Senin, 13 Oktober 2014

Agar Menulis Lebih Nyaman

Writing, at its best, is a lonely life.
Hemingway


Di catatan-catatan sebelumnya, kita telah belajar mengenai resep produktif menulis, yaitu dengan cara mencintai menulis, memilih topik atau tema yang diminati, dan mendisiplinkan diri untuk terus menulis. Sekarang, kita akan membahas tentang cara agar aktivitas menulis lebih nyaman, agar kita terus betah menulis hingga berjam-jam tanpa bosan.

Sebagian penulis bisa menulis dengan nyaman di waktu kapan pun, sebagian lain hanya bisa menulis dengan nyaman di waktu-waktu tertentu. Sebagian penulis bisa menulis dengan nyaman di tempat mana pun, sebagian lain hanya bisa menulis dengan nyaman di tempat-tempat tertentu. Bahkan, sebagian penulis ada yang bisa nyaman menulis bersama orang lain, sementara sebagian lain hanya bisa nyaman menulis jika sendirian.

Masing-masing penulis membutuhkan kondisi berbeda untuk bisa nyaman menulis. Karenanya, agar aktivitas menulis lebih nyaman, dan agar kita bisa terus asyik menulis, kita perlu mengenali kondisi ideal yang kita butuhkan selama menulis, kemudian menggunakan kondisi ideal itu untuk benar-benar menulis. Dengan mengenali kondisi ideal yang kita butuhkan untuk menulis, kita akan belajar memanfaatkan waktu dan tempat sebaik-baiknya untuk menulis.

Misalnya, ada orang yang sangat nyaman menulis di siang hari, ketika rumahnya sepi. Keluarganya pergi meninggalkan rumah untuk bekerja, atau sekolah, dan dia sendirian di rumah hingga bisa asyik menulis tanpa terganggu siapa pun. Orang semacam itu tentu tidak akan menyia-nyiakan waktu siang di rumah untuk menonton televisi, misalnya, karena waktu siang yang sepi menjadi waktu berharga untuknya menulis. Karenanya, saat rumah mulai sepi, dia langsung menggunakannya untuk menulis.

Mengenali kondisi ideal untuk menulis—yang bisa berbeda untuk masing-masing orang—dapat membuat kita belajar mendisiplinkan diri memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, yang hasil akhirnya adalah produktivitas menulis.

Sebagai penulis, saya juga memiliki kondisi ideal tertentu yang membuat saya nyaman menulis, hingga bisa terus menulis sampai berjam-jam. Misalnya, saya lebih nyaman menulis di komputer desktop daripada di laptop. Karenanya, bisa dibilang sangat jarang saya menulis lama di laptop—paling hanya beberapa menit—karena merasa kurang nyaman. Sebaliknya, ketika menulis di desktop, saya bisa menulis semalam suntuk.

Kemudian, saya akan merasa nyaman jika menulis di rumah saya sendiri, dan tidak ada orang lain. Sebenarnya, saya bisa menulis di waktu kapan pun—pagi, siang, sore, atau malam—selama suasananya hening, di rumah saya sendiri, dan tidak ada orang lain. Artinya, untuk dapat menulis dengan nyaman, saya harus benar-benar sendirian dan tidak diganggu suara apa pun atau siapa pun. Dan agar lebih nikmat sekaligus nyaman selama menulis, saya membutuhkan teh hangat manis serta rokok.

Ketika berada dalam kondisi semacam itu—hening, di rumah sendiri, berhadapan dengan komputer desktop, dan tidak ada orang lain, serta ditemani teh dan rokok—maka saya bisa menulis nyaris tanpa henti, tanpa lelah, tanpa bosan. Menulis di rumah sendiri juga memungkinkan saya berdekatan dengan perpustakaan pribadi yang memang saya siapkan untuk menunjang kelancaran menulis. Setiap kali membutuhkan suatu referensi, saya tinggal melangkah ke tempat buku atau dokumen yang tepat, dan langsung mendapatkannya. Itu kondisi yang sulit saya dapatkan di tempat lain.

Karena latar belakang itu pula, saya malas membawa laptop kemana-mana, sebab bisa dibilang tidak ada manfaatnya. Kadang-kadang, saya pergi ke suatu tempat hingga beberapa hari, dan selama hari-hari itu tidak menulis sama sekali. Karena suasananya tidak kondusif sebagaimana suasana yang saya nikmati di rumah sendiri. Di kamar hotel mungkin hening, tapi di sana tidak ada komputer desktop, dan tidak ada perpustakaan!

Melalui ilustrasi itu, kita mulai melihat bahwa masing-masing orang (penulis) kadang membutuhkan suasana tertentu, waktu tertentu, atau kondisi tertentu, untuk menunjang kelancaran dan produktivitas dalam menulis. Karenanya, mengenali kondisi ideal yang paling kita sukai dalam menulis adalah hal penting untuk produktif menulis. Tanpa kondisi sebagaimana yang kita sukai, kita tidak akan nyaman dalam menulis, apalagi sampai produktif.

Keheningan adalah hal mutlak bagi saya untuk menulis—tanpa orang lain, tanpa suara apa pun, tanpa terganggu siapa pun. Tetapi bukan berarti semua orang harus seperti itu. Ada penulis lain yang bisa khusyuk menulis meski dalam suasana ramai, diselingi suara musik atau televisi, atau bisa tetap asyik menulis meski bersama orang lain. Karenanya, sekali lagi, masing-masing orang memiliki kondisi idealnya sendiri untuk menulis.

Bahkan, kadang-kadang ada penulis yang “aneh” atau memiliki kebiasaan yang tidak lazim dalam menulis, atau sebelum menulis. Honoré de Balzac, penulis Prancis, suka jalan-jalan di taman sebelum mulai menulis. Dia merasa pikirannya lebih segar dan lebih siap setelah berjalan-jalan di taman. Sementara salah satu penulis hebat Indonesia—tidak perlu saya sebutkan namanya—biasa “mabuk” dulu sebelum mulai menulis. Jadi, sebelum menulis, dia akan menyiapkan bergelas-gelas bir, meminumnya sampai “kepalanya ringan”, lalu mulai menulis seperti kesetanan.

Prie GS, penulis dan kolomnis di koran Suara Merdeka, terbiasa menulis catatannya dalam bentuk tulisan tangan di atas kertas, kemudian baru dipindah ke komputer setelah dianggapnya jadi. Sekilas, kebiasaan itu mungkin terkesan buang-buang waktu, tapi itu memang cara Prie GS melancarkan tulisannya. Jika langsung menulis di komputer, dia mengaku tidak bisa selancar ketika menulis dalam bentuk tulisan tangan di kertas.

Tak jauh beda dengan prie GS, Remy Silado juga punya kebiasaan yang unik. Dia terbiasa mengetik tulisannya di mesin tik—bukan di komputer. Kita yang hidup di zaman komputer mungkin menganggap mengetik di mesin tik terasa melelahkan sekaligus repot, tapi Remy Silado justru menikmatinya, bahkan dengan cara itulah dia melahirkan tulisan dalam jumlah luar biasa banyaknya.

Harmoko adalah wartawan yang kemudian diangkat menjadi Menteri Penerangan di zaman Soeharto. Selama bertahun-tahun sibuk menjadi menteri, Harmoko tidak punya waktu menulis—dia malah sibuk membredel koran dan majalah yang dianggap “subversif”.

Setelah Soeharto lengser, Harmoko kembali ke habitatnya, menjadi penulis. Setelah menjadi “orang biasa”—tidak lagi menjadi pejabat yang sibuk—Harmoko melahirkan cukup banyak buku, dalam beragam tema, dengan tingkat produktivitas yang layak diacungi jempol untuk orang seusianya. Dan bagaimana Harmoko produktif menulis? Dia menulis di mesin tik!

“Setiap kali mendapat ide,” ujar Harmoko menceritakan, “saya akan langsung menuju mesin tik, dan menulisnya.” Dengan cara itulah dia bisa asyik menulis, hingga sangat produktif. Sebaliknya, jika dengan komputer, dia merasa jari-jari dan otaknya tidak selancar ketika mengetik di mesin tik.

Marcel Proust, novelis Prancis, merasa sangat asyik menulis jika diiringi menikmati espresso. Karenanya, untuk menunjang keasyikannya menulis, Marcel Proust menyiapkan puluhan cangkir espresso, yang biasa ditata berjajar di sekeliling tempat menulisnya. Sementara Franz Kafka, penulis Ceko, merasa dapat asyik menulis jika telah menikmati segelas susu—resep yang terdengar sederhana untuk seorang Kafka.

Setiap penulis memiliki suasana dan cara idealnya masing-masing untuk asyik menulis, dan suasana serta cara yang mereka gunakan bisa berbeda. Begitu pun kita. Untuk menunjang keasyikan menulis, yang tujuan akhirnya produktivitas dalam menulis, kita juga perlu menemukan situasi, kondisi, atau cara yang kita anggap paling tepat, dan kemudian menggunakannya demi menunjang keasyikan dan produktivitas dalam menulis.

Dalam suatu perjalanan di kereta api, saya pernah mendapati orang di depan saya asyik menulis di laptop di pangkuannya. Sejak saya mulai duduk sampai saya turun dari kereta api, orang itu masih terus asyik menulis—sesekali jeda hanya untuk menyeruput jus jambu yang terletak di depannya, atau untuk mencolokkan kabel ke saklar di dekatnya saat baterai laptopnya akan habis.

Dia seperti tak terganggu suasana sekelilingnya yang cukup ramai, suara anak-anak yang bermain, atau oleh suara kereta api—dia menulis seolah-olah tidak ada orang lain. Saya tidak tahu apakah dia penulis atau bukan. Tetapi, saya membayangkan betapa beruntungnya saya kalau bisa menulis seperti itu—asyik menulis di mana pun, dan bersikap seolah-olah sedang sendirian hingga tak terganggu oleh apa pun.

Tapi saya tidak memiliki kemampuan seperti itu. Karenanya, selama dalam perjalanan di kereta api waktu itu, sementara dia khusyuk menulis di laptop, saya malah membuka ponsel dan asyik membaca timeline Twitter. Waktu itu, saya ingin sekali bertanya kepadanya, bagaimana agar bisa khusyuk dalam keramaian seperti dirinya, tetapi saya takut akan mengganggu konsentrasinya.

Setiap orang memang memiliki caranya sendiri dalam menulis, yang kadang berbeda dengan orang lainnya. Jadi, bagaimana caramu agar asyik menulis?

 
;