Selasa, 20 Desember 2022

Menatap Jiwa Terlelap

Di seberang trotoar tempatku makan tadi, seorang tukang becak bersiap untuk istirahat. Dia naikkan becaknya ke trotoar yang lengang, memasang rantai di roda belakang, lalu menggelar terpal di depan becaknya. Setelah itu dia mulai membaringkan diri di terpal, berselimut sarung.

Dari seberang jalan, sambil udud seusai makan, aku memandanginya dengan perasaan iri. Damai sekali hidupnya.

Iri yang kurasakan mungkin tak masuk akal, karena aku hanya melihatnya damai saat dia akan istirahat, dan tak tahu isi pikirannya, hatinya, juga bagaimana kehidupannya.

Bisa jadi dia menanggung beban yang amat berat, pikiran yang ruwet menanggung tuntutan hidup, dan terpisah jauh dari keluarganya (di kotaku ada cukup banyak tukang becak yang datang dari kota lain, dan mereka tidak punya tempat tinggal, selain hanya punya becak untuk bekerja).

Aku sering keluar rumah jam 3 atau 4 pagi untuk sarapan, dan pasti mendapati para tukang becak "tersebar" di banyak trotoar kota, sedang terlelap dalam istirahat, berselimut sarung. Mereka tampak begitu damai, dalam tidurnya, dalam mimpinya, meski dingin menusuk tulang.

Menatap makhluk hidup yang sedang terlelap selalu membuat hatiku menghangat. Mereka tampak begitu damai... kesempatan yang diberikan alam untuk istirahat sejenak dari segala kesemrawutan hidup, terlepas sesaat dari semua kekalutan, tekanan, mimpi-mimpi, dan ketidakpastian.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Desember 2020.

 
;