Senin, 15 Januari 2018

Shitlicious, Young Lex, dan Ibu di Balik Layar

Gue tau, lbh baik skrg kuping panas diomelin ortu mulu,
dibanding kelak mau bilang rindu pun cuma bisa meluk batu nisan.
I love em' so much.
@shitlicious


Tweet yang ditulis Alitt Susanto (@shitlicious) di atas sampai di timeline saya pada 3 Agustus 2017, melalui retweet seseorang yang mem-follow akun Alitt di Twitter. Tweet itu mengingatkan saya pada catatan-catatan Alitt di blognya, khususnya yang terkait orang tua. Saya kadang membaca blog Alitt Susanto, dan menyukai kejujurannya dalam menceritakan diri dan kehidupannya.

Bertahun lalu, Alitt pernah menceritakan ibunya yang jualan jamu keliling. Cara dia mengisahkan ibunya tidak dengan perasaan malu—seperti yang mungkin akan dialami sebagian anak muda lain—tapi dengan kejujuran bahkan kebanggaan. Kemampuan seperti itu hanya dimiliki seorang anak yang benar-benar mengasihi dan menghormati ibunya. Kasih dan hormat pulalah yang menjadikan Alitt bisa menceritakan ibunya yang jualan jamu, dengan kebanggaan serupa jika ibunya seorang direktur bank atau Sekjen PBB!

Karenanya, saya percaya Alitt Susanto sangat mengasihi dan menghormati ibunya, tanpa syarat. Bahkan, saya juga percaya mereka memiliki kedekatan antara anak dan ibu—sebentuk hubungan yang bisa jadi tidak dimiliki setiap anak.

Alitt juga pernah menceritakan di blognya, bahwa dia telah meminta sang ibu agar berhenti jualan jamu, toh anaknya sekarang sudah sukses. Melihat cintanya yang begitu besar pada sang ibu, Alitt tentu akan senang hati menghidupi ibunya secara layak, tanpa sang ibu harus bekerja lagi. Tapi ibunya tetap kukuh, ingin melanjutkan pekerjaannya—tipe orang tua yang lebih menikmati hidup dari keringat sendiri, daripada mengandalkan anaknya.

Selain Alitt Susanto, bocah lain yang juga memiliki kedekatan serupa dengan ibunya adalah Young Lex. Iya, Young Lex yang itu.

Kita tahu siapa Young Lex—bocah mbeling yang tubuhnya penuh tato, urakan, suka ngomong seenaknya, dan tidak peduli apa kata orang. Bagi sebagian orang, mungkin, Young Lex adalah mimpi buruk peradaban. Tapi bocah mbeling dan urakan itu sangat mencintai dan mengasihi ibunya—sesuatu yang mungkin bertolak belakang dari yang dipikirkan banyak orang.

Tak jauh beda dengan Alitt Susanto, Young Lex juga sangat dekat dengan ibunya. Sebegitu dekat, hingga kadang dia makan disuapi sang ibu!

Urusan makan disuapi ibunya itu, teman-teman Young Lex kadang meledek, “Lu tatoan, tapi makan masih disuapi nyokap!”

Diledek seperti itu, Young Lex bukan berkecil hati, tapi malah menjawab, “Gue lebih suka disuapi nyokap sekarang, daripada kelak ingin disuapi tapi nyokap udah nggak ada.”

Kenyataan itu bisa menjadi ilustrasi betapa dekat Young Lex dengan ibunya. Faktanya, meski sudah sesukses sekarang, Young Lex memilih tetap tinggal bersama ibunya—bukan hidup sendiri di apartemen atau rumah mewah sebagaimana umumnya bocah kaya. Untuk hal itu, Young Lex mengatakan, “Orang mungkin macam-macam, ya. Tapi gue nggak ngerti sama orang yang milih tinggal sendiri atau menjauh dari ortunya. Gue lebih suka tinggal sama nyokap.”

Kedekatan Young Lex dengan ibunya sebenarnya telah dimulai bertahun lalu, saat Young Lex masih bukan siapa-siapa. Pada waktu Young Lex masih SMA, ibunya jualan bakso dan es kelapa muda di depan rumah. Sepulang sekolah, kalau ibunya sedang repot, Young Lex yang melayani pembeli—menyajikan bakso, atau menyiapkan es kelapa muda.

Bagaimana saya tahu hal itu? Oh, mereka sendiri yang bercerita. Young Lex dan ibunya pernah diundang ke acara Hitam Putih. Semula, Young Lex hanya mengobrol dengan Deddy Corbuzier, pemandu acara. Lalu sang ibu diundang ke sana, tanpa sepengetahuan Young Lex. Bahkan melihat ibunya saja, di sana, mata Young Lex berkaca-kaca. Saat itu, dia tampak jauh beda dengan Young Lex yang kita kenal di YouTube.

Di acara Hitam Putih itulah, kisah kedekatan mereka terbuka, bagaimana keduanya—anak dan ibu—saling mengasihi. Deddy Corbuzier bertanya pada sang ibu, bagaimana perasaannya dulu, ketika Young Lex bekerja menjadi cleaning service, setelah lulus sekolah. Ibu Young Lex menyatakan, baginya itu hal biasa. Karena, sebelum menjadi cleaning service, Young Lex sudah biasa bekerja, termasuk membantu sang ibu yang jualan bakso.

Kini, setelah sukses, terkenal, dan kaya-raya, Young Lex menyatakan, “Nggak peduli sesukses apa pun, kesuksesan lu nggak ada gunanya, kalau orang tua lu nggak ikut merasakan dan menikmati kesuksesan yang udah lu raih.”

Kalau ada bocah yang ngomong seperti itu—meski dia mungkin mbeling dan urakan—kita patut mendengarkan. Terlepas dari tingkah Young Lex yang kadang menyebalkan, kita patut mengagumi kasih dan penghormatannya pada orang tua, khususnya pada sang ibu, serta kedekatan yang mereka jalin. Karena, disadari atau tidak, sebagian kita tidak memiliki hal itu.

Saya sengaja menggunakan contoh Alitt Susanto dan Young Lex, agar kalian bisa membayangkan siapa yang saya ceritakan. Alitt Susanto, apalagi Young Lex, tidak bisa disebut “anak manis”, jika kita hanya melihat penampilan mereka. Yang satu kuliah tidak lulus-lulus, hingga menjadi mahasiswa abadi, sementara yang satu lagi bocah urakan yang suka ngomong kontol. Tidak ada manis-manisnya blas!

Tapi nyatanya mereka memiliki kasih yang begitu besar terhadap sang ibu—sesuatu yang mungkin kita pikir hanya dimiliki “anak-anak manis”. Dalam hal itu, sejujurnya, saya iri pada mereka, sekaligus malu pada diri sendiri.

Saya iri pada mereka, karena tidak memiliki yang mereka miliki. Saya merasa tidak memiliki kasih ibu sebesar yang mereka miliki, sebagaimana saya tidak memiliki kedekatan dengan ibu, seperti yang mereka miliki. Dan saya malu pada diri sendiri, karena yang saya lakukan justru bertolak belakang dengan yang mereka lakukan. Mereka mendekat pada orang tua, saya justru menjauh.

Ketika saya lulus SMA, dan mulai bekerja, impian terbesar saya cuma satu—secepat mungkin keluar dari rumah orang tua!

Dan itulah yang saya lakukan. Seperti yang pernah diceritakan di sini, saya bekerja 18 jam sehari, dari jam 8 pagi sampai jam 3 dini hari. Saya tidak punya ambisi macam-macam waktu itu, selain hanya mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu mengontrak rumah sendiri, agar bisa menjauh dari orang tua. Ketika akhirnya saya benar-benar bisa keluar dari rumah orang tua, saya merasa tidak ingin kembali.

Berbeda dengan kebanyakan orang, yang mungkin kesepian karena tidak lagi tinggal bersama orang tua dan keluarga, saya justru merasa damai. Saat tinggal sendirian, tanpa keluarga, saya bisa berpikir tenang, dan menyiapkan masa depan yang saya inginkan. Bertahun-tahun kemudian, bahkan hingga hari ini, saya masih hidup sendirian. Sementara komunikasi saya dengan orang tua bisa dibilang hanya sekadarnya.

Bandingkan itu dengan Alitt Susanto atau Young Lex. Alitt memang tidak hidup dengan ibunya, karena mereka tinggal berjauhan. Tapi Alitt begitu peduli terhadap ibunya, dan saya yakin mereka berkomunikasi secara intens, sebagaimana anak dan orang tua. Sementara Young Lex, dia sudah mengatakan sendiri, bahwa dia lebih memilih tinggal bersama orang tua. Wong makan saja disuapi ibunya!

Saat berkaca pada mereka, kadang saya berpikir. Usia kami mungkin tidak jauh beda, dan latar belakang kami pun mungkin serupa. Alitt Susanto, Young Lex, maupun saya, sama-sama pernah mengalami masa susah, dengan keluarga yang bisa dibilang tak sempurna. Tetapi, mengapa latar belakang yang sama itu bisa menghasilkan anak-anak berbeda, khususnya terkait orang tua? Mengapa Alitt Susanto dan Young Lex bisa dekat dengan orang tua, sementara saya tidak?

Karena itulah, seperti yang dibilang tadi, saya iri pada mereka. Karena tidak memiliki kedekatan dengan orang tua, sebagaimana yang mereka miliki. Karena tidak memiliki kasih yang besar, seperti yang mereka miliki. Dan saya bertanya-tanya sendiri, apa perbedaan kami?

Mungkin kami tidak berbeda—sama-sama bocah yang kadang mbeler dan menyebalkan. Yang membedakan, mungkin, hal-hal yang kami terima, yang kemudian membentuk karakter dan kepribadian kami selanjutnya.

Meski sama-sama hidup susah, Alitt dan Young Lex mungkin mendapatkan sesuatu yang tidak saya dapatkan, yaitu kasih dan perlakuan baik orang tua. Saya tidak tahu seperti apa masa kecil mereka. Tetapi, melihat sikap mereka sekarang, saya bisa membayangkan, mereka menjalani masa-masa kecil hingga remaja yang menyenangkan. Mungkin mereka tidak hidup berkelimpahan, bahkan mungkin berkekurangan. Tetapi, mereka mendapatkan limpahan kasih orang tua, serta sikap baik dari mereka.

Anak-anak memang tidak bisa memilih lahir dari orang tua miskin atau kaya. Dan kenyataannya, kaya atau miskin sebenarnya tidak penting. Anak orang miskin bisa kaya-raya, sebagaimana anak orang kaya bisa menjalani hidup miskin. Karenanya, bagi seorang anak, kaya atau miskin sebenarnya tidak terlalu penting. Yang penting adalah sikap orang tua! Sikap orang tualah yang kelak akan membentuk si anak selanjutnya.

Ada anak-anak yang lahir di keluarga miskin, tapi orang tua memperlakukan anak-anak dengan baik, hingga si anak—sadar maupun tak sadar—ingin membalas kebaikan orang tua dengan kebaikan yang lebih besar. Ada banyak sekali anak semacam itu. Mereka anak-anak beruntung, sebagaimana si orang tua akan menjadi orang tua yang beruntung.

Di Instagram, misalnya, saya pernah mendapati seorang perempuan cantik berseragam pramugari, berdampingan dengan seorang lelaki lusuh berseragam Gojek. Si perempuan membubuhkan keterangan, bahwa lelaki itu ayahnya. Dia juga menyatakan, dia bangga dengan ayahnya, yang selama ini bekerja keras demi mendukung dan percaya impian putrinya. Kini, setelah impian sang anak telah terwujud, satu-satunya impian lain hanyalah membahagiakan sang ayah.

Kita tentu bisa membayangkan orang tua yang dibanggakan anaknya dengan penuh cinta seperti itu. Dan ilustrasi itu juga menunjukkan bahwa kaya dan miskin sebenarnya tidak terlalu penting, karena yang paling penting bagi setiap anak adalah sikap orang tua.

Seperti Alitt Susanto atau Young Lex, mereka mungkin tidak terlalu mempersoalkan kondisi hidup mereka yang dulu susah. Karena sesusah apa pun, mereka memiliki orang tua untuk bersandar, yang tanpa henti memberikan cinta dan kasih, yang memperlakukan dengan baik, hingga mereka tumbuh dengan cinta dan kasih yang sama besar untuk orang tua. Kini, ketika mereka dapat hidup lebih baik, mereka pun berupaya membalas kebaikan orang tua, semampu dan sekuat yang mereka bisa. Dan siapakah kini yang paling bangga dengan mereka? Tentu orang tuanya!

Kenyataan itu, sekali lagi, yang tampaknya membedakan kami.

Saya tidak hanya menghadapi kemiskinan dan masa remaja yang suram, tapi juga perlakuan yang sangat buruk dari orang tua. Sebegitu buruk, hingga sejak kecil saya sudah menatap hidup dengan putus asa. Karena, kalau kau masih anak-anak, dan kau tidak lagi percaya pada orang tuamu, siapakah lagi yang bisa kaupercaya? Itulah yang saya alami, yang bertahun-tahun kemudian membenamkan saya dalam jurang depresi.

Ada suatu masa, di waktu kecil dulu, ketika saya ketakutan bertemu orang lain, karena saya khawatir orang-orang itu akan memperlakukan saya sebagaimana orang tua memperlakukan saya. Melihat latar belakang ini, sekarang kalian paham mengapa saya kemudian tumbuh menjadi introver, dan sulit didekati siapa pun. Saya selalu takut dilukai, karena luka itulah hal terbesar yang diberikan orang tua kepada saya.

Mungkin terdengar mengerikan kalau saya mengatakan bahwa saya mengenal kebencian pertama kali dari orang tua saya sendiri—ketika saya mulai membenci mereka—sebagaimana saya mengenal kekerasan, egoisme, sikap negatif, dan perilaku yang buruk, juga dari mereka.

Dan menjalani kehidupan semacam itu bersama orang tua, apa yang kira-kira ada dalam pikiran saya? Benar, secepat mungkin menjauh dari mereka! Itulah yang saya lakukan, sampai sekarang. Sejak keluar dari rumah orang tua bertahun-tahun lalu, saya tidak pernah ingin kembali.

Young Lex mengatakan, “Gue nggak ngerti sama orang yang milih tinggal sendiri atau menjauh dari ortunya.”

Sekarang dia akan mengerti. Karena tidak setiap anak beruntung memiliki orang tua sebaik dan penuh kasih, sebagaimana yang ia miliki.

 
;