Kamis, 15 November 2018

Menara Setan di Amerika

Persoalan kebenaran sering kali dimulai ketika kebenaran itu 
melarangmu mencari kebenaran lain. Yang menjadi masalah, 
pikiran sebagian manusia mungkin bisa disederhanakan dengan 
cara semacam itu, sementara sebagian yang lain tidak.


“Imajinasi mendahului pengetahuan,” kata Albert Einstein. Itu salah satu kalimat terkenal Einstein, yang kadang juga diterjemahkan menjadi, “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan.”

Pernyataan itu bisa jadi penghormatan Einstein terhadap kemampuan imajinasi manusia, dalam mempengaruhi peradaban.

Tak bisa dipungkiri, sebagian besar peradaban manusia mula-mula lahir dari imajinasi. Kita membayangkan bisa terbang seperti burung, lalu lahirlah pesawat. Kita membayangkan bisa bercakap-cakap dengan orang lain dari jarak jauh, dan terciptalah telepon juga ponsel. Kita membayangkan bisa mengumpulkan informasi dari seluruh dunia di satu tempat agar bisa diakses siapa pun, dan muncullah internet.

Mula-mula bayangan, imajinasi, dan dari bayangan itu lahir aneka teknologi yang mempengaruhi peradaban manusia. Imajinasi mendahului pengetahuan.

Namun, pernyataan itu juga bisa jadi olok-olok Einstein terhadap kemampuan manusia dalam “mengarang bebas”. Dalam urusan mengarang bebas, manusia benar-benar juara. Tidak ada makhluk lain yang mampu menyusun cerita memukau, imajinatif, meski sebenarnya mustahil, selain manusia. Dan tidak ada makhluk lain yang mampu menerima cerita absurd dengan sepenuh kepercayaan, selain manusia.

Saya memikirkan kenyataan itu, ketika menatap Menara Setan di Amerika—bangunan alam yang kini menjadi salah satu monumen terkenal di negeri Paman Sam.

Di Amerika Serikat, tepatnya di Wyoming, ada sebuah tebing batu yang berdiri di dataran Sungai Belle Fourche. Tinggi tebing batu itu mencapai 1.559 meter di atas permukaan laut, dan struktur batuannya berlapis-lapis, tapi datar di bagian atas. Mirip tunggul pohon yang baru ditebang. Tebing batu itu dikenal dengan nama Menara Setan atau The Devil’s Tower. Dikenal pula dengan sebutan Bear Lodge.

Kenapa disebut Bear Lodge? Apa hubungannya dengan beruang (bear)? Dan kenapa tebing batu di sana disebut Menara Setan?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan menghadirkan jawaban menarik, yang akan membuktikan ungkapan Einstein, bahwa “imajinasi mendahului pengetahuan”.

Ribuan tahun lalu, ketika orang-orang kuno di sana mendapati tebing batu menjulang tinggi ke langit, mereka mungkin kebingungan. Dengan kemampuan akal yang dimiliki, mereka mungkin bertanya-tanya, bagaimana tebing batu setinggi itu bisa terbentuk? Siapa yang membangunnya?

Mengingat tingginya mencapai 1.559 meter, manusia-manusia di zaman dulu mungkin sulit membayangkan tebing tinggi itu dibangun manusia.

Karena pengetahuan tidak mampu memahami, imajinasi mengambil alih. Dalam pikiran mereka, tebing batu itu tidak mungkin dibangun manusia. Maka mereka pun berpikir, “Pasti setan atau iblis yang membuatnya.”

Lalu lahirlah Menara Setan, The Devil’s Tower.

Sejak makhluk bernama manusia mulai bisa menggunakan akal pikiran, mereka bertanya-tanya tentang banyak hal. Ada banyak hal yang tidak mereka pahami, tapi terpampang nyata di depan mata. Seperti tebing batu di Wyoming. Mereka tahu tebing itu ada, tapi mereka tidak bisa memahami bagaimana asal usulnya. Karena tidak mampu menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan, mereka pun mengarang jawabannya, dan mempercayai bahwa itulah jawabannya.

Lalu, “pengetahuan” itu diwariskan kepada anak cucu mereka, dari generasi ke generasi. Ketika anak-anak bertanya, “Bagaimana bisa ada tebing batu di sana? Siapa yang membuat?” Mereka pun memberikan jawaban pamungkas yang tak bisa diganggu gugat, “Itu menara setan! Iblis yang telah membuatnya.”

Anak-anak mereka tidak punya alasan untuk membantah—well, siapalah mereka dibanding orang-orang tua yang telah lebih dulu hidup? Jadi, anak-anak itu pun percaya yang dikatakan orang tua mereka, meyakini bahwa tebing batu tinggi adalah menara setan yang dibangun iblis. Lalu kepercayaan itu diwariskan kembali, dan diwariskan kembali. Tebing batu telah menjelma Menara Setan.

Sampai di suatu masa, ada generasi yang mulai “usil”. Ketika diberitahu tebing batu tinggi dibangun iblis, mereka bertanya, “Bagaimana iblis membangunnya? Kapan pembangunan terjadi? Mengapa iblis membangun menara batu di sana?” dan sederet pertanyaan lain yang memusingkan orang-orang tua.

Orang-orang tua di zaman itu mungkin mencoba menjawab, “Kami tidak tahu bagaimana iblis membangunnya, Nak. Kami juga tidak tahu kapan iblis keparat itu membangun menara di sana, atau karena alasan apa. Kami hanya diberitahu leluhur kami bahwa menara batu dibangun iblis, dan itulah yang telah kami percayai dari generasi ke generasi. Dan, omong-omong, kenapa kau tidak tutup mulut saja dan berhenti berpikir macam-macam?”

Sayangnya, akal yang mulai terbuka sulit ditutup kembali. Begitu pun generasi yang mulai mempertanyakan kenapa ada iblis yang kurang kerjaan, hingga punya waktu membangun menara batu. Dan generasi semacam itu lalu berkembang. Mereka sama-sama mempertanyakan asal usul menara batu yang jawabannya tidak memuaskan.

Kalau memang menara itu dibangun iblis, bagaimana ceritanya? Mereka harus diberi penjelasan yang lebih terang dan masuk akal, dengan kronologi yang runtut, sehingga mereka tidak gelisah.

Sampai lama, mungkin dari generasi ke generasi, orang-orang yang gelisah itu tetap tidak mampu menemukan jawaban masuk akal. Dan ketika pengetahuan tidak mampu menjangkau jawaban, imajinasi mengambil alih.

Sejak itulah, muncul legenda terkait tebing batu di sana. Kali ini, bukan setan atau iblis yang terlibat dalam pembangunan tebing batu tinggi, melainkan gadis-gadis yang dikejar beruang raksasa.

Menurut legenda terkenal di Wyoming, terbentuknya tebing batu di sana diawali tujuh gadis yang berlarian karena dikejar beruang. Semula, gadis-gadis itu bermain di hutan. Beruang raksasa datang kepada mereka, dan mengejar. Gadis-gadis itu melarikan diri dengan cepat melalui pepohonan, tetapi beruang dapat menyusul mereka.

Untuk menyelamatkan diri dari kejaran hewan ganas itu, mereka naik ke sebuah batu besar yang mereka temukan. Di atas batu besar, gadis-gadis itu berdoa dengan suara keras kepada roh leluhur, “Kasihanilah kami. Selamatkanlah kami!”

Ajaib, batu yang dipijak perlahan-lahan bergerak naik. Batu yang semula hanya setinggi semeter, perlahan-lahan naik hingga setinggi dua meter. Mendapati batu itu semakin tinggi, beruang tidak tinggal diam. Ia mencoba menjangkau gadis-gadis di atas batu, dengan mencakar-cakar tepian batu.

Semakin keras beruang berusaha menjangkau gadis-gadis, batu terus tumbuh dan meningkat naik dan semakin tinggi. Beruang terus berusaha mencakar-cakar batu, berharap bisa ikut naik, sementara batu semakin tinggi, terus semakin tinggi, hingga sampai ke langit.

Karena itulah, menurut legenda, di tepian tebing batu terdapat guratan-guratan kasar, yang merupakan bekas cakar beruang yang mencoba menjangkau puncak batu, tapi terus tergelincir. Guratan-guratan itu memang sangat tampak pada tebing batu tersebut, sampai sekarang. Itulah kenapa, Menara Setan di Wyoming juga disebut Bear Lodge.

Lalu ke mana gadis-gadis tadi? Menurut legenda, mereka sampai ke langit, lalu menjelma sebagai bintang, bernama Pleiades. Mereka tak pernah kembali ke bumi.

Oh, well, betapa hebat imajinasi manusia. Betapa hebat Homo sapiens—sang makhluk bijaksana—dalam mengarang bebas. Kalau kau mempertanyakan sesuatu yang tak kaupahami, karang saja jawabannya seperti yang kauinginkan, dan percayailah bahwa itu jawabannya. Setelah itu, tidurlah dengan tenang.

Kita yang hidup hari ini mungkin sulit percaya ada batu yang bisa meninggi sendiri, bahkan sampai menyentuh langit. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang hidup ribuan tahun lalu? Bagi mereka, kisah itu jauh lebih masuk akal dan lebih sistematis, dibanding percaya mentah-mentah bahwa tebing batu di sana dibangun iblis tanpa ada penjelasan lain.

Orang memeluk pengetahuan pada zamannya, sebagaimana kita memeluk pengetahuan di zaman kita. Ada masa ketika orang cukup diberitahu bahwa tebing batu bisa ada dan menjulang tinggi karena dibangun iblis. Tapi ada pula masa ketika penjelasan itu terdengar tak masuk akal, lalu mereka mengarang sendiri jawabannya. Meski belakangan, di zaman lain, jawaban yang masuk akal di masa lalu jadi terdengar absurd dan menggelikan.

Lalu bagaimana jawaban zaman sekarang, terkait tebing batu tinggi di Wyoming?

Sebenarnya, ilmu geologi belum bisa yakin bagaimana asal usul terbentuknya tebing batu di sana. Ada banyak teori yang pernah diajukan, satu yang masuk akal adalah akibat laccolith. Menara batu di Wyoming, menurut ilmu geologi, terbentuk karena laccolith.

Laccolith merupakan intrusi magma panas dari dalam bumi, yang tidak pernah mencapai permukaan. Hal itu mendorong terbentuknya tonjolan batuan sedimen di atasnya, namun tidak ada kaldera atau kawah yang terbentuk. Batuan cair dingin dan batuan sedimen lembut di tonjolan kemudian terkikis, dan batuan keras beku terbuka. Lalu makin lama makin menumpuk, hingga akhirnya menjelma sangat tinggi seperti sekarang.

Kalau berdasarkan teori ini, bisa dibayangkan kapan awal mula Menara Setan terbentuk. Ya, sekitar satu hingga dua juta tahun lalu. Setidaknya, sejauh ini, itulah teori yang masuk akal terbentuknya Menara Setan di Wyoming, Amerika.

Kini, Menara Setan di Wyoming menjadi tempat yang dikunjungi banyak wisatawan, yang ingin menikmati suasana petualangan. Bagi yang suka mendaki, hiking, atau menjelajah alam, di sana tersedia pendamping yang siap membantu dan menemani.

Sementara bagi yang ingin bersantai sambil menikmati suasana alami, kawasan itu juga bisa menjadi pilihan menarik. Setiap musim panas, pengelola wisata di sana menyediakan Service Summer Cultural Program. Itu program wisata berisi aneka kegiatan menarik, dari menikmati senja sambil mendengarkan teori geologis terbentuknya Menara Setan, hingga safari malam mengamati hewan liar di sekitar menara, dan mendirikan kemah di sekitar menara.

Sekadar saran, datanglah ke sana pada April, Mei, atau Juni. Pada bulan-bulan itu, bunga-bunga liar di sana sedang tumbuh dengan cantik dan mekar.

Oh, well, bunga-bunga mekar di antara Menara Setan.

 
;