Sabtu, 05 Januari 2019

Jangan Campurkan Coca-Cola ke Dalam Bensin Mobilmu

Apa yang sekiranya akan terjadi, kalau kita mencampurkan Coca-Cola—atau minuman bersoda lainnya—ke bensin mobil kita?

Pertanyaan menarik, eh? Atau aneh? Mungkin menarik sekaligus aneh, dan memancing keingintahuan. Seorang bocah di Amerika tampaknya penasaran dengan pertanyaan itu, dan dia benar-benar mencobanya.

Di YouTube, ada sebuah video yang diunggah oleh akun Techrax, memperlihatkan seseorang menuangkan dua liter Coca-Cola ke dalam tangki bensin mobil miliknya. Mobil yang digunakan untuk percobaan geblek ini adalah BMW 325i keluaran tahun 2003.

Setelah dua liter Coca-Cola tertuang ke tangki bensin, dia menghidupkan starter mobil, dan mesin hidup secara normal. Dia jalankan mobilnya, dan mobil bisa melaju seperti biasa. Dia bahkan mengatakan performa mobilnya terasa baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai menunjukkan gejala aneh, dan—seperti yang sudah kita duga—mobil itu mogok. Bocah Amerika yang mengemudikan mobil itu mencoba menghidupkan kembali mesin mobilnya beberapa kali, tapi usahanya tak berhasil. BMW malang itu benar-benar ngambek!

Ketika melihat video itu, saya membatin, “Kerusakan macam apa kira-kira yang terjadi pada mobil itu?”

Beberapa waktu kemudian, saya mencoba menanyakan hal tersebut pada mekanik langganan. Lewat ponsel, saya tunjukkan video “eksperimen Coca-Cola” itu kepadanya, dan menanyakan apa yang kira-kira terjadi pada mobil tersebut hingga mogok.

Mekanik yang saya tanya menjawab, “Kayaknya itu kena water hammer.”

Kedengarannya sangat teknis, pikir saya. “Water hammer itu... maksudnya gimana?”

Dia menjelaskan, “Water hammer tuh air atau cairan masuk ke ruang bakar, lalu terkompresi. Setelah terkompresi, tekanannya jadi lebih besar. Tekanan yang besar itu membuat setang piston atau connecting rod mobil jadi bengkok.”

Saya manggut-manggut sok paham, padahal tidak paham blas. Di telinga saya, dia sepertinya bicara dengan bahasa Swahili. Tetapi, agar tidak kelihatan bego, saya melanjutkan pertanyaan, “Terus, kalau itu terjadi... mobilnya mogok?”

“Iya,” dia menjawab. “Yang bahaya tuh kalau setang piston sudah bengkok, lama-lama blok mesin bisa pecah. Kalau itu terjadi, berarti mesin sudah benar-benar rusak, dan itu yang menyebabkan mobil mogok.”

Sekali lagi saya manggut-manggut sok ngerti. Lalu tercetus dalam pikiran saya mengenai cara memperbaiki mobil yang mengalami water hammer. Saya pun menanyakan, “Kalau sudah kayak gitu, solusinya gimana?”

Dia tampak mikir sejenak, lalu menjelaskan, “Kalau water hammer, biasanya ada tiga komponen yang rusak; piston, ring piston, dan connecting road. Komponen-komponen itu harus diperbaiki atau diganti.”

Ketika saya tanya berapa kira-kira biaya yang harus dikeluarkan, jawabannya agak mengejutkan.

“Itu tadi BMW, ya,” ujarnya mengingat mobil dalam video yang tadi saya tunjukkan. “Kalau BMW dan harus ganti piston dan ringnya saja, biayanya kira-kira Rp20 juta. Kalau ketiga komponennya rusak, biayanya bisa Rp50 jutaan.”

Edan, pikir saya. Hanya karena iseng memasukkan Coca-Cola ke tangki bensin, kita harus membobol celengan dan menghabiskan biaya puluhan juta! Itu benar-benar keisengan yang luar biasa mahal. Hanya karena mencampurkan dua hal secara keliru, akibatnya benar-benar fatal.

Coca-Cola dan bensin sebenarnya dua hal yang sama-sama punya manfaat. Coca-Cola bermanfaat melepas dahaga, bensin bermanfaat sebagai bahan bakar kendaraan. Tetapi, ketika dua hal yang sama-sama bermanfaat itu dicampurkan, bukan manfaat dobel yang didapat, tapi justru kerusakan yang muncul. Ini, saya pikir, contoh nyata bahwa tidak selamanya dua hal yang sama-sama baik bisa selalu menghasilkan percampuran yang juga baik. Karena bisa jadi malah rusak.

Dalam banyak hal, kita bahkan tidak pernah tahu kenyataan itu.

Kita tidak tahu, apa yang akan terjadi sekiranya kita masukkan bubuk Abate ke dalam gelas kopi kita, misalnya. Kita juga tidak tahu apa yang mungkin terjadi kalau kita iseng mengoser-oserkan oli kendaraan ke mi instan yang akan kita santap (tolong tidak usah dicoba!)

Dalam contoh itu, kopi, Abate, oli kendaraan, dan mi instan, adalah hal-hal baik. Mereka baik, jika berdiri sendiri, dan digunakan sesuai fungsinya. Tetapi ketika dicampurkan, hasilnya malah buruk. Kopi dan mi instan mungkin terdengar pasangan klop. Tapi coba saja tuangkan kopi ke piring mi instan—apa masih klop? Terus terang, saya tidak akan doyan.

Untungnya, kita punya semacam insting alami untuk memahami hal-hal semacam itu, sehingga hidup kita tidak berjalan dari iseng ke iseng yang berbahaya.

Akhirnya, jika sewaktu-waktu kita naksir seseorang dan kemudian ditolak, setidaknya kita bisa positive thinking. Mungkin kita sama-sama orang baik, tapi bisa rusak—atau tidak baik lagi—jika bersatu.

 
;