Selasa, 14 April 2015

Teman Perempuan

Saat-saat indah dalam hidupku adalah masa-masa sekolah dan zaman kuliah. Pada waktu itu, aku masih punya banyak teman perempuan.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Bedanya teman perempuan dengan teman lelaki: Teman perempuan tahu cara “mendengarkan”. Yaitu mendengarkan dengan hati, dengan empati.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Saat sedih. Curhat ke teman perempuan; dia mendengarkan. Curhat ke teman lelaki; dia cuma bilang, “Udahlah, ayo kita senang-senang.” Beda!
—Twitter, 30 Oktober 2014

Bagiku, teman lelaki adalah teman yang sempurna. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak bisa mendengarkan dengan hati, dengan empati.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Suatu hari aku putus, dan curhat ke teman lelaki. Dia cuma tertawa. Suatu hari temanku putus, dan curhat kepadaku. Yeah, aku pun tertawa.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Kalau kau lelaki, lajang, dan punya teman-teman perempuan, kau termasuk lelaki beruntung. Tidak semua lelaki memiliki karunia semacam itu.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Harta terindah seorang lelaki sering kali bukan pacar atau pasangan, tapi teman perempuan. Sayangnya, harta itu sewaktu-waktu bisa hilang.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Ketika seorang lelaki menikah, teman-teman perempuannya menghilang. Kalau pun masih ada, istri si lelaki akan mengusir mereka agar hilang.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Saat teman perempuanmu menikah, saat itu pula dia berhenti menjadi temanmu. Kalian mungkin masih berhubungan, tapi tidak lagi seperti dulu.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Kadang-kadang, aku terpikir ingin kuliah lagi. Bukan agar lebih pintar, tapi agar bisa kembali memiliki teman-teman perempuan.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Bagiku, sangat penting memiliki teman perempuan. Sayangnya, keinginan berteman dengan mereka sering kali disalahartikan.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Saat-saat indahku, kalau diingat-ingat, bukan ketika bermesraan dengan pacar, tapi saat asyik ngobrol dan cekikikan dengan teman perempuan.
—Twitter, 30 Oktober 2014

Kini, saat dewasa, mencari teman perempuan jauh lebih sulit bagiku, daripada mencari uang atau pekerjaan. Mungkin lucu, tapi menyedihkan.
—Twitter, 30 Oktober 2014


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

 
;