Rabu, 20 Juli 2022

Bella Swan Bukan Mbakyu

Apa yang dihadirkan Bella Swan dalam Twilight?
Benar. Kekacauan, kekacauan, kekacauan, 
kekacauan, kekacauan, kekacauan, kekacauan...
@noffret


Tokoh-tokoh utama dalam kisah—novel, film, dan semacamnya—umumnya sosok mengesankan, hingga membuat kita terkesan, kagum, bersimpati, atau bahkan jatuh cinta. Ada banyak sekali tokoh semacam itu, dan dunia cerita tak pernah kehabisan tokoh baru yang menawan serta mengesankan. Tokoh-tokoh semacam itu bisa muncul dari cerita fantasi, drama, misteri, dan lain-lain.

Dari ranah fantasi modern, kita bisa menyebut Harry Potter, bocah yatim piatu yang tumbuh menjadi penyihir hebat—satu-satunya orang yang mampu mengakhiri riwayat Lord Voldemort. Membaca kisah Harry Potter, mau tak mau kita terkesan, atau bersimpati kepadanya. Kita melihat kisah hidupnya, kepribadiannya, keteguhannya, dan semua yang ia lakukan sungguh mengesankan.

Bahkan meski kita disuguhi tujuh novel dengan ketebalan luar biasa, kita tidak bosan menikmati cerita Harry Potter. Karena kisah sangat panjang itu ditulis dengan luar biasa. Juga karena kita terkesan dan bersimpati pada tokoh utama, serta tokoh-tokoh pendukungnya. 

Kalau kita tidak menyukai seorang tokoh, bagaimana kita akan tertarik mengetahui perjalanan hidupnya? Jelas, kita tertarik pada Harry Potter, sang tokoh, sehingga kita tertarik mengikuti kisahnya.

Selain Harry Potter, ada juga Katniss Everdeen, dalam kisah Hunger Games. Dia hidup di dunia yang dibangun dari sisa peradaban, yang dijalankan dengan sistem diktatorial. Sekali dalam setahun, pemerintah pusat meminta “tumbal” dari masing-masing distrik, untuk dipertarungkan dalam Hunger Games. 

Katniss Everdeen dikenali dari acara berdarah itu, saat ia maju menggantikan adiknya yang terpilih. Bahkan sejak awal kemunculannya, Katniss sudah mampu membuat kita terkesan. 

Selama perjalanan kisah Hunger Games, Katniss Everdeen menunjukkan kepribadian yang tidak goyah, bahwa penderitaan seberat apa pun tidak mampu membuat jiwanya tergadai. Bahkan ketika terjebak di antara dua pria yang sama-sama mencintainya, Katniss Everdeen tidak terperangkap dalam kisah konyol yang membuat kita ingin mencibir. 

Membaca seluruh cerita Hunger Games, atau menonton seri filmnya, mau tak mau kita mengakui bahwa Katniss Everdeen adalah mbakyu.

Kalau mau, kita bisa menginventarisir tokoh-tokoh lain, dari kisah-kisah lain, dari genre-genre lain, dan hampir bisa dipastikan kita akan selalu menemukan tokoh utama yang manusiawi tapi mengagumkan, atau yang membuat kita terkesan. Entah karena kepribadiannya, atau karena perjuangan dan perjalanan hidupnya. 

Tokoh utama adalah kunci! Kalau kita bisa menciptakan seorang tokoh yang mengesankan, kita bisa yakin orang-orang akan tertarik membaca kisah terkait sang tokoh.

Sayangnya, kenyataan semacam itu tidak saya temukan ketika membaca novel serial Twilight, yang ditulis Stephenie Meyer. Kita tahu, tokoh utama dalam serial Twilight adalah Isabella Swan, yang biasa disapa Bella Swan. Bahkan, melalui sang tokoh utama pula, Stephenie Meyer menggerakkan cerita yang ia tulis (karena serial itu menggunakan kata ganti orang pertama, dalam hal ini menggunakan sudut pandang Bella Swan.)

Twilight adalah serial yang sangat panjang, bahkan novel-novelnya pun suangat tebal—sungguh mengagumkan mendapati cerita yang ditulis dari sudut pandang orang pertama bisa setebal itu. Meski ceritanya sangat panjang, dan novel-novel serial itu sangat tebal, bisa dibilang intinya sepele. Yaitu hubungan segitiga antara Bella Swan, Edward Cullen, dan Jacob Black.

Bella Swan adalah putri seorang polisi bernama Charlie—lelaki yang baik, orang yang sederhana. Orang tua Bella bercerai, dan Bella hidup bersama sang ayah. Seiring perjalanan cerita, Bella Swan bertemu Edward Cullen, lelaki dengan kegantengan tak masuk akal, yang belakangan diketahui ternyata sesosok vampir. Bersamaan dengan itu, Bella juga menjalin hubungan dengan Jacob Black, lelaki lain yang belakangan diketahui ternyata manusia serigala.

Jadi, Bella Swan—sang tokoh utama—mewakili dunia manusia. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga manusia, dan menjalani kehidupan sebagai manusia. Edward Cullen mewakili dunia vampir. Ia memiliki keluarga yang seluruhnya vampir, yang—menurut Stephenie Meyer—menjalani gaya hidup “vegetarian” alias tidak meminum darah manusia, dan hanya mengonsumsi darah hewan. Jacob Black mewakili dunia serigala. Ia tumbuh dalam komunitas yang sama-sama manusia serigala.

Jalan cerita selanjutnya bisa ditebak. Bella terjebak dalam cinta segitiga, meski dia mungkin tidak mau mengakui. Dalam kisah yang dituturkan dari sudut pandang Bella, kita tahu dia saling jatuh cinta dengan Edward Cullen, dan tetap melanjutkan hubungan dengan lelaki itu meski menyadari Edward ternyata vampir, bukan manusia seperti dirinya. Di sisi lain, Bella juga tampak memberi harapan pada Jacob Black, si bocah serigala, meski jelas-jelas telah menjalin cinta dengan Edward.

Sudah, intinya cuma itu.

Dan inti cerita yang bisa dibilang “biasa-biasa saja” itu diceritakan dalam kisah bertele-tele, hingga suangat panjang sekali, dalam novel-novel yang luar biasa tebal. 

Tolong maafkan saya, jika catatan ini mungkin terdengar sinis. Sebagai pembaca serial Twilight, terus terang, saya nyaris mati bosan selama membaca kisah tersebut. Saya sengaja baru menulisnya sekarang, setelah heboh Twilight sudah lama berlalu, agar catatan ini tidak terlalu frontal (khususnya bagi penggemar Twilight.) 

Bella Swan, yang menjadi tokoh utama, sekaligus penggerak serial Twilight, bisa dibilang bukan tokoh mengesankan, khususnya di mata saya. Sebegitu tidak mengesankan, hingga saya heran campur tidak paham, mendapati dua lelaki bisa cinta mati kepadanya, bahkan rela berperang—jika itu memang diharuskan—untuk mendapatkan Bella. 

Bella Swan, dalam pandangan saya, adalah perempuan biasa—seperti umumnya perempuan yang bisa kita temui di mana-mana; yang kadang berbicara melantur, terlalu dikuasai perasaan, dengan emosi naik-turun tidak jelas, cenderung egois dan tolol. Pendeknya, ya itu tadi, perempuan biasa. 

Jadi, sebagai pembaca, saya bertanya-tanya, bagaimana bisa perempuan biasa seperti itu sampai membuat dua lelaki—yang satu vampir, satunya lagi serigala—berperang untuk bisa mendapatkannya?

Setelah memikirkan kenyataan itu sangat lama, saya sampai pada kesimpulan, bahwa Stephenie Meyer memang sengaja menciptakan karakter Bella Swan sebiasa mungkin—seperti umumnya perempuan biasa—karena tujuan serial itu memang membuat khayalan para perempuan melambung tinggi; segmen pembaca yang ia sasar. Dan tujuannya tercapai, karena sebagian besar—untuk tidak menyebut semua—penggemar serial Twilight memang perempuan.

Stephenie Meyer tidak bermaksud mengenalkan tokoh hebat yang membuat kita kagum, atau pejuang pemberani yang membuat pembaca terkesan, atau pun wanita luar biasa yang membuat kita jatuh cinta kepadanya. Tidak, “visi” Stephenie Meyer jauh lebih sederhana dari itu. Dia hanya ingin menciptakan sosok perempuan biasa—sebiasa perempuan umumnya—tapi perempuan biasa itu diperebutkan dua lelaki yang rela melakukan apa pun demi bisa memilikinya!

Oh, well, benar-benar khas perempuan!

Karenanya, meski saya (sebagai pembaca lelaki) menganggap Bella Swan sangat tidak menarik, dan menilai kisah Twilight terlalu bertele-tele sekaligus membosankan, tapi jutaan perempuan di mana-mana menyukai Bella Swan, dan menikmati ceritanya. Karena, bagi kebanyakan perempuan, kisah Twilight—dan tentu saja sosok Bella Swan—mereprensetasikan diri mereka, bahkan merepresentasikan impian serta khayalan mereka.

Perempuan mana pun ingin seperti Bella Swan. Bahkan, umpama mereka diminta memilih; menjadi Bella Swan dalam Twilight atau menjadi Katniss Everdeen dalam Hunger Games, saya yakin mereka akan memilih menjadi Bella!

Padahal, perbandingan itu bisa dibilang sejajar. Katniss Everdeen, sebagaimana Bella Swan, juga dicintai dua lelaki yang sama-sama baik. Bedanya, Bella Swan memiliki kisah indah penuh bunga dan kemewahan, sementara Katniss Everdeen memiliki kisah penuh kepahitan dalam perjuangan. Jelas, jauh lebih banyak perempuan yang ingin menjadi Bella Swan, daripada menjadi Katniss Everdeen.

Dan siapa yang tidak ingin menjadi Bella? Dia perempuan biasa. Sekali lagi, sebiasa perempuan yang bisa kita temui di mana-mana. Teman perempuanmu di kampus, bisa jadi lebih hebat dari Bella Swan. Kakak atau adik perempuanmu di rumah, bisa jadi lebih istimewa dari Bella Swan. Perempuan-perempuan yang kita kenal di sekitar, bisa jadi lebih mengagumkan dari Bella Swan. 

Bella Swan, sekali lagi dalam pandangan saya, hanyalah perempuan biasa. Dan perempuan biasa itu diperebutkan dua lelaki yang bersedia melakukan apa saja, lalu Bella Swan memilih satu di antara mereka. 

Tentu saja dia memilih Edward Cullen yang lebih kaya, dengan keluarga lebih beradab. Setelah menjadi kekasih Edward, Bella Swan diperlakukan dengan penuh kemanjaan seolah dia satu-satunya perempuan di muka bumi. Perempuan mana yang tidak ingin seperti itu?

Bahkan sampai di situ pun, Stephenie Meyer belum puas mempermainkan khayalan para pembacanya. Meski Bella telah jelas memilih Edward—bahkan belakangan menikah—Jacob Black tidak dilepaskan begitu saja. Dalam banyak bagian kisah, kita tahu, Bella Swan seperti terus memberi harapan pada Jacob, hingga bocah serigala itu tampak seperti orang tolol yang tak bisa bersikap. Meski Bella telah menjadi istri Edward, Jacob seperti terus menguntit kehidupan mereka. Lucu—untuk tidak menyebut konyol.

Tetapi, kekonyolan seperti itulah yang diimpikan rata-rata perempuan. Mereka ingin seperti Bella. Mereka ingin diperebutkan. Mereka ingin diperlakukan seperti ratu. Mereka ingin ada lelaki tolol yang terus berharap memilikinya, meski dia telah menikah. Mereka ingin melakukan apa pun—sekonyol dan segila apa pun—tapi tetap dianggap indah, dan tetap membuat pemujanya tergila-gila. 

Oh, well, benar-benar khas perempuan!

Jadi, ketika serial Twilight digilai banyak perempuan di dunia, saya pun—akhirnya—memahami. Karena kisah seperti itulah yang diinginkan rata-rata perempuan. Yaitu kisah tentang perempuan biasa yang diperebutkan lelaki-lelaki luar biasa, yang bersedia melakukan apa saja untuknya, yang memperlakukan dia seolah satu-satunya perempuan di dunia, dan yang memiliki akhir kisah, “Mereka pun bahagia selama-lamanya.” 

Dan setelah nyaris mati bosan karena membaca serial panjang Twilight yang sangat bertele-tele itu, saya pun sampai pada kesimpulan penting yang saya pikir dunia harus tahu: Bella Swan bukan mbakyu.

 
;