Senin, 19 Januari 2026

Tak Berharap

Kalau beneran besok Twitter akan diblokir, menurutmu gimana?

Ini jawabanku pribadi, ya: Bodo amat! 

Jika benar besok Twitter akan diblokir, berarti ini tweet terakhirku. Wow.

Jadi kepikiran. Omong-omong soal bodo amat...

Sambil nunggu udud habis.

Pelajaran hidup yang kupelajari, dan masih terus kupelajari, adalah melepaskan diri dari segala ketergantungan. Pada apa pun—apalagi sekadar Twitter. Jadi, kalau Twitter mau diblokir atau tidak, itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagiku. Jadi, seperti kubilang tadi, bodo amat!

Di Twitter, aku ngoceh suka-suka, di waktu luang sambil melepas stres, hingga udud habis. Gak ada pentingnya sama sekali. Ada yang mau baca, ya monggo. Gak ada yang baca, ya ora opo-opo.

Ini menurutku pribadi, ya. Jadi kalau kamu punya pandangan lain soal Twitter, ya silakan.

Jangankan cuma Twitter, wong kepada sesama manusia saja aku berusaha melepaskan diri dari ketergantungan, berusaha tidak memiliki harapan apa pun kepada mereka. Mungkin terdengar filosofis, tapi itu membuat hidupku lebih tenang, tenteram, karena jauh dari harapan macam-macam.

Setiap kali mengajak seseorang untuk mengerjakan sesuatu, aku berpikir santai, "Kalau kamu mau, ayo kerjakan bareng. Kalau kamu tidak mau, ya akan kukerjakan sendiri." Simpel.

Dengan pola pikir sesederhana itu saja, hidupku terasa berubah lebih baik dan lebih menenteramkan.

Ada pesan yang pernah kubaca di DM, "Kenapa seseorang yang sangat mudah untuk terkenal tapi memilih untuk tidak dikenal? Kenapa seseorang yang memiliki kesempatan untuk bertemu orang-orang terkenal, tapi memilih tidak melakukannya?"

Jawabannya sederhana: Aku tidak berharap.

Mungkin aku mengagumi seseorang karena kiprah atau karya-karyanya. Tapi aku sama sekali tak berharap apa pun, seperti ingin ketemu, apalagi lebih dari itu. [Meski tidak menutup kemungkinan kami akan bertemu, entah dengan alasan apa pun. Tapi intinya aku tidak ingin berharap].

Jangankan hal-hal semacam itu, wong umpama aku menyatakan cinta pada seorang wanita pun, aku tidak akan berharap. Jika dia menerima, dan mau jadi pacarku, ya syukur. Jika dia menolak, ya tidak apa-apa. Aku akan melanjutkan hidupku seperti biasa, tanpa terluka, tanpa patah hati.

Dan kalau untuk urusan cinta saja aku tidak berharap [harus diterima], apalagi untuk hal-hal lain yang lebih sepele?

Kalau aku menawarimu sesuatu, bisa dibilang tidak ada pengaruhnya bagiku, terlepas kamu menerima atau menolak. Itu sesuatu yang sangat... sangat sepele.

Intinya, aku tidak punya harapan apa pun kepadamu, atau pada siapa pun. Mungkin ini terdengar kasar, tapi izinkan aku mengatakannya. Aku tidak berharap jadi temanmu, rekan kerjamu, pacarmu, atau apa pun. Jika terjadi, itu di luar harapanku. Mungkin kita bisa menyebutnya takdir.

Keinginan (memiliki harapan pada orang lain) adalah sumber penderitaan, dan aku percaya.

"Aku telah mengalami segala kesusahan hidup," kata Ali bin Abi Thalib, "dan yang paling menyusahkan adalah berharap pada manusia."

Jika Ali bin Abi Thalib yang berbicara, aku mendengarkannya.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 19 Juli 2022.

 
;