Jumat, 01 Oktober 2010

Malaikat Turun dari Langit

Saya sering iri dengan imajinasi penulis novel barat, atau para sineas film Hollywood. Mereka sepertinya bisa menulis apa pun, tentang apa pun, dengan dasar pijakan apa pun. Coba lihat John Grisham, misalnya. Dalam salah satu novelnya, The Brethren, Grisham bercerita tentang presiden Amerika yang menjadi korban penipuan karena ulah isengnya berkorespondensi dengan gay. Cerita dalam novel ini asyik sekaligus konyol, mengingat kisahnya melibatkan “ketololan” seorang presiden.

John Grisham hanya satu di antara sekian banyak penulis novel barat lain yang dapat dengan “bebas dan asyik” menuliskan imajinasi apa pun yang ada dalam benaknya. Kalau ingin yang agak ekstrim, kita bisa melihat Dan Brown yang dengan leluasa menulis novel-novel “berbahaya” semacam The DaVinci Code, Angel and Demons, atau The Lost Symbol. Novel-novel ini menyentuh sisi-sisi yang sensitif—tetapi ajaibnya novel-novel itu dapat ditulis, dapat diterbitkan, juga dapat beredar secara luas.

Saya membayangkan, apa yang sekiranya akan terjadi jika penulis di Indonesia menulis cerita dengan tema-tema semacam itu? Mungkin saja tidak masalah, karena toh para pembaca novel di Indonesia cukup cerdas untuk dapat membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi. Tetapi keberanian untuk menulis dengan tema yang “aneh” semacam itu sepertinya belum dimulai di negeri ini. Kalau pun mungkin ada orang yang berani menulisnya, pihak penerbitlah yang mungkin akan berpikir-pikir untuk menerbitkannya.

Di antara imajinasi-imajinasi “liar” yang ada dalam novel atau film Hollywood, imajinasi yang paling menggoda pikiran saya adalah tentang malaikat yang turun ke bumi. Tema kisah ini sudah cukup sering muncul di film-film Hollywood, semisal dalam City of Angels (diperankan Nicholas Cage), atau dalam Michael (diperankan John Travolta), dan lain-lain.

Sudah sejak lama saya ingin menulis cerita yang berkisah tentang malaikat turun dari langit. Saya pikir itu ide hebat, karena seorang penulis tentunya dituntut untuk dapat menggambarkan atau melukiskan sosok malaikat yang serealistis mungkin, atau sedetail mungkin, agar para pembaca dapat “mempercayai” apa yang ia tulis. Itu tantangan yang pasti mengasyikkan.

Di dalam benak, saya memiliki gambaran yang cukup utuh mengenai sosok malaikat—tentu saja versi saya. Gambaran ini berasal dari penuturan guru-guru di SD dulu yang sering bercerita tentang sosok malaikat, juga dari buku-buku yang saya baca, serta dari film-film yang juga berkisah tentang malaikat. Masing-masing gambaran itu kemudian saya satukan, dan saya menciptakan gambaran sendiri mengenai bayangan saya atas malaikat.

Ketika pertama kali menggagas kisah tentang malaikat yang turun ke bumi, saya pikir satu-satunya genre yang dapat mengadopsi hal itu hanyalah fiksi-fantasi. Karenanya, ketika hasrat menulis kisah tersebut sudah tak tertahankan, saya pun mulai menulis kisah fantasi yang menceritakan malaikat turun ke bumi—sebagaimana yang saya impi-impikan selama ini.

Ketika mulai membangun dan mengembangkan ide kisahnya, saya menyadari kisah itu berpotensi kontoversial. Karenanya, sebisa mungkin saya menghindarkan kemungkinan itu. Bagaimana pun, saya ingin kisah itu bisa terbit dalam bentuk buku—dan saya tidak menginginkan buku itu menimbulkan kontroversi yang tidak perlu.

Karena kesadaran semacam itu, maka saya pun tidak terlalu berani mengeksplorasi imajinasi saya terhadap malaikat yang saya tuliskan. Dalam bayangan saya waktu itu, yang penting ide saya bisa terlahir dalam bentuk tulisan, yang penting saya berhasil menyalurkan ide saya yang meledak-ledak tentang malaikat turun dari langit.

Kau tahu, ketika sebuah ide berhasil tersalurkan dalam bentuk tulisan, ada suatu kelegaan yang luar biasa. Itulah yang biasa dialami para penulis, dan itu pula yang saya rasakan. Mungkin ini semacam memiliki janin dalam kandungan. Dan ketika janin itu akhirnya terlahirkan, ada suatu kelegaan yang penuh syukur, rasa gembira yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Oh, akhirnya….

Buku—entah fiksi atau nonfiksi—adalah anak-anak ruhani para penulis. Jika kelahiran seorang anak selalu mampu mendatangkan kebahagiaan bagi orang tuanya, begitu pula kelahiran sebuah buku bagi seorang penulis. Dan ide tulisan adalah benih pertama sebelum sebuah buku terlahirkan. Pada mulanya adalah kata, pada mulanya adalah benih, pada mulanya adalah ide.

Balik lagi ke topik malaikat turun dari langit. Sekarang ide itu telah menjadi sebuah tulisan—dan saya menyukainya. Itu adalah kisah fiksi-fantasi pertama yang saya tulis, dan sekarang naskahnya sudah masuk ke Penerbit Diva Press. Doakan semoga bukunya cepat terbit ya, agar saya bisa berkisah kepadamu, tentang ide saya yang paling indah, tentang malaikat turun dari langit.

 
;