Kamis, 01 Agustus 2013

Noffret’s Note: Cangkang

Apa beda anak ayam di dalam dan di luar telur? Benar, yang satu masih dalam cangkang.

Cangkang telur tidak hanya berarti tempat hidup yang sempit, tetapi juga paradigma yang picik.

Siapa pun yang hidup dalam cangkang akan menganggap dirinya paling besar, paling hebat, bahkan paling suci, tak terkalahkan.

Dalam cangkang, orang hanya melihat dirinya sendiri, sibuk dengan hidupnya sendiri, bahkan terobsesi dirinya sendiri.

Di dalam cangkang dengan cakrawala terbatas, ruang hidup begitu sempit hingga siapa pun mudah sampai di titik puas.

Dalam cangkang tidak ada pencarian. Apa yang harus dicari bagi seseorang yang merasa dirinya paling besar?

Sempitnya cangkang juga menjauhkan kita dari kesadaran, bahwa di dunia ini kita tidak sendirian.

Cangkang adalah cermin pribadi dengan kesadaran terbatas, karena tak pernah mengenal arti hidup secara luas.

Jadi, penghuni cangkang biasanya punya sifat dan sikap serupa: Angkuh, merasa paling besar dan hebat, memuja diri sendiri.

Ketika akhirnya cangkang itu pecah, dan kenyataan sesunguhnya tampak oleh mata, kesadaran pun berdarah-darah.

“Menggeliatlah dalam matimu,” kata Sunan Kalijaga. Kematian adalah cangkang, yang mematikan kesadaran, menghentikan pencarian.

Hidup dimulai setelah kita keluar dari cangkang. Kehidupan dimulai saat kita melangkah dengan kesadaran.

Pertanyaan yang paling menggelisahkan, “Kapan kita akan keluar dari cangkang?” Atau jangan-jangan kita tak sadar hidup dalam cangkang?

Riset terbaru psikologi: Narsis adalah kelainan mental. Bagiku, narsis hanyalah cerminan pribadi dalam cangkang.

Banyaknya masalah hidup kita, sebenarnya, karena sebagian orang masih hidup dalam sempitnya cangkang.

Dalam cangkang, orang kadang tidak hanya narsis secara fisik, tapi juga narsis psikis: Merasa paling benar dan paling suci.

Cangkang membentuk kita menjadi autistik yang narsistik. Terobsesi diri sendiri, dan menganggap diri sebagai pusat bumi.

Dalam cangkang, kita akan marah jika mendengar orang menyatakan dunia ini luas, dan alam semesta tak berbatas.

Selama terkurung cangkang, kita juga sulit menerima jika ada yang lebih besar dari kita.

Semua buku psikologi, motivasi, inspirasional, bahkan filsafat, dapat dirangkum dalam kalimat ini: Keluarlah dari cangkang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Juli 2012

 
;