

"Dalam surat tertanggal 12 Agustus 2019 itu, Ma'ruf Amin selaku Ketua MUI mendorong DPR agar segera mengesahkan RUU KUHP sebelum berakhirnya DPR periode 2014-2019."

Perhatian kalimat itu: AGAR SEGERA MENGESAHKAN RUU KUHP.

Dan ini kutipan dari artikel Detik, halaman 2, paragraf terakhir:

"Adapun terhadap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, MUI meminta agar DPR tidak terburu-buru mengesahkan."

Yang diminta MUI agar "tidak terburu-buru mengesahkan" itu RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual).

Kesalahan Detik, mungkin, memecah artikel berita singkat itu menjadi dua halaman, sehingga pembaca kehilangan fokus dari paragraf awal ke paragraf terakhir. Selain itu, penulisan beritanya juga "ngambang" atau tidak fokus (Jawa: kurang cetho), sehingga pembaca rentan salah paham.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Septmber 2019.

Sabtu, 01 Maret 2025

Yang Berat

Yang berat dilakukan bukan membela orang yang tertindas. Tapi membela orang tak dibela.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Maret 2012.

Sabtu, 01 Maret 2025

Suara Ami Lee

Suaranya Ami Lee tuh bener-bener magic. Didengarkan kapan pun tetap asyik.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Maret 2012.

Sabtu, 01 Maret 2025

Dimensi Lain

Rumahku selalu sepi, timeline-ku selalu ramai. Tiap login ke Twitter, aku kadang merasa masuk ke dimensi lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Agustus 2019.

Sabtu, 01 Maret 2025

Pingine Turu

Awake kesel, pingine turu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Septmber 2019.

Sabtu, 01 Maret 2025

Tapuk

Ooh... tapuk.

 
;