Minggu, 01 Februari 2026

Kembali Membaca Buku

Salah satu kenikmatan hidup saya adalah membaca buku. Itu kenikmatan yang telah saya kenali sejak masa kecil, dan tak bisa saya tinggalkan hingga kini. Saat membuka buku, lalu membacanya lembar demi lembar, saya merasakan kenikmatan yang tidak dapat saya peroleh dari hal lain. Fiksi maupun nonfiksi, sama-sama menyenangkan bagi saya. Selain menambah ilmu dan pengetahuan, membaca buku juga sarana hiburan yang sehat—setidaknya menurut saya.

Membaca buku bisa dilakukan dengan sangat mudah. Cukup siapkan buku, duduk dengan tenang, lalu membacanya. Aktivitas membaca buku tidak mengeluarkan suara, jadi tidak mengganggu telinga orang lain. Apalagi kalau kamu tinggal sendirian di rumah, seperti yang saya alami, membaca buku serupa memasuki alam keheningan. Tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa, hanya ada kamu dan buku. Tanpa ribut-ribut, tanpa suara.

Sejak bertahun lalu, saya punya jadwal khusus terkait membaca buku. Saban hari, setiap pagi, sambil menikmati teh hangat dan udud, saya selalu meluangkan waktu 2 sampai 3 jam untuk membaca buku. Setelah itu, saya baru menyalakan komputer untuk bekerja. Tengah hari, usai makan siang, saya kembali membaca buku sekitar 2 jam, lalu kembali bekerja sampai sore. Setelah pekerjaan selesai sore hari, saya beres-beres rumah—misal mencuci piring atau gelas kotor—lalu kembali membaca buku sampai malam. Biasanya saya baru berhenti setelah mengantuk, lalu tidur. 

Jadwal yang mirip ritual itu saya lakukan dengan disiplin selama bertahun-tahun, dan dengan kedisiplinan semacam itulah saya bisa mengkhatamkan ribuan buku, tahun demi tahun. Dulu, setiap akhir tahun, saya bahkan selalu memosting daftar buku terbaik di blog ini, yang berisi 10 buku yang saya anggap terbaik di antara banyak buku yang saya baca dalam setahun. 

Belakangan, jadwal membaca buku itu “rusak” setelah e-book atau buku elektronik makin populer, dan saya pun mengikuti perkembangan zaman tersebut. Artinya, saya tidak lagi membaca buku dalam bentuk kertas, tapi juga membaca buku dalam bentuk e-book yang dibaca di komputer. 

Kemunculan e-book sebenarnya membantu para pembaca buku seperti saya. Dengan e-book, kita tidak lagi butuh rak atau tempat khusus untuk menyimpan buku, karena e-book hanya berupa file yang dapat disimpan dengan mudah di komputer. 

Saat ini, di rumah saya ada ribuan buku yang tertumpuk di rak, dan di dalam banyak kardus karena kehabisan rak. Seiring waktu, jumlah buku itu tentu akan terus bertambah, karena saya masih terus membaca. Artinya, tumpukan buku itu akan semakin banyak, dan saya makin bingung bagaimana menyimpannya.  

Masalah semacam itu terbantu oleh e-book. Di komputer saya saat ini ada puluhan ribu e-book. Andai puluhan ribu file itu berupa buku cetak, saat ini rumah saya mungkin sudah “tenggelam” oleh buku. Jadi, seperti yang disebut tadi, keberadaan e-book membantu para pembaca buku seperti saya. Karena bisa terus membaca buku, tanpa harus dipusingkan bagaimana cara menyimpannya.

Sayangnya, kemunculan e-book juga “mengacaukan” jadwal harian saya. Karena e-book harus dibaca di komputer, rutinitas saya pun terpaksa berubah. Jika sebelumnya baru menyalakan komputer setelah agak siang—karena saya biasa membaca buku di pagi hari—sekarang saya sudah menyalakan komputer sejak pagi hari. Tujuannya sama, untuk membaca buku, tapi kali ini di komputer. 

Lama-lama, mungkin karena kebiasaan, saya nyaman membaca buku (e-book) di komputer. Artinya, sejak pagi sampai malam, saya terus berada di depan komputer. Setengah untuk kerja, setengahnya lagi untuk membaca buku yang memang ada di komputer. Kebiasaan baru itu kemudian saya jalani beberapa tahun terakhir, bahkan sampai sekarang. 

Tempo hari, saat bersih-bersih rumah dan menata buku-buku yang berserakan di rumah—seperti yang saya tulis di sini—saya mendapati buku-buku lama yang membuat saya kangen ingin membacanya kembali. Ada pula buku-buku yang belum sempat saya baca, padahal sudah saya beli sejak lama. Karenanya, sambil menata buku-buku tempo hari, saya juga menyisihkan buku demi buku yang akan saya baca. Setelah urusan menata buku itu selesai, buku-buku yang saya sisihkan sudah setinggi tiga meter—jumlahnya sekitar 200-an buku.

Ada 200-an buku yang akan saya baca, atau baca ulang, dan saya telah memulainya sejak akhir tahun kemarin. Karenanya, update blog tempo hari juga agak telat, sebab saya “kelupaan” gara-gara keasyikan membaca buku. Ada kemungkinan, update blog untuk beberapa waktu ke depan juga tidak akan tepat waktu seperti sebelumnya, karena sekarang saya baru menyalakan komputer setelah puas membaca buku. Tapi yang jelas, saya akan berusaha meng-update blog ini secara rutin—meski waktunya tidak pasti.

So, sekarang saya kembali membaca buku, dalam arti sebenarnya. Yaitu duduk dan memegang buku dalam bentuk kertas. Rasanya seperti me-restart diri saya sendiri untuk kembali pada kebiasaan lama. 

Mungkin karena sudah beberapa tahun membaca buku di komputer, saya sempat merasa “aneh” saat kembali membaca buku dalam bentuk kertas. Untungnya, saya punya dasar kebiasaan membaca buku kertas sebelumnya. Jadi, ketika kembali membaca buku dalam bentuk kertas, saya tidak terlalu kesulitan, karena rasanya seperti “memanggil” kebiasaan lama untuk aktif kembali.

Di titik itu, saya agak tersadar pada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan, terkait kebiasaan membaca buku. 

Anak-anak yang tumbuh di era ‘90-an—seperti saya—belum kenal e-book ketika memulai kebiasaan membaca buku. Jadi mau tak mau harus membaca buku berbahan kertas. Karenanya, pada masa itu, para kutubuku bisa seharian khusyuk memegangi buku, tanpa banyak distraksi. Karena belum ada smartphone, belum ada media sosial, belum ada Netflix atau aneka jenis distraksi lainnya.

Sementara anak-anak yang tumbuh di era sekarang sudah akrab dengan smartphone, dengan laptop atau komputer, bahkan internet sudah jadi barang kebutuhan sehari-hari. Karenanya, saya pikir membentuk kebiasaan membaca buku saat ini mungkin lebih sulit daripada di era saya. Apalagi jika harus membaca buku berbahan kertas. Karena bahkan saya sendiri, yang telah sejak kecil membaca buku berbentuk kertas, belakangan merasa “aneh” ketika kembali membaca buku berbahan kertas setelah lama menikmati membaca buku di komputer, dan merasa seperti membentuk kebiasaan baru lagi.

Saya tidak tahu pemikiran saya ini benar atau tidak, dan semoga saja tidak benar. Karena bagaimana pun saya berharap generasi sekarang juga senang membaca buku, dan akrab dengan buku, semudah generasi di era saya. Terlepas apakah mereka membaca buku dalam bentuk e-book atau buku berbahan kertas, itu cuma soal pilihan, atau selera. Intinya tetap membaca buku.

Dan sekarang, seperti yang disebut tadi, saya kembali membaca buku berbahan kertas. Rasanya memang seperti membentuk kebiasaan baru, tapi itu kebiasaan yang menyenangkan. Saya pernah punya kebiasaan itu; duduk santai, memegangi buku, membuka halaman per halaman, membaca isinya, dan terpesona pada kisah atau aneka pengetahuan yang saya dapatkan dari lembar-lembar buku yang saya baca. Sekarang saya mengulangi kebiasaan itu, dan kembali mendapatkan kenikmatan yang sama.

Kalau-kalau ada pembaca catatan ini yang mungkin ingin mulai membaca buku, dan bertanya-tanya bagaimana cara memulai kebiasaan itu, izinkan saya berbagi tip.

Tip ini sangat mendasar, jadi dapat digunakan oleh orang yang bahkan sama sekali belum pernah membaca buku. Pertama, temukan buku yang membuatmu tertarik. Buku apa saja, fiksi ataupun nonfiksi, tebal maupun tipis—bebas! Tapi usahakan kamu membeli buku itu, bukan meminjam, agar buku itu benar-benar milikmu, dan kamu bebas membacanya tanpa batasan waktu.

Setelah kamu memiliki buku, mulailah membaca isinya. Karena baru memulai, kamu tidak perlu berharap banyak. Cukup baca selembar atau dua lembar per hari. Tandai halaman buku yang kamu baca, agar kamu mudah meneruskan bacaanmu di lain waktu. Kalau bisa, tentukan waktu khusus untuk membaca—bisa pagi hari sebelum berangkat kerja, atau malam hari menjelang tidur. Tidak perlu banyak-banyak, cukup selembar atau dua lembar. Yang penting rutin.

Dengan terus membaca selembar atau dua lembar buku setiap hari, mungkin kamu bisa mengkhatamkan isi buku itu dalam waktu 1 sampai 3 bulanan. Jika kamu terus melakukannya setiap hari, kamu sedang membentuk kebiasaan. Mungkin sulit. Tapi membaca selembar atau dua lembar buku mestinya tidak sulit-sulit amat, karena hanya butuh waktu beberapa menit. Dan setelah kebiasaan itu akhirnya terbentuk, kamu akan merasa mudah melakukannya. 

Dari situ, kamu mungkin bisa menambah jumlah bacaanmu. Dari selembar menjadi dua lembar, lalu meningkat jadi tiga lembar, dan begitu seterusnya, sampai akhirnya kamu bisa membaca ratusan halaman buku dalam sekali duduk. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapai hal itu, atau bahkan bertahun-tahun, tapi tidak apa-apa, namanya juga sedang membentuk kebiasaan. Tak perlu buru-buru, yang penting kamu menikmati yang kamu lakukan.

Dengan cara itulah dulu saya membentuk kebiasaan membaca buku, hingga akhirnya terbiasa. Dan sekarang, saya kembali membentuk ulang kebiasaan itu—membaca buku kertas, menghayati isinya, halaman demi halaman, dan tenggelam di dalamnya.

Sebuah buku, teh hangat, dan udud—bagi saya, itu saja sudah menyenangkan.

Kemerdekaan Hanya Milik Para Pemikir

Mau logout, tapi udud masih panjang.

Kemerdekaan Hanya Milik Para Pemikir

Banyak orang mengenal Nietzsche karena Thus Spoke Zarathustra, tapi banyak yang tidak tahu kalau buku inilah cikal bakalnya.

Sambil nunggu udud habis.

The Birth of Tragedy adalah karya awal Friedrich Nietzsche, dan di buku ini ia mengeksplorasi seni, khususnya drama Yunani kuno, dengan kehidupan, filsafat, dan pemahaman tentang eksistensi manusia. Eksplorasi itu menuntunnya untuk melahirkan perspektif Apollonian dan Dionysian.

Tapi aku tidak bermaksud ngoceh soal itu atau menulis sinopsis buku The Birth of Tragedy. Yang membuatku gatal ingin ngoceh soal buku itu adalah bahwa kita bisa menelusuri akar pikiran seseorang—khususnya pemikir-pemikir besar—melalui "napak tilas" karya-karyanya dari awal.

Friedrich Nietzsche adalah nihilisme, dan itu sangat tampak dalam karya-karyanya yang terkenal seperti Thus Spoke Zarathustra, Beyond Good and Evil, atau The Will to Power. Tapi bagaimana Nietzsche bisa sampai pada pemikiran itu? The Birth of Tragedy memberikan gambaran awalnya.

Ketika menulis The Birth of Tragedy, Nietzsche masih “culun”—meski culunnya dia tentu beda dengan culunnya kita. Sebagai pemikir pemula, Nietzsche masih "lugu" ketika menulis buku itu, dan kelak, seiring waktu, ia membangun, meruntuhkan, dan membangun kembali ide-idenya sendiri.

Tidak ada satu pun pemikir yang tiba-tiba sampai pada kesimpulan yang amat kuat—yang ia rela mati demi pemikirannya. Semua pemikir melewati tahap per tahap, tesis dan antitesis, dan itu bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa henti, sampai kemudian tiba pada kesimpulan pamungkas.

Dalam perspektif filsafat, tidak ada kebenaran/keyakinan instan—yang serbainstan itu cuma “hiburan” untuk orang-orang yang otaknya setara trilobita, yang didoktrinkan pada mereka agar dapat dikibuli, dikendalikan, untuk kemudian dikuasai. 

Kemerdekaan hanya milik para pemikir.

And then... itulah kenapa ada pihak-pihak yang sangat khawatir kalau kita sampai berpikir, lalu berusaha mematikan pikiran kita dengan tumpukan doktrin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Oktober 2024.

Komentar untuk God Delusion

Buku ini sangat bagus. Dawkins menulis dengan amarah yang bercampur intelektualitas dan kejujuran, dengan kata-kata yang mampu mengobrak-abrik pikiran siapa pun yang membacanya. Sebagian orang akan tercerahkan setelah membaca buku ini, sebagian lain akan terlempar dalam gelap.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Januari 2025.

Mengubah Perspektif

Dulu ada orang sedang berolah raga, tiba-tiba jatuh, dan mati. Masyarakat menyebut "dia mati disantet". Banyak yang percaya, dan aku ikut percaya waktu itu. Bahwa dia mati disantet.

Bertahun kemudian, aku baru sadar bahwa orang yang mati tiba-tiba itu karena serangan jantung.

Dulu, dengan terbatasnya pengetahuan, aku mempercayai "orang mati tiba-tiba karena disantet" karena lebih mudah dicerna akal. Belakangan, aku menyadari, justru jauh lebih mudah [dan lebih logis] untuk mempercayai bahwa orang yang mati tiba-tiba itu karena serangan jantung.

Mengubah perspektif (cara pandang) kadang butuh waktu, dan itu bisa sangat lama, tergantung orang per orang. Sampai sekarang, aku yakin, masih banyak yang percaya bahwa orang yang dulu mati tiba-tiba itu karena memang disantet. Perspektif mereka tak pernah beranjak ke mana-mana.

Mungkin aku akan dicerca karena mengatakan ini. Jika aku ditanya, apakah percaya pada santet dan semacamnya, jawabanku, "Tidak!"

Untuk sampai pada jawaban [yang serupa keyakinan] itu, aku butuh waktu bertahun-tahun, proses yang tak sebentar, untuk kemudian sampai pada simpulan.

Dulu, di Indonesia ada dukun terkenal yang mengaku bisa menyantet siapa pun—kalian pasti tahu siapa yang kumaksud. Tapi dari tahun ke tahun, aku mengamati, dia tidak pernah membuktikan apa pun, selain ngoceh "bisa menyantet siapa pun". Popularitasnya mengalahkan kemampuannya.

Sebenarnya, aku tergoda melanjutkan ocehan ini sampai panjang lebar, tapi aku juga khawatir kalau ocehanku makin "tak karuan". Lagian ududku hampir habis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Agustus 2021.

Dimensi Kepercayaan

Menurut ramalan zodiak, Taurus bakal mendapat banyak rezeki di bulan Agustus mendatang. Kepada sesama Taurus, mari kita aminkan.

“Jadi, kamu percaya ramalan zodiak?”

Sure! 

“Bagaimana bisa?”

Well, penjelasannya panjang. Umurmu tidak akan cukup untuk mendengarkan penjelasannya. 

“Tolong jelaskan singkat saja, biar aku bisa mati dengan tenang!” 

*Nyulut udud dulu*

Dalam perspektifku sebagai bocah, setidaknya ada tiga dimensi kepercayaan. Pertama, percaya karena fakta. Ini bersifat ilmiah. Misalnya percaya bahwa api itu panas, es itu dingin, dan semacamnya. Ini kepercayaan yang mau tidak mau harus kita percaya, karena memang begitu adanya.

Kedua, percaya karena kita memilihnya. Ini jenis kepercayaan yang membuat kita senang, dan/atau optimis, tanpa menimbulkan efek destruksi atau semacamnya pada orang lain. Kepercayaan yang sifatnya pribadi, atau subjektif. Misalnya percaya ramalan zodiak tentang nasib baik.

Ramalan zodiak, misalnya, menyatakan bahwa Taurus akan mendapat rezeki besar di Agustus mendatang. Sebagai bocah Taurus, aku punya hak untuk memilih percaya atau tidak pada ramalan itu, dan aku memilih percaya. Kenapa? Karena memberi efek baik, tanpa merugikan orang lain.

Jika aku percaya bahwa Agustus mendatang akan mendapat rezeki besar—sebagaimana ramalan zodiak—apakah kalian dirugikan? Tidak! 

Aku percaya Agustus mendatang akan mendapat rezeki besar, dan kepercayaan itu membuatku senang, optimis, makin giat belajar dan bekerja, etcetera.

Ini adalah jenis kepercayaan yang kupilih sendiri, hak asasiku sebagai manusia—karena hidup, mestinya, adalah soal pilihan. Selama orang memilih sesuatu, entah terkait perspektif, jalan hidup, dll, dan pilihan itu tidak dipaksakan pada orang-orang lain, maka ia berhak memilihnya.

Ketiga, percaya karena terpaksa, atau percaya karena tidak ada pilihan lain selain memang harus percaya. Ini jenis kepercayaan yang biasanya muncul sebagai hasil doktrinasi. Kepercayaan dalam dimensi ini tidak butuh pembuktian/fakta empiris, dan kalian tentu sudah mengenalinya.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan mungkin baru selesai bertepatan dengan munculnya Ya’juj-Ma’juj, tapi ududku hampir habis. 

So, mari kita tidur dengan tenang, dan sambut Agustus dengan hati senang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Juli 2021.

Menyimpan Dendam

Suatu fakta yg hampir tak ada yg mempertanyakan atau media barat mau mengangkatnya, bahwa mendiang Queen Elizabeth II yg dikenal paling banyak lakukan kunjungan luar negeri, bahkan ke negara2 yg tampak bermusuhan dgn Inggris, namun Ratu tak pernah sekalipun mengunjungi Israel. —@Vendra_Deje


Faktanya, orang bisa menyimpan dendam sampai bertahun-tahun, dan melakukan pembalasan yang tak terbayangkan siapa pun.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Oktober 2019.

Harapan dan Kenyataan

Tadi malam:
Bocah 1: Besok pagi, olah raga bareng, yuk.
Bocah 2: Oke.

Pagi ini:
Bocah 2: *Nilpon* Jadi mau olah raga bareng?
Bocah 1: *Suara ngantuk* Uhm... dinginnya kok gini amat, ya? Kayaknya lebih enak tidur lagi aja.

Bah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Januari 2019.

Cinta Tak Terbalas

Cinta tak terbalas adalah cara alam semesta membawamu pada orang yang lebih baik.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 23 Juli 2012.

Piye Kuwi?

Meributkan iklan di teve yang konon katanya merusak moral, tapi ternyata tidak punya teve. Meributkan RUU yang konon katanya merusak moral, tapi tidak membaca isi RUU-nya.

Lha piye kuwi?

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2019.

Februari

Akhirnya Februari.

Ngajak Turu

Howone ngajak turu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Februari 2019.

 
;