Cangkang telur ayam adalah perspektif.
Ada kisah filosofis tentang anak ayam yang masih ada dalam cangkang telur (belum menetas), dan anak ayam yang sudah menetas (keluar dari cangkang). Mereka menghadapi dunia yang berbeda, dengan cakrawala pemikiran yang jauh berbeda.
Anak ayam yang masih dalam cangkang—belum menetas—berpikir bahwa dunianya begitu kecil, dan dia begitu besar. Dia tidak melihat apa-apa, karena masih terkungkung dalam cangkang telur. Dia hanya melihat apa yang harus dilihatnya; kungkungan dinding cangkang di sekelilingnya.
Sementara anak ayam yang telah menetas—keluar dari cangkang telur—menyadari bahwa dunia begitu besar, dan dia begitu kecil. Dia melihat banyak hal yang semula tidak dilihatnya. Dia menatap luas bumi, dan perspektifnya tentang hidup, juga tentang dirinya sendiri, berubah.
Kalau anak ayam yang masih ada dalam cangkang bercakap-cakap dengan anak ayam yang telah keluar dari cangkang, percakapan mereka tidak akan nyambung. Karena yang satu merasa dirinya besar (dalam cangkang), dan satunya lagi menyadari bahwa dirinya kecil (telah menetas jadi ayam).
Jika anak ayam yang telah keluar dari cangkang memberi tahu betapa luasnya dunia, bahwa kehidupan ini begitu beragam, bahwa hidup tidak sebatas dalam cangkang, anak ayam yang masih dalam cangkang tidak akan paham, bahkan tidak percaya. Karena dia masih terkurung cangkangnya.
Cangkang adalah perspektif, paradigma, cara kita melihat diri sendiri, dunia, dan kehidupan yang kita jalani. Tidak semua orang nyaman hidup dalam cangkang terus menerus, dan mereka memilih untuk keluar dari cangkang yang selama ini membelenggu. Karena hidup tak sebatas cangkang.
"Kamu harus kawin di usia 20-an. Biar nanti kalau punya anak, usiamu belum terlalu tua." Itu contoh paradigma orang yang masih terkungkung cangkang.
Jawabannya sederhana saja, "Lha yang berencana punya anak juga siapa?"
Pemikiran orang lain belum tentu sama dengan pemikiranmu.
Kalau kita menganggap hidup adalah tumbuh dewasa, lalu kawin dan beranak-pinak, kemudian mati... ya silakan jalani.
Tapi jangan pernah berpikir dan meyakini bahwa semua orang harus begitu, atau ingin begitu, atau menganggap hidup pasti seperti itu.
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Juni 2022.
