Minggu, 01 Januari 2023

Kerjakan Satu Per Satu

Mbuh aku termasuk workaholic apa bukan. Yang jelas, aku suka bekerja. Daripada menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, aku lebih suka bekerja. Daripada keluyuran tidak jelas juntrungnya, aku lebih suka bekerja. Daripada leyeh-leyeh, aku lebih suka bekerja.

Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa yang kulakukan itu baik—karena "baik" dan "buruk" dalam urusan sibuk kerja bisa jadi relatif. Aku juga tidak bermaksud mengatakan semua orang harus sibuk kerja. Hidup adalah soal pilihan, semua orang bebas memilih apa pun yang disuka.

Ada teman yang hobi mancing, dan aku pernah menemani. Dia asyik saja mancing sampai berjam-jam, karena memang suka. Sementara aku yang menemaninya merasa sangat tersiksa. Aku bilang ke dia, "Daripada bengong gini (megang kail, nunggu ikan), aku lebih suka kerja!"

Temanku ngikik.

Sedikit curhat. Saat ini, tumpukan berkas kerjaku sekitar 4 meter tingginya. Bahkan setelah aku bekerja keras tiap hari, dari pagi sampai malam, tumpukan pekerjaan itu tidak akan selesai akhir tahun ini. Apakah aku stres? Jelas! Namanya kerja, pasti stres. Tapi aku menikmatinya.

Yang membuatku bergairah setiap kali bangun tidur, karena ada sesuatu yang akan kukerjakan. Itu tidak hanya memompa energi hidup, tapi juga memberiku visi, impian, dan kesadaran bahwa "aku hidup untuk melakukan ini... dan aku akan melakukannya."

Jadi, aku sangat suka bekerja.

Kalau-kalau ada yang penasaran, bagaimana bisa ada orang yang "jatuh cinta" pada kerja, izinkan aku berbagi.

Yang membuatku sangat senang dan tekun bekerja, karena aku memasukkan visi ke dalam pekerjaanku. Dan apa visiku? Dari dulu tak pernah berubah: Meruntuhkan peradaban!

Kalau kita memasukkan visi ke dalam pekerjaan, kita akan melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain, meski melakukan pekerjaan yang sama. Visi adalah terang cahaya di tengah kegelapan rutinitas dan kesibukan dalam bekerja. Tanpa visi, pekerjaan sangat melelahkan dan membosankan.

Dan bagaimana menghadapi tumpukan kerja yang luar biasa banyaknya? Aku punya resep, yang telah jadi filosofi pribadi; kerjakan satu per satu. 

Aku telah membuktikan berkali-kali, pekerjaan—atau masalah, atau apa pun—akan selesai, jika kita tekun mengerjakannya satu per satu.

Dulu, aku pernah menghadapi tumpukan pekerjaan yang jauh lebih banyak, dan nyatanya selesai. Hanya cukup melakukannya satu demi satu. Dengan ketekunan dan kesabaran.

Dan kalian akan menjadi saksi... peradaban ini akan runtuh. Karena aku terus mengerjakannya... satu per satu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Agustus 2021.

 
;