Saya kenal orang yang tampaknya selalu bahagia. Hampir tidak pernah saya melihatnya sedih. Jadi, berharap bisa seperti dia, saya pun bertanya, bagaimana caranya agar selalu bahagia. Dia tidak keberatan berbagi resep kebahagiaannya, dan inilah yang dikatakannya.
“Pertama,” dia berkata, “selalu temukan sesuatu untuk dilakukan, dikerjakan, agar waktumu tidak terbuang sia-sia. Kedua, hindari orang-orang beracun yang kesibukannya ngerusuhi kehidupan orang lain. Ketiga, nikmati hal-hal yang kamu sukai—misalnya nikmati udud kalau memang suka udud.”
Saya memastikan, “Sudah, cuma begitu?”
Dia mengangguk, “Ya, cuma begitu.”
Setelah terdiam cukup lama, saya bertanya, “Bagaimana bisa resep-resep itu membuatmu bahagia? Maksudku, bagaimana kamu bisa bahagia hanya dengan menjalankan resep-resep tadi?”
Dia menjawab serius, “Kamu bertanya apa resep kebahagiaanku, dan yang kukatakan tadi itu resepku. Kalau ternyata resep-resep itu tidak berlaku atau tidak berfungsi bagimu, ya tidak apa-apa, karena setiap orang punya cara sendiri untuk bahagia. Mungkin caramu bahagia berbeda denganku.”
Sepertinya dia benar. Setiap orang punya cara sendiri untuk bahagia, dan “mungkin caramu bahagia berbeda denganku.”
Meski mungkin terdengar sepele, kebenaran ini jarang kita sadari. Buktinya, ada banyak dari kita yang suka memaksakan “cara bahagianya” ke orang lain.
Ada orang suka mancing ikan di empang, misalnya, dan dia bahagia melakukannya. Tidak masalah. Yang masalah adalah memaksa semua orang harus suka memancing di empang seperti dirinya, dengan alasan agar bahagia. Bahkan baru membayangkannya saja, kita tahu itu tolol.
Menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah, dengan alasan agar bahagia, itu sama tololnya menyuruh orang mancing ikan di empang dengan alasan yang sama. Setiap orang punya cara sendiri untuk bahagia. Yang bahagia menurut kita belum tentu sama pula menurut orang lain.
Mengharuskan orang lain punya anak, dengan alasan agar bahagia, itu juga lucu, seolah syarat bahagia hanyalah punya anak. Ada banyak pasangan yang menjalani kehidupan tanpa anak-anak, dan mereka bahagia. Dan kita tidak punya hak merusak/merusuhi kebahagiaan mereka.
Ada orang-orang yang suka kumpul dengan banyak orang, karena dengan cara itu dia bahagia. Tidak masalah. Yang masalah adalah jika kita memaksakan cara bahagia kita pada orang lain, dan menstigma (mencap negatif) orang-orang yang kita anggap berbeda dengan diri kita.
Ada banyak orang yang senang menghadiri pesta atau acara-acara sosial, berkumpul dengan banyak orang, dan merasakan kebahagiaan. Tapi marilah kita menyadari, tidak semua orang pasti begitu! Ada orang-orang yang justru bahagia saat sendirian, atau hanya dengan satu dua orang.
Kenyataannya memang begitu, kan? Manusia adalah makhluk unik, dengan latar belakang berbeda, dengan pola pikir berbeda, juga dengan kepribadian yang berbeda. Kita mungkin bisa menduplikasi seseorang hingga benar-benar serupa dengannya, tetapi—bagaimana pun—kita bukan dia.
Jalani hidup dan kebahagiaanmu, dan biarkan orang-orang lain menjalani hidup serta kebahagian mereka sendiri. Kamu bukan pusat alam semesta, dan kamu bukan satu-satunya orang yang punya resep bahagia.
