Rabu, 11 Mei 2022

Lebaran Makin Sepi

Baru kemarin lebaran, sudah mau lebaran lagi. Cepet banget.
Entah orang lain juga merasakan, atau cuma aku yang merasa gini.
@noffret


Makin tahun, kata orang-orang, lebaran makin sepi. Ungkapan semacam itu makin sering saya dengar ketika saya menemani (atau ditemani?) ibu dan adik berkunjung ke rumah para tetangga dan famili. Itu tradisi tahunan yang mau tak mau harus saya laksanakan, demi dianggap normal.

Kebetulan, leluhur saya dari pihak ayah kebanyakan ulama, dan anak-anak mereka juga rata-rata “meneruskan” jadi ulama. Sampai sekarang. Kenyataan itu menimbulkan konsekuensi tersendiri, khususnya bagi saya, karena “memerangkap” saya dalam ikatan kekerabatan yang erat.

Saat lebaran datang, kita tahu, masyarakat berdatangan untuk bersilaturahmi pada ulama di tempat masing-masing. Mereka belum tentu punya ikatan darah atau kekerabatan. Tapi mendatangi para ulama, bagi masyarakat kita, adalah hal yang penting dilakukan saat lebaran datang. Itulah yang saya sebut konsekuensi. Dalam hal itu, mau tak mau, saya harus mendatangi para famili saya—wong orang lain saja berdatangan ke rumahnya, mosok saya yang jelas punya ikatan darah malah tidak datang?

Jadi, itulah yang harus saya lakukan setiap tahun, setiap kali lebaran datang. Ada semacam perasaan bersalah jika saya nekat tidak datang ke rumah mereka. Lagi pula, mereka juga selalu datang ke rumah orang tua saya setiap lebaran tiba.

Dulu, waktu ayah saya masih ada, acara silaturahmi di hari lebaran benar-benar padat. Ayah punya banyak famili, dan dia benar-benar menjaga tali silaturahmi dengan mereka semua, tanpa kecuali. Itu pun masih ditambah dengan para famili dari pihak ibu. Karenanya, dulu, acara silaturahmi di hari lebaran bisa membutuhkan waktu sebulan, saking banyaknya orang yang kami datangi. Kebiasaan itu diam-diam “mendoktrinasi” saya tiap lebaran tiba.

Seiring tahun demi tahun, para famili yang sepuh meninggal satu per satu. Mereka punya anak-anak, tapi anak-anak itu tersebar di banyak tempat, dan “seleksi alam” terjadi. Perlahan-lahan, seiring lebaran demi lebaran, jumlah famili yang kami (keluarga saya) datangi makin berkurang, karena kami memprioritaskan para famili yang tempatnya masih terjangkau (dalam kota). Hal itu terus berlangsung, tahun demi tahun, sampai sekarang.

Sekarang, tidak terlalu banyak famili yang harus saya kunjungi saat lebaran. Mereka memang tersebar di banyak tempat, tapi masih terjangkau. Dan seperti yang disebut tadi, mereka ulama di tempat masing-masing. Dan mau tak mau, saya harus mengunjungi mereka.

Ketika mengunjungi mereka, hampir selalu saya mendengar ungkapan tadi, khususnya dari para orang tua, “Lebaran makin sepi.”

Biasanya, sebagai sopan santun, saya pun merespons dengan sopan, dan mengatakan hal serupa. Bahwa lebaran makin sepi. Bahwa Idul Fitri saat ini berbeda dengan Idul Fitri bertahun lalu. Apalagi ditambah [efek] pandemi. Dan kesibukan orang-orang makin banyak. Dan sebagainya, dan sebagainya. Toh nyatanya memang lebaran makin sepi, dan saya merasakannya sendiri.

Pada lebaran hari keempat, saya mengunjungi salah satu famili yang juga menjadi ulama. Saya sengaja datang agak larut malam, biar tidak berbarengan dengan para tamu lain yang berdatangan untuk sowan. 

Dia masih muda, jadi saya mendatanginya sendiri, karena ngobrolnya bisa lebih santai—beda dengan saat mendatangi famili yang sudah sepuh. Ayah saya dan ayah dia dulu punya hubungan yang sangat erat. Kini ayah kami telah sama-sama tiada, dan kami—anak-anaknya—meneruskan ikatan kekerabatan itu.

Saya biasa memanggilnya “Mas Kaji”, karena dia sudah menunaikan ibadah haji. Dia juga telah menjadi hafiz (penghafal Alquran) sejak masih belia, dan kini—setelah benar-benar menjadi ulama—dia fasih membicarakan isinya. 

Malam itu, saat saya duduk di rumahnya, Mas Kaji juga mengatakan, “Lebaran sekarang makin sepi.” Lalu dia menanyakan, “Piye menurutmu?”

Saya menjawab, “Menurutku, ya memang begitulah seharusnya.”

“Piye, piye? (Gimana, gimana?)”

Saya menjelaskan, “Maksudku begini, Mas Kaji. Lebaran itu kan memang bukan untuk ramai-ramai. Esensi Idul Fitri itu kan untuk menikmati makanan dan minuman, setelah sebulan berpuasa. Menikmati makanan dan minuman di rumah masing-masing. Jadi ya mestinya lebaran sepi-sepi saja, karena orang seharusnya berdiam di rumah masing-masing, bukan malah keluyuran seperti yang kita lakukan.”

Dia tertawa renyah. “Kowe ki awit biyen ora mari-mari. (Kamu dari dulu tidak sembuh-sembuh.)”

Saya ikut tertawa, lalu melanjutkan, “Bukannya yang kukatakan memang benar? Cuma kita di Indonesia yang menganggap lebaran sebagai waktu untuk bertemu sanak famili. Cuma kita di Indonesia yang mengartikan Idul Fitri sebagai ‘kembali suci’—padahal itu keliru.” 

Sebagai ulama, dia pasti paham bahwa makna “Idul Fitri” adalah “hari raya makanan”, bukan “kembali suci” seperti yang selama ini dipahami orang-orang awam. Idul Fitri juga sebenarnya dimaksudkan sebagai hari raya untuk menikmati makanan setelah sebulan berpuasa, bukan untuk maaf-maafan. Jadi, saya pun bertanya, “Kenapa sampeyan tidak pernah menjelaskan itu ke masyarakat?”

Dia tampak mendesah dengan berat. Ketika akhirnya berbicara, dia hanya mengatakan satu kata, “Sulit.”

Saya menunggu lanjutannya.

Mas Kaji seperti memikirkan kalimat yang tepat untuk merespons pertanyaan saya, dan akhirnya dia berkata perlahan-lahan, “Kadang-kadang, ada hal-hal yang sebaiknya kita biarkan saja, meski kita anggap tidak tepat. Membenahi sesuatu sering kali jauh lebih sulit daripada memulai sesuatu. Sejujurnya aku tidak tahu apa alasan ulama terdahulu memberi tahu masyarakat bahwa Idul Fitri artinya ‘kembali suci’ hingga kita perlu maaf-maafan. Mungkin pengaruh akulturasi, mungkin keliru memahami kosakata bahasa Arab—entahlah. Yang jelas, pengetahuan atau bahkan keyakinan itu lalu diturunkan dari generasi ke generasi, sampai ke zaman kita. Kalau kamu memintaku untuk memberi tahu masyarakat bahwa ‘sebenarnya tidak begitu’, terus terang aku tidak mampu.”

Saya menghargai keterusterangannya. Tapi saya juga gatal ingin bertanya, “Kalau sampeyan yang ulama saja merasa tidak mampu memberi tahu masyarakat mengenai kebenaran atau esensi Idul Fitri, lalu siapa kira-kira yang mampu melakukan hal itu?”

Mas Kaji nyengir. “Kamu, mungkin?”

Saya tertawa. “Sebenarnya, aku sudah mencoba memberi tahu orang-orang mengenai kebenaran Idul Fitri. Bahwa Idul Fitri artinya bukan ‘kembali suci’. Bahwa Idul Fitri adalah hari raya untuk menikmati makanan, setelah sebulan berpuasa. Bahwa Idul Fitri tidak dimaksudkan untuk maaf-maafan. Dan sampeyan tahu bagaimana reaksi mereka?”

Mas Kaji menatap saya, penasaran.

Saya melanjutkan, “Mereka menganggapku gila.”

Mas Kaji tertawa. “Ya tidak apa-apa, lanjutkan saja.”

“Lanjutkan bagaimana?”

Kali ini Mas Kaji berkata lebih serius, “Ya lanjutkan saja apa yang kamu anggap benar. Setiap zaman membutuhkan ‘orang gila’ untuk mengatakan hal-hal yang tidak bisa dikatakan orang-orang waras. Seperti yang tadi kuakui, aku tidak mampu mengatakan kebenaran yang seharusnya kukatakan. Mungkin itu tugasmu.”

“Tapi, Mas Kaji, aku bukan siapa-siapa...”

“Justru karena kamu ‘bukan siapa-siapa’ itulah, kamu bisa bebas mengatakannya.”

Percakapan kami masih panjang.

 
;