Sabtu, 05 Maret 2016

Permainan yang Tak Mungkin Dimenangkan

Pengalaman adalah guru yang keras.
Ia memberi ujian lebih dulu, dan pelajaran belakangan.
@noffret 


Catatan ini saya tulis gara-gara mendengar omongan selintas dua lelaki tua di warung makan. Siang itu saya makan di warung, dan ada dua lelaki tua bercakap-cakap. Usia mereka mungkin sekitar 60-an. Meski saya tidak bermaksud menguping, tapi saya tetap mendengar percakapan mereka, karena dua lelaki itu tepat di sebelah duduk saya. Warung juga sepi, selain hanya ada saya, dua lelaki itu, dan pemilik warung.

Seorang dari lelaki tua itu menceritakan, ada keluarga tetangganya yang hancur gara-gara judi. Seluruh barang di rumah dijual demi judi, sampai anak istri telantar. “Main judi itu nyandu,” ujar lelaki yang menceritakan kisah itu. “Orang, kalau sudah kecanduan judi, jadi lupa segalanya. Apa saja dijual demi bisa main judi.”

Lelaki temannya menyahut, “Banyak yang begitu. Tetangga saya juga ada yang begitu. Sampai kendaraan dijual, rumah digadaikan, utang di mana-mana. Sekarang istrinya nuntut cerai gara-gara ribut terus.”

Lalu pemilik warung makan—yang juga laki-laki tua—ikut nimbrung dalam percakapan tersebut, dan topik judi itu pun kemudian melebar ke mana-mana.

Seusai makan, saya menyulut rokok, dan—akhirnya, mau tak mau—saya menyimak percakapan mereka. Oh, well, mereka tiga lelaki tua yang tentunya telah kenyang makan asam garam kehidupan, dan saya—sebagai bocah—perlu belajar pada mereka. Siapa yang tahu kalau ternyata tiga lelaki itu sebenarnya Socrates, Plato, dan Aristoteles?

Gara-gara mendengarkan percakapan mereka pula, saya pun teringat pada pengalaman pribadi menyangkut judi.

Dulu, saat masih hidup di jalanan, saya kerap mendapati permainan judi yang disebut uter-uter. Saya tidak tahu apa istilah bahasa Indonesia untuk jenis judi tersebut, tapi orang-orang biasa menyebutnya “uter-uter”. Dalam permainan uter-uter, si bandar akan menggelar sebuah karton berisi 12 kotak. Masing-masing kotak diberi angka 1 sampai 12. Kemudian, si bandar juga menyiapkan sebuah piringan yang dilengkapi jarum, dan di piringan itu terdapat petak-petak berisi angka, dari 1 sampai 12.

Dalam permainan uter-uter, orang-orang (para pemain) meletakkan uang di karton—bisa memilih meletakkan uangnya di angka 1, 2, 3 atau lainnya, sampai angka 12. Kemudian, bandar akan memutar piringan berisi angka-angka, dan menunggu sampai piringan berhenti sendiri.

Ketika piringan berhenti berputar, jarum akan menunjuk salah satu angka. Jika jarum menunjuk angka 6 pada piringan, misalnya, maka orang yang meletakkan uang di nomor 6 pada karton mendapat kemenangan. Cara main uter-uter agak mirip judi rolet (roulette), tapi dalam versi sederhana.

Pemenang uter-uter berhak mendapat 10 kali lipat dari uang yang dipertaruhkan. Artinya, jika seseorang meletakkan uang sebesar Rp. 10.000, misalnya, dan angka yang ia pilih kebetulan tepat (sesuai berhentinya angka pada jarum penunjuk piringan), maka ia berhak mendapatkan Rp. 100.000. Semakin besar uang yang dipertaruhkan, semakin besar pula kemenangan yang mungkin akan didapat.

Permainan uter-uter pernah sangat populer, dan sering muncul setiap kali ada keramaian, misalnya pasar malam. Dulu, karena terpengaruh teman-teman, saya pernah iseng ikut-ikutan. Saya membayangkan, pasti enak rasanya mendapat banyak uang tanpa kerja keras. Tetapi, oh sialan, tak peduli berapa kali pun saya ikut permainan tersebut, saya tidak pernah menang.

Memang, kadang-kadang saya mendapat kemenangan sementara. Saya sebut “sementara”, karena kemenangan yang didapat tidak bisa terus menerus. Sekali dua kali, atau bahkan beberapa kali, angka yang saya pilih tepat, dan saya mendapat uang cukup banyak. Karena senang, saya pun makin menggila, dan terus main. Lalu uang hasil kemenangan itu habis. Lalu saya penasaran. Besoknya, kalau ada uang, saya mencoba lagi, dan menang lagi, dan habis lagi, dan begitu seterusnya.

Yang mengalami hal semacam itu bukan cuma saya, tapi semua teman yang ikut permainan itu juga mengalami hal serupa. Mula-mula merasa menang, dapat uang cukup banyak, makin keasyikan, dan uang lalu habis. Karena penasaran, besoknya main lagi, dan begitu terus tak habis-habis. Akhirnya, saya pun menyadari, permainan itu tak bisa dimenangkan. Tingkat probabilitas dalam permainan itu memiliki risiko sangat tinggi, bahkan bisa dibilang mustahil dimenangkan.

Seperti yang saya jelaskan tadi, ada 12 angka pada karton dan pada piringan. Orang yang meletakkan uangnya pada satu angka tertentu akan mendapatkan 10 kali lipat jumlah uang yang ia pertaruhkan, jika angka yang dipilih kebetulan tepat ditunjuk jarum pada piringan. Artinya, tingkat kemenangan yang mungkin terjadi adalah 1:12:10 (1 banding 12 banding 10). Itu bukan hanya tingkat probabilitas yang sangat tinggi, tapi juga sulit—bahkan mustahil—dimenangkan.

Sekilas, mendapatkan 10 kali lipat dari uang yang kita pertaruhkan memang tampak menggiurkan. Tetapi, kenyataannya, uter-uter adalah permainan yang dirancang agar para pemain tidak bisa menang.

Umpama kita meletakkan uang, masing-masing Rp. 10.000, pada semua kotak angka yang ada (dari angka 1 sampai 12), artinya kita mempertaruhkan uang sejumlah Rp. 120.000. Menggunakan logika, tentunya mau tak mau, tidak bisa tidak, kita pasti akan menang, karena kita meletakkan uang pada semua angka yang ada. Tak peduli jarum pada piringan menunjuk angka berapa pun, kita akan tetap memenangkan permainan, karena ada uang kita di semua angka. Tetapi, kenyataannya, bagaimana pun juga kita akan kalah, karena uang kita tetap berkurang!

Paham yang saya maksud?

Ada 12 angka dalam permainan itu, dan—jika menang—kita mendapatkan 10 kali lipat dari uang yang kita pertaruhkan. Jika kita meletakkan uang Rp. 10.000 pada dua belas angka yang ada, artinya kita mempertaruhkan uang sejumlah Rp. 120.000. Akan ada 1 angka yang menang, dan artinya kita mendapatkan Rp. 100.000 sebagai kemenangan. Dalam teori, kita menang. Tetapi, dalam kenyataan, kita tetap kalah karena kehilangan Rp. 20.000 dari modal Rp. 120.000 yang tadi kita pertaruhkan.

Ketika menyadari kenyataan itu, saya pun tidak pernah mencoba main lagi, karena menyadari bahwa permainan itu memang dirancang untuk membuat para pemain kalah. Tak peduli berapa kali pun kita mencoba bermain, tetap saja kita menghadapi tingkat probabilitas yang sulit—bahkan mustahil—dimenangkan, yaitu 1 banding 12 banding 10. Bahkan Albert Einstein atau Stephen Hawking, atau bahkan Leonardo DaVinci pun akan pusing, jika diminta memenangkan permainan itu!

Sejak itu pula, saya tidak sudi main uter-uter!

Selama bertahun-tahun kemudian, seiring makin dewasa, saya tidak pernah lagi bersentuhan dengan permainan semacam itu. Sampai kemudian, pas kuliah, beberapa teman kadang mengobrolkan judi togel. Mula-mula saya tidak tertarik. Tetapi, karena sering mendengar obrolan soal itu, akhirnya saya pun penasaran. Lalu mulai bertanya-tanya. Tentang bagaimana cara permainannya, berapa jumlah kemenangannya, dan lain-lain.

Salah satu teman saya yang doyan main togel bernama Roni (bukan nama sebenarnya). Dia senior saya di kampus, tapi kami berteman akrab. Roni kerap menceritakan pengalamannya dalam hal itu—kadang kalah, kadang menang. Biasanya, dia akan tampak sumringah ketika pas menang, karena jumlah kemenangan bisa mencapai jutaan. Dari Roni pulalah saya mendapat penjelasan cukup rinci mengenai cara permainannya.

Sebenarnya, secara garis besar, judi tersebut juga memiliki tingkat probabilitas yang sangat tinggi. Tetapi, saya agak tertarik dengan salah satu jenis permainan yang disebut “colok”. Dari semua jenis yang ada, colok memiliki tingkat probabilitas paling rendah, meski jumlah kemenangan juga tergolong rendah. Kalau tak salah ingat, colok memberi hasil kemenangan di atas 100 persen (mungkin 110-120 persen) dari uang yang dipertaruhkan.

Jadi, umpama kita mempertaruhkan uang sejumlah 1 juta, kita punya kemungkinan mendapatkan 2 juta lebih, jika angka yang kita pilih benar-benar tepat.

Suatu hari, setelah memikirkan permainan itu cukup lama, saya tertarik mencoba. Saya nitip uang pada bocah ini, untuk digunakan sebagai taruhan di permainan colok. (Dia teman kuliah saya, dan kadang main colok, tapi sering kalah). Saat menyerahkan sejumlah uang kepadanya, saya menyebut angka yang saya pilih, dengan jumlah komisi untuk dia kalau angka pilihan saya tepat.

Dia pun membawa uang saya, dan mempertaruhkannya pada angka yang saya pilih. Besoknya, pas kuliah, dia menyerahkan sejumlah uang hasil kemenangan. Angka yang saya pilih benar-benar tepat!

Sambil cengengesan, dia menawari saya untuk main lagi. Saya pun tertarik, dan menyerahkan sejumlah uang agar dipertaruhkan lagi. Saya kembali menyebut angka yang saya pilih. Lalu dia pertaruhkan uang saya seperti yang saya minta. Besoknya, saya menang lagi.

Kejadian itu terus berlangsung. Setiap beberapa hari, saya menyerahkan uang untuk dipertaruhkan, dan besoknya saya menerima sejumlah uang kemenangan karena angka pilihan saya tepat. Saya senang karena mendapat kemenangan terus menerus. Teman saya juga senang, karena dapat komisi, juga dapat kemenangan sendiri. Saat mempertaruhkan uang saya, dia juga mempertaruhkan uangnya sendiri pada angka yang saya pilih. Karena angka yang saya pilih selalu menang, dia pun ikut menang.

Karena bisa dibilang saya selalu menang, dan angka pilihan saya tidak pernah meleset satu kali pun, kabar itu kemudian beredar di kalangan teman-teman sekampus, khususnya yang juga suka permainan tersebut. Setiap hari, biasanya terjadi bisik-bisik, “Hoeda pilih angka berapa?” Lalu mereka ikut mempertaruhkan uang pada angka yang saya pilih. Lalu besoknya mereka tampak cengengesan karena menang semua.

Tetapi pesta pasti berakhir, kata Rhoma Irama. Dan judi, kita tahu, tak pernah memiliki kemenangan abadi.

Suatu hari, Roni—teman yang saya ceritakan di atas—mengalami kecelakaan parah. Saat saya menengoknya, kondisinya sangat menyedihkan. Tulang bahunya patah, dan sekujur tubuhnya luka-luka. Saat kami hanya berdua di kamarnya, Roni berkata pada saya, “Kamu boleh percaya boleh tidak, tapi aku yakin kecelakaan ini terjadi sebagai peringatan agar aku berhenti main judi.”

Saya menatapnya serius, “Kenapa kamu berpikir begitu, Ron?”

Dengan kepayahan karena kondisinya, Roni menjelaskan, “Teman-temanku, yang sama-sama suka main judi, semuanya mengalami kecelakaan parah. Waktu satu dua temanku yang mengalami kecelakaan, aku masih berpikir itu cuma kebetulan. Tapi saat semuanya mengalami kecelakaan parah, bahkan aku sendiri juga mengalami, aku pun sekarang percaya. Aku bersumpah, setelah sembuh nanti, aku tidak akan pernah lagi main judi seumur hidupku.”

Roni mengalami kecelakaan saat akan mengambil uang kemenangannya dari hasil judi. Motornya hancur, sementara tubuhnya terluka parah. Kelak, Roni butuh waktu sampai setahun lebih untuk pulih, dan menghabiskan biaya yang sangat besar.

Saat itu, masih dengan kepayahan akibat kondisinya, Roni berkata, “Berhentilah, jangan teruskan. Kamu tidak ingin mengalami kondisi seperti yang kualami sekarang.”

Waktu itu, jujur saja, saya tidak terlalu terpengaruh omongan Roni. Jadi, meski telah diingatkan, saya tetap meneruskan kebiasaan main colok, dan selama itu pula saya terus menang dan terus menang. Teman-teman yang mengikuti saya juga ikut menang, karena mereka memilih angka yang saya pilih.

Suatu hari, seperti biasa, saya menitipkan uang pada teman saya, untuk dipertaruhkan pada permainan colok. Seperti biasa pula, saya yakin akan menang seperti hari-hari sebelumnya. Besoknya, saat di kampus, dia tidak masuk karena tidak ada mata kuliah yang diikuti. Maka saya pun meneleponnya, dan menanyakan, “Apakah aku menang?”

Dia menjawab, “Ya, kamu menang. Seperti biasa.”
 
“Bagus. Nanti sore aku ke rumahmu.”

Sore hari, saya pergi ke rumahnya, dengan maksud untuk mengambil uang kemenangan, sekaligus nitip lagi untuk permainan selanjutnya. Pada waktu itulah, saya mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan.

Saat keluar dari rumah, saya tidak punya firasat apa-apa. Saat ngebut di jalanan, saya juga asyik-asyik saja seperti biasa. Tapi kemudian ada mikrolet sialan, dan truk keparat, dan kemacetan bangsat, yang terjadi seolah tiba-tiba, dan... well, singkat cerita, saya terlindas truk.

Ini serius!

Jadi, saya melaju dengan kecepatan tinggi dari arah utara. Di depan saya, sebuah mikrolet tiba-tiba banting setir ke arah kiri. Secara spontan, saya membawa motor ke kanan, agar tidak menabrak mikrolet. Sial, tepat di depan saya, dari arah selatan, sebuah truk melaju. Saya pun menabrak truk—atau truk itu menabrak saya—dan saya jatuh, terkapar di aspal, dan tangan kanan saya terlindas ban truk.

Kelak, saya butuh waktu sampai dua tahun lebih untuk pulih dari luka-luka akibat kecelakaan sore itu. Hanya karena keajaiban, tangan saya masih utuh dan bisa digunakan. Bahkan sampai sekarang, bekas akibat kecelakaan itu masih ada. Di tangan kanan saya masih terdapat bekas luka akibat terlindas truk bertahun-tahun lalu.

Selama menjalani hari-hari yang memedihkan setelah kecelakaan, saya pun teringat ucapan Roni, “Berhentilah, jangan teruskan. Kamu tidak ingin mengalami kondisi seperti yang kualami sekarang.”

Sekarang saya percaya ucapan Roni. Pesta pasti berakhir, dan tidak ada orang yang menang dalam permainan judi. Bahkan meski kita tampak selalu menang, selalu ada cara agar kita tetap kalah. Misalnya mengalami kecelakaan parah. Seperti yang dialami Roni, teman-temannya, juga saya. Alam semesta tidak mengizinkan kita mengambil keuntungan dari cara semacam itu.

Jadi, sama seperti Roni, saya pun menyampaikan hal sama pada teman-teman yang menjenguk, ketika saya terbaring menyedihkan akibat kecelakaan itu, “Berhentilah, jangan teruskan. Kamu tidak ingin mengalami kondisi seperti yang kualami sekarang.”

....
....

Well, masa-masa itu telah jauh berlalu. Tapi bekas luka di tangan kanan saya masih ada. Dan setiap kali melihatnya, saya pun seperti diingatkan untuk belajar pada pengalaman. Kenyataannya, memang, pengalaman adalah guru paling baik, paling brutal, sekaligus paling mahal.

 
;