Rabu, 05 Juli 2017

Pergilah Ke Mana Hati Membawamu

Kalau orang bersedia mati untuk mendapatkan apa pun
yang dia inginkan, dia akan mendapatkan.
@noffret


Di catatan terdahulu, kita telah melihat kehidupan Siwon, dan belajar pada keteguhan hatinya dalam mengejar impian. Sekarang, kita akan melihat kehidupan dua teman Siwon, yaitu Eunhyuk dan Donghae. Sebagaimana Siwon, mereka juga memiliki jalan hidup yang layak dijadikan pelajaran.

Nama asli Eunhyuk adalah Lee Hyuk Jae. Alasan kenapa dia mengubah namanya menjadi Eunhyuk, karena kebetulan di Korea Selatan ada komedian terkenal bernama Lee Hyuk Jae. Karenanya, daripada orang bingung membedakan mereka, dia pun menggunakan “Eunhyuk” sebagai namanya. Saat ini, Eunhyuk dikenal sebagai penari, rapper, pembawa acara atau presenter, penulis lagu, aktor, dan—tentu saja—anggota Super Junior. Sebegitu hebat Eunhyuk menari, sampai dia dijuluki “Danching Machine”.

Eunhyuk telah tertarik pada dance sejak SD, dan dia belajar dance secara otodidak, dengan menonton video-video dance di televisi. Pada waktu kelas 3 SD, kemampuan Eunhyuk dalam menari sudah mulai terlihat. Waktu itu, Eunhyuk sangat menyukai dan menikmati aktivitas dance, dan merasa bahwa menari adalah aktivitas yang dapat dilakukannya dengan baik, dengan sepenuh cinta.

Pada waktu SMP, Eunhyuk menjalin persahabatan dengan Junsu, teman sekolahnya. Eunhyuk ingat, dia pertama kali bertemu Junsu saat bermain bola, dan Junsu waktu itu mengenakan kaus bergambar Micky Mouse serta celana digulung sampai lutut. Yang menjadikan keduanya cocok dan segera akrab, karena Eunhyuk maupun Junsu memiliki impian sama, ingin menjadi penyanyi dan penari profesional.

Waktu itu, Junsu memberi saran, “Agar impian kita menjadi penyanyi dan dancer terwujud, bagaimana kalau kita membentuk sebuah group?” Eunhyuk setuju, dan mereka mengajak dua orang teman untuk bergabung. Itulah awal perjalanan Eunhyuk dan Junsu dalam dance. Sejak itu pula, Eunhyuk bersama teman-temannya aktif berlatih dance, dan kerap mempertunjukkan kemampuan mereka, khususnya di lingkungan sekolah.

Saat acara darmawisata sekolah, misalnya, Eunhyuk tidak segan memperlihatkan bakatnya di depan semua orang. Dia bernyanyi sambil menari. Saat sekolah menyelenggarakan pagelaran seni untuk mencari anak-anak berbakat, Eunhyuk naik ke atas panggung dan menunjukkan kemampuan menarinya. Teman-teman dan guru-guru di sekolah mengakui, Eunhyuk menari dengan sangat bagus.

Tetapi bakat saja tidak cukup. Meski orang-orang mengakui kemampuan Eunhyuk dalam menari, perjalanan Eunhyuk untuk menjadikan dirinya penari profesional harus melalui jalan panjang yang tak mudah. Dia harus berkali-kali menerima penolakan, bahkan tentangan. Termasuk dari ibunya tercinta.

Ketika tahu Eunhyuk ingin terjun ke dunia entertainment dan menjadi penari, ibunya sulit menerima. Eunhyuk ingat, waktu itu ibunya mengatakan, “Cita-cita menjadi artis hanya akan membuat hidupmu sia-sia.”

Tapi Eunhyuk telah membulatkan tekad. Dia hanya tahu ingin menari, dan dunia harus menyaksikan dia menari. Sekali lagi, perjalanan yang harus ditempuh Eunhyuk sangat sulit. Berkali-kali dia melamar ke agen-agen pencari bakat, tapi yang dihadapinya penolakan demi penolakan. Setiap kali menerima penolakan, Eunhyuk berkata pada diri sendiri, “Meski harus jatuh bangun, itu tidak akan menjadi alasanku berhenti bermimpi.”

Maka dia bangun lagi. Dan mengejar impiannya kembali.

Di dunia, dia menghadapi penolakan orang-orang. Di rumah, dia menghadapi penolakan ibunya. Jika ada orang yang harus berdarah-darah dalam mengejar impian, Eunhyuk salah satunya. Meski begitu, seperti tekadnya, Eunhyuk tidak putus asa. Dia berlatih terus setiap hari, bahkan hanya tidur 5 jam setiap hari. Tidur 5 jam itu bahkan terus dilakukannya sampai saat ini, ketika seluruh dunia telah mengenalnya. Dia terus berlatih, berlatih, dan berlatih.

Setiap kali ada perlombaan dance, Eunhyuk akan mendaftar. Beberapa kali dia menang, beberapa kali dia kalah. Tapi Eunhyuk sudah kebal dengan kekalahan, dan terus maju. Setiap hari, kapan pun ada waktu, dia melatih diri, dan waktu demi waktu semakin memperbaiki tariannya, gerakannya, keindahannya.

Sampai kemudian, Eunhyuk mendengar S.M. Entertainment membuka audisi untuk sebuah grup penyanyi (yang kelak bernama Super Junior.) Eunhyuk mendaftar, dan mengikuti audisi. Eunhyuk ingat, waktu audisi dia begitu gugup, sampai-sampai khawatir akan tampak berantakan, dan impiannya akan hancur. Tetapi, seperti biasa, dia menguatkan diri, dan bertekad untuk menunjukkan kemampuan terbaik yang dimilikinya. Di akhir audisi, Eunhyuk dinyatakan lulus, bahkan dengan nilai sempurna.

Saat Super Junior pertama kali tampil, Eunhyuk mengundang ibunya untuk menghadiri acara, dan ibunya datang. Ketika melihat Eunhyuk menari dengan wajah bahagia, dengan gerakan-gerakan yang sangat indah, ibunya berpikir, “Anakku sangat tampan.” Sejak itulah, ibu Eunhyuk menyadari bahwa anaknya telah memilih jalan terbaik bagi hidupnya, dan—meski harus berjuang keras luar biasa—Eunhyuk berhasil meraih impiannya.

Sama seperti Siwon, Eunhyuk selalu mengatakan bahwa konser Super Junior terbaik adalah konser yang dihadiri ibunya. Menyadari sang ibu akhirnya memberi restu untuk pilihan hidupnya, membuat Eunhyuk merasa hidupnya sempurna.

Berbeda dengan Siwon dan Eunhyuk yang mendapat tentangan dari orang tua saat mengejar impian, Lee Donghae justru menjadi artis sukses berkat dorongan ayahnya. Saat ini, dia dikenal sebagai penyanyi, penari, rapper, penulis lagu, model, dan aktor terkenal Korea Selatan. Sama seperti Siwon dan Eunhyuk, Donghae juga anggota Super Junior.

Sebenarnya, Donghae bercita-cita menjadi atlet. Tetapi, ayahnya mendorong agar Donghae terjun ke dunia entertainment, menjadi penyanyi. Dorongan itu sebenarnya hasrat tersembunyi ayah Donghae yang tak terlaksana. Di masa lalu, saat masih remaja, ayah Donghae bercita-cita menjadi penyanyi. Tetapi ayahnya (kakek Donghae) menentang keras, dan ayah Donghae pun mengubur impiannya dalam hati.

Bertahun-tahun setelah itu, ayah Donghae tidak pernah melanjutkan impiannya. Sampai kemudian dia menikah dan memiliki anak, dan diam-diam berharap anaknya mewujudkan impian yang dulu tak tercapai.

Jadi, saat Donghae mendapati sebuah pemberitahuan audisi, dan tertarik ingin mencoba, ayah Donghae serta merta mendukung dan menyemangati. Didukung ayahnya, Donghae pun mendatangi kantor S.M. Entertainment yang mewadahi banyak artis berbakat.

Donghae menandatangani kontrak pertamanya dengan S.M. Entertainment, kemudian masuk ke Super Junior bersama anggota yang lain. Saat benar-benar terjun ke dunia entertainment, Donghae menyadari itulah hidup yang diinginkannya, dan dia sangat berterima kasih pada ayahnya yang telah mendorong serta mendukung.

Mungkin, pikir Donghae, jika dia meneruskan cita-cita semula menjadi atlet, dia belum tentu berhasil. Kalau pun berhasil, belum tentu dia bahagia. Menjadi penyanyi, sebagaimana yang diharapkan ayahnya, membuat Donghae tidak hanya sukses, tapi juga dapat menjalani dengan bahagia, dengan sepenuh cinta. Karenanya, karir Donghae di dunia entertainment cepat berkembang, hingga merambah ke penulisan lagu sampai akting.

Yang membuat Donghae sering menyesal, ayahnya tidak sempat menyaksikan keberhasilan Donghae. Ketika Super Junior mulai terkenal, ayah Donghae sedang terbaring sekarat digerogoti kanker. Karena itulah, saat Donghae menerima award pertamanya bersama Super Junior, kata-kata pertama yang diucapkannya adalah, “Father, I hope your healthy.”

Bahkan sampai lama, Donghae sering tak bisa menahan tangis setiap kali teringat ayahnya. Teman-temannya di Super Junior memahami, kapan pun mereka membicarakan orang tua, Donghae akan teringat ayahnya, dan dia selalu menangis.

Sebenarnya, Donghae mengetahui penyakit ayahnya sejak lama. Bahwa ayahnya menderita kanker. Karenanya, Donghae sempat berniat menggunakan penghasilannya untuk membantu pengobatan sang ayah. Tetapi, ketika Donghae akhirnya berhasil mendapat penghasilan pertama, sang ayah keburu wafat. Itulah yang selalu membuat Donghae sedih. Sedih karena tidak mampu membantu ayahnya, juga sedih karena sang ayah tidak sempat menyaksikan keberhasilan impiannya.

....
....

Hidup ini begitu singkat—sebagian orang menyadari, sebagian lain tak pernah menyadari. Dan dalam kesingkatan hidup yang kita jalani, masing-masing kita diberi hak istimewa yang tidak dimiliki makhluk lain. Yaitu hak untuk memilih. Hak untuk menentukan jalan hidup. Hak untuk menjadi diri sendiri yang diinginkan. Hewan tidak memiliki hak itu. Bahkan malaikat pun tidak! Satu-satunya makhluk yang memiliki hak untuk memilih hanyalah manusia.

Selain memiliki hak untuk memilih, menentukan, serta menjadi apa pun yang kita inginkan, setiap kita juga diberi kesempatan untuk mewujudkannya. Yakni usia hidup. Dan kehidupan yang kita miliki, sebagaimana yang disebut tadi, begitu singkat. Apakah kita belum juga menyadari?

Sedari bayi, sejak kecil sampai dewasa, waktu kita dihabiskan untuk bermain dan bersekolah sampai kuliah, dan rata-rata menghabiskan waktu 20 tahun. Jika kita diberi kesempatan hidup 60 tahun, waktu yang tersisa tinggal 40 tahun. Selama 40 tahun itu, sepertiga waktu digunakan untuk tidur (8 jam sehari), dan artinya tinggal sekitar 27 tahun. Apa yang kita lakukan pada 27 tahun sisa hidup kita?

Sebagian kita sibuk mencari kerja, menjalani berbagai aktivitas sehari-hari tanpa tujuan, dan beberapa tahun kemudian menikah. Berkeluarga, punya anak-anak, lalu disibukkan urusan keluarga dan anak-anak, hingga tanpa sadar kita menua dan terus menua. Lalu waktu yang kita miliki habis. Sebagian orang berhasil mencapai impiannya, sebagian lain gagal, sebagian lagi bahkan tak pernah punya impian sama sekali.

Di dunia ini, ada banyak orang yang diam-diam merasa getir, menyaksikan hidupnya yang telah lalu... dan menyesal dulu membuang waktu untuk hal-hal tak berguna dan sia-sia. Di dunia ini, ada banyak orang yang diam-diam menyimpan penyesalan karena tidak sempat mengejar impiannya, lalu berharap kalau saja dulu memiliki keberanian untuk mengejar... kalau saja dulu menggunakan waktu sebaik-baiknya... kalau saja dulu menyadari betapa hidup ini begitu singkat.

Seperti ayah Donghae. Dia sangat ingin menjadi penyanyi, tapi lalu mengubur impiannya, karena orang tua menentang. Selama bertahun-tahun, ayah Donghae menyimpan sendirian impian itu, tak pernah berani mengejar, sampai segalanya terlambat. Usia kian menua, sementara kanker diam-diam menggerogoti tubuhnya, dan dia sekarat... tepat saat anaknya berhasil mewujudkan impian menjadi penyanyi.

Mungkin akan sangat bagus kalau saja ayah Donghae masih hidup, ketika Donghae berhasil menjadi penyanyi. Tetapi, pasti akan lebih bagus lagi jika ayah Donghae berani mewujudkan impiannya sendiri, hingga dapat menjalani kehidupan yang singkat ini dengan puas hati. Kita tidak pernah tahu kapan akan mati. Yang kita tahu, apa yang akan kita lakukan di dunia, dan akan menjadi apa selama hidup.

Siwon tahu yang diinginkannya, dan dia mengejarnya. Meski untuk itu dia harus kehilangan semua fasilitas dari ayahnya yang kaya-raya. Eunhyuk tahu apa yang ingin dilakukannya di dunia, dan dia mengejarnya meski harus menghadapi penolakan demi penolakan, bahkan tentangan dari ibunya. Pada akhirnya, ketika Siwon maupun Eunhyuk berhasil membuktikan diri, orang tua mereka pun merestui. Oh, well, ketika seorang manusia berhasil menjadi diri sendiri, dunia akan mengakui.

Mungkin, tugas terbaik seorang manusia memang menemukan diri sendiri, sebagaimana tugas terbaik setiap orang tua adalah membebaskan anak-anaknya untuk menjadi diri sendiri. Dan untuk menjadi diri sendiri, untuk menemukan diri sendiri, kita perlu mendengarkan suara hati... mendengarkan apa sebenarnya yang kita cari, apa yang paling kita inginkan di dunia ini, dalam hidup yang amat singkat ini.

Karenanya, di antara kesibukan yang terus berpacu, di antara aktivitas yang tanpa henti, di antara kehidupan yang kadang tak jelas, luangkanlah waktu untuk hening sejenak... untuk mendengarkan suara hati, untuk menemukan diri sendiri. Dan saat hati memberitahu, ikutilah kata hatimu. Pergilah, berjuanglah, dan ikutilah ke mana hati membawamu.

 
;