Senin, 20 Februari 2023

Otak Gatal Gara-gara Panti Lansia

Sambil nunggu udud habis...

Sampai sekarang, otakku gatal saat memikirkan kasus anak yang menitipkan ibunya ke panti lansia, yang belakangan heboh karena pihak panti menyebarkan surat serah-terima antara mereka dengan anak si ibu. Ada hal sepele tapi penting yang mungkin terlewat dari pandangan kita.

Kita tahu, ada berbagai alasan dan latar belakang kenapa seorang anak [atau beberapa anak] terpaksa menitipkan orang tuanya ke panti lansia. Dari alasan sederhana [seperti sibuk, hingga tidak bisa mengurus orang tua secara layak], sampai alasan yang rumit [misal ada konflik].

Di sisi lain, ada pihak yang menyediakan panti untuk merawat para lansia, karena menyadari kadangkala ada orang tua yang membutuhkan perawatan di hari senja. 

Jadi, ketika kemudian ada anak yang menitipkan orang tua ke panti lansia, apa pun alasannya, di mana letak kesalahannya?

Tentu saja salah jika anak tidak mau mengurus orang tuanya, lalu meninggalkannya begitu saja di jalan, dan menelantarkannya. Tapi jika anak sampai mengurusnya ke panti lansia, menitipkannya secara baik-baik, bahkan memberikan biaya untuk perawatan, di mana letak salahnya?

Panti lansia didirikan untuk menampung orang-orang lansia yang butuh perawatan. Ketika ada anak menitipkan orang tuanya di sana agar dirawat dengan baik, bukankah itu sesuai tujuan didirikannya panti lansia? 

Jadi, PERTANYAAN KRUSIALNYA, kenapa surat serah-terima bisa bocor?

Ketika anak menitipkan orang tua ke panti lansia, ada surat perjanjian di antara dua pihak—sebut saja surat serah terima—dan surat itu tentu bersifat privat/rahasia. Ketika surat yang mestinya bersifat rahasia itu sampai bocor dan bikin kehebohan, apa motivasi pihak pembocornya?

Orang mau menempuh risiko—misal membocorkan surat rahasia ke media sosial, dan berisiko kena UU ITE—pasti karena adanya motivasi. 

Jadi, mari bertanya, apa motivasi pihak yang mestinya menyimpan surat rahasia dengan tanggung jawab, tapi malah membocorkannya ke media sosial?

And then... jika kita flashback ke belakang, ada kasus serupa, oleh pihak yang sama, dengan modus yang sama. Terlalu kebetulan?

Itulah kenapa otakku gatal memikirkannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 November 2021.

 
;