Minggu, 05 Mei 2019

Noffret’s Note: Chairil Anwar

Dulu aku pernah mengira, Chairil Anwar anak orang miskin—sebegitu miskin sampai terpaksa mencuri buku. Ternyata dia anak orang kaya. Ayahnya seorang pamongpraja di Medan. Zaman masih ABG, Chairil Anwar sudah punya sepeda, padahal waktu itu sepeda masih barang mewah.

“Kemiskinan” Chairil Anwar mulai terjadi saat ayahnya bercerai dan menikah lagi, dan uang saku untuk Chairil Anwar terhenti. Sejak itulah, dia mulai menjalani kehidupan “umbrus” bersama Asrul Sani, yang salah satunya suka mencuri buku, demi bisa membaca.

Tapi “kemiskinan” dan “kehidupan umbrus” itu pula yang tampaknya mematangkan pikiran dan jiwa Chairil Anwar, hingga membentuknya seperti yang kita kenal kemudian. Dia mulai—meminjam ungkapan Paul Tillich—serius mencoba mengerti hidup secara lebih jauh dari batas-batas lahiriah.

Apakah Chairil Anwar seorang religius? Dia menulis beberapa puisi yang dinilai religius, seperti Doa, Di Masjid, dan lain-lain. Tetapi, menurut Ida Rosihan Anwar (istri Rosihan Anwar, yang sangat dekat dengan Chairil), penyair jalang itu tidak religius-religius amat.

Dalam keseharian, menurut Ida, Chairil Anwar tidak menunjukkan dia orang yang taat beragama. Dia tidak pernah tampak salat, tidak berpuasa saat Ramadan, bahkan tidak ikut bergembira saat Idul Fitri. (Saat tahu soal ini, entah kenapa aku cekikikan sendiri).

“Kita hidup,” kata Chairil Anwar, “untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya. Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah karena kita sedang mencari maknanya.”


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

 
;