Sabtu, 01 November 2014

Mengenal Segmen Pembaca

Riwayat hidup seorang penulis biasanya adalah juga
riwayat hidup seorang pembaca.
A.S. Laksana


Di toko koran/majalah, kita bisa menemukan sekian banyak majalah yang ditujukan untuk berbagai pembaca yang berbeda. Ada majalah yang ditujukan untuk pembaca pria, ada majalah yang ditujukan untuk pembaca wanita, ada majalah yang dikhususkan untuk remaja pria, remaja wanita, orangtua, atau anak-anak. Bahkan, ada majalah-majalah yang secara khusus ditujukan untuk penggemar tanaman, penggemar burung, penggemar video games, dan lain-lain. Ada majalah kesehatan, majalah kebudayaan, majalah teknologi, sampai majalah mistik.

Masing-masing majalah itu menyasar pembaca yang berbeda, dan dikonsumsi oleh konsumen yang berbeda. Misalnya, majalah Gadis ditujukan untuk remaja wanita. Kenyataannya, mayoritas pembeli majalah Gadis adalah remaja wanita. Memang ada remaja pria yang juga membeli atau membacanya, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding remaja wanita. Bahkan, sepertinya kita sangat jarang mendapati remaja pria menenteng majalah Gadis, meski bukan berarti tidak ada.

Gaya tulisan di majalah remaja berbeda dengan gaya tulisan di majalah dewasa. Model artikel di majalah kesehatan jauh berbeda dibanding artikel di majalah humor. Begitu pula ilustrasi foto-fotonya, desain sampulnya, sampai lay out dan kemasannya. 

Selain itu, kebanyakan iklan yang terdapat di majalah wanita adalah iklan menyangkut produk atau layanan yang ditujukan untuk wanita. Kebanyakan iklan yang ada di majalah remaja adalah iklan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan para remaja. Kebanyakan iklan di majalah pria adalah iklan produk atau layanan yang ditujukan untuk pria. Sejauh ini, saya belum pernah menemukan iklan penumbuh kumis di majalah Gadis.

Apa artinya itu? Melalui ilustrasi-ilustrasi itu, kita mulai melihat yang disebut segmen pembaca. Yaitu segmentasi atau batasan lingkup pembaca yang dituju oleh sebuah produk, dalam hal ini majalah. Suatu majalah dengan segmentasi pembaca yang jelas akan lebih mudah dikenali daripada majalah yang segmen pembacanya tidak jelas. Dengan kata lain, segmentasi pembaca yang jelas akan ikut membentuk citra dan identitas.

Apa yang terbayang dalam benak kita ketika mendengar “majalah Aneka"? Benar, kita akan langsung membayangkan majalah remaja yang dibaca oleh para remaja. Meski mungkin ayah atau nenek kita juga ikut membaca majalah Aneka, tapi image majalah Aneka telah lekat sebagai majalah remaja. Karenanya, ketika para remaja membutuhkan bacaan untuk menambah wawasan, majalah Aneka menjadi salah satu pilihan. Begitu pula majalah-majalah lain yang ditujukan untuk segmen pembaca berbeda, masing-masing memiliki pembacanya sendiri.

Sebagai penulis, mengenali segmen pembaca adalah salah satu hal penting, karena segmen itu pula yang akan mempengaruhi isi serta gaya tulisan kita. Hilman Hariwijaya, misalnya, telah menentukan segmen pembacanya ketika menulis serial Lupus. Karena dia menujukan karyanya untuk remaja, dia pun menulis dengan gaya bahasa yang meremaja, serta hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan remaja. Sejauh ini, saya belum pernah membaca kisah tentang Lupus yang membahas marxisme atau filsafat perennialisme.

Sebaliknya, Goenawan Mohamad menulis untuk pembaca dewasa—bahkan yang memiliki kadar intelektual cukup. Karenanya, dia pun menulis dengan serius, menggunakan referensi-referensi yang berat, menyitir perspektif dan pemikiran para tokoh dan filsuf, serta menyuguhkan tulisannya dengan sangat mendalam, hingga pembacanya berpikir.

Mana yang lebih baik antara Hilman Hariwijaya dan Goenawan Mohamad? Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, karena keduanya memiliki pembacanya sendiri. Para pembaca tulisan Goenawan Mohamad bisa jadi dulunya penggemar Lupus, dan para remaja yang semula menyukai Lupus bisa jadi kelak akan mengagumi tulisan Goenawan Mohamad. Kenyataannya, saya sendiri pun begitu. Di masa remaja dulu, saya menyukai karya Hilman. Ketika dewasa, saya menyukai tulisan Goenawan Mohamad.

Segmentasi pembaca dalam penulisan adalah pemilihan objek atau sasaran tulisan, merujuk kepada siapa tulisan itu akan ditujukan. Dalam hal ini, ketika seseorang akan menulis, ia harus dapat membidik siapa yang diharapkan akan membaca tulisan tersebut. Hal ini penting, karena tulisan adalah media komunikasi yang memerlukan pemahaman seimbang antara penulis sebagai komunikan, dan pembaca sebagai penerima pesan. Tulisan adalah media sekaligus pesan yang memiliki syarat harus dipahami oleh penerima pesan. Karenanya, tulisan harus tepat dan sesuai dengan sasaran pembaca yang dituju oleh tulisan tersebut.

Jika hal ini mau dipaparkan lebih spesifik, maka segmentasi pembaca bisa dijabarkan berdasarkan usia (anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, atau semua umur), berdasarkan pendidikan (prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah, mahasiswa, dosen, kalangan akademisi, atau masyarakat umum), berdasarkan lokasi tempat tinggal (masyarakat pedesaan, masyarakat perkotaan/urban, atau masyarakat umum), berdasarkan jenis kelamin (pria, wanita, atau semua jenis kelamin), dan lain-lain.

Melalui segmentasi yang jelas dan terarah, format dan bentuk tulisan akan sesuai dengan yang diinginkan oleh pembaca, sesuai pemahaman mereka, serta selaras dengan kondisi psikososial mereka. Hasilnya, tulisan kita pun memiliki peluang lebih besar untuk dapat diterima oleh mereka. Selain itu, menentukan segmentasi pembaca yang spesifik juga akan mempersempit tingkat persaingan yang ada.

Ketika mulai aktif menulis di blog, saya memikirkan hal itu cukup serius. Blog-blog terkenal di Indonesia bisa dikenali dalam beberapa segmen yang berbeda. Waktu itu, bisa dibilang dunia blog Indonesia didominasi oleh segelintir orang yang menggarap segmen pembacanya masing-masing, secara spesifik. Sebagai contoh, misalnya, Raditya Dika (radityadika.com) menguasai pembaca remaja, Ndoro Kakung (ndorokakung.com) membahas isu-isu sosial kontemporer yang dikemas ringan, sementara Priyadi (priyadi.net) membahas topik-topik yang relatif berat—keduanya tentu menujukan tulisannya untuk segmen pembaca dewasa.

Jika saya membuat blog dengan menyasar pembaca remaja, sama artinya saya harus bersaing dengan Raditya Dika. Jika saya menulis isu-isu sosial, artinya saya harus duel dengan Ndoro Kakung. Begitu pun, kalau saya membahas topik-topik berat, saya harus rebutan pembaca dengan Priyadi. Mereka telah lebih dulu aktif di dunia blog—jauh-jauh hari sebelum saya mulai menulis blog. Karenanya, bersaing dengan mereka sama artinya berperang tanpa jaminan menang.

Kenyataan itu bahkan telah terlihat sangat jelas. Di internet—khususnya di dunia blog Indonesia—tak terhitung banyaknya blogger yang mencoba meniru Raditya Dika. Mereka menulis catatan-catatan kesehariannya sambil berusaha melucu dan berharap pembaca akan tertawa. Dan apakah mereka berhasil? Sebagian kecil mungkin memang berhasil, tapi lebih banyak yang gagal.

Begitu pula orang-orang yang ingin meniru Ndoro Kakung atau Priyadi—sebagian dari mereka memang ada yang berhasil, tapi lebih banyak yang gagal. Yang berhasil memang bisa mendapatkan pembaca setia hingga blognya terkenal, sementara yang gagal mengalami nasib sebaliknya.

Karena pemikiran seperti itu, saya pun memikirkan segmen lain yang belum tergarap, yang kemudian membawa saya mengenali segmen sangat spesifik, yaitu anak muda yang mau belajar dan berpikir. Jadi, ketika mulai membuat dan menulis di blog, segmen pembaca itulah yang saya tuju—anak-anak muda yang mau belajar dan berpikir. Yang disebut “anak muda” bisa siapa saja, dari para remaja sampai orang tua yang masih berjiwa muda, pria maupun wanita. Jika mereka merasa muda dan mau belajar, maka itulah segmen pembaca yang saya tuju.

Setelah menentukan segmen pembaca secara jelas dan spesifik, saya pun mulai menyesuaikan tulisan agar benar-benar tepat seperti segmen pembaca yang saya tuju. Hasilnya, seperti yang bisa kalian lihat, blog ini membahas hal-hal serius bahkan kadang berat, namun menggunakan bahasa yang mudah dipahami, penjelasan sederhana yang tidak membosankan, meski sesekali membahas hal-hal ringan dan lucu yang membuat tersenyum.

Sebelumnya, jika saya perhatikan, kebanyakan blogger tampak tidak pede dengan tulisannya sendiri. Hal itu bisa dikenali dari seringnya penggunaan emoticon atau isyarat tertentu yang sering disisipkan dalam tulisan-tulisan mereka. Misalnya, ketika menyampaikan pendapat tertentu, dan khawatir akan berbeda pendapat dengan pembaca, mereka akan menambahkan emoticon senyum. Atau, ketika menyatakan suatu pikiran tertentu, dan khawatir akan dianggap terlalu serius, mereka akan menambahkan isyarat “Tsah!” atau semacamnya, yang menunjukkan kalau mereka tidak bermaksud serius.

Saya sengaja menghilangkan semua itu dari tulisan saya. Ketika bermaksud serius, saya benar-benar menunjukkan kalau saya serius—bahkan tulisan di blog ini pun sengaja menggunakan bahasa Indonesia baku dan bukan bahasa gaul—untuk menunjukkan kalau ini memang blog serius.

Saya percaya bahwa pembaca yang saya tuju—anak-anak muda yang mau belajar dan berpikir—memiliki kapasitas otak yang cukup, sehingga mereka tentu dapat menoleransi perbedaan pemikiran. Karenanya, saya tidak terlalu peduli kalau beda pendapat dengan orang lain, karena—bagi orang-orang yang mau belajar—beda pendapat atau perbedaan pikiran adalah hal biasa.

Karena segmentasi pembaca itu pula yang membuat saya menggunakan gaya bahasa seperti yang kalian kenali. Ketika menyapa pembaca dalam tulisan, misalnya, saya menggunakan “kau” atau “kalian”, dan bukan “kamu” atau “Anda”. Penggunaan kata ganti “kau” atau “kalian” lebih egaliter dan terdengar akrab daripada kata ganti “Anda” yang terdengar kaku atau terlalu formal. Sementara kata ganti “kamu” terdengar terlalu remaja.

Sejak menulis catatan pertama di blog hingga bertahun-tahun kemudian, saya terus konsisten menggunakan gaya bahasa semacam itu, karena segmen pembaca saya telah jelas dan spesifik. Topik atau tema apa pun yang saya bahas, semuanya ditulis dengan gaya yang sama. Saya tidak menulis untuk anak muda yang malas belajar, saya pun tidak menulis untuk orang tua kolot yang merasa dirinya pasti benar. Saya menulis untuk anak muda—teman-teman saya—yang mau belajar, dan berpikir, dan belajar, dan berpikir, dan belajar, dan berpikir.

Apakah formula yang saya terapkan di blog ini berhasil? Kalian sudah tahu jawabannya.

Segmentasi pembaca sebenarnya tidak hanya penting untuk penulis, namun juga penting untuk disadari oleh si pembaca. Bagi penulis, segmen pembaca yang jelas akan mengarahkannya dalam menulis agar tepat sasaran. Sementara bagi pembaca, segmentasi yang jelas akan memberitahu apakah suatu tulisan tepat untuk dibaca olehnya atau tidak.

Misalnya, pembaca yang menyukai tulisan-tulisan berat mungkin tidak cocok dengan tulisan-tulisan ringan. Karenanya, penikmat tulisan berat tidak perlu buang-buang waktu hanya untuk meributkan tulisan-tulisan yang dianggap ringan. Sebaliknya, pembaca yang menyukai tulisan-tulisan menghibur dan bikin cekikikan tidak perlu mengerutkan kening sampai gila hanya gara-gara memaksakan diri membaca tulisan berat. Masing-masing orang memiliki selera bacanya sendiri, sebagaimana masing-masing penulis memiliki segmen pembacanya sendiri.

Di catatan mendatang, kita akan membahas tentang tulisan ringan dan tulisan berat, serta beberapa hal yang perlu kita pahami mengenai keduanya.

 
;