Jumat, 05 Agustus 2016

PKI dan Paranoid yang Menggelikan

“Tidak ada perang bukan berarti ada kedamaian.”
Mystique, X-Men: Apocalypse


Pada era 90-an, ada penyanyi terkenal bernama Atiek CB (baca: Sibi). Dia salah satu lady rocker Indonesia, yang sangat terkenal pada zamannya. Bocah-bocah yang sudah cukup puber pada era 90-an, pasti mengenal sosok Atiek CB sebagai penyanyi yang lekat dengan penampilan cuek dan kacamata hitam. Tapi bukan itu yang membuat saya teringat kepadanya.

Pada awal 1990-an, Atiek CB merilis album baru, yang kemudian menjadi “kasus nasional”. Pada masa itu, kaset pita masih populer, karena CD belum populer di Indonesia. Album baru Atiek CB juga dikemas dalam sebuah kaset pita, lengkap dengan sampul kaset yang biasanya berisi ilustrasi (gambar-gambar artistik) dan lirik-lirik lagu dalam album. Ilustrasi sampul album Atiek CB waktu itu digarap Dik Doang.

Di masa itu, Dik Doang belum terkenal, karena pekerjaannya waktu itu “cuma” menjadi tukang desain sampul kaset. Belakangan, nama Dik Doang mulai dikenal gara-gara “skandal” yang terkait dengan sampul album Atiek CB yang digarapnya.

Jadi, saat menggarap sampul album Atiek CB, Dik Doang mencari gambar-gambar dan ilustrasi yang sekiranya bisa ia gunakan untuk mempercantik tampilan sampul. Dia pun membuka-buka koran dan majalah terbitan luar negeri, menggunting gambar-gambar yang menurutnya bagus, untuk kemudian ia tata seperti orang membuat kliping. Ingat, waktu itu teknologi komputer belum secanggih sekarang. Jadi, sebagian besar pekerjaan desain masih dilakukan secara manual.

Nah, tanpa sepengetahuan Dik Doang, ada sebuah gambar kecil mirip palu arit dalam ilustrasi yang ia masukkan ke sampul album Atiek CB. Gambar itu sangat kecil, sebegitu kecil hingga luput dari pengamatan Dik Doang. Bahkan, sebenarnya, untuk bisa melihat gambar itu secara jelas, kita harus memelototinya dengan serius, atau bahkan menggunakan kaca pembesar. Yang jelas, di sampul album itu terdapat gambar palu arit seukuran kutu, dan... gara-gara itu, Indonesia geger.

Selama waktu-waktu itu, media massa di Indonesia memberitakan kasus “palu arit di sampul album Atiek CB” dengan gegap gempita, seolah Monas kedatangan alien, atau Istana Negara diserbu UFO. Dunia musik Indonesia mengalami masa genting, Atiek CB terus menerus diwawancara berbagai media massa, sementara Dik Doang—selaku pembuat ilustrasi—tampak seperti “tersangka”. Padahal masalahnya sepele, yaitu gambar palu arit yang bahkan ukurannya lebih kecil dari upil!

Di zaman itu, Soeharto dan Orde Baru masih berkuasa di Indonesia, dan Soeharto—kita tahu—sangat paranoid terhadap PKI (Partai Komunis Indonesia) maupun dengan segala atributnya. Kebetulan, PKI memiliki lambang bergambar palu arit. Jadi, di masa itu, segala hal berbau PKI atau atribut PKI akan dianggap sebagai upaya makar atau subversif, bahkan jika itu hanya gambar palu arit yang sangat keciiiiiiiil di sampul album kaset!

Dalam ingatan saya, inilah kira-kira yang dikatakan Dik Doang, ketika ia dikonfirmasi mengenai keberadaan gambar palu arit di sampul album Atiek CB waktu itu, “Saya khilaf. Saya benar-benar tidak menyadari kalau ilustrasi yang saya potong dari majalah luar negeri ternyata terdapat gambar palu arit. Saya mohon maaf atas kekhilafan itu, karena saya benar-benar tidak menyadari keberadaan gambar tersebut.”

Saya memaklumi kalau Dik Doang sampai khilaf dan tak melihat gambar palu arit tersebut, karena nyatanya memang sangat kecil. Seperti yang disebut tadi, gambar itu cuma seukuran kutu, atau lebih kecil dari upil. Saya bahkan takjub dan penasaran mengenai siapa kira-kira orang kurang kerjaan yang bisa-bisanya menemukan gambar tersebut, hingga masalah itu menjadi kasus nasional. Mungkin orang itu—siapa pun dia—menatap sampul album itu dengan Sinar-X!

Singkat cerita, album Atiek CB yang dianggap bermasalah itu ditarik dari pasar, dan baru bisa diedarkan kembali setelah sampul albumnya diganti. Terkesan berlebihan? Mungkin iya, tapi pada masa itu Soeharto masih berkuasa, dan segala hal berbau PKI—tak peduli sekecil kutu—harus disingkirkan.

Berdasarkan kisah itu, kita bisa membayangkan bagaimana paranoidnya pemerintah Orde Baru terhadap PKI. Padahal mereka pemenang dalam pertempuran melawan PKI. Soeharto naik ke tampuk kekuasaan setelah sukses memerangi PKI, dan ia mengganti Orde Lama dengan Orde Baru. Dia telah menang. Meski begitu, sang pemenang memiliki mental pecundang, hingga apa pun yang berbau PKI harus dihancurkan. Jika gambar palu arit sekecil kutu saja bisa membuat mereka tak bisa tidur, bisakah kita membayangkan hal lain yang lebih besar?

Pada akhir 1990-an, Soeharto jatuh, dan Orde Baru diganti Orde Reformasi. Jatuhnya Soeharto membawa perubahan pada banyak hal, khususnya terkait kebijakan pemerintah. Perubahan yang terjadi semakin besar-besaran ketika Gus Dur menjadi presiden. Dalam waktu jabatannya yang relatif singkat, Gus Dur melakukan banyak kebijakan, khususnya terkait kaum minoritas.

Sejak masa kepemimpinan Gus Dur itulah, komunitas Tionghoa yang semula terpinggirkan mulai mendapat tempat yang lebih layak, sementara orang-orang yang semula teraniaya karena pernah terlibat dengan PKI mulai dikembalikan kehormatannya. Gus Dur membuka mata banyak orang, bahwa sesuatu yang sebelumnya ditakuti Orde Baru sebenarnya bukan apa-apa, bahwa mereka manusia biasa seperti kita. Yang mungkin salah dan alpa, tapi bukan berarti akan salah terus selamanya.

Jadi, sejak masa itu pula, gambar palu arit bukan lagi atribut menyeramkan seolah tanda sihir Lord Voldemort. Di koran dan majalah yang terbit di awal Reformasi, gambar-gambar semacam itu jadi tampak biasa. Bukan hanya gambar, bahkan orang-orang yang semula telibat dengan PKI pun bisa diangkat oleh media massa dengan leluasa, sehingga mereka bisa menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan sejarah kita di masa lalu, khususnya terkait PKI dan Indonesia.

Kisah PKI sudah selesai, dan hal itu ditegaskan dengan bubarnya partai tersebut. Mereka bahkan sudah lama selesai, karena partai mereka sudah bubar sejak lama. Karenanya, ketakutan Orde Baru terhadap PKI adalah paranoid yang tak masuk akal,  kalau tak mau dibilang menggelikan. Gus Dur memahami betul hal itu, karenanya—alih-alih meneruskan ketakutan Orde Baru—dia lebih suka menertawakannya.

Yang aneh, dan yang lucu, sebagian orang di zaman ini kembali menghidupkan ketakutan yang sama, paranoid yang sama. Padahal, sekali lagi, riwayat PKI sudah tamat. Partai mereka sudah tidak ada, ideologi mereka juga sudah bangkrut. Soviet, yang semula diagungkan sebagai negara komunis, runtuh. Cina, yang dianggap beraliran komunis, saat ini telah menjadi negara kapitalis. Siapa bilang Cina negara komunis? Amerika bahkan ketar-ketir menghadapi pertumbuhan ekonomi Cina!

Jadi, sebagai partai maupun sebagai ideologi, PKI sudah lama selesai, sudah lama bubar, dan sebenarnya cuma tinggal kenangan. Namanya kenangan, tentu saja, boleh dikenang atau dipelajari. Tapi ketakutan pada kenangan adalah sejenis ketakutan yang tak wajar. Apalagi jika itu kenangan orang lain, dan sama sekali bukan kenangan kita. Memang benar PKI pernah menjadi bagian sejarah kita. Tetapi ketakutan berlebihan pada sejarah—khususnya sejarah yang telah usai—sama seperti ketakutan pada bayangan sendiri.

Karena itu, saya prihatin dengan ribut-ribut tempo hari menyangkut PKI, sampai terjadi pembredelan majalah, juga pembakaran dan penarikan buku-buku yang konon dapat menghidupkan kembali PKI di masa kini. Itu sangat lebay. Sama lebay seperti Orde Baru yang ketakutan gara-gara gambar palu arit sekecil upil, yang tanpa sengaja muncul di sampul kaset!

Ada pula orang-orang yang—entah bagaimana isi otaknya—terus menerus meributkan orang lain karena mencurigai leluhurnya terkait PKI. Memangnya kenapa kalau si A atau si B kebetulan punya kakek atau orangtua yang dulu terlibat PKI?

PKI bukanlah ras atau etnis, yang akan terus terbawa ke anak cucu dan keturunan secara genetis. PKI hanyalah partai, atau—paling banter—ideologi. Dan orang bisa berpindah ideologi semudah berganti baju, kalau mau. Karena partai dan ideologi hanyalah soal pilihan, dan orang cenderung memilih pilihan yang ia anggap menguntungkan. Orang yang kemarin PKI bisa saja berganti Golkar besok pagi, sebagaimana orang yang meributkan tujuh setan desa bisa membangun distro di desanya. Well, biasa saja.

Seperti Presiden Jokowi, misalnya. Terus terang saya bukan pengagum Jokowi. Tetapi saya tidak peduli siapa leluhurnya, siapa ibunya, atau bagaimana ideologi masa lalu mereka. Saya bahkan tidak peduli apa ras atau etnisnya, atau film atau musik, atau masakan favoritnya. Sebagai rakyat Indonesia, yang saya pedulikan hanyalah kepribadian Jokowi sebagai manusia, dan sikap serta kebijakannya sebagai pemimpin. Jika ia bisa baik dalam dua hal itu, well, itu sudah cukup. Dan saya akan mendukung serta menghormatinya.

Saya pikir, begitu pula cara kita menilai manusia lain. Kita tidak ingin dinilai siapa leluhur kita, atau apa etnis dan ras kita, atau apa keyakinan dan ideologi kita. Kita—masing-masing manusia—hanya ingin dinilai berdasarkan siapa diri kita, dan apa yang kita lakukan sebagai manusia. Kalau saya menolong seorang korban kecelakaan, orang tidak peduli siapa leluhur saya. Sebaliknya, kalau saya melakukan kejahatan, orang juga tidak peduli apa partai favorit saya.

Manusia adalah apa yang dilakukannya, bukan apa atribut yang mereka bawa, juga bukan siapa leluhur mereka. Karenanya, menilai orang lain hanya karena atribut atau leluhur yang mungkin melekat, sama tololnya dengan ketakutan pada gambar palu arit sekecil upil yang sebenarnya tak terlihat. Kalau bukan tolol dan konyol, sikap semacam itu benar-benar bangsat.

 
;