Jumat, 30 Oktober 2026

Keliru, Tapi Dipercaya Banyak Orang

Banyak orang bertanya-tanya, mengapa orang gila tidak pernah sakit. Sebagian lagi bahkan meyakini orang gila tidak pernah sakit. Itu adalah contoh bagaimana orang bisa berpikir secara keliru, tapi sangat pede dan menganggap pemikirannya benar.

Pertanyaan atau bahkan keyakinan itu sebenarnya berawal dari cara berpikir yang keliru. Faktanya, orang gila juga sakit, sama seperti orang waras (berakal).

Orang gila juga bisa sakit kepala, sama seperti orang waras. Orang gila juga bisa mengalami maag atau terserang sakit pencernaan, sama seperti orang waras. Bedanya, orang waras melakukan tindakan atau antisipasi untuk mengatasi sakitnya, sementara orang gila tidak.

Orang waras bisa mencari dan minum obat untuk mengatasi sakitnya, karena akalnya berfungsi dengan baik. Sementara orang gila tidak punya “privilese” semacam itu. Karenanya, meski merasakan sakit, mereka tidak melakukan apa pun untuk mengatasi sakit yang dirasakan.

So, fakta bahwa orang gila tidak pernah minum obat atau mengeluh sakit, bukan berarti mereka tidak pernah sakit. Itu cara berpikir yang terbalik, atau keliru. Kita harus mendasarkan p(em)ikiran pada fakta awal, yaitu kondisi tidak waras. Bukan pada fakta yang diakibatkan oleh fakta awal.

Orang gila makan dari hasil mengais sampah—yang kita anggap kotor atau tidak higienis—dan mereka tidak [tampak] sakit. Kita akan rentan keliru jika mendasarkan pemikiran pada fakta itu, karena itu hanya fakta-lanjutan yang diakibatkan oleh fakta-awal (kondisi tidak waras). Hasilnya, kesimpulan keliru.

Sayangnya, kesimpulan keliru—khususnya terkait hal itu—banyak tersebar dan diyakini, karena banyak orang yang tidak berpikir secara benar. Ada yang menyatakan bahwa orang gila tidak pernah sakit karena tidak pernah stres, dan seterusnya, dan seterusnya. Kesimpulan itu jelas keliru, karena fondasi pemikirannya telah keliru.

Jadi, agar bisa berpikir benar, fondasi awalnya harus benar terlebih dulu. Dasar pemikiran yang benar akan mengarah pada kesimpulan yang benar. Sebaliknya, dasar pemikiran yang keliru akan mengarah pada kesimpulan yang keliru. Itulah kerangka berpikir ilmiah!

Jika ada yang meragukan ocehan ini, sila konfirmasikan ke dokter atau pakar berkompeten. Mereka juga akan menyatakan hal sama, bahwa orang gila bisa sakit, sama seperti orang waras. Bedanya, mereka tidak punya privilese yang kita miliki; akal sehat.

 
;