Minggu, 01 Februari 2026

Mengubah Perspektif

Dulu ada orang sedang berolah raga, tiba-tiba jatuh, dan mati. Masyarakat menyebut "dia mati disantet". Banyak yang percaya, dan aku ikut percaya waktu itu. Bahwa dia mati disantet.

Bertahun kemudian, aku baru sadar bahwa orang yang mati tiba-tiba itu karena serangan jantung.

Dulu, dengan terbatasnya pengetahuan, aku mempercayai "orang mati tiba-tiba karena disantet" karena lebih mudah dicerna akal. Belakangan, aku menyadari, justru jauh lebih mudah [dan lebih logis] untuk mempercayai bahwa orang yang mati tiba-tiba itu karena serangan jantung.

Mengubah perspektif (cara pandang) kadang butuh waktu, dan itu bisa sangat lama, tergantung orang per orang. Sampai sekarang, aku yakin, masih banyak yang percaya bahwa orang yang dulu mati tiba-tiba itu karena memang disantet. Perspektif mereka tak pernah beranjak ke mana-mana.

Mungkin aku akan dicerca karena mengatakan ini. Jika aku ditanya, apakah percaya pada santet dan semacamnya, jawabanku, "Tidak!"

Untuk sampai pada jawaban [yang serupa keyakinan] itu, aku butuh waktu bertahun-tahun, proses yang tak sebentar, untuk kemudian sampai pada simpulan.

Dulu, di Indonesia ada dukun terkenal yang mengaku bisa menyantet siapa pun—kalian pasti tahu siapa yang kumaksud. Tapi dari tahun ke tahun, aku mengamati, dia tidak pernah membuktikan apa pun, selain ngoceh "bisa menyantet siapa pun". Popularitasnya mengalahkan kemampuannya.

Sebenarnya, aku tergoda melanjutkan ocehan ini sampai panjang lebar, tapi aku juga khawatir kalau ocehanku makin "tak karuan". Lagian ududku hampir habis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Agustus 2021.

 
;