Sabtu, 05 Desember 2015

Masalah Terbesar Sekolah

Di sekolah, aku punya beberapa guru yang menyenangkan.
Tapi banyak pula guruku yang membuat belajar
jadi membosankan, bahkan mengerikan.
@noffret


Roem Topatimasang menulis buku berjudul “Sekolah itu Candu”, sebuah kajian mendalam mengenai sekolah, yang sayangnya terkumpul dalam buku relatif tipis. Sementara Darmaningtyas secara rutin menulis pemikiran-pemikirannya di koran—mengenai berbagai masalah pendidikan dan sekolah—yang kemudian dibukukan dengan judul “Pendidikan Rusak-rusakan”. Jauh-jauh hari sebelum dua orang itu menulis bukunya masing-masing, Ivan Illich telah berteriak, “Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah!”.

Pikiran saya mengenai sekolah mungkin tidak semendalam Roem Topatimasang atau Darmaningtyas, apalagi serumit Ivan Illich. Sejujurnya, saya bahkan masih bingung apa sebenarnya tujuan sekolah.

Well, saya tidak tahu bagaimana kondisi atau sistem sekolah yang dijalankan saat ini. Tetapi, ketika sekolah dulu, saya harus menghadapi setumpuk mata pelajaran yang harus saya kuasai, dari bahasa Indonesia sampai bahasa Inggris, dari kesenian sampai matematika, dari fisika sampai olahraga, dari urusan Pancasila sampai pendidikan agama, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain.

Mari saya ceritakan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang saya jalani, karena SMP adalah masa paling menggelisahkan yang pernah saya alami dalam hidup. Di SMP, saya harus menghadapi puluhan mata pelajaran. Saya masih ingat, setiap malam harus melihat jadwal pelajaran, dan menyiapkan buku-buku untuk pelajaran yang akan saya hadapi besok pagi.

Setiap hari, ada sekitar 5-8 mata pelajaran berbeda yang harus saya lewati selama setengah hari di sekolah. Ada pelajaran sejarah, geografi, elektro, fisika, biologi, matematika, olah raga, bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Inggris, bahasa Arab, kesenian, hingga pelajaran agama yang meliputi tarih, tauhid, fiqih, hadist, nahwu, tajwid, shorof... oh, well, daftarnya masih panjang.

Saya beruntung, karena sejak kecil rajin belajar, dan suka membaca. Karenanya, cukup wajar jika saya mendapat nilai A untuk hampir semua mata pelajaran. Meski saya juga sering masuk kantor BP akibat berbagai kenakalan, tapi setidaknya guru-guru di SMP menilai saya sebagai murid yang rajin belajar. Tetapi... ada satu hal yang membuat saya tetap bingung sampai sekarang.

Di SMP, ada mata pelajaran olah raga, yang diampu seorang guru bernama—kita sebut saja—Mister X. Dia lelaki bertubuh tinggi besar, dengan mulut yang tak kalah besar. Saat mengikuti pelajaran olah raga, dan mendengar ucapan-ucapannya, saya kadang bingung apakah saya di sekolah atau di terminal. Mister X sangat suka mengeluarkan ucapan-ucapan kasar, ejekan, cemoohan, hinaan, yang semuanya ditujukan untuk murid-murid yang ia anggap “tidak becus”.

Jadi, ketika mengikuti pelajaran olah raga—yang biasanya dilakukan di lapangan—hampir bisa dipastikan saya akan mendengar ejekan, cemoohan, dan ucapan-ucapan merendahkan yang keluar dari mulut Mister X. Namanya pelajaran olah raga, tentu melibatkan fisik, semisal tolak peluru, lempar lembing, push up, sith up, squat jump, voli, dan lain-lain, hingga senam, renang, dan sepak bola. Karena banyaknya jenis olah raga yang harus dipelajari, tentu wajar jika ada murid yang mungkin kurang mampu melakukan satu jenis olah raga tertentu.

Nah, untuk setiap masalah semacam itu, Mister X akan mengeluarkan ucapan-ucapan berupa ejekan, cemoohan, hingga sikap merendahkan, yang semuanya benar-benar tidak bisa disebut mencerminkan seorang guru. Jadi, ketika ada murid yang tidak sempurna melakukan lempar lembing, misalnya, Mister X bukannya memberitahu, tapi mengejek. Ketika ada murid yang keliru saat melakukan senam, Mister X bukan menegur dengan halus, tapi mencemooh.

Dan dia menunjukkan ejekan, cemoohan, serta sikap merendahkan itu secara terang-terangan, sehingga semua murid yang ada di sana tahu siapa yang diejek, siapa yang dicemooh, siapa yang sedang direndahkan. Yang menjadi masalah, saya termasuk murid yang sering mendapatkan ejekan dan cemoohannya. Karenanya, setiap kali ada pelajaran olah raga, saya selalu prihatin. Hampir bisa dipastikan, saya akan menerima semprotan Mister X. Hampir bisa dipastikan, saya akan melakukan kesalahan, dan Mister X akan mengamuk, mengejek, membentak, mencemooh, dan merendahkan.

Mari kita flashback sejenak ke masa SD. Pada waktu saya sekolah di SD, juga ada pelajaran olah raga. Bedanya, guru olah raga di SD adalah sosok yang baik dan ramah. Ketika ada murid yang bingung melakukan sesuatu, dia akan memberitahu. Ketika ada murid yang salah saat melakukan sesuatu, dia akan menegur dengan halus. Tidak pernah ada ejekan, cemoohan, apalagi sikap merendahkan.

Pada waktu SD, saya tidak punya masalah dengan pelajaran olah raga, karena guru yang mengajar adalah sosok yang benar-benar guru. Bahkan, sampai saat ini, saya masih mencium tangannya ketika bertemu dengannya, karena saya masih menganggapnya sebagai guru—meski telah bertahun-tahun saya tidak lagi menjadi muridnya. Bagaimana pun, dia telah mengajarkan sesuatu kepada saya, dan seumur hidup saya akan tetap menganggapnya sebagai guru.

Hal itu bertolak belakang dengan masa SMP. Guru olah raga di SMP jauh berbeda dengan guru olah raga di SD. Seperti yang saya bilang tadi, Mister X—guru olah raga di SMP—mudah mengeluarkan ucapan merendahkan dan sikap menyakitkan setiap kali ada murid yang kebetulan melakukan kesalahan. Gara-gara itu pula, saya sering bolos sekolah, demi tidak menjalani pelajaran olah raga.

Sejujurnya, saya masih memendam amarah sampai hari ini setiap kali teringat Mister X, meski peristiwa itu telah terjadi bertahun-tahun lalu. Kadang, saya berpikir, sayang sekali waktu itu saya masih anak-anak, karena masih SMP. Jika peristiwa dengan Mister X terjadi sekarang, saya akan menantangnya, dan mungkin akan berkata seperti ini:

“Hei, pal, mari kuberitahu. Aku mendapatkan nilai A untuk hampir semua mata pelajaran di sekolah ini, dan ada jutaan idiot yang sangat berharap bisa sepertiku. Aku tidak punya masalah dengan pelajaran lain, dan aku juga tidak punya masalah dengan guru lain. Aku hanya bermasalah dengan pelajaran olah raga. Oh, well, sebenarnya, aku hanya bermasalah denganmu! Tahu kenapa?

“Karena kau mengajar tidak seperti seorang guru, tapi seperti orang tak berpendidikan. Kau berharap semua murid bisa melakukan semua jenis olah raga, dari sepak bola, senam, basket, voli, renang, tolak peluru, lempar lembing, sampai tolak bangsat dan lempar keparat. Cobalah pikir, masuk akalkah itu? Bahkan atlet paling hebat pun tidak akan bisa melakukan semua jenis olah raga secara sempurna! Mike Tyson hebat dalam tinju, tapi tidak ada jaminan dia pasti hebat main voli. Michael Jordan hebat saat main basket, tapi tidak ada jaminan dia hebat saat senam SKJ!

“Tapi kau menuntut setiap murid bisa sempurna melakukan semua jenis olah raga. Dan kau marah-marah, membentak, mencemooh, mengejek, serta merendahkan murid-murid yang kebetulan melakukan kesalahan saat olah raga. Cobalah pikir dengan akal sehat—kalau kau punya—logis dan masuk akalkah yang kaulakukan? Seperti yang kubilang tadi, aku mendapat nilai A untuk hampir semua mata pelajaran, tapi aku diejek, dihina, serta direndahkan hanya karena tidak bisa olah raga dengan benar. Pendidikan macam apa ini!”

Oh, well, pendidikan macam apa ini? Itulah yang saya pikirkan selama menjalani masa SMP. Saya tidak habis pikir, bagaimana anak-anak usia SMP harus bisa memahami begitu banyak pengetahuan, harus mampu menghafal begitu banyak pelajaran, bahkan harus menguasai begitu banyak jenis olah raga. Tentu saya bersyukur termasuk murid yang suka belajar, sehingga bisa dibilang cukup mampu melakukan hal itu. Tapi bagaimana dengan umumnya murid lain?

Sehebat dan secerdas apa pun, setiap manusia—setiap anak—tetap memiliki batas. Anak yang mungkin hebat dalam matematika, misalnya, belum tentu juga hebat dalam bahasa Indonesia. Anak yang sangat mengagumkan ketika berolah raga, belum tentu sama mengagumkan saat menjalani pelajaran kesenian. Itu hal wajar, sunnatullah, hukum alam, karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Yang jadi masalah, sekolah menuntut setiap murid untuk sempurna!

Itulah masalah terbesar pendidikan di Indonesia. Sekolah menuntut semua murid untuk sempurna. Guru-guru menuntut setiap murid untuk sempurna. Dan para orangtua menuntut anak-anaknya untuk mendapat nilai sempurna!

Jadi, dalam perspektif saya, itulah masalah terbesar sekolah, khususnya di Indonesia, yakni menuntut setiap murid mendapatkan nilai tinggi dalam semua mata pelajaran, tanpa mengingat bahwa tidak ada manusia—termasuk murid sekolah—yang sempurna. Seperti yang saya alami. Dalam tataran umum, saya mungkin termasuk murid pintar, dengan bukti nilai A untuk hampir semua mata pelajaran. Tapi saya kurang mampu pada pelajaran olah raga. Dan hanya karena itu, oh sialan, saya harus mendapati cemoohan, ejekan, dan berbagai sikap serta ucapan merendahkan.

Itu tidak adil, eh?

Bagi saya, itu sangat tidak adil. Cobalah pikirkan fakta ini: Di sekolah, masing-masing guru mengajar pelajaran yang berbeda. Ada yang mengajar fisika, ada yang mengajar matematika, ada yang mengajar biologi, ada pula yang mengajar pelajaran agama, hingga pelajaran olah raga. Masing-masing guru menguasai pelajaran yang diajarkannya, dan itu tentu wajar. Yang tidak wajar adalah menuntut setiap murid bisa menguasai semua mata pelajaran yang diajarkan oleh semua guru! Bagaimana itu bisa dibilang adil?

Setiap manusia, setiap murid, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sebagaimana setiap guru juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kenapa para guru di sekolah tampaknya tidak bisa memahami hal itu? Kenapa para guru di sekolah menuntut semua murid harus memahami dan menguasai semua mata pelajaran yang ada, tanpa memikirkan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan?

Menuntut setiap murid untuk menguasai semua mata pelajaran adalah ketidakadilan, jika tidak dibilang kemustahilan. Cobalah cari dan kumpulkan semua murid yang dianggap genius di negeri ini, dan pelajari dengan saksama; apakah mereka benar-benar sempurna dalam setiap mata pelajaran? Tanyakan pada mereka; apakah mereka benar-benar mampu seratus persen memahami dan menguasai setiap mata pelajaran? Saya berani bertaruh dalam hal ini—mereka akan menjawab, “Tidak!”

Sekarang pikirkan fakta ini: Jika mereka yang dianggap genius saja tidak bisa seratus persen memahami dan menguasai semua mata pelajaran, apalagi murid-murid yang bisa dibilang rata-rata? Jika mereka yang genius saja tidak bisa sempurna dalam setiap hal, apalagi murid-murid yang tergolong biasa? Karenanya, sistem pendidikan yang menuntut setiap murid untuk menguasai semua mata pelajaran adalah sistem yang jelas-jelas tidak adil.

Kelak, jika saya punya anak, dan suatu hari anak saya mengadu, “Ayah, aku mendapat nilai merah untuk matematika!”

Maka saya akan menjawab, “Tidak apa-apa, Nak. Mungkin kau lemah dalam matematika, tapi aku yakin kau punya kelebihan di pelajaran lain. Kau tidak perlu merisaukan kekuranganmu. Yang perlu kaulakukan adalah fokus pada kelebihanmu. Karena, sebagai orangtuamu, aku tidak pernah menuntutmu untuk sempurna. Aku hanya menginginkanmu menjadi yang terbaik. Terbaik pada sesuatu yang kau kuasai, terbaik pada yang kauyakini, terbaik pada yang kaujalani. Kau tidak perlu sempurna, Nak, karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Kau hanya perlu menjadi yang terbaik, pada apa pun yang kaupilih. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri yang terbaik.”

“Tapi, Ayah, guru-guru di sekolahku tidak berpikir seperti itu...”

“Kalau begitu, Nak, persetan dengan sekolahmu!”

 
;