Rabu, 01 April 2020

Selera

Perbedaan yang sulit dijembatani mungkin perbedaan selera humor, 
karena itu jenis perbedaan yang (sering kali) sulit dijelaskan.


Segala hal terkait manusia mungkin bisa dikomunikasikan atau bahkan dinegosiasikan, kecuali satu; selera. Kalau sudah menyangkut selera, semua teori runtuh, penjelasan panjang lebar tiada guna, mengkomunikasikannya juga percuma. Berdebat soal selera adalah hal paling sia-sia di dunia.

Secara objektif, mungkin memang ada selera bagus dan selera buruk—seperti umumnya hal lain di dunia. Tapi selera sering kali tidak menerima objektivitas, karena ia memang sangat subjektif. Yang umum terjadi hanyalah “perkembangan selera” untuk lebih baik.

Jika kita terus bertumbuh, biasanya selera kita juga bertumbuh—atau dengan kata lain, berubah—hingga lebih baik, dan lebih baik lagi. Tapi juga tidak pasti begitu. Karena ada sebagian kita yang diri dan hidupnya terus berkembang, tapi seleranya mentok gitu-gitu aja.

Selera film, misalnya. Orang yang selera filmnya action, sampai mati pun biasanya tetap suka action, dan malas kalau diajak nonton drama atau film-film non-action. Tak peduli dia makin pintar, makin kaya, makin berwawasan, atau bahkan makin bijaksana, selera filmnya ya tetap itu-itu juga.

Tapi tidak apa-apa, namanya juga selera. Subjektif, dan kadang tidak ilmiah juga tidak akademis. Film yang bagi kita “ora mashok blas”, bisa jadi “sangat bagus” bagi yang suka, karena sesuai seleranya. Sebaliknya, film yang kita anggap “masterpiece”, bisa jadi cuma film “wuopppoooo” bagi yang tak suka, karena tidak sesuai seleranya.

Sampai sekarang, misalnya, saya sama sekali belum nonton—dan mungkin tidak akan pernah nonton—Parasite, film yang dipuji banyak orang di dunia, bahkan dapat Oscar. Secara objektif, Parasite jelas film bagus, dengan bukti banyaknya ulasan positif dan penghargaan. Tapi saya tak berminat nonton, karena memang tak berselera.

Begitu pula film-film macam Hereditary, Us, atau Midsommar—sial, saya menonton ketiganya. Banyak orang bersepakat bahwa film-film itu bagus, bahkan masterpiece, sebagian mereka sampai menulis ulasan ndakik-ndakik yang sanggup membuat bidadari menangis.

Tapi bagi saya, tiga film itu mung wuoopppoooo!

Apa yang salah? Tidak ada!

Masalahnya di sini pasti terkait selera, yang, sekali lagi, subjektif.

Karena subjektivitas itu pula, sungguh sia-sia kalau orang berusaha meyakinkan saya bahwa film-film itu bagus. Sama sia-sia kalau saya berusaha meyakinkan mereka bahwa film-film itu buruk. Wong namanya selera. Satu-satunya hal yang sulit dikomunikasikan—apalagi dipaksakan—adalah selera.

Saya pernah mendengarkan musik orkestranya Yanni di ponsel, lewat earphone, dan sangat menikmati musik itu sampai memejamkan mata penuh nikmat.

Melihat itu, seorang teman penasaran, ingin tahu musik apa yang sedang saya dengar. Waktu earphone pindah ke telinganya, dan dia mulai mendengarkan, komentarnya sangat tak terduga, “Iki musik wuopppooooo? Ora ono lagune!”

Teman saya ini biasa naik BMW, jadi jelas dia kaya-raya. Fakta bahwa dia tidak mengenal Yanni, mungkin mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi saat saya tahu musik-musik apa yang ada di playlist mobilnya. Dangdut koplo semua! Tapi karena didengar di BMW, ya asyik-asyik saja.

Memahami selera—yang sangat subjektif—ini penting, khususnya saat menghadapi penolakan dari orang yang kita taksir/dekati. Saat seseorang menolak kita, bisa jadi bukan karena kita buruk atau kurang sesuatu, tapi semata-mata karena selera—kita bukan selera dia.

Sekali lagi, ini bukan karena kita buruk atau kurang sesuatu. Ilustrasinya mungkin mirip film Parasite yang dipuji banyak orang dan telah dikukuhkan sebagai film bagus, tapi nyatanya tidak semua orang ingin menontonnya. Kalau saya tidak ingin nonton Parasite, bukan karena film itu buruk. Tapi semata karena memang bukan selera saya.

Tanpa pemahaman seperti itu, penolakan bisa membuat kita down, hingga stres sampai lama. Sebaliknya, memahami soal selera akan membantu kita tetap “biasa saja” setelah ditolak seseorang. Wong namanya selera, kita tidak bisa memaksakan. Jadi biasa saja. Wajar.

Karenanya pula, tak perlu repot-repot berusaha meyakinkan seseorang agar menerima kita. Karena kalau dasarnya sudah bukan selera, mau kita repot seperti apa pun juga biasanya sia-sia. Jauh lebih baik, dan lebih sehat, mencari orang lain yang seleranya sesuai kita.

Cinta sering kali tidak memandang rupa atau semacamnya—tapi selera. Karenanya, bagi seseorang, pasangannya pasti sempurna, dan dia pasti akan ngamuk kalau kita mencoba menyebut kekurangan pasangannya. Tidak ilmiah, memang, tapi begitulah cinta—atau selera. Sangat subjektif.

Dalam tahap tertentu, selera bukan saja subjektif, tapi juga membingungkan.

Misalnya begini. Kita naksir cewek, menyatakan cinta kepadanya, dan ditolak. Oke, kita pun berpikir, “Mungkin aku bukan seleranya.”

Belakangan, ketika cewek itu punya pacar, si pacar benar-benar mirip kita. Dari rupa, penampilan, sampai latar belakang dan pekerjaannya. Itu piye, kalau dipikir-pikir?

Andai si cewek punya pacar yang jelas berbeda dengan kita, mungkin kita tidak akan heran dengan penolakannya. Namanya juga selera. Tapi bahwa pacar cewek itu benar-benar mirip kita, kenyataan itu jelas membingungkan. Kira-kira apa latar belakang alasan cewek itu menolak kita, tapi menerima cowok lain yang benar-benar mirip kita?

Sebaiknya tidak usah dipikirkan, karena tak ada gunanya. Semakin dipikirkan, malah akan menyakiti diri sendiri.

Terkait selera dalam memilih pasangan, posisi cowok memang sering rentan, karena tak punya pilihan, selain menerima keputusan. Kita naksir cewek, menyatakan cinta kepadanya, keputusan finalnya ada pada si cewek. Entah dia menerima atau menolak, kita tidak bisa mengganggu gugat, meski sering kali keputusannya tergantung selera dan sangat subjektif.

Karenanya, cowok sering kali tak bisa menanyakan apa alasan penolakan si cewek. Dan kalau pun si cowok mempertanyakan alasan penolakan itu, si cewek bisa saja mengarang bebas, dan jawabannya tak membuat kita puas.

Well, setelah menyadari kenyataan itu, bahwa penerimaan maupun penolakan adalah sesuatu yang hanya bersifat selera dan sangat subjektif, saya pun tak terpengaruh lagi pada penerimaan atau penolakan. Orang mau menerima atau menolak saya, itu urusan mereka. Urusan saya hanya menjalani dan menikmati hal-hal yang sesuai selera saya.

Kalau orang lain boleh punya selera, kenapa kita tidak boleh punya selera sendiri?

Dulu, sebelum memahami konsep ini, saya sering down atau patah hati kalau menerima penolakan—dalam kasus apa pun. Setelah memahami konsep ini, penolakan hanya membuat saya tertawa. Saya tidak akan memaksakan selera saya pada siapa pun. Dan sebaliknya.

Kalau dangdut koplo adalah musik kesukaanmu, ya silakan—itu hak yang dijamin konstitusi, dan mencerca seleramu bisa termasuk pelanggaran HAM. Tapi bukan berarti saya harus mengikuti seleramu, dan ikut-ikutan menikmati dangdut koplo. Saya punya selera sendiri. 

 
;