Pacaran atau menikah adalah soal pilihan. Tapi di Indonesia, pilihan itu dieksploitasi sedemikian rupa, hingga tidak lagi menjadi pilihan. Pacaran diubah menjadi larangan, dan menikah diubah menjadi kewajiban. Jika diperhatikan, eksploitasi itu ujung-ujungnya bisnis dan jualan.
Secara pribadi, aku tidak peduli orang mau pacaran atau tidak, mau kawin atau tidak. Ini negara demokrasi, dan pacaran juga menikah adalah soal pilihan masing-masing. Yang jadi masalah adalah ketika pilihan itu dieksploitasi, hingga seolah orang tak bisa punya pilihan lain.
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 November 2018.
