Senin, 05 November 2018

Akar Kerusakan Bumi

Akan tiba suatu masa ketika Bumi murka, 
kejahatan disembah, kebodohan menjadi berhala, 
dan umat manusia menjadi wabah di antara bencana.


Sebagian daerah pesisir Pantura mengalami masalah rob, yaitu naiknya air laut ke daratan. Genangan air yang berasal dari rob berbeda dengan genangan air yang berasal dari hujan. Jika genangan air hujan hanya berlangsung selama hujan turun, genangan air rob terus ada, meski tidak ada hujan. Kadang-kadang, rob menggenang dalam waktu relatif singkat, tapi kadang-kadang juga sangat lama.

Kalian yang tinggal jauh dari daerah pesisir, dan tidak melihat langsung seperti apa wujud rob, mungkin agak sulit membayangkan. Karenanya, biar saya ceritakan lebih jelas dan detail, agar setidaknya kalian memiliki bayangan.

Tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada sebuah perkampungan yang telah bertahun-tahun dilanda rob. Seluruh perkampungan digenangi air, sehingga orang-orang di sana setiap hari menjalani kehidupan seperti dalam kondisi banjir. Tapi itu bukan banjir akibat air sungai yang meluap, yang biasanya akan surut sendiri. Yang melanda perkampungan itu rob—genangan air yang berasal dari laut.

Kita pasti paham bagaimana genangan banjir terjadi. Karena curah hujan yang tinggi, air sungai meluap. Luapan air sungai lalu naik dan membanjiri tempat-tempat di sekitar. Itulah yang kita sebut banjir. Genangan banjir biasanya surut dan hilang setelah hujan berhenti, atau setelah aliran sungai tidak lagi meluap. Dengan kata lain, banjir berasal dari air hujan atau air sungai.

Berbeda dengan rob. Rob tidak berasal dari atas (berupa air hujan), tapi muncul dari bawah tanah (berupa air laut yang merembes ke atas). Jadi, tidak ada hujan dan tidak ada luapan air sungai, tapi air muncul di mana-mana, dari kedalaman tanah. Air itu lalu menggenangi banyak tempat—pinggir-pinggir jalan, perkampungan-perkampungan, hingga rumah-rumah. Itulah yang disebut rob.

Kondisi itulah yang terjadi di perkampungan yang tadi saya ceritakan. Selama bertahun-tahun, perkampungan itu telah digenangi rob yang tak pernah surut. Air rob muncul dari bawah tanah, bahkan banyak yang muncul di dalam rumah. Hasilnya, seluruh perkampungan—beserta rumah-rumah yang ada di sana—digenangi air. Ada yang setinggi mata kaki, ada pula yang setinggi lutut. Dan itu telah berlangsung bertahun-tahun.

Sebegitu parah kondisi rob yang terjadi di sana, sampai-sampai beberapa rumah akhirnya hancur dan roboh, karena tak mampu lagi menahan genangan air rob yang menggerogoti fondasi bangunan. Kita pun bisa membayangkan bagaimana menderitanya kehidupan orang-orang di sana, yang setiap hari harus berkubang air rob. Dan masalah semacam itu—genangan rob—bisa dibilang telah melanda hampir semua kawasan pesisir. Semua tempat terkena rob, termasuk jalan raya.

Menghadapi masalah rob, pemerintah daerah telah berupaya melakukan penanggulangan. Sayangnya, upaya yang dilakukan pemerintah hanya “menambal” dan “memperbaiki” masalah, bukan membenahi dan membereskan akar masalah. Akibatnya, masalah rob tak pernah selesai, hingga bertahun-tahun, karena yang dilakukan hanya “menambal” dan “memperbaiki”, sementara akar masalahnya tidak tersentuh.

Yang dilakukan pemerintah selama ini adalah menaikkan permukaan jalan raya yang rawan terkena rob. Jadi, di sekitar pesisir dan Pantura, ada banyak jalan yang permukaannya dinaikkan sangat tinggi. Tujuannya agar rob tidak sampai menggenangi jalan raya. Peninggian jalan raya itu bahkan tidak lagi menggunakan aspal seperti biasa, tapi menggunakan beton—rata-rata setinggi 30 cm—agar kuat menghadapi rob.

Sekilas, upaya itu terlihat baik. Dengan peninggian jalan raya, apalagi menggunakan beton, jalan-jalan yang biasa tergenang rob berubah kering, dan terbebas dari serangan rob. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Karena ketika jalan raya dinaikkan, rumah-rumah dan lingkungan di sekeliling jalan raya menjadi korban. Karena genangan rob tidak bisa mencapai permukaan jalan raya, rob menggenangi rumah-rumah dan lingkungan sekitar yang lebih rendah.

Sebagian orang yang memiliki uang, memang bisa meninggikan permukaan rumah mereka, sehingga rata atau bahkan lebih tinggi dari permukaan jalan raya, demi tidak terserang genangan rob. Tapi tidak semua orang memiliki kemampuan seperti itu.

Akibatnya, solusi yang ditempuh pemerintah—dengan meninggikan jalan raya—menimbulkan masalah lain bagi masyarakat. Dan kelak, jika semua warga telah meninggikan rumahnya, genangan rob akan kembali ke jalan raya, dan pemerintah mungkin akan kembali kelabakan.

Itu seperti lingkaran setan.

Satu upaya yang dianggap solusi dilakukan, tapi kemudian menimbulkan masalah lain. Dan begitu seterusnya. Kenapa? Karena yang dilakukan hanya “menambal” dan “memperbaiki”, tapi melewatkan akar masalahnya.

Mestinya, yang dilakukan pemerintah adalah melihat akar masalah, yaitu rob. Seluruh daya dan upaya mestinya diarahkan untuk menyelesaikan akar masalah tersebut, sehingga rob teratasi tanpa menimbulkan masalah baru. Meninggikan permukaan jalan raya memang terlihat seperti menyelesaikan masalah. Tapi hanya temporer, karena akar masalahnya tetap dibiarkan.

Kenyataan itulah yang sekarang dialami masyarakat sekaligus pemerintah yang ada di wilayah Pantura. Dan masalah itu tidak bisa dibilang ringan. Beberapa ahli bahkan memprediksi, dua puluh tahun mendatang kawasan Pantura—khususnya yang ada di bagian pesisir—akan “dihapus” oleh gelombang naiknya permukaan laut. Saat ini hanya rob. Tapi jika masalah rob tidak segera diatasi dengan benar, di tahun-tahun mendatang akan menjadi badai.

Memikirkan masalah rob, membuat pikiran saya tergoda untuk memikirkan nasib bumi yang sekarang kita tinggali bersama. Masalah rob di Pantura, dalam bayangan saya, adalah miniatur masalah bumi dan kehidupan umat manusia.

Saat ini, bumi sedang menghadapi masalah besar, tapi tidak semua orang mau melihat dan menyadari keberadaan masalah tersebut. Masalah besar yang dialami bumi saat ini adalah kelebihan populasi. Sebut masalah apa pun yang ada di bumi, maka kita bisa merunut hingga ke akar-akarnya, dan akar masalahnya adalah jumlah manusia yang sudah terlalu banyak. Bahkan masalah rob di Pantura pun, jika ditelusuri ke akar-akarnya, akan sampai pada masalah ledakan populasi.

Kelebihan populasi manusia, itulah akar segala masalah yang sekarang melilit bumi. Sekali lagi, sebut masalah apa pun, dan kita akan menemukan bahwa akar masalahnya adalah populasi manusia yang sudah kelewat banyak!

Lihatlah jalan-jalan raya di mana pun. Kemacetan ada di sana, dan kemacetan yang parah menghasilkan polusi udara yang sama parah. Polusi udara yang parah menghasilkan aneka penyakit, bahkan wabah. Selain polusi, kemacetan yang parah juga menimbulkan kecelakaan, aneka kejahatan di jalan, dan berbagai masalah lain.

Kenapa ada kemacetan? Jawabannya sederhana, karena luas jalan jalan raya tidak sebanding dengan banyaknya kendaraan. Kenapa banyak kendaraan? Jawabannya juga sederhana, karena banyak manusia. Hanya manusia yang memakai kendaraan! Anjing buduk, juga ular beludak, tidak memakai kendaraan!

Itu baru contoh sepele—kemacetan di jalan raya. Padahal, masalah yang dihadapi kehidupan manusia di bumi tidak sebatas di jalan raya. Masalah yang ditimbulkan akibat banyaknya manusia, merentang dari masalah yang jelas-jelas terlihat sampai yang tidak terlihat. Susahnya, betapa sedikit manusia yang mau menyadari kenyataan itu.

Manusia butuh makan, dan makanan manusia dihasilkan dari bumi. Semakin banyak manusia, semakin sempit lahan di bumi, karena digunakan untuk hunian atau tempat tinggal. Semakin sempit lahan, artinya hasil bumi juga menyusut. Berdasarkan ilustrasi sederhana ini saja, kita bisa membayangkan, bahwa kelak di suatu masa, manusia akan menghadapi masalah makanan, dan mereka harus berebut bahkan bertarung untuk bisa makan.

Manusia butuh pekerjaan, dan kian hari lapangan kerja semakin menyempit, akibat tidak berimbangnya lapangan kerja dengan jumlah pencari kerja. Karena jumlah pencari kerja dan lapangan kerja tidak imbang, tidak semua pencari kerja akan mendapat pekerjaan. Sebagian dari mereka terpaksa menganggur, bekerja apa adanya, dan ada pula yang terpaksa melakukan kejahatan demi mendapat uang. Berdasarkan ilustrasi sederhana ini saja, kita bisa melihat bahwa tingginya kriminalitas salah satunya dipicu oleh tingginya populasi manusia.

Jika ilustrasi-ilustrasi ini mau diteruskan, tulisan ini bisa sepanjang kitab Mahabharata. Dan masalah-masalah semacam itu, semuanya dipicu oleh (makin) tingginya populasi. Semakin banyak jumlah manusia, semakin banyak masalah yang ditimbulkan. Kenapa kita tidak juga menyadari kenyataan yang sangat-sangat jelas ini?

Di belakang rumah almarhum kakek saya ada sungai. Dulu, ketika saya masih anak-anak, sungai itu sangat bening. Sebegitu bening, hingga saya seolah bisa melihat apa pun yang ada di balik air. Di masa lalu, saya kadang memancing di sana bersama anak-anak tetangga, dan kami mendapat udang atau ikan, lalu dinikmati bersama. Kami juga suka mandi di sungai, bermain-main air yang jernih mengalir.

Kini, sungai itu masih ada. Tapi kondisinya jauh berbeda. Air yang dulu jernih kini berubah kotor dan menghitam akibat limbah. Tidak ada orang yang berminat duduk-duduk di pinggir sungai seperti dulu. Tidak ada orang yang berani mandi di sana, bahkan tidak ada orang berminat memancing ikan di sana. Sungai yang dulu begitu indah kini berubah menjadi aliran air yang tercemar limbah.

Bagaimana perubahan itu bisa terjadi? Oh, well, kita bisa menuding pabrik dan industri yang tak bertanggung jawab, yang membuang limbah ke sungai. Tetapi, jika masalah itu ditelusuri sampai ke akar-akarnya, kita akan sampai pada kenyataan bahwa masalah pencemaran sungai—dan aneka pencemaran lingkungan lain—berawal dan berasal dari tingginya populasi manusia. Pabrik dan industri tidak akan ada, tanpa keberadaan manusia.

Tingginya populasi manusia, itulah akar segala masalah di bumi, dan awal kerusakan dunia. Bagi saya, masalah ini sangat jelas, gamblang, dan sangat mudah dipahami. Sebegitu jelas dan gamblang, hingga saya heran setengah mati, karena banyak orang yang tidak juga melihatnya.

Masalah ledakan populasi tidak jauh beda dengan masalah rob di Pantura. Sebagian orang hanya berusaha menambal dan mencoba memperbaiki masalah, tapi membiarkan akar masalah. Beberapa orang yang disebut pakar atau ilmuwan bahkan merencanakan untuk memindahkan manusia ke planet lain, di antaranya Mars. Padahal, akar masalahnya bukan tempat tinggal, melainkan populasi!

Tentu saja kita tidak bisa menghentikan penambahan populasi, tetapi—setidaknya—kita bisa membantu kehidupan bumi dengan cara menyadarkan sesama manusia, dengan memberitahu mereka bahwa inilah masalahnya.

Karena itulah, terus terang saya muak dan frustrasi melihat sebagian bangsat tak tahu diri yang memprovokasi orang-orang lain cepat kawin, cepat punya anak, tanpa menyadari bahwa itulah inti masalah manusia saat ini.

Orang-orang yang suka mengejek orang lain yang tidak/belum menikah, yang suka memprovokasi orang lain cepat kawin dan punya anak, merekalah sesungguhnya perusak bumi dan perusak kehidupan manusia. Bangsat-bangsat itu tidak berpikir menggunakan akal pikirannya, tapi menggunakan selangkangannya. Akibatnya, mereka terbutakan oleh realitas betapa rusaknya bumi akibat ulah mereka, betapa rusaknya kehidupan manusia akibat perbuatan mereka.

Sekali lagi, kita memang tidak bisa—atau setidaknya sulit—menghentikan laju populasi. Tetapi, setidaknya, kita bisa belajar untuk menyadari bahwa kelebihan populasi menjadi akar masalah di bumi. Dan, untuk itu, kita bisa menutup cocot masing-masing, untuk tidak memprovokasi orang-orang lain agar cepat kawin!

 
;