Jumat, 30 Januari 2026

Terlalu Lempeng Sampai Nabrak

Omong-omong soal Greschinov, sekali lagi...

Sambil nunggu udud habis.

Dari dulu aku percaya, masalah Greschinov tuh “terlalu lempeng”. Dan karena terlalu lempeng, akibatnya bisa nabrak. Termasuk nabrak akal sehat.

Untuk kesekian kali, Greschinov bikin ribut di Twitter, dan akar masalahnya sama, seperti yang dulu-dulu. Dia menyampaikan sesuatu yang menurutnya benar, lalu ditolak dan dihujat beramai-ramai oleh banyak orang. 

Kenapa fenomena absurd seperti Greschinov bisa terjadi?

Seperti yang pernah aku ocehkan di sini, Greschinov sebenarnya belum tentu salah [meski juga belum tentu benar]. Intinya kan dia menyampaikan sesuatu, yang ternyata bertabrakan dengan akal waras orang-orang di Twitter. Lalu Greschinov ramai-ramai dihujat. 


Pertanyaannya, kenapa di dunia ini bisa muncul fenomena seperti Greschinov? Kenapa bisa ada orang yang punya pemikiran “sangat kacau”, hingga banyak orang gatal ingin menghujatnya? Greschinov juga harus tahu hal ini, karena dia akan terus menerus begini jika tidak sadar.

Dalam perspektifku, Greschinov itu mirip mas-mas (atau bapak-bapak) yang tinggal di kampung, dan kebetulan pintar. 

Mari kita akui, faktanya Greschinov memang pintar, setidaknya bisa berbahasa asing. Kalau kamu mas-mas di kampung dan bisa bahasa asing, kamu pintar!

Masalahnya adalah... mas-mas kampung ini—maksudku Greschinov—kemudian masuk ke komunitas besar, dalam hal ini Twitter, yang terkenal berisi orang-orang pintar, kritis, sekaligus brutal. 

Dan terjadilah fenomena ini; dianggap pintar di kampung, tapi tolol di Twitter.

“Pintar di kampung, tapi tolol di Twitter”—itulah sebenarnya yang terjadi, khususnya menyangkut Greschinov. 

Letakkan Greschinov—atau orang seperti dia—di kampung, dan dia akan terlihat pintar. Tapi bawa orang semacam itu ke Twitter, dan seketika dia akan tampak sangat tolol!

Jangankan orang seperti Greschinov, yang senyatanya memang pintar, ada orang-orang yang sebenarnya sangat tolol, tapi merasa dirinya pintar, berwawasan, bahkan merasa bijaksana. Dan orang ini tetap merasa begitu, karena “lingkungan intelektualnya” hanya sebatas kampungnya.

Kalian pasti tahu, lah, orang-orang semacam itu. Di kampung-kampung kita, biasanya ada tipe mas-mas atau bapak-bapak yang lingkup pikirannya sangat sempit, tapi merasa sangat pintar dan berwawasan, sampai berlagak sok pintar dan menganggap dirinya tak mungkin salah.

Mas-mas atau bapak-bapak di kampung itu “selamat”—dalam arti tidak sampai dihujat banyak orang—karena mereka hanya hidup dan berlagak sok pintar di kampungnya. 

Coba bawa mereka ke Twitter, suruh ngoceh di sini, dan seketika akan dihabisi banyak orang, karena ketololannya.

Itulah sebenarnya yang terjadi pada Greschinov, yaitu fenomena “pintar di kampung, tapi tolol di Twitter”. 

Greschinov, diakui atau tidak, pasti merasa dirinya pintar, bahkan mungkin benar. Masalahnya, pintar dan benar yang ia pikirkan, bisa jadi salah total bagi banyak orang.

Seperti ketika dia bikin surat ala-ala perjanjian pranikah, Greschinov pasti berpikir kalau semua yang dituangkannya adalah benar, tepat, dan adil. 

Dilihat dari mana? Dari sudut pandang mas-mas kampung! Tapi sudut pandang itu ternyata salah total saat diungkap di sini.

Jangan salah paham. Aku tidak bermaksud merendahkan mas-mas kampung—wong aku juga tinggal di kampung.

Yang kumaksud dengan analogi “mas-mas kampung” adalah perspektif sempit yang lahir dari pikiran sempit, karena lingkup wawasan dan paradigma yang sempit.



Ada banyak orang seperti Greschinov—orang-orang yang merasa pintar atau dianggap pintar di komunitas terbatas, tapi kelihatan tolol ketika masuk ke komunitas lebih luas. 

Apakah orang seperti Greschinov berbahaya? Sebenarnya, dia lebih berbahaya bagi dirinya sendiri.

Yang [kadang] berbahaya dari Greschinov itu kan cara berpikir-sempitnya yang bertabrakan dengan cara berpikir orang-orang [waras] secara luas. 

Dan karena orang-orang sadar bahwa dalam hal itu Greschinov “bermasalah”, maka yang paling menanggung akibatnya ya Greschinov sendiri.

Dalam contoh faktual, dia mencari pasangan, dan dia bikin surat perjanjian pranikah yang sungguh ngehe. 

Apakah ada perempuan waras yang tertarik jadi pasangannya? Kita tahu jawabannya. Karenanya, dalam hal ini, Greschinov sebenarnya lebih berbahaya bagi dirinya sendiri.

Dalam perspektif psikologi, orang membentuk pola, lalu terjebak dalam polanya sendiri. Itu terjadi pada semua orang, termasuk Greschinov, dan kita semua. 

Bedanya, pola yang dibuat—dan menjebak—Greschinov membuatnya berkali-kali tersandung masalah, entah sadar atau tidak.

Awkarin, misalnya, membentuk pola; dekat dengan cowok > jadian > putus > lalu dekat cowok lagi > jadian lagi > putus lagi > dan begitu seterusnya.

Begitu pun, aku juga membentuk pola; naksir cewek > tapi milih belajar > gak pacaran > naksir cewek lagi > milih belajar lagi > dst.

“KENAPA CONTOHNYA AWKARIN SAMA KAMU?” 

Ya suka-suka, laaaah. Wong ini ocehanku, kok! Kalau gak suka, silakan ngoceh sendiri. 

Dah, lah. Ududku habis.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 1 Oktober 2022.

 
;