Jumat, 01 November 2013

Menemukan Gaya Menulis (2)

Topik yang dibahas dalam posting ini sangat berkaitan dengan post sebelum dan sesudahnya. Karenanya, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bacalah rangkaian posting ini secara berurutan dari awal. Mulailah membaca rangkaian posting ini dari sini.

***

Tulisan-tulisan Goenawan Mohamad, Emha Ainun Nadjib, dan A.S. Laksana, adalah beberapa contoh gaya menulis yang khas, unik, berkarakter kuat, sekaligus sulit ditiru. Nah, bagaimana cara menulis seperti mereka? Sejujurnya saya tidak tahu! Gaya menulis mereka adalah rahasia masing-masing mereka, dan cuma mereka yang bisa menjelaskannya.

Menemukan dan memiliki gaya menulis yang khas dan berkarakter, bagi saya, adalah puncak ilmu menulis. Itu jenis ilmu yang sulit diajarkan, karena harus dicari sendiri oleh masing-masing penulis dengan segenap kesungguhan, dengan cara mati-matian. Seorang penulis kadang butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menemukan gaya menulisnya sendiri yang khas, unik, tak tertandingi. Karenanya, sekali lagi, memiliki gaya menulis khas adalah puncak ilmu menulis.

Nah, setelah saya menjelaskan panjang lebar seperti di atas, orang yang bertanya biasanya akan manggut-manggut, lalu kembali bertanya, “Kalau begitu, bagaimana caranya agar bisa menulis seperti kamu?”

Jika saya dianggap memiliki gaya menulis yang khas, saya sangat bersyukur. Tetapi, tanpa bermaksud menyembunyikan ilmu, saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengajarkannya kepada orang lain. Gaya menulis yang saya gunakan sekarang—yang dikenali para pembaca—adalah hasil proses menulis bertahun-tahun. Tidak ada guru yang mengajarkan, tidak ada buku tutorial, dan benar-benar murni hasil eksplorasi, hingga kemudian membentuk suatu karakter tulisan yang unik dan dikenali secara khas.

Tentu saja saya belajar cara menulis yang baik dari para guru menulis, atau dari buku-buku kepenulisan yang saya baca. Tetapi untuk menemukan gaya menulis yang unik dan berkarakter, tidak ada satu buku dan tidak ada satu guru pun yang bisa mengajarkannya. Itu murni ilmu yang harus dicari dan ditemukan sendiri, melalui proses panjang yang kadang penuh frustrasi, hingga saya berani menyebut gaya menulis sebagai puncak ilmu kepenulisan.

Ehmm…

Jika kita mengamati tulisan-tulisan yang khas dan berkarakter, kita akan menemukan ciri yang sama—semua tulisan itu bernas, dalam, dan berwawasan. Tiga hal itu dibalut diksi yang tepat, kata-kata terpilih, kalimat yang cermat, dan tidak klise, sehingga enak dibaca. Itu ciri-ciri yang ada di hampir semua tulisan yang memiliki karakter kuat—tulisan yang selalu membuat kita tak ingin berhenti membacanya, yang bahkan kadang membuat kita kecanduan atau jatuh cinta diam-diam.

Mengapa saya jatuh cinta pada tulisan-tulisan Goenawan Mohamad, Emha Ainun Nadjib, dan A.S. Laksana? Karena tulisan mereka memiliki semua ciri di atas. Begitu pula latar kekaguman saya pada tulisan-tulisan Kahlil Gibran, Dale Carnegie, Napoleon Hill, atau Malcolm Gladwell. Di ranah fiksi, karya-karya Sidney Sheldon juga sangat berkarakter dan memiliki ciri khas yang sulit ditiru. Begitu pula karya-karya Christopher Buckley, J.K. Rowling (khususnya dalam serial Harry Potter), Dan Brown, Michael Chrichton—sebut lainnya.

Jadi, sekarang, kita telah melihat syarat penting untuk bisa memiliki gaya menulis yang khas dan berkarakter, yaitu ciri-ciri itu tadi. Dengan kata lain, ciri-ciri yang disebutkan di atas adalah prasyarat untuk bisa memiliki gaya menulis yang khas. Jika diringkas, gaya menulis yang khas dan berkarakter akan muncul setelah kita mampu memadukan wawasan yang luas dan dalam, dibalut keterampilan menulis, dan dibungkus karakter kita sendiri.

Kedengarannya sulit, eh?

Memang!

Itulah kenapa sejak awal saya sudah menyatakan dengan jujur bahwa saya tidak mampu mengajarkannya kepada orang lain, karena ini memang pelajaran yang harus ditempuh dan dilalui sendiri oleh masing-masing penulis.

Lanjut ke sini.

 
;