Minggu, 27 Maret 2016

10 Alasan Saya Malas Pacaran

Aku juga jomblo, lajang, single, whatever.
Sini yang mau mem-bully. Sini!
@noffret


Masalah terbesar saya bukan kesulitan mencari pacar. Tapi kesulitan menghadapi banyaknya perempuan yang ingin dijadikan pacar. Sori, kalau kalimat itu terdengar sombong, karena kadang-kadang saya juga ingin sombong.

Di luar sana ada idiot-idiot yang merasa hebat kemudian sombong, hanya karena punya pacar. Sebegitu sombong, sampai-sampai kerjaan harian mereka cuma mem-bully jomblo atau orang-orang yang tidak/belum punya pacar. Seolah punya pacar adalah prestasi hebat yang patut dibanggakan. Jadi, sekarang, saya juga ingin sombong, khususnya pada mereka yang sombong itu, agar sedikit sadar, bahwa punya pacar bukan sesuatu yang layak dibesar-besarkan.

In fact, kenyataan bahwa sampai saat ini saya tetap jomblo bukan karena sulit mencari pacar, tapi hasil perjuangan berat dalam menghadapi banyak godaan dan rayuan yang datang. Dengan kata lain, mendapatkan pacar bagi saya jauh lebih mudah daripada menjaga status jomblo sampai sekarang. Karenanya, saya justru bangga menjadi jomblo—karena itu hasil perjuangan berat—dan saya kasihan pada siapa pun yang sok-sokan hanya karena punya pacar.

Mungkin ada yang gatal ingin bertanya, “Kenapa sampai segitunya tidak mau pacaran?”

Untuk menjawab pertanyaan itulah, catatan ini ditulis. Berikut ini sepuluh alasan kenapa saya tidak mau pacaran, atau malas pacaran. Karena saya cowok, maka catatan ini pun ditulis dari sudut pandang cowok.

Alasan 1:
Tidak punya waktu


Dalam kehidupan pribadi, saya punya setumpuk hal penting yang harus dilakukan. Dan pacaran—setidaknya dalam skala prioritas hidup saya—adalah hal paling tidak penting. Semua hal yang perlu dilakukan dalam hidup membutuhkan waktu, dan pacaran juga membutuhkan waktu. Daripada membuang-buang waktu untuk pacaran, saya lebih memilih menggunakan waktu untuk mengerjakan hal-hal yang lebih penting.

Kalau punya pacar, saya harus meluangkan waktu untuk menemui, menelepon, menemani, memperhatikan, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain. Terus terang saya tidak mampu dan tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal semacam itu.

Alasan 2:
Sekali lagi, saya tidak punya waktu


Dulu, waktu punya pacar, hampir setiap hari saya harus menelepon, setidaknya berkirim SMS atau semacamnya. Satu kali kadang tidak cukup. Siang hari sudah bercakap lewat telepon, malam hari masih SMS-an. Siang hari sudah ketemu berjam-jam, malam hari masih minta ditelepon, dan juga berjam-jam. Itu sangat, sangat, sangat, menyita waktu.

Tentu saja saya tidak menyalahkan pacar, karena namanya orang pacaran memang begitu. Lebih spesifik, perempuan memang begitu. Tapi sekarang saya benar-benar tidak mampu jika harus meluangkan waktu untuk hal-hal semacam itu. Jangankan ngurusin pacar, bahkan mengunjungi orangtua sebulan sekali pun saya sering kesulitan. Jangankan menelepon untuk membicarakan hal-hal tolol, bahkan makan yang jelas-jelas penting pun saya sering kelupaan.

Alasan 3:
Urusan sudah sangat banyak


Saat ini, ada 3.000-an buku di rumah yang belum sempat saya baca. Dan jumlah itu makin hari bertambah banyak. Saya suka belajar, senang membaca, dan sangat bernafsu ingin membaca semua buku yang belum sempat terbaca dan terus menumpuk. Tetapi bahkan untuk melakukan itu saja, saya sudah kesulitan.

Itu baru keinginan membaca buku. Padahal urusan hidup saya bukan cuma membaca buku. Saya juga punya tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan, yang makin hari juga makin menumpuk. Di sela-sela kesibukan itu, untuk melemaskan urat syaraf, saya juga perlu meredakan stres dengan “menulis seenaknya sendiri” di blog ini.

Coba lihat sekilas. Ada 3.000-an buku yang perlu saya baca. Jika dalam setahun saya bisa membaca 100-an buku, artinya dibutuhkan waktu 30-an tahun untuk mengkhatamkan semuanya. Sementara pekerjaan yang menumpuk, yang juga harus dikerjakan, juga membutuhkan waktu setara. Itu baru urusan buku dan pekerjaan—belum urusan lainnya.

Alasan 4:
Sekali lagi, urusan saya sudah sangat banyak


Suatu waktu, di masa lalu, pacar saya pernah berkata saat kami bertengkar, “Kamu tahu apa masalah kita? Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri, sampai kamu lupa hal-hal lain.” Sekarang, jika saya punya pacar, hampir bisa dipastikan pacar saya juga akan mengatakan hal yang sama, meski mungkin dengan cara berbeda.

Di masa lalu, saya belum menyadari bahwa pacaran tidak penting. Maka saya pun pacaran, tanpa memikirkan bahwa saya tidak akan punya waktu untuk menjalani dengan baik. Sekarang, saya mulai menyadari, bahwa—dalam hidup saya—pacaran sama sekali tidak penting. Karena saya pasti tidak akan bisa menjalani dengan baik. Karenanya pula, saya pun memilih untuk tidak pacaran.

Alasan 5:
Malas main drama


Bagi lelaki, pacaran artinya berurusan dengan perempuan. Berurusan dengan perempuan, artinya berurusan dengan drama. Berurusan dengan drama, artinya mengurusi hal-hal yang sangat tidak penting, tapi dengan sikap seolah-olah itu hal paling penting sedunia. Ya Tuhan, bahkan untuk makan dan tidur saja saya sering lupa. Apalagi mengurusi drama...?

Drama dengan perempuan bahkan sudah harus dimulai sejak awal—dari perkenalan, sampai pedekate, sampai nembak, sampai kencan, sampai... oh, well. Dan perempuan selalu tahu cara mempersulit apa pun yang seharusnya dapat dilakukan dengan mudah.

Saat kita kirim SMS, misalnya, kebanyakan perempuan tidak langsung membalas, meski sebenarnya bisa langsung membalas. Mereka akan menunggu beberapa saat dulu, beberapa menit dulu, atau bahkan beberapa jam dulu, baru membalas. Tujuannya jelas, untuk sok jaim. Dan itu salah satu bentuk pembuang-buangan waktu yang sungguh sia-sia. Jika untuk mendapat pacar harus melakukan kebodohan semacam itu—menunggu lama hanya untuk dapat balasan SMS—saya memilih untuk tidak punya pacar sama sekali!

Kemudian, saat jalan-jalan, misalnya, dia bisa melangkah sangat cepat, sampai cowoknya tertinggal di belakang. Padahal maksudnya cuma ingin ngomong, “Tolong gandeng aku.” Lha mbok ngomong saja, kenapa harus dipersulit?

Kalau si cowok tidak juga menggandeng tangannya, dia akan menuduh si cowok tidak peka. Lalu ngambek, dan segala macam. Itu kan konyol? Dan kalau harus melakukan hal-hal konyol semacam itu, terus terang saya tidak mampu!

Alasan 6:
Sekali lagi, saya malas main drama


Ketika cewek menginginkan atau memaksudkan sesuatu, mereka tidak langsung menyatakan dengan jelas, tapi menggunakan sikap berputar-putar hingga gebetan atau pasangannya justru merasa ragu. Kalau pun ngomong, mereka tidak langsung ngomong pada hal yang dituju, tapi menggunakan aforisma dan hiperbola, mencampur kalimat denotatif dan konotatif, hingga tujuannya justru menjadi kabur.

Dan kalau pasangannya tidak juga paham, cewek akan menuduh cowoknya tidak peka. Kadang-kadang, mereka juga hanya diam, dan berharap cowoknya paham sendiri. Kalau si cowok tidak paham, mereka akan menuduhnya tidak peka. Lalu ngambek. Lalu drama.

Kenapa mereka tidak langsung saja mengatakan, “Hei, aku ingin begini.” Mudah, simpel, dan sederhana. Tapi cewek tidak suka hal-hal simpel dan sederhana semacam itu. Bukannya memperjelas tujuan, mereka justru lebih senang mengaburkannya.

Hidup ini sudah sulit, bahkan tanpa harus dipersulit. Menjalani kehidupan sehari-hari sudah cukup berat, hingga seharusnya tidak perlu ditambah berat. Kalau kau berharap saya mau main drama, maaf... saya tidak tertarik. Urusan saya sudah terlalu banyak!

Alasan 7:
Tidak suka dituntut


Sebagai manusia, saya tidak keberatan diminta, tapi tidak suka dituntut. Ada perbedaan mendasar antara “meminta” dan “menuntut”. Contoh meminta, misalnya, “Kalau nanti malam kamu ada waktu, telepon aku, ya.” Itu permintaan. Saya tidak keberatan dengan permintaan, dan saya pun akan senang hati memenuhi permintaan itu kalau memang bisa.

Berbeda dengan tuntutan. Contoh menuntut, misalnya, “Pokoknya, apa pun yang terjadi, kamu harus telepon aku manti malam!” Itu tuntutan. Satu dua kali mungkin masih bisa dianggap manis. Tapi jika tuntutan semacam itu terjadi terus menerus, apalagi jika tuntutan yang ada semakin berat, well... rasanya kita sedang menyiksa diri sendiri.

Dalam pacaran, kita tahu, cewek punya banyak tuntutan. “Kamu harus ini, harus itu. Kamu harus begini, harus begitu,” dan lain-lain, dan lain-lain, dan semacamnya, dan semacamnya, dan sebagainya, dan sebagainya. Jadi, dalam pandangan saya, pacaran adalah melakukan sesuatu yang tidak saya sukai—karena banyak tuntutan!

Satu-satunya tuntutan yang saya suka cuma menuntut ilmu! Oh, well, ini serius!

Alasan 8:
Sekali lagi, saya sidak suka dituntut


Pacaran, dalam pikiran saya, bukan hanya hubungan yang penuh tuntutan, tapi pembuangan waktu secara sia-sia dalam jumlah besar. Itu benar-benar pemborosan waktu, energi, dan pikiran, bahkan biaya, dalam skala luar biasa. Jika semua sumber daya dalam pacaran dialihkan untuk hal-hal bermanfaat, sumber daya itu mungkin sudah bisa digunakan untuk membuat reaktor nuklir!

Coba kita lihat dengan akal sehat. Pertama, pacaran penuh tuntutan. Dari tuntutan apel malam Minggu, ketemuan nyaris setiap hari, hingga kencan seharian di akhir pekan. Di sela-sela semua itu, pacar juga menuntut ditelepon, disapa, diperhatikan, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain. Dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Dan apa yang kita lakukan ketika sedang bersama pacar? Membahas hal-hal penting yang berguna bagi nusa dan bangsa? Tidak! Memikirkan nasib dunia dan kemaslahatan umat manusia? Juga tidak! Alih-alih membicarakan hal-hal bermanfaat, kita justru membahas hal-hal tidak penting, seperti, “Kalau kamu jadi bunga, aku jadi kumbangnya.” Bah!

Kalau kita tidak melakukan semua ketololan itu, pacar kita akan marah. Artinya, meski dia mungkin tidak menyatakan secara verbal, tapi dia menuntut kita untuk melakukannya. Itulah yang paling tidak saya suka dalam pacaran—pemborosan sumber daya dalam skala besar-besaran, untuk sesuatu yang tolol dan sia-sia.

Alasan 9:
Saya bukan pacar yang baik


Kalian, khususnya cewek, yang membaca sampai di sini, mungkin membatin, “Si Hoeda Manis ini kayaknya cowok yang benar-benar bangsat!”

Tidak masalah, karena kenyataannya mungkin memang begitu. Dalam urusan pacaran—sebagaimana pemaparan di atas—saya benar-benar bukan cowok baik. Dengan kata lain, saya bukan pacar ideal yang didambakan cewek mana pun.

Pacaran butuh waktu, dan saya tidak sudi buang-buang waktu. Pacaran butuh ketemuan untuk membicarakan hal-hal tidak berguna, dan saya tidak sudi melakukannya. Pacaran membutuhkan drama, dan saya tidak sabar ngurusin drama. Pacaran juga banyak tuntutan, dan saya benci dituntut apa pun. Kesimpulannya jelas, saya bukan pacar yang baik!

Dan karena kesadaran itu pulalah yang membuat saya memilih untuk tidak punya pacar. Karena, jika pacaran, pada akhirnya hanya akan menyakiti pacar saya. Dua kali saya pacaran, dan semuanya gagal. Bukan salah pacar saya, tapi semata-mata—dengan segala kerendahan hati saya mengakui—itu kesalahan saya. Pengalaman itu telah memberi pelajaran bahwa saya memang bukan pacar yang baik. Dan saya tidak perlu memaksakan diri, apalagi sampai mengulangi kebodohan yang sama.

Alasan 10:
Sekali lagi, saya bukan pacar yang baik


Jadi, kepada siapa pun—di dunia nyata maupun di dunia maya—yang mungkin telah jatuh cinta dan berharap pacaran dengan saya, sekarang kita tahu, kalian telah keliru. Saya bukan pacar yang baik, bukan cowok ideal sebagaimana yang mungkin kalian dambakan. In fact, saya justru memiliki banyak kekurangan—sebegitu banyak, hingga saya memilih untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan saya, daripada sibuk pacaran.

Di dunia ini banyak pacar yang baik. Tetapi, kita tahu, saya tidak termasuk di antaranya.

Pacaran, Pertemanan, dan Ikatan

Satu-satunya “mantan” di dunia ini cuma mantan pacar. Atau mantan pasangan. Bukti betapa rapuhnya hubungan, tidak abadinya ikatan.
—Twitter, 10 November, 2014

Sebagai bocah, aku lebih tertarik pada pertemanan daripada perkawinan. Sebagai bocah, aku lebih suka kebebasan daripada ikatan.
—Twitter, 10 November, 2014

Jika definisi “pacar yang baik” adalah pasangan yang menjanjikan perkawinan, maka aku mungkin bukan pacar yang baik. Jangan jadi pacarku.
—Twitter, 10 November, 2014

Aku bisa menjanjikan untuk menjadi teman yang baik. Tapi aku tidak bisa menjanjikan untuk menjadi pacar yang baik. Jangan mau jadi pacarku.
—Twitter, 10 November, 2014

Hubungan paling menekan adalah hubungan dengan tendensi, termasuk tendensi ikatan. Mari berteman dengan nyaman, tanpa berpikir pelaminan.
—Twitter, 10 November, 2014

Hanya orang-orang kurang kerjaan dan kurang berpikir yang masih meributkan siapa pacarmu, atau kapan kawinmu. Hidup tidak sesempit itu.
—Twitter, 11 November, 2014

Bagi makhluk-makhluk yang berpikir, hidup tak sebatas lahir, tumbuh besar, kawin, beranak pinak, lalu mati. Ada yang jauh lebih penting.
—Twitter, 11 November, 2014

Panggil aku untuk jadi temanmu, maka aku akan datang. Panggil aku untuk jadi pacarmu, maka aku akan pura-pura tak mendengar.
—Twitter, 11 November, 2014

Tidak punya pacar adalah waktu terbaik untuk melakukan hal-hal yang lebih baik. Setelah punya pacar, kau akan menjadi sangat membosankan.
—Twitter, 11 November, 2014

Aku pernah menyaksikan orang-orang hebat dan mengagumkan. Begitu punya pacar, mereka langsung berubah, idiot, dan tampak membosankan.
—Twitter, 11 November, 2014

Dalam ingatanku, perbuatan paling sia-sia yang pernah kulakukan dalam hidup adalah pacaran. Aku tak punya waktu untuk mengulanginya.
—Twitter, 11 November, 2014

Kalau kau mencari teman, datanglah padaku. Tetapi kalau kau mencari pacar, sebaiknya cari orang lain saja.
—Twitter, 11 November, 2014

Hanya orang-orang kurang kerjaan yang punya waktu untuk pacaran. Maaf, aku tidak punya waktu untuk disia-siakan.
—Twitter, 11 November, 2014

Aku seorang lajang, tidak punya pacar, dan aku menjalani hidup yang tenang, tenteram, bahagia. Dan, kau tahu, aku senang mengakuinya.
—Twitter, 11 November, 2014


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.
 

Kapan Kawin? Kawin Kapan?

Susah kok ngajak-ngajak!

Selasa, 22 Maret 2016

Misteri Uang di Rekening Kita

Orang yang mengatakan uang tak bisa membeli
kebahagiaan... mungkin uangnya kurang banyak.
@noffret


Jika diperhatikan benar-benar, ada yang aneh dan janggal pada buku tabungan atau rekening bank yang kita miliki. Saya tidak tahu apakah keanehan dan kejanggalan ini dialami semua orang, atau hanya sebagian orang. Yang jelas, saya mengalami. Beberapa orang yang saya kenal juga mengalami. Dan, sampai saat ini, saya masih belum paham bagaimana keanehan ini bisa terjadi.

Kisah ini dimulai ketika saya sakit, hingga tinggal di rumah orangtua sampai beberapa hari, sebagaimana yang dulu saya ceritakan di sini. Suatu siang, adik saya berencana ke bank. Kita sebut saja Bank X. Saya memiliki beberapa rekening, termasuk di Bank X. Kebetulan, waktu itu, buku tabungan Bank X ada di tas yang saya bawa. Jadi, saya nitip adik saya untuk meng-update buku tabungan tersebut.

Di bank, adik saya mengurus keperluannya, sekalian meng-update buku tabungan saya. Karena iseng, dia membuka-buka buku tabungan saya, dan mendapati ada transaksi yang sangat besar pada buku tabungan tersebut. Nilainya hampir setengah miliar. Nilai transaksi itu baru tercetak di buku tabungan, saat dia meng-update. Jadi, adik saya pun menyimpulkan, baru-baru ini saya telah membeli sesuatu yang nilainya mencapai setengah miliar.

Saat dia pulang ke rumah, saya sedang tidur. Adik saya mengobrol dengan nyokap, dan dia menceritakan soal “uang setengah miliar” yang baru-baru ini keluar dari rekening saya. Mereka berdua penasaran, berpikir-pikir apa yang kira-kira saya beli, sampai harus mengeluarkan uang setengah miliar.

Menjelang sore, ketika saya sudah bangun, nyokap bertanya, “Da’, kamu beli apa, kok harganya sampai setengah miliar?”

Saya kaget. “Aku beli... apa?”

Lalu nyokap menceritakan soal buku tabungan yang tadi di-update. Buru-buru saya mengambil buku tabungan tersebut, dan memelototi isinya. Kenyataannya memang ada transaksi besar di buku tabungan saya. Nilainya Rp. 497.698.763,- (hampir setengah miliar rupiah). Uang sebesar itu telah keluar dari rekening saya baru-baru ini.

Mata saya berkunang-kunang. Badan langsung lemas. Rasanya mau nangis. Masalahnya sederhana. SAYA TIDAK PUNYA UANG SEBANYAK ITU!

Selama ini, saya menggunakan tiga rekening bank, kita sebut saja Bank X, Bank Y, dan Bank Z. Dari tiga rekening itu, rekening Bank X (yang tadi di-update) bukan rekening aktif. Sudah sangat lama, rekening di Bank X tidak saya utak-utik, dan saya yakin betul isinya tidak seberapa. Rekening di Bank X bisa dibilang cuma sebagai cadangan, dan bukan rekening utama.

Karena itu, saya sangat heran ketika mendapati ada transaksi hampir setengah miliar di rekening Bank X. Padahal, boro-boro setengah miliar, jumlah uang di rekening tersebut bahkan tidak sampai setengah juta! Yang aneh, uang sejumlah setengah miliar itu masuk dan keluar pada hari dan tanggal yang sama. Uang itu sempat masuk sesaat ke rekening saya, lalu keluar lagi. Jadi, uang setengah miliar itu memang bukan milik saya.

Tetapi, kalau memang bukan milik saya, kenapa uang itu sempat masuk ke rekening saya? Siapa yang memasukkan/mentransfer, dan siapa yang mengambil? Sampai cukup lama saya memikirkan hal itu, tapi tetap saja bingung.

Akhirnya, beberapa hari kemudian, saat telah sehat kembali, saya memberanikan diri datang ke kantor Bank X untuk menanyakan keanehan itu. Di sana, seorang pegawai bank menjelaskan, “Rekening Anda sudah lama tidak di-update. Jadi, ketika di-update tempo hari, seluruh transaksi yang pernah terjadi diakumulasikan, dan nilainya mencapai hampir setengah miliar seperti yang tercatat di buku tabungan. Jadi, nominal setengah miliar itu akumulasi dari uang Anda yang masuk dan keluar selama ini, tapi tidak tercatat, karena tidak ada update pada buku tabungan.”

Saya mencoba menjawab, “Tapi, seingat saya, selama ini saya tidak pernah memiliki uang sejumlah itu di bank ini.”

Pegawai bank menjawab dengan manis, “Mungkin Anda lupa. Coba diingat-ingat lagi.”

Meski saya sudah mengingat-ingat sekeras apa pun, tetap saja saya ingat bahwa uang saya di Bank X tidak pernah mencapai setengah miliar. Saya bahkan masih ingat siapa-siapa saja yang pernah mentransfer ke rekening saya di Bank X, dan saya yakin jumlahnya jauh di bawah setengah miliar. Tetapi, tampaknya, pegawai Bank X menganggap saya pikun—atau dia menilai saya terlalu kaya. Singkat cerita, siang itu saya pulang dengan pikiran masih bingung.

Di rumah, didorong rasa penasaran, saya membuka dua buku tabungan saya yang lain, yang dikeluarkan Bank Y dan Bank Z. Ketika mempelajari dua buku tabungan itu dengan cermat, saya juga mendapati keanehan serupa. Pada dua buku tabungan tersebut juga terdapat nilai transaksi cukup besar—masuk dan keluar—yang tercetak di buku tabungan saat rekening di-update. Padahal, lagi-lagi saya ingat, transaksi-transaksi itu tidak pernah saya lakukan.

Karena rekening di Bank Y dan Bank Z sering saya gunakan, transaksi di dalamnya pun cukup aktif. Suatu waktu ada uang masuk, suatu waktu ada uang keluar. Meski begitu, saya ingat betul berapa yang pernah masuk dan berapa yang pernah keluar. Tetapi, di luar transaksi yang pernah saya lakukan, terdapat pula beberapa transaksi janggal, yang rasanya tidak pernah saya lakukan.

Di buku tabungan Bank Y, misalnya, ada beberapa transaksi “aneh” senilai 70 jutaan, 80 jutaan, sampai 100 jutaan. Begitu pula di buku tabungan Bank Z, juga ada transaksi “aneh” serupa yang nilainya juga cukup besar. Saya sebut “aneh”, karena transaksi-transaksi tersebut di luar transaksi yang memang saya lakukan. Selama ini, saya tidak terlalu merisaukan transaksi-transaksi janggal itu, karena berpikir, “Toh aku tidak kehilangan uang dari rekeningku.”

Tetapi, setelah mendapati transaksi senilai setengah miliar di Bank X, pikiran saya mulai terusik. Ada yang aneh di sini. Bagaimana mungkin ada uang masuk ke rekening saya, lalu keluar lagi, tapi bukan milik saya? Semakin saya pikirkan, semakin saya yakin bahwa sejumlah uang pernah masuk rekening saya, lalu keluar lagi, dan saya tidak pernah tahu itu uang apa.

Saya pernah mencoba menanyakan keanehan itu pada Dian, pegawai Bank Z yang pernah saya ceritakan di sini. Dian biasa menangani urusan perbankan saya, dan dia tahu betul bagaimana saya menggunakan uang di bank tempatnya bekerja. Tetapi, penjelasan Dian juga tidak jauh beda dengan penjelasan pegawai Bank X. “Mungkin Anda lupa,” ujar Dian dengan ramah. “Tentu saja itu uang Anda, karena tercetak di buku tabungan Anda.”

Tetapi, saya tetap tidak puas dengan penjelasan itu. Saya tidak pikun, dan saya tidak menderita Alzheimer. Oh, well, saya bahkan memiliki ingatan yang bisa diandalkan, khususnya untuk hal-hal yang tertulis. Jadi, saya ingat betul berapa yang saya miliki, berapa yang saya terima, dan berapa yang pernah saya gunakan. Dalam rangkaian transaksi yang tercetak di buku tabungan, saya bisa mengenali mana transaksi yang memang saya lakukan, dan mana transaksi yang tidak pernah saya lakukan.

Selama beberapa waktu, saya masih terus berpikir keras mengenai hal itu. Selama waktu-waktu itu pula, saya menanyakan pada teman-teman yang saya kenal, apakah juga mengalami keanehan serupa pada buku tabungan mereka. Sebagian mereka tidak menyadari, tapi sebagian lain telah menyadari adanya keanehan serupa, dan mereka lalu menunjukkan buku tabungan yang dimiliki.

Seorang teman menyatakan, “Di buku tabunganku pernah tercatat adanya uang masuk dan keluar sejumlah 277 juta. Padahal, demi Tuhan, seumur-umur aku tidak pernah punya uang sebanyak itu! Tapi selama ini aku cuekin, karena kupikir, toh aku tidak kehilangan uang dari rekeningku.” 

Beberapa teman yang lain juga menceritakan hal serupa, meski jumlah nominal yang “aneh” di buku tabungan mereka tidak terlalu besar—berkisar antara 30 jutaan sampai 70 jutaan. Sama seperti saya, mereka juga yakin bahwa itu bukan uang mereka. Uang sejumlah itu hanya pernah masuk, lalu keluar lagi, dan sama sekali bukan milik mereka. Lagi-lagi, selama ini mereka tidak pernah meributkan hal itu, karena berpikir toh mereka tidak kehilangan uang yang dimiliki.

....
....

Well, kejadian di atas sudah cukup lama berlalu. Seiring dengan itu, perlahan-lahan saya mulai mencoba melupakan, dan menganggap itu bukan masalah. Sampai suatu hari, belum lama, saya mendapati sebuah berita yang sangat mengganggu pikiran.

Berita itu mengisahkan seorang nasabah di Kalimantan, yang tiba-tiba mendapati uang di rekeningnya bertambah 5,1 miliar rupiah (jumlah pastinya Rp. 5.104.439.450). Nasabah bernama Suparman itu sama sekali tidak tahu dari mana uang tersebut. Yang ia tahu, ada pemberitahuan melalui SMS Banking, bahwa dia mendapat transfer di rekeningnya sejumlah 5,1 miliar. Suparman mengecek ke ATM, dan memang benar ada uang masuk sebanyak itu. Padahal, uang miliknya sebelumnya cuma beberapa ratus ribu. Kemudian, ini yang paling aneh....

Suparman mencoba melakukan penarikan uang lewat ATM sebesar Rp. 10 juta. Berhasil. Ia lalu mentransfer uang ke rekening temannya, sebesar Rp. 100 juta. Lagi-lagi berhasil. Besoknya, dia melakukan transaksi lagi dengan mentransfer sebesar Rp. 100 juta kepada temannya, dan mengambil Rp. 10 juta lagi lewat ATM. Semuanya berhasil, tidak ada masalah. Didorong penasaran, Suparman nekat datang ke kantor bank untuk melakukan pengambilan uang secara langsung. Di bank, dia menarik uang sejumlah Rp. 500 juta, dan pihak bank memberikannya.

Karena yakin uang di rekeningnya memang bisa digunakan, Suparman pun semakin nekat. Ia lalu mentransfer ke tiga rekening, masing-masing setengah miliar. Jadi, keseluruhan transaksi yang dilakukan Suparman mencapai 2,2 miliar, dari total 5,1 miliar yang masuk ke rekeningnya. Saat terakhir ia mengecek rekening lewat ATM, sisa saldo masih tercatat Rp. 2,8 miliar.

Keesokan harinya, Suparman kembali mengecek saldo lewat ATM, dan mendapati kali ini sisa saldo Rp. 2,8 miliar di rekeningnya sudah tidak ada. Bersamaan dengan itu, pihak bank mendatangi rumah Suparman, dan memintanya untuk mengembalikan uang Rp. 500 juta yang kemarin diambilnya di bank. Suparman pun mengembalikan uang tunai tersebut. (Untuk membaca berita selengkapnya, silakan lihat di sini).

Nah, saya telah menelusuri berita itu, dan mempelajari puluhan berita yang berkaitan dengan kasus tersebut. Ada sesuatu yang sangat aneh dalam kejadian tersebut, yang—bagi saya—terasa ditutup-tutupi. Sekarang, perhatikan kronologinya.

Mula-mula, Suparman menerima uang—entah dari mana—sejumlah Rp. 5,1 miliar di rekeningnya. Lalu dia mengambil uang tersebut hingga Rp. 2,2 miliar, termasuk Rp. 500 juta yang ia ambil tunai dari kantor bank. Setelah itu, sisa saldo yang semula masih 2,8 miliar tiba-tiba raib dari rekeningnya, dan pihak bank meminta Suparman mengembalikan uang tunai Rp. 500 juta yang telah ia ambil dari kantor bank.

Tetapi... bank tidak meminta sisa uang lainnya!

Suparman tampaknya cukup memahami apa yang mungkin terjadi pada rekening miliknya. Ketika pihak bank mendatangi rumahnya, dan meminta pengembalian uang, Suparman melaporkan bank ke polisi, karena khawatir uang sejumlah Rp. 5,1 miliar yang masuk ke rekeningnya adalah bagian dari kejahatan pencucian uang.

Polisi sempat menyelidiki kasus itu, tapi kemudian menghentikan penyelidikan, karena kasusnya diambil alih oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Kemudian, OJK menyatakan bahwa kejadian di atas hanyalah kasus “salah transfer” yang tidak melanggar ketentuan. Kasus selesai.

Jadi, kalau saya tidak salah menyimpulkan, Suparman memang mengembalikan uang tunai sejumlah Rp. 500 juta yang semula ia ambil dari kantor bank, tapi ia tidak mengembalikan sisanya. Dengan kata lain, Suparman mendapatkan “keuntungan” sekitar 1,7 miliar dari kasus “salah transfer” itu—meski pihak bank sama sekali tidak mau menjelaskan siapa yang telah salah transfer. Intinya, menurut pihak bank—sebagaimana yang dirilis dalam berita—tidak ada pihak yang dirugikan.

Tapi benarkah tidak ada yang dirugikan? Bagaimana dengan orang yang telah melakukan kesalahan transfer, sebagaimana yang disebut bank? Bukankah dia—kalau memang benar-benar ada—menjadi pihak yang dirugikan, karena uangnya yang sejumlah Rp. 5,1 miliar tidak bisa kembali semua? 

Kasus itulah yang kemudian kembali mengusik pikiran saya, mengenai sejumlah uang yang pernah masuk dan keluar dari rekening yang saya miliki. Saya khawatir kalau-kalau rekening saya—dan rekening milik orang-orang lain—diam-diam dimanfaatkan bank untuk aksi pencucian uang. Saya tidak tahu kekhawatiran saya benar atau tidak, karena sejauh ini belum ada yang mampu menjelaskan keanehan itu secara masuk akal.

Buat teman-teman yang kebetulan membaca catatan ini, cobalah periksa dan pelajari buku tabungan kalian yang telah di-update. Perhatikan sungguh-sungguh setiap nominal transaksi yang ada di kolom debet dan kolom kredit, lalu ingat-ingatlah apakah nominal itu memang pernah kalian miliki atau gunakan. Sebagian orang telah mendapati adanya sejumlah transaksi yang aneh di buku tabungan mereka. Siapa tahu kalian juga mengalami?

Akhirnya, tolong, ada yang bisa menjelaskan masalah ini?

Soal Usus

Orang tua itu berkata, “Apakah kau punya usus, Nak?”

Saya menatapnya bingung. “Sir...?”

“Usus,” ulangnya. “Apakah kau punya usus?”

“Uh... yeah, tentu saja saya punya usus.”

Dia mengangguk. “Syukurlah. Karena setiap orang seharusnya punya usus.”

....
....

Saat dia berlalu, rasanya saya baru menyadari kalau selama ini punya usus.

Sabtu, 19 Maret 2016

Perkawinan dan Akal Sehat

Pacaran mungkin tidak bermanfaat. Tapi kawin buru-buru
tanpa pertimbangan matang juga tidak menjamin bebas mudarat.
@noffret


Selama bertahun-tahun, saya telah membaca ratusan buku yang membahas perkawinan, dari yang tipis sampai yang sangat tebal, yang ditulis orang Indonesia, orang Arab, sampai orang Amerika. Sebegitu banyak buku tentang perkawinan yang telah saya khatamkan, hingga rasanya saya bisa menyampaikan khutbah nikah sefasih petugas KUA.

Yang aneh, dari banyak buku tentang perkawinan yang telah saya baca, nyaris tidak ada yang menjelaskan perkawinan secara jujur dan apa adanya. Semuanya diselimuti angin surga. Maksud saya, buku-buku perkawinan itu hanya menjelaskan hal-hal positif tentang perkawinan, tentang enak dan nikmatnya punya pasangan, tapi tidak menjelaskan bahwa perkawinan juga mengandung konsekuensi dan tanggung jawab, yang kadang tidak enak dan tidak nikmat.

Jadi, setelah mengkhatamkan ratusan buku tentang perkawinan, dan mendapati isinya gitu-gitu doang, saya pun merasa konyol. Lagi-lagi kayak gitu, lagi-lagi kayak gitu. Apa iya, perkawinan hanya melulu begitu?

Nah, tempo hari, saya mendapati sebuah thread di Kaskus, yang saya anggap telah merangkum ajaran-ajaran yang biasa ada di buku-buku tentang perkawinan. Thread di Kaskus itu berjudul 15 ilustrasi ini akan mengajarkanmu apa enaknya menikah, lengkap dengan gambar-gambar menawan. Di bawah ini saya tulis 15 hal yang merupakan “enaknya menikah” sesuai thread tersebut. Jika kalian ingin melihat thread aslinya di Kaskus, silakan lihat di sini.

So, inilah 15 ilustrasi yang akan membuat siapa pun ingin cepat kawin:
  1. Mendukung satu sama lain melewati masa-masa sulit
  2. Mendengarkan musik bersama
  3. Memasak bersama
  4. Traveling bersama
  5. Berjalan bersama, baik di tengah hujan atau terik matahari
  6. Menikmati waktu santai bersama
  7. Saling menyambut jika salah satunya pulang kerja
  8. Membaca bersama sebelum tidur
  9. Tidur sambil berpelukan
  10. Menikmati sarapan bersama
  11. Makan cemilan bersama di tengah malam
  12. Kencan
  13. Menikmati waktu-waktu sunyi
  14. Meluangkan waktu bersama buah hati
  15. Tua bersama

Indah, eh? Oh, well, sangat indah. Dan itulah yang saya sebut “angin surga”. Ilustrasi-ilustrasi semacam itu pulalah yang biasa kita dapati di mana-mana. Di buku maupun di artikel, perkawinan selalu terkait—atau dikaitkan—dengan hal-hal indah, sambil sengaja menyembunyikan hal-hal lain yang mungkin tidak indah.

Bahwa perkawinan memiliki hal-hal indah dan menyenangkan, of course! Saya setuju, dan siapa pun tentu setuju. Bahwa perkawinan memungkinkan kita bisa selalu bersama pasangan, saling mendukung, saling menyayang, saling ndusel dan ndusel dan ndusel dan ndusel... ya! Tetapi, demi Tuhan, perkawinan tidak sebatas dan sedangkal itu!

Perkawinan juga menuntut konsekuensi dan tanggung jawab. Konsekuensi yang ringan, misalnya, waktu pribadi jadi berkurang. Karena sudah punya pasangan, kita akan hidup terus bersama pasangan, dari sejak membuka mata saat bangun tidur, sampai akan menutup mata lagi ketika tidur. Bahkan dalam tidur pun kita tetap bersama pasangan. Sekilas, itu memang indah. Dalam realitas... belum tentu!

Rasa bosan, misalnya, adalah “penyakit” khas banyak pasangan suami istri, khususnya yang telah berumah tangga cukup lama. Itu konsekuensi manusiawi, dalam arti bisa dibilang wajar. Tetapi, apakah buku-buku perkawinan menjelaskan itu secara jelas dan jujur, agar orang-orang yang masih lajang bisa menyadari? Saya tidak pernah mendapati penjelasan itu di buku mana pun.

Selain bosan, perasaan terkekang juga kerap menghinggapi pasangan suami istri. Saat masih lajang, saya maupun teman-teman lelaki bisa asyik nyangkruk semalaman tanpa masalah. Tapi ketika telah punya istri, tentunya istri saya atau istri teman-teman saya akan ribut. Apalagi jika istri kami kebetulan memang suka ribut. Sudah biasa saya mendapati teman yang telah menikah berkata, “Sori, aku harus pulang sekarang. Istriku pasti sudah menunggu di rumah.”

Ucapan semacam itu mungkin bisa membuat yang lajang merasa iri, karena yang masih lajang tidak punya istri yang menunggu di rumah. Tetapi, saat teman kami mengucapkan kata-kata itu—bahwa dia harus pulang karena istrinya menunggu di rumah—dia tidak tampak senang. Sebaliknya, dia merasa tertekan akibat kebebasannya kini terkekang.

Itu contoh konsekuensi ringan dalam hidup berumah tangga, dari soal bosan sampai terkekang. Di luar itu, masih banyak konsekuensi lain, yang bahkan lebih berat. Seperti upaya mencari nafkah, misalnya. Ketika sendirian, kita mungkin bisa bekerja seadanya, yang penting bisa menyambung hidup, toh nyatanya kita hidup sendirian dan tidak/belum punya tanggungan.

Tetapi, ketika menikah, apalagi telah punya anak, beban kita akan bertumpuk-tumpuk. Urusan mencari nafkah tidak bisa seenak atau sebebas sebelumnya, karena kini mau tidak mau harus menafkahi istri dan memberi makan keluarga. Belum lagi jika ada yang sakit, lalu kebutuhan hari demi hari terus meningkat, sementara inflasi semakin tinggi, dan anak mulai butuh sekolah, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain. Penghasilan kadang tidak bertambah, tapi kebutuhan hidup terus bertambah, dan makin bertambah.

Berkaitan dengan hal tersebut, seseorang yang punya banyak follower di Twitter tempo hari menulis tweet, berbunyi, “Ngumpulin modal dulu, baru nikah” Situ pikir mau beli franchise, pake modal segala? Hehe, #NikahSana

Terus terang saya miris mendapati tweet itu. Jika tweet tersebut dimaksudkan sebagai nasihat, kok dangkal amat?

Oh, well, bukan hanya dangkal, tapi juga menyalahi akal sehat. Terlepas dia pakai “hehe” atau tidak pakai “hehe”, tweet itu berpotensi menyesatkan orang-orang yang dangkal pikir dan ngebet kawin. Lebih dari itu, jika ada orang-orang yang kemudian kawin dengan modal nekat—sebagaimana yang diisyaratkan tweet tersebut—lalu perkawinannya hancur dan berantakan, apakah si penulis tweet mau bertanggung jawab?

Jangankan menikah atau mencari pasangan, bahkan mencari kerja pun kita butuh modal. Untuk mencari dan mendapatkan kerja, kita butuh modal pendidikan, pengalaman, dan lain-lain. Padahal, urusan kerja adalah urusan ringan. Maksud saya, jika sewaktu-waktu kita bosan dengan kantor atau tempat kerja, kita bisa pindah ke tempat lain. Itu urusan kerja, apalagi urusan perkawinan yang tentunya lebih kompleks dibanding sekadar urusan kerja?

Tentu saja menikah butuh modal! Memang, konon KUA sekarang tidak memungut biaya perkawinan, jika sepasang mempelai menikah di kantor KUA. Tetapi, apakah perkawinan cuma sebatas di KUA? Yang wajar sajalah!

....
....

Well, saya menulis catatan ini tidak dengan maksud agar kalian tidak menikah. Saya menulis catatan ini untuk mengimbangi banyaknya angin surga yang terus dan terus dan terus dan terus diembuskan orang-orang di mana pun. Entah kenapa, orang-orang itu tampaknya sangat bersemangat dalam upaya menyuruh-nyuruh orang lain agar cepat kawin, seolah urusan hidup setiap manusia cuma sebatas kawin.

Seperti buku-buku perkawinan yang saya baca. Atau artikel-artikel tentang perkawinan yang isinya angin surga. Atau tweet-tweet nasihat agar cepat kawin tapi dangkal pikir. Perkawinan, tampaknya, telah didistorsi sedemikian rupa, sehingga teori-teori mengenai perkawinan jauh berbeda dengan realitas.

Dalam realitas, saya menyaksikan orang-orang yang diam-diam menyesali perkawinannya. Dalam realitas, saya mengenal orang-orang yang tertekan dalam kehidupan rumah tangganya, tapi terus bertahan demi menjaga nama baik keluarga dan terhindar dari perceraian. Dalam realitas, saya menyaksikan orang-orang yang semula hebat di saat lajang, berubah menjadi orang-orang menyedihkan setelah menikah. Itu realitas-realitas yang—anehnya—nyaris tak pernah dibahas dalam teori mana pun tentang perkawinan.

Dalam perkawinan, cinta adalah hal penting. Tetapi, yang tak kalah penting, gunakan pula akal sehat. Menikahlah jika telah siap, lahir dan batin, dengan penilaian objektif pada diri sendiri. Kesiapan masing-masing orang tentu relatif, karenanya masing-masing orang hanya bisa menilai diri sendiri. Karenanya pula, setelah kau menikah, tutuplah mulutmu, dan tidak usah menyuruh-nyuruh orang lain agar cepat kawin. Karena belum tentu yang telah tampak siap memang benar-benar telah siap.

Jika saya ditanya kenapa belum menikah, jawaban saya sederhana, “Karena saya belum siap.”

Jawaban itu tidak dimaksudkan untuk merendah, melainkan bentuk kejujuran pada diri sendiri yang dilandasi akal sehat. Daripada buru-buru menikah tapi saya hanya akan menelantarkan pasangan, saya lebih memilih untuk menahan diri. Saya belum bisa memberikan waktu, hati, pikiran, dan hidup saya untuk orang lain, termasuk untuk seorang istri. Wong ngurus hidup sendiri saja belum benar, apalagi ngurus hidup anak orang?

Karenanya, kalau kau telah siap menikah—dan kau meyakini kesiapan itu secara objektif berdasarkan akal sehat—menikahlah. Itu pilihan yang baik. Setelah itu, jagalah mulut, ucapan, dan perbuatanmu, sebagaimana kau menjaga kehormatanmu. Tidak usah mengompori atau memprovokasi orang-orang lain agar cepat menikah sepertimu, karena belum tentu orang lain sesiap dirimu. Lebih dari itu, orang lain mau menikah atau tidak, sama sekali bukan urusanmu.

Nasihat yang Merusak

Ada orang yang sok melarang-larang pacaran,
tapi nyuruh-nyuruh orang cepat kawin. Sama-sama parah!
—Twitter, 7 Januari 2016

Pacaran mungkin tidak bermanfaat. Tapi kawin buru-buru
tanpa pertimbangan matang juga tidak menjamin bebas mudarat.
—Twitter, 8 Januari 2016

Aku tidak habis pikir dengan orang yang suka nyuruh-nyuruh orang lain
agar cepat kawin. Apa manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain?
—Twitter, 8 Januari 2016

Kebutuhan manusia untuk kawin sama seperti kebutuhan manusia untuk makan.
Tidak usah disuruh! Kalau sudah waktunya, mereka akan melakukan.
—Twitter, 8 Januari 2016

Ucapan/perbuatan paling sia-sia dan paling tidak masuk akal di dunia
adalah menyuruh orang lain agar cepat-cepat kawin. Mikir dikit napa?
—Twitter, 8 Januari 2016

Beberapa orang sebegitu tolol dan idiot, hingga menyuruh-nyuruh orang lain
agar cepat kawin membuat dirinya merasa hebat. Menggelikan!
—Twitter, 8 Januari 2016

Semua orang butuh makan. Kalau orang tidak makan, mungkin sedang puasa.
Atau mungkin pula karena tidak punya apa pun yang bisa dimakan.
—Twitter, 8 Januari 2016

Semua orang butuh pasangan. Kalau tidak juga berpasangan, mungkin itu
pilihannya. Atau mungkin pula belum menemukan pasangan yang tepat.
—Twitter, 8 Januari 2016

Menyuruh-nyuruh orang cepat kawin itu sama bangsatnya dengan menyuruh-
nyuruh orang cepat makan, padahal yang disuruh tidak punya makanan.
—Twitter, 8 Januari 2016

Jika melihat orang tidak makan, tanyakan alasannya. Kalau dia puasa, hormati.
Kalau dia tidak punya makanan, beri. Bukannya malah ribut!
—Twitter, 8 Januari 2016

Jika melihat lajang belum kawin, tanyakan alasannya. Jika itu pilihan, hormati.
Jika ternyata belum punya pasangan, belajarlah berempati.
—Twitter, 8 Januari 2016

Jika tidak bisa memberi nasihat yang baik dan masuk akal, tutuplah cocotmu!
Itu jauh lebih baik daripada sok menasihati tapi justru merusak!
—Twitter, 8 Januari 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Tidak Bisa Membayangkan

Duduk di dapur sambil mengisap rokok, dan mikir, “Aku tidak bisa membayangkannya... aku tidak bisa membayangkannya...”

Senin, 14 Maret 2016

Apa yang Diinginkan Wanita?

Selamat hari mbakyu.
@noffret


Banyak wanita, setidaknya yang saya kenal, ingin cepat-cepat menikah dan punya suami. Saat saya tanya apa motivasi atau alasan mereka, rata-rata mereka menjawab, “Biar nggak pusing mikir hidup, nggak perlu repot cari kerja. Kalau udah nikah, kan, udah ada yang menafkahi.”

Jawaban itu mungkin terdengar jujur, atau bahkan vulgar. Mereka pun menjawab sepolos itu karena kami memang akrab, jadi mereka tidak sok jaim. Karenanya pula, saya percaya jawaban mereka. Jadi, bagi sebagian wanita—setidaknya yang saya kenal—menikah adalah upaya untuk “nggak pusing mikir hidup”.

Sementara itu, di luar sana, ada banyak wanita yang tidak saya kenal, yang juga tampaknya ingin cepat-cepat punya suami. Usia mereka kadang masih belia, tapi sudah ngebet ingin menikah. Saya menanyakan fenomena itu pada wanita-wanita yang saya kenal, kenapa para wanita di luar sana juga ingin cepat punya suami. Wanita-wanita yang saya kenal menjawab, bahwa motivasi para wanita di luar sana juga tidak jauh beda dengan motivasi mereka, biar “nggak pusing mikir hidup”.

Saya tidak tahu apakah jawaban itu benar atau tidak. Karena saya bukan wanita, dan saya juga belum terpikir untuk cepat-cepat menikah. Tetapi, jawaban itu memunculkan berbagai pertanyaan lain di benak saya.

Wanita-wanita modern, katanya, menginginkan kesetaraan gender. Berbeda dengan wanita tradisional (yang tidak/belum modern), wanita zaman sekarang konon ingin bisa seaktif pria. Mereka ingin mendapat pendidikan setinggi kaum pria, bisa bekerja atau berkarir di luar rumah, bahkan berharap dapat menempati posisi atau jabatan yang sebelumnya hanya dipegang pria. Tetapi, di antara gegap gempita teriakan dan tuntutan kesetaraan gender itu, rupanya masih ada wanita-wanita yang ingin jadi “wanita tradisional”, yang tinggal adem ayem di rumah dan mendapat nafkah yang cukup dari suami.

Manakah yang lebih baik? Sepertinya bukan tugas kita untuk menentukan mana yang lebih baik, karena itu bagian dari pilihan hidup masing-masing orang. Sebagian wanita, mungkin, memilih aktif di luar rumah, menjadi wanita karir, menghimpun prestasi, dan lain-lain. Sementara sebagian wanita lain memilih menjadi ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan keluarga.

Menyangkut hal ini, saya pernah membayangkan diri menempati posisi wanita. Saya membuat dua pilihan berikut:

Pilihan pertama, menjadi wanita karir. Sebagai wanita, saya sering membayangkan alangkah nikmat jika bisa memiliki karir sendiri, memiliki penghasilan sendiri, dan tidak sepenuhnya tergantung pada suami atau orang lain. Jadi, sebagai wanita, saya melamar kerja ke sana kemari, lalu mendapat pekerjaan dengan gaji 5 juta per bulan (umpamakan saja begitu).

Sebagai wanita, saya bangga karena bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri, sehingga tidak menggantungkan hidup pada siapa pun. Saya bisa membayar kost tiap bulan dengan lancar, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan menikmati gaya hidup yang baik. Sebagai wanita pula, saya membutuhkan pasangan, dan menikah. Ketika telah menemukan pasangan yang cocok, saya pun menikah dengannya, dan hidup di rumah bersamanya.

Sebagai istri, saya mendapat uang belanja dari suami sebesar 5 juta per bulan (sekali lagi, umpamakan saja begitu). Karena saya wanita karir yang telah menikah, saya pun punya dua pekerjaan—di kantor dan di rumah. Setelah seharian bekerja di kantor, saya juga harus mengurus rumah. Kehidupan saya relatif tidak berkekurangan, tapi saya lelah luar biasa. Belum lagi jika kelak punya anak-anak....

Sekarang, pilihan kedua, menjadi ibu rumah tangga. Saya—sebagai wanita—memilih untuk aktif di rumah. Jadi, ketika remaja dan tumbuh dewasa, saya tidak mengimpikan karir macam-macam. Yang saya impikan hanyalah memiliki suami yang baik, rajin bekerja, dan bertanggung jawab. Syukur-syukur juga kaya. Saya selalu membayangkan bahwa menjadi ibu rumah tangga—mengurus rumah, suami, dan anak-anak—adalah tugas mulia yang hanya diberikan untuk wanita.

Jadi, ketika saya menemukan pasangan yang baik, dan merasa cocok, saya pun menikah dengannya. Saya tidak berharap macam-macam, selain hanya ingin menjalani rumah tangga yang tenang, nyaman, dan tenteram. Pria yang menjadi suami saya bukan hanya baik, tapi juga rajin bekerja. Setiap bulan, saya mendapat uang belanja 10 juta, dan saya bisa membelanjakannya dengan baik, sehingga selalu ada sisa untuk ditabung.

Sebagai istri, sebagai ibu rumah tangga, saya sangat bahagia. Setiap pagi, saya melepas suami berangkat kerja, lalu menyibukkan diri di rumah—memasak, bersih-bersih, dan lain-lain. Tidak terlalu lelah, dan semua tugas itu bisa saya lakukan dengan mudah. Sisa waktu yang saya miliki—sambil menunggu suami pulang kerja—bisa saya gunakan untuk menonton televisi, tidur siang, atau mempercantik diri di salon. Kami sudah tak sabar menantikan kehadiran anak-anak....

Dari dua pilihan di atas, manakah yang saya pilih? Ketika saya menempatkan diri pada posisi wanita, saya memilih pilihan kedua. Kenapa? Jawabannya sederhana—karena pilihan kedua lebih mudah dan lebih menyenangkan!

Pada pilihan pertama, menjadi wanita karir, saya—sebagai wanita—harus montang-manting bekerja di kantor dan di rumah. Tentu saja saya bangga menjadi wanita karir. Tapi lelahnya luar biasa!

Sementara pilihan kedua, menjadi ibu rumah tangga, saya menikmati kehidupan yang enak. Tanpa harus kerja keras di kantor, tanpa harus ribet meniti karir, hanya diam di rumah. Tidak melelahkan, dan setiap bulan saya mendapat uang belanja 10 juta—jumlah sama seperti yang diperoleh wanita karir dalam bayangan saya!

Ketika saya menyodorkan dua pilihan di atas pada teman-teman wanita saya, mereka juga sama memilih pilihan kedua. Terus terang saya heran. Heran, karena saya pikir emansipasi lebih penting daripada sekadar gaji. Heran, karena kesetaraan gender saya pikir lebih mulia daripada sekadar kenyamanan. Jadi, ketika mereka memilih pilihan kedua, saya bertanya-tanya; apa sebenarnya yang mereka (wanita) inginkan?

Apa yang sebenarnya diinginkan wanita? Emansipasi, ataukah gaji yang besar? Kesetaraan gender, ataukah kehidupan nyaman tak berkekurangan? Lebih jauh lagi, menjadi wanita karir berprestasi yang dikagumi dunia, ataukah menjadi ibu rumah tangga yang dicintai suami dan anak-anaknya? Apa yang diinginkan wanita?

Ketika mendapati teman-teman wanita semuanya memilih pilihan kedua dari dua pilihan di atas, saya benar-benar penasaran. Saya berpikir, jangan-jangan yang diinginkan wanita sebenarnya tidak serumit dan sesulit seperti yang diteriakkan orang-orang di luar sana, berkaitan dengan kesetaraan gender, emansipasi, dan sebagainya. Jangan-jangan yang diinginkan wanita sebenarnya sederhana—hanya pasangan yang baik, rajin bekerja, bertanggung jawab, kehidupan yang tenang dan tenteram, serta uang belanja yang cukup dan tak berkekurangan.

Ketika saya mengonfirmasikan hal itu pada teman-teman wanita, mereka rata-rata menjawab, “Ya, begitulah.”

Ya, begitulah. Jadi, wanita—setidaknya yang saya kenal—sebenarnya tidak ingin macam-macam. Cukup suami yang baik, rajin bekerja, bertanggung jawab, dan kehidupan yang tenteram serta berkecukupan. Cuma itu. Tetapi, kalau memang “cuma itu”, kenapa urusan emansipasi dan kesetaraan gender masih terus menerus diteriakkan dan diributkan?

Jangan-jangan, yang diinginkan wanita sebenarnya bukan emansipasi, tapi pasangan yang baik dan bertanggung jawab. Jangan-jangan, yang diinginkan wanita sebenarnya bukan kesetaraan gender, melainkan kehidupan yang tenteram dan berkecukupan. Kalau memang begitu, bukankah itu pula yang diinginkan rata-rata pria?

Keinginan dasariah kita, sebagai pria maupun wanita, sebenarnya sederhana. Tetapi keinginan dasariah itu tampaknya telah mengalami “modernisasi”, hingga menjadi rumit bahkan sulit.

“Keinginan”, kata orang-orang bijak—juga kata Iwan Fals—“adalah sumber penderitaan.” Sekarang, saya menyadari hal lain. Keinginan bisa jadi merupakan topeng dari sesuatu yang tak diungkapkan.

Kesetaraan Gender Taik Kucing!

Ada Hari Wanita, tapi tidak ada Hari Pria.

Ada ibu kota, tapi tidak ada ayah kota.

Ada Ibu Bumi, tapi tidak ada Bapak Bumi.

Ada gerbong khusus wanita, tapi tidak ada gerbong pria.

Salon-salon menyediakan layanan V-spa, tapi tidak ada layanan P-spa.

Wanita dianggap biasa ketika memakai baju pria, tapi pria dianggap aneh ketika memakai baju wanita.

Kesetaraan gender?

Oh, well, kesetaraan gender taik kucing!

Siapakah Pigus?

Dalam sebuah perjalanan, saya dan bocah ini mampir ke sebuah warung untuk minum teh. Kebetulan, siang itu warung sepi, hingga kami bisa melepas dahaga dan lelah dengan santai dan nyaman. Setelah cukup lama duduk sambil merokok, dia mencolek saya, dan berkata, “Maksudnya gimana ini?”

Dia menunjuk ke sebuah tempat di bawah meja. Di depan kami duduk, ada sebuah meja besar yang tampaknya dibuat ala kadarnya menggunakan lempeng-lempeng dan kayu yang kebetulan tersedia. Tepat di bawah alas meja ada lempeng membujur horizontal, dan di lempeng itu terdapat tulisan yang kelihatannya hasil goresan anak-anak. Tulisan di lempeng itu berbunyi, “Pigus VS Superman”.

Dia menunjuk tulisan itu, dan heran.

Saat dia menunjuk tulisan tersebut, saya pun memperhatikan. Tampaknya tulisan itu telah dibuat sangat lama, hingga sudah cukup pudar. Lempeng tempat tulisan itu juga terlihat sudah tua. Tapi mungkin karena goresan pada lempeng cukup dalam, tulisan itu belum hilang, dan masih bisa terbaca. Bunyinya memang “Pigus VS Superman”.

Dia mengerutkan kening. “Aku tahu Superman. Tapi siapa itu Pigus?”

Setelah mengembuskan asap rokok, saya menjawab, “Pigus adalah salah satu musuh Superman.”

Dia terkekeh. “Ngarang!”

Saya tersenyum. “Superman yang dimaksud di situ bukan Superman Hollywood, tapi Superman Indonesia.”

Dia menatap saya bingung. “Superman Indonesia?”

“Pada awal 1980-an, ada film Indonesia berjudul ‘Superman Indonesia’. Salah satu bajingan dalam film itu bernama Pigus.”

Dia kembali terkekeh. “Kamu pasti ngarang!”

Mau tak mau saya ikut terkekeh. Lalu menyatakan, “Ntar, kalau kita udah pulang, coba search ke Google atau YouTube, siapa tahu film itu ada di internet. Coba tonton, dalam film itu ada bajingan bernama Pigus.”

Dia menatap saya. “Kamu serius?”

“Ya.”

“Ntar dulu. Film awal 1980-an? Emang kamu udah lahir? Ampun, bahkan umpama udah lahir pun, kamu pasti masih bayi!”

....
....

Malam hari, setelah kami pulang ke rumah masing-masing, dia menelepon saya, dan langsung berteriak, “Setan! Ternyata film itu benar-benar ada!”

Sambil kaget, saya menyahut, “Film apa?”

“Itu, film ‘Superman Indonesia’ yang kamu bilang tadi siang. Barusan aku cari di YouTube, ternyata film jadul itu benar-benar ada.”

“Ooh, jadi kamu udah nonton?”

“Iya, film anak-anak. Dalam film itu benar-benar ada tokoh antagonis bernama Pigus. Setan! Gimana kamu bisa tahu?”

Saya terkekeh, “Nggak penting gimana aku tahu. Yang penting aku nggak bohongin kamu.”

Rabu, 09 Maret 2016

Warisan Masa Lalu

Ada suatu masa ketika kebodohan menjadi mayoritas,
kedangkalan merasa paling benar, dan akal budi
umat manusia menuju ladang penyembelihan.
@noffret


Di masa lalu, jumlah kendaraan bermotor seperti sepeda motor masih sangat sedikit, dan masih sedikit pula yang memiliki. Jika kita bertanya pada orangtua kita mengenai hal itu, mereka pasti akan menceritakan bahwa di masa lalu—setidaknya era ‘80-an—pemilik sepeda motor hanya orang-orang kaya, para juragan, atau semacamnya. Karena itu pula, di satu kampung bisa jadi hanya ada beberapa orang yang punya sepeda motor. Sementara masyarakat umum biasa jalan kaki, naik becak, naik angkot, atau naik sepeda bagi yang punya.

Tetapi zaman telah jauh berubah. Sekarang, bisa dibilang hampir setiap keluarga memiliki sepeda motor. Tidak cukup satu, tapi kadang sampai dua, tiga, empat, atau lebih banyak lagi. Masing-masing anggota keluarga memiliki sepeda motor sendiri-sendiri. Sementara keluarga yang lebih mampu biasanya juga memiliki mobil atau beberapa mobil. Jika dulu sepeda motor dianggap barang mewah, sekarang sudah menjadi “barang biasa”.

Sebagaimana zaman yang telah jauh berubah, begitu pula wujud dan kemampuan sepeda motor. Di masa lalu, sepeda motor memiliki bentuk sederhana, bersahaja, tidak macam-macam. Sekarang, sepeda motor memiliki wujud yang sangat manis, keren, dan dapat dipacu hingga kecepatan tinggi—sesuatu yang tidak dimiliki sepeda motor zaman dulu.

Orang membeli sepeda motor hari ini tidak hanya karena faktor kebutuhan, tapi juga karena faktor kesukaan. Bisa karena menyukai wujudnya yang modis, atau karena menyukai kemampuan mesinnya yang hebat.

Dampak langsung dari makin banyaknya orang yang memiliki sepeda motor adalah jalan raya yang makin penuh, padat, dan sesak. Di masa lalu, karena jumlah sepeda motor masih sedikit, jalan raya masih lowong—belum sepadat sekarang. Kebanyakan pengguna jalan raya di masa lalu adalah sepeda, becak, dan angkot. Itu pun belum sebanyak sekarang.

Tetapi, kini, jalan raya adalah tempat yang luar biasa padat dan sesak. Setiap hari, setiap saat, sepeda motor berdesakan dengan mobil, dengan truk, dengan bus, dengan angkot, dengan becak, dengan sepeda, dengan berbagai angkutan lain. Jalan raya terus dibangun dan dilebarkan, tapi jumlah kendaraan juga terus bertambah dan semakin banyak. Itu konsekuensi akibat makin padatnya penduduk. Orang semakin banyak, kebutuhan transportasi semakin banyak, dan jalan raya semakin padat.

Kita lihat, semuanya berubah. Zaman berubah, jumlah pemilik kendaraan berubah, wujud kendaraan berubah, motivasi memiliki kendaraan juga berubah. Tetapi, menyangkut sepeda motor, ada satu hal yang tampaknya tidak berubah. Yaitu proses memanaskan mesin sepeda motor. Tampaknya, orang zaman sekarang masih menggunakan cara kuno dalam hal memanaskan mesin, tanpa menyadari bahwa itu sebenarnya kesalahan!
 
Di masa lalu, mesin sepeda motor masih sederhana, belum serumit sekarang. Rata-rata sepeda motor di masa lalu juga merupakan sepeda motor 2-tak yang menggunakan oli samping. Karenanya pula, para pemilik sepeda motor di masa lalu biasa memanaskan mesin sepeda motor hingga cukup lama, biasanya pula sambil menggerak-gerakkan gas motor, hingga suaranya terdengar seisi kampung.

Orang-orang di masa lalu perlu memanaskan mesin motor mereka, karena kenyataan bahwa sepeda motor di masa lalu memang membutuhkan hal itu. Mesin sepeda motor di masa lalu perlu dipanaskan terlebih dulu sebelum dipakai, dengan tujuan oli samping melumasi mesin-mesin motor. Hasil akhirnya, sepeda motor pun lebih enak saat dikendarai—dan mesinnya juga lebih awet—karena dijalankan dalam keadaan terlumas oli dengan baik.

Tetapi, hal semacam itu sudah tidak relevan, jika diterapkan pada sepeda motor keluaran zaman sekarang!

Mesin-mesin sepeda motor zaman sekarang—setidaknya keluaran ’90-an ke atas—telah jauh berubah dari mesin sepeda motor zaman dulu. Selain proses perakitannya yang telah jauh lebih presisi, motor-motor zaman sekarang juga umumnya 4-tak, dan tidak menggunakan oli samping. Karenanya pula, sepeda motor zaman sekarang tidak lagi membutuhkan pemanasan mesin “seheboh” sepeda motor di masa lalu. Bahkan sepeda motor 2-tak zaman sekarang pun sudah tidak perlu dipanaskan seperti sepeda motor 2-tak di zaman kuno, meski sama-sama menggunakan oli samping.

Di masa lalu, mesin sepeda motor kadang dipanaskan sampai setengah jam, atau setidaknya seperempat jam, dengan gas yang digerak-gerakkan hingga suaranya sangat keras. Di masa sekarang, mesin sepeda motor hanya cukup dipanaskan sekitar 1 sampai 5 menit. Itu pun tidak perlu ditambah “dolanan” gas hingga suaranya mengganggu tetangga!

Bahkan, sepeda motor-sepeda motor yang telah menggunakan sistem injeksi hanya perlu dipanaskan sekitar 1 menit! Sepeda motor injeksi yang dipanaskan lebih dari 1 menit bukan membuat mesin motor jadi bagus, tapi malah merusak motor itu sendiri! Semakin sering motor zaman sekarang dipanaskan dalam waktu lama, semakin cepat pula sepeda motor itu akan rusak.

Kita lihat, segalanya berubah, bahkan dalam urusan memanaskan mesin sepeda motor! Di masa lalu, memanaskan mesin sepeda motor hingga lama, dengan suara meraung-raung, memiliki dampak positif bagi mesin motor. Sekarang, memanaskan mesin dengan cara semacam itu justru merusak mesin motor! Segalanya berubah, tetapi... apakah kebanyakan pemilik sepeda motor memahami atau setidaknya menyadari kenyataan itu?

Kita pasti pernah—atau bahkan sering—mendapati orang memanaskan mesin sepeda motornya dengan suara meraung-raung, hingga sangat lama. Padahal, sepeda motor yang dipanaskan mesinnya itu keluaran tahun 2000-an, yang jelas-jelas baru. Biasanya, mereka memanaskan mesin di depan rumah, kadang saat pagi atau bahkan dini hari, hingga suara motor mereka masuk rumah-rumah tetangga. Orang-orang memaklumi hal itu, karena menganggap memanaskan mesin memang hal penting bagi motor. Orang-orang lain pun memanaskan mesin dengan cara serupa itu. 

Padahal, memanaskan mesin sepeda motor dengan cara semacam itu bukan hanya telah kuno dan ketinggalan zaman, tapi juga merusak motor itu sendiri.

Pertanyaannya, kenapa orang zaman sekarang masih menggunakan cara orang zaman kuno dalam memanaskan mesin motor? Jawabannya tentu sederhana, karena mereka meniru orang-orang zaman kuno! Memanaskan mesin motor adalah salah satu “warisan turun temurun” yang diikuti dari generasi ke generasi.

Bisa jadi, Si A hidup pada era ’70-an, dan biasa melihat tetangganya memanaskan mesin motor hingga lama, dengan suara meraung-raung. Ketika Si A membeli motor sendiri, dia pun meniru tetangganya. Lalu Si A mewariskan pengetahuan itu kepada anak-anaknya, dan anak-anak pun mengikuti. Mereka memanaskan mesin motor hingga lama setiap pagi, dengan suara meraung-raung, karena mengikuti ayah mereka. Lalu pengetahuan itu terus diwariskan dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi, tanpa peduli sepeda motor apa yang mereka miliki.

Taqlid buta itu berbahaya, termasuk taqlid buta dalam hal memanaskan mesin sepeda motor! Karena tidak tahu, atau karena tidak mau belajar, banyak orang menjalankan pengetahuan-pengetahuan kuno yang sudah ketinggalan zaman untuk diterapkan pada masa sekarang. Pengetahuan di masa lampau mungkin memang baik untuk masa lampau, tapi belum tentu baik jika diterapkan pada masa sekarang. Contohnya, seperti yang telah kita lihat, pada proses pemanasan mesin sepeda motor.

Hanya karena ketidaktahuan, atau karena malas belajar, banyak orang yang masih memanaskan mesin motor mereka setiap pagi, padahal motor yang mereka miliki keluaran baru. Mereka tidak menyadari, bahwa kebiasaan yang mereka lakukan itu bukan baik untuk motor yang mereka miliki, tapi justru merusak! Harapan memiliki motor yang lebih awet karena rajin dipanaskan, diam-diam menjadi harapan yang justru membusuk dari dalam.

Cobalah tanyakan pada mekanik otomotif modern yang berwawasan di mana pun, “Apakah mesin motor zaman sekarang perlu dipanaskan seperti mesin motor di zaman kuno?” Mereka pasti akan menjawab, “Tidak perlu!”

Pengetahuan tentang pemanasan mesin motor juga telah disebarluaskan di berbagai media—di buku, koran, majalah, sampai di internet—yang menjelaskan bahwa sepeda motor zaman sekarang hanya cukup dipanaskan 1 sampai 5 menit. Tetapi, anehnya, betapa sedikit orang yang mau mempelajari hal itu, hingga masih banyak orang yang masih menerapkan pengetahuan dari masa lalu. Setiap pagi, atau bahkan dini hari, mereka masiiiiiih saja memanaskan mesin motornya dengan suara meraung-raung, dan menganggap itu hal biasa, yang akan berdampak bagus bagi motornya.

Taqlid buta itu berbahaya, termasuk taqlid buta dalam hal memanaskan mesin sepeda motor! Persoalannya, jauh lebih banyak orang yang memilih untuk taqlid buta, daripada mempelajari hal-hal yang akan dilakukan atau diyakininya. Hanya karena leluhur dan orangtuanya meyakini atau melakukan sesuatu, mereka pun ikut meyakini dan melakukan sesuatu. Karena tetangga dan masyarakatnya melakukan sesuatu, mereka pun meniru dan ikut melakukan sesuatu.

Meyakini dan melakukan adalah satu hal. Tetapi pengetahuan atas keyakinan, dan kesadaran pada yang kita lakukan, adalah hal lain. Tanpa pengetahuan, keyakinan bisa merusak. Tanpa kesadaran, perbuatan yang kita anggap baik bisa jadi justru membusuk dari dalam. Tidak ada yang lebih mengerikan di dunia ini selain warisan kebodohan—pengetahuan yang diyakini benar, tapi sebenarnya sudah tak relevan.

Gerhana Matahari Bukan Urusan Saya

Beberapa hari sebelum munculnya gerhana matahari, beberapa teman mengajak ke Palembang, untuk menyaksikan fenomena alam itu. Tapi saya tidak tertarik. Sebenarnya, saya bahkan tidak tertarik blas!

“Ayolah,” kata mereka. “Ini femomena alam yang belum tentu akan muncul lagi seumur hidup kita.”

“Malas,” saya menyahut ogah-ogahan. “Aku tidak tertarik.”

“Kamu aneh,” ujar teman saya. “Orang-orang lain pada ribut gerhana matahari, dan mereka sangat antusias ingin menyaksikan, tapi kamu malah ogah-ogahan.”

Saya tersenyum. “Hidup adalah soal pilihan, dan menyaksikan gerhana matahari atau tidak juga pilihan.”

“Dan kamu memilih untuk tidak tertarik?”

Saya mengangguk. “Aku memilih untuk tidak tertarik.”

“Boleh tahu kenapa?”

“Well...” saya menjawab perlahan-lahan. “Ada jutaan orang yang tertarik dan ingin menyaksikan gerhana matahari. Selama berhari-hari, semua fokus seolah diarahkan pada fenomena itu. Artinya, sudah terlalu banyak orang di dunia yang mengurusi gerhana matahari. Padahal urusan hidup tidak hanya soal gerhana. Ada banyak hal lain yang juga perlu diperhatikan, dipikirkan, dan dipahami. Karena sudah terlalu banyak orang yang mengurusi gerhana matahari, aku memilih mengurusi yang lain saja. Lagi pula, siapalah aku ini? Aku tertarik atau tidak, matahari tetap akan gerhana. Jadi, mau ada gerhana matahari atau tidak, sama sekali bukan urusanku. Lebih dari itu, urusanku sudah terlalu banyak, dan jauh lebih penting dari gerhana matahari.”

....
....

Teman-teman saya batal ke Palembang.

Noffret’s Note: Menulis

Penulis yang baik adalah penulis yang terus mengasah diri. Tetapi bukan
cuma penulis yang punya kewajiban itu. Editor juga. Yang lain juga.
—Twitter, 21 Desember 2014

Sangat sedih mengetahui orang yang bekerja di dunia penerbitan, tapi
masih menggunakan aturan-aturan lama yang telah ketinggalan zaman.
—Twitter, 21 Desember 2014

“Tetapi” atau “namun” di awal kalimat harus ditambahi koma
. Tidak harus!
Memang boleh dan bisa, tapi tidak harus. Perhatikan perbedaannya.
—Twitter, 21 Desember 2014

“Dan” di awal kalimat harus ditambahi koma. “Lalu” di awal kalimat
harus ditambahi koma
. Itu aturan-aturan yang sudah ketinggalan zaman.
—Twitter, 21 Desember 2014

Kita menyadari perubahan ejaan lama ke ejaan baru. Sayangnya, kita
kadang tidak menyadari perubahan itu juga mencakup teknik penulisan.
—Twitter, 21 Desember 2014

Hanya karena kita mengerjakan sesuatu, atau karena sering
mengerjakan sesuatu, bukan berarti kita pasti memang ahli dalam hal itu.
—Twitter, 21 Desember 2014

Apa perbedaan penulis amatir dan penulis profesional? Sama-sama
menulis, tapi penulis profesional tidak hanya sekadar menulis.
—Twitter, 21 Desember 2014

Apa perbedaan pembalap amatir dan pembalap profesional? Sama-sama
memacu kecepatan, tapi pembalap profesional terjun ke sirkuit.
—Twitter, 21 Desember 2014

Ada aturan-aturan lama yang sudah diganti aturan-aturan baru,
termasuk dalam bahasa tulis. Memperbarui pengetahuan adalah kewajiban.
—Twitter, 21 Desember 2014

Terlalu sedikit pembubuhan koma menjadikan pembaca kehabisan napas.
Terlalu banyak meletakkan koma menjadikan pembacaan tersendat-sendat.
—Twitter, 21 Desember 2014

“Kata ‘Dan’ di awal kalimat harus diikuti koma.” | Aturan itu sudah usang! Semestinya kita memperbarui pengetahuan, agar tidak ketinggalan.
—Twitter, 21 Desember 2014


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Sabtu, 05 Maret 2016

Permainan yang Tak Mungkin Dimenangkan

Pengalaman adalah guru yang keras.
Ia memberi ujian lebih dulu, dan pelajaran belakangan.
@noffret 


Catatan ini saya tulis gara-gara mendengar omongan selintas dua lelaki tua di warung makan. Siang itu saya makan di warung, dan ada dua lelaki tua bercakap-cakap. Usia mereka mungkin sekitar 60-an. Meski saya tidak bermaksud menguping, tapi saya tetap mendengar percakapan mereka, karena dua lelaki itu tepat di sebelah duduk saya. Warung juga sepi, selain hanya ada saya, dua lelaki itu, dan pemilik warung.

Seorang dari lelaki tua itu menceritakan, ada keluarga tetangganya yang hancur gara-gara judi. Seluruh barang di rumah dijual demi judi, sampai anak istri telantar. “Main judi itu nyandu,” ujar lelaki yang menceritakan kisah itu. “Orang, kalau sudah kecanduan judi, jadi lupa segalanya. Apa saja dijual demi bisa main judi.”

Lelaki temannya menyahut, “Banyak yang begitu. Tetangga saya juga ada yang begitu. Sampai kendaraan dijual, rumah digadaikan, utang di mana-mana. Sekarang istrinya nuntut cerai gara-gara ribut terus.”

Lalu pemilik warung makan—yang juga laki-laki tua—ikut nimbrung dalam percakapan tersebut, dan topik judi itu pun kemudian melebar ke mana-mana.

Seusai makan, saya menyulut rokok, dan—akhirnya, mau tak mau—saya menyimak percakapan mereka. Oh, well, mereka tiga lelaki tua yang tentunya telah kenyang makan asam garam kehidupan, dan saya—sebagai bocah—perlu belajar pada mereka. Siapa yang tahu kalau ternyata tiga lelaki itu sebenarnya Socrates, Plato, dan Aristoteles?

Gara-gara mendengarkan percakapan mereka pula, saya pun teringat pada pengalaman pribadi menyangkut judi.

Dulu, saat masih hidup di jalanan, saya kerap mendapati permainan judi yang disebut uter-uter. Saya tidak tahu apa istilah bahasa Indonesia untuk jenis judi tersebut, tapi orang-orang biasa menyebutnya “uter-uter”. Dalam permainan uter-uter, si bandar akan menggelar sebuah karton berisi 12 kotak. Masing-masing kotak diberi angka 1 sampai 12. Kemudian, si bandar juga menyiapkan sebuah piringan yang dilengkapi jarum, dan di piringan itu terdapat petak-petak berisi angka, dari 1 sampai 12.

Dalam permainan uter-uter, orang-orang (para pemain) meletakkan uang di karton—bisa memilih meletakkan uangnya di angka 1, 2, 3 atau lainnya, sampai angka 12. Kemudian, bandar akan memutar piringan berisi angka-angka, dan menunggu sampai piringan berhenti sendiri.

Ketika piringan berhenti berputar, jarum akan menunjuk salah satu angka. Jika jarum menunjuk angka 6 pada piringan, misalnya, maka orang yang meletakkan uang di nomor 6 pada karton mendapat kemenangan. Cara main uter-uter agak mirip judi rolet (roulette), tapi dalam versi sederhana.

Pemenang uter-uter berhak mendapat 10 kali lipat dari uang yang dipertaruhkan. Artinya, jika seseorang meletakkan uang sebesar Rp. 10.000, misalnya, dan angka yang ia pilih kebetulan tepat (sesuai berhentinya angka pada jarum penunjuk piringan), maka ia berhak mendapatkan Rp. 100.000. Semakin besar uang yang dipertaruhkan, semakin besar pula kemenangan yang mungkin akan didapat.

Permainan uter-uter pernah sangat populer, dan sering muncul setiap kali ada keramaian, misalnya pasar malam. Dulu, karena terpengaruh teman-teman, saya pernah iseng ikut-ikutan. Saya membayangkan, pasti enak rasanya mendapat banyak uang tanpa kerja keras. Tetapi, oh sialan, tak peduli berapa kali pun saya ikut permainan tersebut, saya tidak pernah menang.

Memang, kadang-kadang saya mendapat kemenangan sementara. Saya sebut “sementara”, karena kemenangan yang didapat tidak bisa terus menerus. Sekali dua kali, atau bahkan beberapa kali, angka yang saya pilih tepat, dan saya mendapat uang cukup banyak. Karena senang, saya pun makin menggila, dan terus main. Lalu uang hasil kemenangan itu habis. Lalu saya penasaran. Besoknya, kalau ada uang, saya mencoba lagi, dan menang lagi, dan habis lagi, dan begitu seterusnya.

Yang mengalami hal semacam itu bukan cuma saya, tapi semua teman yang ikut permainan itu juga mengalami hal serupa. Mula-mula merasa menang, dapat uang cukup banyak, makin keasyikan, dan uang lalu habis. Karena penasaran, besoknya main lagi, dan begitu terus tak habis-habis. Akhirnya, saya pun menyadari, permainan itu tak bisa dimenangkan. Tingkat probabilitas dalam permainan itu memiliki risiko sangat tinggi, bahkan bisa dibilang mustahil dimenangkan.

Seperti yang saya jelaskan tadi, ada 12 angka pada karton dan pada piringan. Orang yang meletakkan uangnya pada satu angka tertentu akan mendapatkan 10 kali lipat jumlah uang yang ia pertaruhkan, jika angka yang dipilih kebetulan tepat ditunjuk jarum pada piringan. Artinya, tingkat kemenangan yang mungkin terjadi adalah 1:12:10 (1 banding 12 banding 10). Itu bukan hanya tingkat probabilitas yang sangat tinggi, tapi juga sulit—bahkan mustahil—dimenangkan.

Sekilas, mendapatkan 10 kali lipat dari uang yang kita pertaruhkan memang tampak menggiurkan. Tetapi, kenyataannya, uter-uter adalah permainan yang dirancang agar para pemain tidak bisa menang.

Umpama kita meletakkan uang, masing-masing Rp. 10.000, pada semua kotak angka yang ada (dari angka 1 sampai 12), artinya kita mempertaruhkan uang sejumlah Rp. 120.000. Menggunakan logika, tentunya mau tak mau, tidak bisa tidak, kita pasti akan menang, karena kita meletakkan uang pada semua angka yang ada. Tak peduli jarum pada piringan menunjuk angka berapa pun, kita akan tetap memenangkan permainan, karena ada uang kita di semua angka. Tetapi, kenyataannya, bagaimana pun juga kita akan kalah, karena uang kita tetap berkurang!

Paham yang saya maksud?

Ada 12 angka dalam permainan itu, dan—jika menang—kita mendapatkan 10 kali lipat dari uang yang kita pertaruhkan. Jika kita meletakkan uang Rp. 10.000 pada dua belas angka yang ada, artinya kita mempertaruhkan uang sejumlah Rp. 120.000. Akan ada 1 angka yang menang, dan artinya kita mendapatkan Rp. 100.000 sebagai kemenangan. Dalam teori, kita menang. Tetapi, dalam kenyataan, kita tetap kalah karena kehilangan Rp. 20.000 dari modal Rp. 120.000 yang tadi kita pertaruhkan.

Ketika menyadari kenyataan itu, saya pun tidak pernah mencoba main lagi, karena menyadari bahwa permainan itu memang dirancang untuk membuat para pemain kalah. Tak peduli berapa kali pun kita mencoba bermain, tetap saja kita menghadapi tingkat probabilitas yang sulit—bahkan mustahil—dimenangkan, yaitu 1 banding 12 banding 10. Bahkan Albert Einstein atau Stephen Hawking, atau bahkan Leonardo DaVinci pun akan pusing, jika diminta memenangkan permainan itu!

Sejak itu pula, saya tidak sudi main uter-uter!

Selama bertahun-tahun kemudian, seiring makin dewasa, saya tidak pernah lagi bersentuhan dengan permainan semacam itu. Sampai kemudian, pas kuliah, beberapa teman kadang mengobrolkan judi togel. Mula-mula saya tidak tertarik. Tetapi, karena sering mendengar obrolan soal itu, akhirnya saya pun penasaran. Lalu mulai bertanya-tanya. Tentang bagaimana cara permainannya, berapa jumlah kemenangannya, dan lain-lain.

Salah satu teman saya yang doyan main togel bernama Roni (bukan nama sebenarnya). Dia senior saya di kampus, tapi kami berteman akrab. Roni kerap menceritakan pengalamannya dalam hal itu—kadang kalah, kadang menang. Biasanya, dia akan tampak sumringah ketika pas menang, karena jumlah kemenangan bisa mencapai jutaan. Dari Roni pulalah saya mendapat penjelasan cukup rinci mengenai cara permainannya.

Sebenarnya, secara garis besar, judi tersebut juga memiliki tingkat probabilitas yang sangat tinggi. Tetapi, saya agak tertarik dengan salah satu jenis permainan yang disebut “colok”. Dari semua jenis yang ada, colok memiliki tingkat probabilitas paling rendah, meski jumlah kemenangan juga tergolong rendah. Kalau tak salah ingat, colok memberi hasil kemenangan di atas 100 persen (mungkin 110-120 persen) dari uang yang dipertaruhkan.

Jadi, umpama kita mempertaruhkan uang sejumlah 1 juta, kita punya kemungkinan mendapatkan 2 juta lebih, jika angka yang kita pilih benar-benar tepat.

Suatu hari, setelah memikirkan permainan itu cukup lama, saya tertarik mencoba. Saya nitip uang pada bocah ini, untuk digunakan sebagai taruhan di permainan colok. (Dia teman kuliah saya, dan kadang main colok, tapi sering kalah). Saat menyerahkan sejumlah uang kepadanya, saya menyebut angka yang saya pilih, dengan jumlah komisi untuk dia kalau angka pilihan saya tepat.

Dia pun membawa uang saya, dan mempertaruhkannya pada angka yang saya pilih. Besoknya, pas kuliah, dia menyerahkan sejumlah uang hasil kemenangan. Angka yang saya pilih benar-benar tepat!

Sambil cengengesan, dia menawari saya untuk main lagi. Saya pun tertarik, dan menyerahkan sejumlah uang agar dipertaruhkan lagi. Saya kembali menyebut angka yang saya pilih. Lalu dia pertaruhkan uang saya seperti yang saya minta. Besoknya, saya menang lagi.

Kejadian itu terus berlangsung. Setiap beberapa hari, saya menyerahkan uang untuk dipertaruhkan, dan besoknya saya menerima sejumlah uang kemenangan karena angka pilihan saya tepat. Saya senang karena mendapat kemenangan terus menerus. Teman saya juga senang, karena dapat komisi, juga dapat kemenangan sendiri. Saat mempertaruhkan uang saya, dia juga mempertaruhkan uangnya sendiri pada angka yang saya pilih. Karena angka yang saya pilih selalu menang, dia pun ikut menang.

Karena bisa dibilang saya selalu menang, dan angka pilihan saya tidak pernah meleset satu kali pun, kabar itu kemudian beredar di kalangan teman-teman sekampus, khususnya yang juga suka permainan tersebut. Setiap hari, biasanya terjadi bisik-bisik, “Hoeda pilih angka berapa?” Lalu mereka ikut mempertaruhkan uang pada angka yang saya pilih. Lalu besoknya mereka tampak cengengesan karena menang semua.

Tetapi pesta pasti berakhir, kata Rhoma Irama. Dan judi, kita tahu, tak pernah memiliki kemenangan abadi.

Suatu hari, Roni—teman yang saya ceritakan di atas—mengalami kecelakaan parah. Saat saya menengoknya, kondisinya sangat menyedihkan. Tulang bahunya patah, dan sekujur tubuhnya luka-luka. Saat kami hanya berdua di kamarnya, Roni berkata pada saya, “Kamu boleh percaya boleh tidak, tapi aku yakin kecelakaan ini terjadi sebagai peringatan agar aku berhenti main judi.”

Saya menatapnya serius, “Kenapa kamu berpikir begitu, Ron?”

Dengan kepayahan karena kondisinya, Roni menjelaskan, “Teman-temanku, yang sama-sama suka main judi, semuanya mengalami kecelakaan parah. Waktu satu dua temanku yang mengalami kecelakaan, aku masih berpikir itu cuma kebetulan. Tapi saat semuanya mengalami kecelakaan parah, bahkan aku sendiri juga mengalami, aku pun sekarang percaya. Aku bersumpah, setelah sembuh nanti, aku tidak akan pernah lagi main judi seumur hidupku.”

Roni mengalami kecelakaan saat akan mengambil uang kemenangannya dari hasil judi. Motornya hancur, sementara tubuhnya terluka parah. Kelak, Roni butuh waktu sampai setahun lebih untuk pulih, dan menghabiskan biaya yang sangat besar.

Saat itu, masih dengan kepayahan akibat kondisinya, Roni berkata, “Berhentilah, jangan teruskan. Kamu tidak ingin mengalami kondisi seperti yang kualami sekarang.”

Waktu itu, jujur saja, saya tidak terlalu terpengaruh omongan Roni. Jadi, meski telah diingatkan, saya tetap meneruskan kebiasaan main colok, dan selama itu pula saya terus menang dan terus menang. Teman-teman yang mengikuti saya juga ikut menang, karena mereka memilih angka yang saya pilih.

Suatu hari, seperti biasa, saya menitipkan uang pada teman saya, untuk dipertaruhkan pada permainan colok. Seperti biasa pula, saya yakin akan menang seperti hari-hari sebelumnya. Besoknya, saat di kampus, dia tidak masuk karena tidak ada mata kuliah yang diikuti. Maka saya pun meneleponnya, dan menanyakan, “Apakah aku menang?”

Dia menjawab, “Ya, kamu menang. Seperti biasa.”
 
“Bagus. Nanti sore aku ke rumahmu.”

Sore hari, saya pergi ke rumahnya, dengan maksud untuk mengambil uang kemenangan, sekaligus nitip lagi untuk permainan selanjutnya. Pada waktu itulah, saya mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan.

Saat keluar dari rumah, saya tidak punya firasat apa-apa. Saat ngebut di jalanan, saya juga asyik-asyik saja seperti biasa. Tapi kemudian ada mikrolet sialan, dan truk keparat, dan kemacetan bangsat, yang terjadi seolah tiba-tiba, dan... well, singkat cerita, saya terlindas truk.

Ini serius!

Jadi, saya melaju dengan kecepatan tinggi dari arah utara. Di depan saya, sebuah mikrolet tiba-tiba banting setir ke arah kiri. Secara spontan, saya membawa motor ke kanan, agar tidak menabrak mikrolet. Sial, tepat di depan saya, dari arah selatan, sebuah truk melaju. Saya pun menabrak truk—atau truk itu menabrak saya—dan saya jatuh, terkapar di aspal, dan tangan kanan saya terlindas ban truk.

Kelak, saya butuh waktu sampai dua tahun lebih untuk pulih dari luka-luka akibat kecelakaan sore itu. Hanya karena keajaiban, tangan saya masih utuh dan bisa digunakan. Bahkan sampai sekarang, bekas akibat kecelakaan itu masih ada. Di tangan kanan saya masih terdapat bekas luka akibat terlindas truk bertahun-tahun lalu.

Selama menjalani hari-hari yang memedihkan setelah kecelakaan, saya pun teringat ucapan Roni, “Berhentilah, jangan teruskan. Kamu tidak ingin mengalami kondisi seperti yang kualami sekarang.”

Sekarang saya percaya ucapan Roni. Pesta pasti berakhir, dan tidak ada orang yang menang dalam permainan judi. Bahkan meski kita tampak selalu menang, selalu ada cara agar kita tetap kalah. Misalnya mengalami kecelakaan parah. Seperti yang dialami Roni, teman-temannya, juga saya. Alam semesta tidak mengizinkan kita mengambil keuntungan dari cara semacam itu.

Jadi, sama seperti Roni, saya pun menyampaikan hal sama pada teman-teman yang menjenguk, ketika saya terbaring menyedihkan akibat kecelakaan itu, “Berhentilah, jangan teruskan. Kamu tidak ingin mengalami kondisi seperti yang kualami sekarang.”

....
....

Well, masa-masa itu telah jauh berlalu. Tapi bekas luka di tangan kanan saya masih ada. Dan setiap kali melihatnya, saya pun seperti diingatkan untuk belajar pada pengalaman. Kenyataannya, memang, pengalaman adalah guru paling baik, paling brutal, sekaligus paling mahal.

Lakukan Ini, dan Kau akan Kaya

Kerja, sialan!

Hak untuk Bertanya

Hak yang kita punya tapi sering tak digunakan, mungkin, adalah hak
untuk bertanya. Orang lebih suka bicara, atau menghakimi, tanpa bertanya.
—Twitter, 13 Agustus 2015

Seseorang bangun tidur jam 8 pagi, dan kita memakinya pemalas,
tanpa tahu bahwa dia tidur jam 7 pagi, dan baru tidur 1 jam.
—Twitter, 13 Agustus 2015

Socrates suka bertanya, dan dia mengaku tidak tahu apa-apa. Sering kali
aku ngeri membayangkan, apa sebenarnya yang benar-benar kita tahu?
—Twitter, 13 Agustus 2015

Sebenarnya, manusia senang ditanya tentang diri dan hidup mereka,
selama pertanyaan tidak diawali kata “Kapan”. Misalnya “Kapan kawin?”
—Twitter, 13 Agustus 2015

Pertanyaan, “Kenapa kamu tidak/belum menikah?” lebih baik
dan lebih empatik, daripada, “Kapan kawin?”
—Twitter, 13 Agustus 2015

Pertanyaan, “Kamu sudah makan?” lebih simpatik
dan lebih enak didengar, daripada, “Kapan mau makan?”
—Twitter, 13 Agustus 2015

Pertanyaan, “Bagaimana kuliahmu?” lebih enak didengar
dan lebih mudah dijawab, daripada, “Kapan mau lulus?”
—Twitter, 13 Agustus 2015

Cara kita bertanya lebih banyak memperlihatkan siapa dan seperti apa
diri kita, daripada upaya pecitraan yang mungkin kita lakukan.
—Twitter, 13 Agustus 2015

Aku menjauh dari orang yang suka bertanya “kapan kawin?” seperti
aku menjauhi malaria. Oh, sebenarnya, mereka lebih buruk dari malaria.
—Twitter, 13 Agustus 2015


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Kehebatan Bocah

Seorang bocah berkata pada ibunya, “Mama! Mamaaaa!”

“Ya, Sayang,” sahut ibunya. “Kenapa?”

“Aku ini biktoh.”

“Kamu ini... apa?”

“Biktoh. Aku ini biktoh!”

Ibunya mengerutkan kening. “Apa itu biktoh?”

“Aku tidak tahu!”

“Kenapa kamu tidak tahu?”

“Aku tidak tahu kenapa aku tidak tahu,” sahut si bocah dengan gelisah. “Tapi aku ini biktoh, Mama! Aku ini biktoooooooh!”

“Uh...”

“Aku ini biktoh, Mama, aku ini biktooooooooh...!”

“Iya, iya, kamu biktoh.” Lalu si ibu membelai kepala si bocah, dan berkata menenteramkan, “Tentu saja kamu biktoh.”

Lalu si bocah tenang.

....
....

Memang paling menyenangkan menjadi bocah.
 
Selasa, 01 Maret 2016

Sebuah Kampus di Enid

Kalau orang bersedia mati untuk mendapatkan apa pun
yang dia inginkan, dia akan mendapatkan.
@noffret


Enid adalah kota kecil di wilayah Oklahoma, Amerika Serikat. Di kota itu terdapat sebuah kampus, bernama Enid University. Bukan kampus megah, apalagi terkenal. Tetapi kampus itu menyimpan sebuah kisah luar biasa, mengenai perjalanan hidup seorang bocah yang tak kalah luar biasa. Bocah itu bernama Harold Hamm.

Harold Hamm adalah bocah yang lahir di Lexington, Oklahoma, Amerika Serikat. Dia anak bungsu dari 12 bersaudara. Dia dan keluarganya tinggal berdesakan di rumah sempit berdinding kayu, yang hanya memiliki satu kamar, dan tidak memiliki toilet. Tak perlu dikatakan, kehidupan keluarga Harold Hamm sangat miskin. Setiap malam, Harold Hamm tidur di lantai rumah, berdesakan dengan 11 kakaknya.

Di Oklahoma, khususnya di Lexington, ada banyak tanah pertanian kapas. Beberapa tuan tanah menguasai pertanian kapas tersebut, dan banyak orang di sana yang bekerja sebagai buruh. Ayah Harold Hamm termasuk salah satu orang yang bekerja sebagai buruh di pertanian kapas. Berbeda dengan umumnya buruh pabrik, buruh di pertanian kapas hanya mendapat upah ketika musim panen. Upahnya pun bukan uang, melainkan bagi hasil kapas.

Biasanya, setelah mendapat upah bagi hasil kapas, para buruh tani membawa kapas miliknya ke pasar untuk dijual. Biasanya pula, hasilnya sangat sedikit, karena harga kapas di pasar selalu jatuh setiap kali musim panen. Dengan kondisi semacam itu, ayah Harold Hamm kesulitan untuk bisa menghidupi keluarganya secara layak. Anak-anaknya pun putus sekolah, termasuk Harold Hamm.

Setelah putus sekolah, kakak-kakak Harold Hamm bekerja apa adanya—sebagian mengikuti jejak ayah mereka, menjadi buruh di pertanian kapas. Harold Hamm sempat terpikir untuk juga mengikuti jejak ayahnya di pertanian kapas. Tapi dia berpikir, jika itu yang dilakukan, maka hidupnya tidak akan berbeda dengan hidup yang selama ini dijalaninya. Dia menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Dengan segala kepolosannya sebagai bocah putus sekolah, Harold Hamm lalu pergi ke Enid, dan di kota kecil itu ia berusaha mencari kerja.

Karena hanya lulusan SD, Harold Hamm tidak banyak berharap. Ia hanya menginginkan pekerjaan yang bisa dilakukan, agar bisa makan dan menyambung hidup. Saat menemukan pom bensin, dia menemui petugas di sana, menanyakan apakah ada lowongan di pom tersebut. Petugas yang ia temui menjelaskan, “Sayang sekali tidak ada lowongan di sini. Tapi kau bisa bekerja sebagai pembersih truk yang biasa parkir di sini.”

Pom bensin itu berdekatan dengan kilang minyak. Setiap hari, beberapa truk pengangkut minyak berhenti di pom bensin, dan ada beberapa orang yang bekerja membersihkan truk-truk itu. Harold Hamm memutuskan untuk bekerja sebagai pembersih truk. Penghasilannya tidak terlalu besar. Tapi Harold Hamm adalah bocah yang memiliki visi. Dia tahu yang diinginkannya dalam hidup, dan dia telah bersiap untuk membayar yang ia inginkan.

Dari pekerjaannya sebagai petugas pembersih truk, Harold Hamm menggunakan upah yang diterimanya untuk makan, dan sebagian ditabung. Dia melakukannya sampai sangat lama—setiap hari dia makan seirit mungkin, agar bisa menabung lebih banyak. Setelah uang tabungannya cukup, dia melanjutkan sekolahnya yang terputus dengan biaya sendiri, sampai kemudian lulus dari Enid High School (setingkat SMA).

Dengan segala keterbatasan yang ia miliki, Harold Hamm menyadari bahwa akar kemiskinan keluarganya adalah kurang pendidikan. Ayahnya menjadi buruh di pertanian kapas dengan upah yang sangat minim, akibat kurang pendidikan. Kakak-kakaknya terpaksa meneruskan jejak ayah mereka, bekerja dengan upah sangat minim, menjalani kehidupan yang sangat berkekurangan, juga karena tidak mendapat pendidikan yang layak.

Harold Hamm tidak ingin mengulangi hal itu. Dia ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, dan untuk itu dia harus mendapatkan pendidikan yang baik. Karena itulah dia rela menabung bertahun-tahun, demi bisa bersekolah. Tapi sekuat apa pun dia menabung, tetap saja kemampuannya terbatas. Dia hanya buruh pembersih truk, dengan upah yang tidak terlalu besar. Meski ia sanggup membiayai sekolah sampai tingkat SMA, dia tidak mampu membayar biaya kuliah yang sangat tinggi.

Jadi begitulah. Setelah lulus dari Enid High School, Harold Hamm tidak bisa melanjutkan kuliah, meski ia sangat ingin. Tidak ada biaya mungkin alasan klise. Tapi alasan klise itulah yang menjegal impian Harold Hamm untuk bisa mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi.

Meski kota kecil, Enid merupakan salah satu pusat kilang minyak yang berkembang. Ada banyak kilang minyak yang aktif di sana. Pengalaman setiap hari dengan truk pengangkut minyak, membuat Harold Hamm bermimpi suatu hari nanti bisa memiliki bisnis minyak. Oh, well, sebuah impian naif seorang bocah. Dia tidak tahu apa-apa soal minyak, apalagi bisnis minyak. Dia hanya tahu bahwa orang-orang yang berbisnis minyak menjalani kehidupan enak dan kaya-raya. Harold Hamm ingin bisa seperti itu. Meski tidak tahu caranya.

Jika dia menceritakan pada temannya, tentang keinginan memiliki bisnis minyak, pasti dia akan ditertawakan. Jadi, Harold Hamm memendam impian itu dalam hati, dan mulai merencanakan bisnis impiannya. Seperti yang dulu dilakukannya, dia kembali menabungkan sebagian hasil gajinya, dan diam-diam mempelajari seluk beluk bisnis perminyakan secara otodidak. Seiring dengan itu, dia juga mencari peluang bisnis yang bisa ia masuki.

Suatu hari, Harold Hamm melihat peluang dan mendapat sebuah ide. Berdasarkan yang ia tahu, jumlah truk pengangkut minyak yang ada di sana sangat tidak memadai. Ada banyak minyak yang harus diangkut, tapi truk yang tersedia sangat minim. Harold Hamm berpikir, dia bisa memulai usaha penyewaan truk pengangkut minyak. Dengan menyewakan truk, pikirnya, dia bisa mendapatkan penghasilan cukup besar.

Tetapi, masalahnya, dia tidak punya modal untuk membeli truk. Uang yang ia tabung masih sangat sedikit, dan masih jauh untuk bisa membeli truk. Maka, dengan tekad membaja, Harold Hamm pun bekerja jauh lebih keras, siang malam tanpa henti, tanpa libur satu hari pun, demi bisa mengumpulkan cukup banyak uang. Sampai dua tahun dia bekerja seperti budak—sangat keras, siang malam, tanpa libur, nyaris tanpa istirahat, membersihkan truk mana saja yang perlu dibersihkan—sampai uang tabungannya cukup besar.

Suatu malam, setelah menghitung jumlah tabungannya yang lumayan, dia berpikir. Masih butuh beberapa tahun lagi untuk bisa mengumpulkan sejumlah uang, agar bisa membeli truk seperti yang diimpikannya. Bisa dua tahun lagi, atau bahkan bisa lima tahun, tujuh tahun, atau lebih lama. Padahal dia sudah tak sabar untuk mewujudkan impian, memasuki peluang bisnis yang ada di depan mata. Dia sangat yakin pada visinya, bahwa bisnis penyewaan truk memiliki prospek bagus.

Karena keyakinannya pula, Harold Hamm lalu memberanikan diri untuk berutang ke bank. Pada petugas di bank, dia menjelaskan rencana bisnisnya, serta keyakinan mengenai keberhasilan bisnis yang akan dijalankan. Petugas bank manggut-manggut mendengarkan bocah berpenampilan lusuh itu menjelaskan banyak hal. Setelah itu, dia berkata pada Harold Hamm, “Kami percaya pada rencana bisnismu, Nak. Yang masih jadi masalah, kami tidak percaya kepadamu.”

Harold Hamm pun kemudian menyadari, bahwa dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah bocah miskin, pekerja kasar, tukang bersih truk minyak! “Kenapa aku berpikir bank akan mau meminjamkan uang kepadaku?” pikir Harold Hamm dengan patah hati, saat melangkah lunglai meninggalkan kantor bank.

Hari itu, karena kekecewaannya, Harold Hamm pun tidak bekerja segiat biasa. Beberapa kali dia melamun, dengan perasaan getir, memandangi truk-truk pengangkut minyak di sana, dan membayangkan kalau saja dia punya uang....

Perubahan pada diri Harold Hamm rupanya terlihat oleh Shawn Philips, seorang petugas di kontraktor yang melakukan penambangan minyak di sana. Melihat Harold Hamm hari itu tampak lesu, Shawn Philips menegur dengan ramah, “Hei, Harold, kelihatannya kau tidak segiat biasa. Sedang ada masalah?”

Harold Hamm mengenal Shawn Philips sebagai lelaki yang baik, dan mereka juga cukup akrab. Jadi, Harold Hamm pun memberanikan diri menceritakan kegalauannya hari itu. Bahwa dia punya rencana bisnis yang bagus, tapi uangnya tidak mencukupi, dan bahwa bank tidak mau meminjamkan modal karena tidak percaya kepadanya.

Shawn Philips mendengarkan penuturan bocah itu, kemudian berkata, “Kau pekerja yang sangat giat, Harold, dan aku percaya kepadamu.”

Karena kepercayaannya pula, Shawn Philips lalu membantu Harold Hamm dengan cara meminjamkan namanya untuk keperluan utang di bank. Karena yang meminjam Shawn Philips, bank percaya, dan sejumlah uang pun dikeluarkan sebagai pinjaman. Shawn Philips menyerahkan uang itu kepada Harold Hamm, dan Harold Hamm segera menggunakannya untuk membeli truk. Awal impiannya telah tercapai!

Tepat seperti yang telah dibayangkan Harold Hamm sebelumnya, usaha penyewaan truk itu berjalan dengan baik serta lancar. Sejak itu, dia memiliki konsumen yang menyewa truknya, untuk keperluan pengangkutan minyak. Dalam waktu tak terlalu lama, Harold Hamm telah mampu mengembalikan uang yang ia pinjam pada bank melalui Shawn Philips.

Karena banyak kilang minyak yang terus membutuhkan sarana transportasi pengangkut, usaha Harold Hamm pun terus berkembang, hingga dia bisa membeli truk-truk lain. Makin membesarnya usaha yang ia jalankan, Harold Hamm lalu terpikir untuk memberi nama bagi usahanya. Sebagai bentuk terima kasih kepada Shawn Philips yang dulu membantunya, dia menamai usahanya “Hamm-Philips Service Co”.

Impian awal Harold Hamm telah tercapai—bisnis persewaan truknya terus berkembang. Tetapi itu hanya impian awal, batu loncatan untuk menuju impian yang paling diinginkannya, yakni berbisnis minyak! Karenanya, seiring menjalankan usaha persewaan truk, Harold Hamm terus mempelajari bisnis perminyakan, dan tak henti mencari peluang. Dia bahkan memasang peta Oklahoma di kamar tidur, dan setiap saat mempelajari peta tersebut untuk mencari tahu di mana kira-kira sumur minyak berada yang belum ditemukan orang lain.

Berdasarkan pencariannya, Harold Hamm menemukan suatu peluang. Di daerah Alfalfa, Oklahoma, ada ladang minyak yang ditinggalkan pemiliknya karena mengalami kebakaran. Ada satu sumur minyak yang telah digali di ladang itu, namun proses penggalian dihentikan karena terjadi kebakaran. Setelah itu, sumur di sana pun ditinggalkan begitu saja.

Harold Hamm menemui pemilik ladang tersebut. Dengan uang yang telah ia tabung dari penghasilannya menyewakan truk, dia bisa membeli ladang itu, lalu meneruskan penggalian. Untuk hal itu, Harold Hamm sampai mengeluarkan banyak uang, dan penggalian rupanya membutuhkan ketekunan serta kerja keras yang luar biasa. Tapi Harold Hamm seorang pekerja keras. Dia tidak berhenti sebelum impiannya tercapai. Meski proses penggalian tampaknya tidak menampakkan hasil apa pun, dia terus menggali dengan tekun.

Hasilnya menakjubkan.

Sumur yang tampak kering, yang semula tidak menampakkan apa pun, perlahan-lahan menunjukkan kekayaannya. Minyak yang terpendam di dasar sumur itu pun akhirnya muncul, dan sejak itu Harold Hamm bisa menambang 20 barel minyak per jam, atau sekitar 480 barel minyak per hari.

Setelah sumur pertama bisa ditambang, Harold Hamm menggali sumur kedua. Hasilnya lebih menggembirakan. Sumur kedua menghasilkan 75 barel minyak per jam. Setelah itu, sumur ketiga digali, dan menghasilkan minyak hingga 100 barel per jam. Potensi itu pun membuat Harold Hamm memberanikan diri membangun perusahaan pengeboran sendiri. Lalu Continental Resources pun lahir, sebagai perusahaan pengeboran minyak milik Harold Hamm.

Hanya dalam waktu satu tahun, Harold Hamm bisa menambah kilang-kilang minyak miliknya, hingga menjadi 13. Dengan 13 kilang minyak, dia bisa menghasilkan sangat banyak produksi, dan itu artinya juga mendapatkan lebih banyak uang. Impiannya telah tercapai—dia telah memiliki bisnis minyak, dan menjadi jutawan. Tapi dia menyadari, langkahnya masih jauh.

Dengan uang yang kini dimiliki, Harold Hamm mendaftar kuliah di Phillips University, dan mengambil jurusan ilmu geologi. Selama kuliah, dia menghabiskan waktunya di kampus untuk mempelajari semua hal tentang geologi, hingga tahu betul seluk beluk dunia perminyakan. Dia percaya bahwa pendidikan sangat penting untuk menjalani kehidupan, dan dia mendidik dirinya sendiri dengan sangat keras.

Setelah lulus kuliah, dengan pengetahuan yang lebih baik, Harold Hamm membawa perusahaannya berekspansi ke wilayah Midwest dan Rockies. Di sana dia fokus pada penggalian minyak dan gas, sampai kemudian menemukan ladang minyak baru di Hills Field, North Dakota. Penemuan itu merupakan yang terbesar di AS dalam 20 tahun terakhir. Ladang minyak di sana memiliki kandungan minyak mencapai 135 juta barel, dengan cadangan sekitar 3,6 miliar barel. Kini, blok itu menjadi blok minyak di darat terbesar urutan keenam di Amerika Serikat. Volume produksinya mencapai 100.000 barel per hari.

Harold Hamm, bocah miskin anak buruh petani kapas, yang tiap malam tidur di lantai berdesakan dengan keluarganya, yang sempat putus sekolah karena tidak ada biaya, kini menjadi miliuner yang menjalankan salah satu bisnis minyak terbesar di Amerika Serikat. Ketika majalah Forbes menyusun rangking orang-orang terkaya di dunia pada 2015, nama Harold Hamm masuk sebagai salah satu di antara 100 orang terkaya di dunia, dengan nilai kekayaan bersih senilai 12,2 miliar dollar.

Meski begitu, Harold Hamm tidak pernah melupakan Enid, kota kecil tempatnya dulu pertama kali merintis karir sebagai pembersih truk di pompa bensin. Sebagai ucapan terima kasih kepada kota itu, Harold Hamm mendirikan perguruan tinggi di sana, dengan nama Enid University. Kampus itu menampung para lulusan SMA terbaik di Enid, yang tidak mampu melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Setiap tahun, anak-anak miskin di Enid bisa kuliah dengan gratis, dan mendapatkan pendidikan yang baik.

Harold Hamm selalu percaya, pendidikan adalah hal penting dalam menunjang kehidupan dan kesuksesan seseorang. Karenanya, selain membangun perguruan tinggi dan membiayai anak-anak kurang mampu untuk mendapat pendidikan, Harold Hamm juga aktif menyumbang lembaga-lembaga pendidikan. Karenanya pula, seperti yang telah dinyatakan di atas, Enid University—dengan segala kesederhanaannya—menyimpan kisah luar biasa tentang seorang bocah luar biasa.

 
;