Kamis, 06 Oktober 2016

Rumah di Samping Masjid

Kita sedang hidup di abad pamer,
ketika yang esensial menjadi sebatas artifisial,
yang seharusnya hening diteriakkan hingga sangat bising.
@noffret


Dalam bisnis properti, ada hukum yang selalu diingat para pialang, berbunyi, “Lokasi, Lokasi, Lokasi.” Artinya, semakin baik lokasi suatu properti berada, semakin bernilai tinggi atau semakin mahal harganya. Rumah yang ada di pusat kota memiliki nilai lebih tinggi dibanding rumah yang ada di pinggir kota, meski memiliki ukuran dan wujud sama. Karena lokasi yang strategis ikut menentukan nilai dan harga.

Ternyata, dalam hal ini, rumah yang berdekatan dengan masjid agak memiliki masalah. Setidaknya, itulah yang dialami Husein, seorang teman, yang sedang berusaha menjual rumah warisan orangtuanya. Sudah ditawarkan ke orang-orang, tapi transaksi selalu batal, setelah diketahui rumah itu berada di samping masjid. Biar cerita ini utuh dan bisa lebih dipahami, izinkan saya mengisahkan latar belakangnya.

Orangtua Husein memiliki rumah, yang telah dibangun puluhan tahun lalu. Husein memiliki tiga kakak perempuan yang semuanya telah menikah, dan hidup bersama suami masing-masing. Karenanya, yang masih tinggal bersama orangtua hanya Husein. Ketika kemudian ayah-ibu Husein meninggal, rumah itu pun menjadi hak waris Husein dan ketiga kakaknya.

Karena ketiga kakak Husein telah punya rumah sendiri-sendiri, mereka pun tidak membutuhkan rumah warisan tersebut. Mereka bahkan meminta Husein tinggal di rumah orangtua mereka, agar rumah itu tetap menjadi milik keluarga. “Kita bisa menggunakannya untuk kumpul-kumpul pas lebaran,” kata kakak sulung Husein.

Sebenarnya, itu tawaran yang baik. Sayangnya, Husein sudah tidak betah tinggal di sana. Pasalnya, rumah itu ada di samping masjid, dan setiap saat suara TOA yang sangat keras terdengar dari masjid hingga masuk ke rumah-rumah. Banyak orang di sana—tetangga-tetangga Husein—yang terganggu dengan hal itu, termasuk Husein.

Lingkungan tempat tinggal Husein adalah lingkungan muslim, tidak ada satu pun yang nonmuslim. Meski begitu, mereka terganggu dengan aneka suara bising yang nyaris tanpa henti terdengar dari masjid. Husein dan tetangga-tetangganya tentu tidak mempermasalahkan seruan azan dari masjid, karena salah satu fungsi masjid memang menyerukan datangnya waktu shalat. Tetapi, di luar itu, masjid di lingkungan mereka seperti terus memperdengarkan suara lain yang sama keras. Dari suara rekaman tilawah sampai suara-suara lain, yang semuanya dikeraskan melalui TOA.

Sehabis subuh, saat orang-orang ingin menikmati keheningan, ada suara orang mengaji yang dikeraskan TOA. Setelah itu selesai, ada pengajian ibu-ibu yang biasanya diisi oleh seorang ustad, dan suara ceramah itu pun dikeraskan TOA. Menjelang dhuhur, terdengar suara rekaman tilawah hingga datang waktu azan dhuhur. Lalu hal sama terulang menjelang ashar. Seusai ashar sampai maghrib, suara rekaman tilawah atau lainnya terus terdengar melalui TOA.

Seusai maghrib, ada pengajian bapak-bapak, yang juga diisi seorang ustad, dan lagi-lagi suara ceramah dari sana dikeraskan TOA sampai isya. Seusai isya, kadang masih ada hal-hal lain yang terus memperdengarkan suara dan kebisingan. Dan hal semacam itu terjadi setiap hari. Padahal, pada acara pengajian—untuk bapak-bapak maupun ibu-ibu—kadang yang ada di sana cuma beberapa orang. Tapi suara ceramah si ustad dikeraskan TOA hingga seisi komplek mendengar.

Orang-orang di sana sudah tidak nyaman dan terganggu sejak lama, tapi tidak ada satu pun yang berani mengatakan terang-terangan. Masalah semacam itu, kita tahu, sangat sensitif. Satu orang yang terang-terangan mengatakan terganggu akibat suara bising dari masjid bisa dianggap “salah”, dan tidak ada satu pun yang berani menanggung risiko. Padahal, itu lingkungan muslim, dan tidak ada satu pun nonmuslim. Jadi, warga di sana—yang semuanya muslim—diam-diam hidup dalam perasaan tertekan.

Latar belakang itulah yang menjadikan Husein ingin segera meninggalkan rumah orangtuanya, hingga ia memutuskan untuk menjual rumah tersebut. Lebih dari itu, Husein juga sudah punya rumah sendiri di tempat lain, yang ia beli melalui KPR. Rencana Husein, kalau rumah orangtuanya telah terjual, dia akan pindah ke rumahnya sendiri. Rencana Husein disetujui tiga kakaknya, dan Husein pun mulai menawarkan rumah itu kepada orang-orang yang mungkin berminat. Dia membuat dokumentasi rumah orangtuanya, lengkap dengan foto-foto.

Karena rumah kuno, dan menggunakan kayu-kayu jati, ada cukup banyak orang yang berminat pada rumah orangtua Husein. Dilihat di foto, rumah itu tampak megah, anggun, sekaligus asri. Maka, satu per satu dari mereka pun tertarik untuk melihat langsung rumah tersebut. Tetapi, setiap kali orang-orang itu datang ke rumah Husein, setiap kali pula mereka kehilangan minat. Bukan karena wujud rumahnya, melainkan karena lokasinya!

Seperti yang dibilang tadi, rumah itu berada di samping masjid. Ketika mereka datang ke rumah Husein, mereka mengalami kesulitan komunikasi, akibat polusi suara yang datang dari TOA masjid. Jadi, mereka terpaksa bercakap-cakap di sana dengan suara keras, demi mengatasi bising TOA yang terdengar.

Salah satu orang yang pernah datang ke sana adalah seorang pria yang kebetulan menyukai benda-benda kuno, termasuk rumah kuno. Semula, pria itu antusias saat melihat foto-foto rumah yang ditunjukkan Husein, dan dia pun datang ke rumah Husein untuk melihat langsung. Tetapi, seketika dia kehilangan minat saat sampai di sana, akibat pekaknya telinga.

Husein menceritakan, saat berada di rumahnya, pria tersebut bertanya—atau mungkin lebih tepat disebut berteriak—“APAKAH SUARA KERAS ITU SERING TERDENGAR?”

“YA,” jawab Husein jujur. “MASJID SEBELAH MEMANG SERING ADA ACARA, JADI SERING TERDENGAR SUARA-SUARA.”

Orang itu pun pergi. Sama seperti orang-orang sebelumnya yang pernah datang ke sana. Sepertinya memang tidak ada yang sanggup menahan bising TOA.

Tergerak ingin membantu Husein, saya mempertemukan Husein dengan Haji Iskandar. Siapa tahu Iskandar berminat membeli rumah orangtua Husein, pikir saya. Iskandar punya usaha dalam skala besar, punya uang, dan ada kemungkinan dia butuh rumah baru, karena tak lama lagi akan menikah. Lebih dari itu, dia orang salih, taat beragama, jadi kemungkinan besar akan tahan dengan suara-suara dari masjid.

Ketika Husein memperlihatkan foto-foto rumahnya, Iskandar tertarik. Maka, suatu sore—setelah Iskandar punya waktu dari kesibukan kerjanya—dia pun mengajak saya ke rumah Husein, untuk melihat langsung rumah tersebut. Husein menyambut kami, dan mengantarkan Iskandar untuk melihat-lihat isi rumah. Waktu itu, sebenarnya, Iskandar tertarik, karena rumah itu luas, asri, dan bangunannya benar-benar kokoh, khas rumah zaman dulu.

Tetapi, lagi-lagi, bising TOA dari masjid membuyarkan hal itu. Iskandar, sebagaimana orang-orang lain yang pernah datang ke rumah itu, seketika kehilangan minat.

Saya ingat betul, waktu itu Iskandar berkata pada Husein, “Sejujurnya aku sangat berminat dengan rumahmu, karena rumah seperti inilah yang ingin kutempati. Apalagi aku akan menikah tak lama lagi, dan tentu butuh rumah yang luas, karena mungkin akan punya anak-anak. Tapi suara dari masjid sangat keras, dan terus terang... maaf, aku tidak akan nyaman dengan suara-suara sangat bising seperti itu.”

Husein memaklumi pernyataan Iskandar, karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Jadi, seperti yang lain-lain, Iskandar batal membeli rumah Husein.

Dalam perjalanan pulang, saya sempat berkata pada Iskandar, “Kupikir kamu orang salih, dan rumah itu tepat di samping masjid. Ternyata...”

“Salih sih salih,” ujar Iskandar sambil nyengir. “Tapi kalau selalu terdengar suara TOA sebising itu, aku bisa gila kalau tinggal di sana.”

Sebagai properti, rumah Husein sebenarnya tidak punya masalah. Dibangun di atas tanah yang luas, memiliki bangunan kokoh dan dilengkapi kayu-kayu jati, dengan halaman depan dan belakang yang sama-sama luas. Lokasi rumah itu juga tergolong ada di dekat pusat kota. Secara keseluruhan, rumah itu sebenarnya masuk golongan “properti bagus”. Satu-satunya masalah cuma... tempatnya di samping masjid!

Itu ironis, kalau dipikir-pikir. Orang-orang yang pernah datang ke rumah Husein, untuk melihat rumah itu secara langsung, adalah orang-orang Islam. Tapi mereka kehilangan minat pada rumah tersebut, karena letaknya di samping masjid yang terus mengumbar kebisingan. Masjid itu ada di lingkungan muslim, yang dihuni oleh orang-orang Islam. Tetapi, meski begitu, orang-orang di sana juga tidak nyaman dengan suara-suara masjid yang mengumbar kebisingan.

Bahkan Husein—yang lahir dan besar di sana—ingin segera angkat kaki dari tempat itu, agar bisa tinggal di rumahnya sendiri yang ada di lingkungan lain yang lebih hening, meski kredit KPR-nya belum lunas.

Sekali lagi, itu ironis, kalau dipikir-pikir. Islam datang untuk membawa rahmat, sebagaimana dikatakan para ulama. Tetapi rahmat itu kemudian berubah menjadi sesuatu yang justru mengganggu, bahkan bagi orang-orang Islam sendiri.

Beberapa orang, dengan TOA masjid, mungkin berpikir sedang menyebarkan ajaran agama melalui kerasnya suara kepada orang-orang, karena menganggap begitulah cara menyebarkan rahmat. Tetapi, mungkin, yang dibutuhkan umat Islam adalah keheningan, agar dapat lebih khusyuk berpikir tentang apa sebenarnya rahmat, agar bisa menjalani ibadah dan mengamalkan agama dalam kehalusan budi pekerti di kesunyian... bukan di antara pekak tuli akibat kebisingan.

 
;